Home » Humaniora, Relationship

Couple in Trouble

15 December 2009 137 views 17 Comments

So_Far_by_giladOleh: Lakhsmi

Ada yang salah. Ada yang sangat salah dalam hubungan dua perempuan ini. Bukan, maksudnya bukan lesbian adalah orientasi seksual yang salah, maksudnya kamu merasa ada yang salah dalam hubungan percintaanmu dengan pasangan. Kamu mengendus sesuatu yang tidak benar, tidak baik, tidak sehat. Apa itu… atau lebih tepatnya, siapa orang ketiga itu?

Infidelity. Adultery. Affair. Unfaithful. Perselingkuhan. Sebutkan semua namanya, intinya adalah satu: kamu tahu pasangan tercintamu tidak setia denganmu. Apakah definisi tidak setia itu? Menurut Wikipedia, infidelity adalah perusakan perjanjian yang disepakati kedua belah pihak dalam lingkaran hubungan antar-manusia yang sangat intim, termasuk di dalamnya adalah pengkhianatan atas nilai-nilai dan integritas hubungan mereka berdua. Artinya? Infidelity tidak hanya sekadar berhubungan seks atau fisik semata, tapi juga tindakan-tindakan di luar hubungan persetubuhan seperti kedekatan emosional dan/atau tanpa keterikatan emosional, dapat dianggap sebagai bagian dari paket pengkhianatan.

“Kedekatan emosional” berarti tindakan yang terjadi di luar hubungan seks, seperti SMS mesra, chatting yang flirty, obrolan yang ‘menjurus’, pertemanan yang bersifat TTM, atau email/surat cinta. Sementara “tanpa keterikatan emosional” seperti melakukan one night stand, melakukan hubungan seks dengan pelacur bayaran, atau bahkan bermain mata dengan orang asing yang ditemui di bar atau tempat asing lainnya. Berbeda dari kebanyakan pandangan, infidelity tidak hanya terjadi gara-gara pasangan tersebut memiliki masalah internal, infidelity malah seringkali terjadi pada pasangan yang mesra dan terlihat baik-baik saja.

Infidelity secara general adalah hal yang sering terjadi. Kenyataannya, 90 persen dari data perceraian di Amerika disebabkan oleh perselingkuhan (termasuk pernikahan homoseksual). Manusia (baik homoseksual maupun heteroseksual) mengalami perselingkuhan dengan data sebagai berikut: 70 persen perempuan berselingkuh dalam hubungan seriusnya dengan pasangannya sementara 80 persen lelaki berselingkuh. Pasangan gay memiliki tingkat perselingkuhan yang lebih tinggi daripada pasangan lesbian.

Menurut psikolog yang khusus di bidang romantic relationship, infidelity adalah hal terburuk yang menyebabkan hubungan antar manusia menjadi hancur. Dalam hubungan serius dan keterikatan emosi antar-dua-manusia, masih banyak hal-hal lain yang menjadi tantangan bagi pasangan itu, misalnya seperti masalah keuangan, tempat tinggal, pekerjaan, masalah sosial, tingkat pendidikan, dan lain-lain, tapi infidelity adalah alasan terbesar yang hasilnya sangat menyakitkan.

Baiklah, setelah mengetahui angka-angka di atas dan melihat kenyataan yang ada tanpa mengenakan kacamata kuda (maksudnya menyadari peluang berselingkuh di masa depan jauh lebih baik daripada memuja kesetiaan dan berakhir dengan perselingkuhan), sekarang kita bisa memfokuskan diri pada kesehatan hubungan intim pasangan lesbian. Kalau hubungan heteroseksual diikat oleh pernikahan dan masyarakat memiliki therapis pernikahan yang bertindak sebagai coach untuk menyelamatkan pernikahan, bagaimana menyelamatkan pasangan lesbian yang mengalami kehancuran karena salah satu pasangannya berselingkuh?

Surviving infidelity bukanlah hal yang hanya ada di dunia utopia. Tanpa pernikahan, memang mudah bagi pasangan lesbian untuk keluar begitu saja dari hubungan intim. Tidak ribet, tidak ada berkas-berkas yang harus diurus, tidak ada keuangan atau harta yang harus dibagi gono gininya, tidak usah mengumpulkan uang untuk menyewa pengacara, bahkan tidak perlu merasa tidak nyaman dengan perpecahan keluarga. Namun apakah “putus” atau “bercerai” adalah solusi instan dan mudah bagi semua kasus infidelity yang terjadi bagi pasangan lesbian? Tidak bisakah pasangan lesbian melaluinya, melewatinya, bahkan berhak memiliki pendamping therapis yang andal untuk menyelamatkan hubungan tersebut?

