te.Lez.kop: I Can’t Come
Oleh: Shinigami
Bila judul di atas dikatakan kepada seseorang yang sedang menunggu kita untuk memenuhi janji temu, bisa jadi orang tersebut akan kesal atau kecewa setelahnya; namun mungkin juga ia akan lega atau senang mendengar itu karena sebenarnya ia juga tak bisa datang tetapi tak ingin membatalkan karena satu dan lain hal. Memang ada beragam tanggapan yang dapat diterima. Tetapi, bagaimana kalau come di sini bukan berarti datang? Bagaimana kalau come di sini maksudnya… orgasme? Hoho, Houston, we definitely have a problem.
Setiap kali dua orang—yang saling mencintai…? Eh, belum tentu. Kita tidak boleh meremehkan kekuatan pesona seksual dan memarginalkan para penggiat one-night stand dong melakukan hubungan seksual, tentu mereka mengharapkan tercapainya orgasme dan bekerja sama dengan sedemikian rupa untuk mewujudkannya. (Maaf, saya harus membuatnya terdengar sangat politis macam kesepakatan bilateral untuk mencegah kalian berpikiran jorok sebelum waktunya. Err… memangnya kapan ya waktu yang tepat untuk berpikiran jorok?) Lantas, ketika orgasme itu tak kunjung tercapai, apa yang harus dilakukan?
Seperti layaknya langkah pemecahan masalah yang baik, yang perlu dilakukan pertama kali adalah mencari penyebabnya. Memangnya penyebabnya apa aja sih? Bukankah gampang: sudah pasti si pasangan tidak memiliki kepiawaian memadai dalam bercinta? Tolong sedotannya diturunkan dulu dari depan mata, biar kita bisa melihat dunia ini dengan lebih lapang dan lega.
Penyebab gagal orgasme bisa bermacam-macam, teman-teman tercinta. Setidaknya tiga hal sudah terlintas di benak saya ketika menuliskan paragraf ini. Penyebab pertama adalah faktor fisik seperti kecapekan. Berhubungan seksual pada saat tubuh dalam keadaan sangat lelah tentu… semakin bikin lelah. Yang dibutuhkan tubuh adalah tidur, istirahat, bukan olah raga demi rasa nikmat di daerah antara kedua paha. Jadi sangat masuk akal bila tubuh yang kelelahan itu tidak bisa memberikan respon yang diinginkan berupa orgasme maha dahsyat.
Penyebab kedua adalah faktor psikis. Bukan, bukan kegilaan—membahas hal itu sudah di luar batas wewenang saya. Faktor psikis yang saya maksud di sini adalah pikiran yang terlalu penuh atau yang teralih oleh sesuatu yang mengganggu. Katakanlah orang tersebut sedang ruwet pikirannya karena tenggat waktu proyek kantor sudah mepet sementara masih banyak yang belum beres, atau bahkan hal yang lebih sepele seperti merasa terganggu dengan bunyi derit pegas kasur yang terdengar setiap kali terjadi gerakan. Apa pun itu, orgasme bisa menjadi sulit ketika otak seseorang terfokus pada sesuatu yang lain di luar aktivitas seksual yang sedang berlangsung. Ia tidak bisa total dalam merasakan dan menikmatinya, dan karena itu akan susah mencapai klimaks.
Faktor ketiga bisa berhubungan dengan faktor sedotan tadi (baca: faktor sudah-pasti-si-pasangan-tidak-memiliki-kepiawaian-memadai-dalam-bercinta.), tetapi tidak hanya itu. Ketidakpiawaian seseorang dalam bercinta, menurut saya, bisa saja terjadi karena tidak adanya komunikasi yang baik antara kedua orang tersebut. Setiap orang memiliki hal-hal khusus dan unik yang bisa mengantarkannya mengalami orgasme. Hal-hal ini sangat pribadi dan hanya dipahami orang yang bersangkutan. Jadi, kecuali si pasangan itu Romy Rafael, saya rasa dia tidak bisa tahu dengan sendirinya secara persis tentang bagaimana membuat pasangannya mengalami orgasme yang hebat.
Nah, setelah kita mengetahui penyebab gagal orgasme yang menimpa, jalan keluarnya akan mudah. Penyelesaian kasus pertama: tidur deh. Istirahat, enggak usah maksa. Masih ada hari esok, kok. Kalau toh besok kiamat, di surga nanti kalian masih bisa cengar-cengir mengingat pengalaman bercinta yang sebelum-sebelumnya. Itu masih lebih baik daripada mengingat bahwa kali terakhir bercinta, kalian gagal dengan sempurna membuat pasangan orgasme hanya gara-gara memaksa fisik yang sudah capek untuk bekerja lebih keras lagi.
Penyelesaian kasus kedua: atasi si pengganggu pikiran dengan efektif. Kalau bunyi derit pegas kasur mengganggu, geser posisi atau pindah lokasi sementara (alternatifnya: kursi, sofa, meja, lantai. Hm.) Kalau tugas kantor yang jadi alasannya, demi kesejahteraan bersama, jangan suruh dia menulis surat pengunduran diri saat itu juga. Kalian bisa mencium kening pasangan dengan lembut lalu urut pelan-pelan dengan mesra sambil berbisik, “Sayang, mikirin aku aja, jangan mikir yang lain-lain.” Niscaya pasangan akan tersadar dan kembali fokus bercinta.
Penyelesaian kasus ketiga: bahas dong! Komunikasikan. Tidak perlu sampai bikin sesi talkshow khusus nan serius, obrolan ringan sambil pelukan setelah bercinta atau di sore yang cerah juga bisa. Bicarakan hal-hal yang bisa bikin satu sama lain