Kalau keluar dari hubungan lesbian dan menjadi jomblo lagi atau berpacaran dengan selingkuhan/orang lain adalah hal standar dan wajar yang sering terjadi di dunia lesbian, mungkin kita bisa mulai menyorotkan senter ke sisi yang lain. Apakah itu? Yakni mencoba memperjuangkan hubungan asmara kalian berdua sampai ke ujung terjauh. Hubungan yang dinodai oleh infidelity bukanlah dosa yang tidak terampuni, bukan juga tidak memiliki kesempatan kedua, atau pantasnya dilempar ke tong sampah untuk di-recycle dengan orang lain. Hubungan itu masih memiliki masa depan, masih bisa menjadi sehat, masih bisa saling menciptakan pasangan yang cantik luar dalam setelah hancur lebur oleh pengkhianatan, dan masih bisa moving on bersama orang yang sama. To have a better future dan to cope with infidelity, cobalah cek internet. Di sana banyak sekali teknik dan penguatan bagi pasangan yang mengalami krisis kesetiaan dan kepercayaan.

Kalau para lesbian memilih untuk selalu berpisah, bisa dibayangkan penyakit emosi parah seperti apa yang terus menerus menggerogoti para lesbian. Sebab akan menjadi mudah untuk tidak pernah bertahan bersama pasanganmu dalam untung dan malang, dalam sakit dan sehat, melainkan pergi bersama orang lain yang tampak lebih bersinar, terus menerus dalam lingkaran kegilaan seperti itu, menghasilkan lesbian-lesbian menyedihkan di masa tua yang berakhir dalam sakit hati kronis atau melahirkan lesbian-lesbian pihak ketiga yang berprofesi profesional sebagai pemangsa pasangan lesbian.

@Lakhsmi, SepociKopi, 2009

17 Comments »

  • Sky said:

    ….hm…tuh, kan… akhir2 ini tulisan2 di SepociKopi seolah menohok jantung dan menoyor kepala… Terlalu pas dengan kehidupan…hahaha

    Hm…tapi jadi ingin tahu…
    Katanya pasangan gay lebih banyak yang selingkuh daripada pasangan lesbian… Tapi kalau dibandingkan, sebenarnya yang lebih sering selingkuh pasangan hetero atau pasangan homoseksual…? Ada datanya, nggak, ya?

  • Kyra said:

    Wah, sepocikopi bner2 menelanjangiq akir2 ini. smwa artikel tepat mantap dg yg lagi d hati. haduh haduh. . .
    tp btw emg bner c, kalo sgampg itu minta ptuz, ntar akirnya kterusan mpe tua gmpang cri hati laen

  • si buluk said:

    perpisahan bukan jawaban..
    tar klo ketemu kasus yang sama,wah..putus lagi putus lagi.. cere lagi cere lagi..

  • aderain said:

    jika memang masih bisa mempertahankan, pertahankan apa yang masih bisa dilakukan, jika tidak bisa percayalah sejarah mengajarkan kita hidup bijaksana di ke depannya ( kalau-kalau kita masih bisa bijak memilah) jodoh, pisah, cerai, bertemu, memang takdir Tuhan. Perbuatan baik, amalan-amalan baik mampu menggeser takdir buruk. doaku buat siapa saja yang hubungannya sedang mengalami kegamangan, percayalah kalau kalian memang ditakdirkan bersama-sama, harus ada ketabahan, kekuatan, sebagai bagian ujian dari cinta tersebut. satu saranku yang paling penting, bersyukurlah dengan yang sedikit, ikhlas dengan yang sedikit mengundang kebaikan yang sangat banyak. Begitulah salah satu rahasia Tuhan yang tak bisa disepelekan…. ( I was there b4…)

  • Mel said:

    Berusaha sehidup semati dgn pacar.. Walau pasti masalah menunggu di dpn..
    Skrg waktunya utk kerja, ngumpulin Rp demi Rp utk mewujdkn impian hr tua dgn pcr..

  • Awani said:

    Mencoba terus menerus menjaga utk kelanggengan suatu hubungan … Bisa ngga ya.. Dan atau menata kembali hubungan yg porak poranda dgn fondasi yg lebih baik dan kuat … Dgn memaafkan dan menjaga hubungan yg lebih penuh dgn kasih sayang.. Bisa ngga ya..

  • Arie Gere said:

    kayaknya,,, semua artikel mengarah ke… introspeksi akhir tahun… wkwkwkwkkw…

  • meliâ said:

    hal yg sanggat tidak mudah u dilakukan,bukan hanya betapa kt sakit waktu dia berhianat,tp juga mau brusaha intropeksi diri mengapa dia melakukan hal tsb!apa hal ini msh bs diperbaiki?? Smua hal bs dilakukan asal msh ad cinta(bukan kasihan) dan komitmen dr keduabelah pihak!tp dimana pada tahap kita sudah berusaha dan tdk ada perubahan yg serius dr hubungan itu,mungkin lebih baik berpisah(baik2) dan jgn menyakiti lebih jauh,smoga itu jalan yg terbaik dan kita akan bs lebih menghargai diri dan kebahagiaan di masa datang.

  • chiaki said:

    wah jadi kaya lagu BBB nih kalo begitu….

  • helios said:

    topik yg sangat menarik :) numpang komentar ya… pertanyaan nya apakah kriteria kedekatan secara emosional itu hanya di judge dari tindakan2 telah disebutkan diatas?
    bagaimana dgn sahabat akrab rangkap teman curhat yg mgk dekat secara emosional???contoh seperti setia mendengar curhat ketika bermasalah dgn pasangan,sering jalan bersama2 shg mengetahui keadaan sedih,senang dll sehingga tidak menyadari bahwa itu berpotensi menimbulkan perselingkuhan atau mgk telah melakukannya???
    Mungkin setiap orang mempunyai kriteria yg berbeda2 ya soal dekat atau tidaknya???? Hmmm….?????

  • Arinie said:

    ada nggak konsultan dan terapis untuk pasangan lesbian yang bermasalah???kalau nggak ada, aku usul sepocikopi buka ruang konsultasi buat pasangan lesbian yang bermasalah, yaa semacam ruang konsultasi psikologi laaahh :)

  • redmoon said:

    merinding baca paragraf t’akhir.

  • akkaht said:

    jika dlm hub.hetero. masyarakat dianggap sbg. coach utk therapis menyelamatkan perkawinan (aku setuju banget dgn asumsi ini) .Maka dalam pasangan lesbian yg menjadi coachnya adalah “larangan” (ada yg mengizinkan lo menikah/be couple dgn perempuan??)yg tercipta dlm masy. kita (Indonesia tentunya).
    Kita pacaran cukup hanya dgn rasa suka sama suka tapi disaat kita memilih utk menjadi couple/partner life/hidup bersama (tdk ada hukum yg sah! “pasti” yg mengikat cuma satu “rasa tanggungjawab atas pilihan”) tentu tdk cukup hanya dgn rasa suka sama suka tapi sangat complet (kayak martabak byk unsur yg dibutuhkan utk membuatnya nikmat dan legit)
    So, kalau belum bisa memikul tanggungjawab tetaplah dalam jalur pacar-pacaraaan… ampe lo nya mati!

  • anggra said:

    Selama masih menyimpan niat utk melanjutkan hubungan, maka segala permasalahan harusnya bisa dikompromikan ulang. Berpisah memang bukanlah cara untuk menyelesaikan masalah karena masalah yg sama akan tetap kita temui dengan pasangan yang baru.

  • Maly Lesbia said:

    Soal kata lidah bole berbohong
    tapi…soal rasa mustahil bole dipaksa

    peace dear Lakhsmi ;-)

  • adia_aja said:

    setuju banget ama komennya aderain (cheers..) setuja..setuja..emang perlu berjuang utk mempertahankan sebuah hub yg sdh pasti tdk mudah dan tdk umum ini,sama spt perintah dr Tuhan kita yg blg kita kudu berusaha kalo emg mau dpt yg terbaik, bkn pasrah doang ama nasib, so kalo udh berusaha tp tetep aja gak bs,ya kyk lagu BBB (putus nyambung gt),and the last,,lagu Pingkan deh..cari lagi gitcu,,,(bukannya aku jahanam,,,,ku hanya merasa senang) kan bnyk cinta biar happy…he,,he,,

  • frentya said:

    “infidelity bukanlah dosa yang tak terampuni”..gw suka quote ini lakhs…gw yg berprinsip kesetiaan harga mati mulai mencair dgn kenyataan bhwa gw ma mantan mmg team yg kompak dlm berbagai hal.stlh ada orang ketiga yg terobsesi dan ngefans berat ma partner then ngambil keuntungan di hub kita,akhirnya malah bikin kita intros sifat msng2 dan lalu berusaha memperbaiki.

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.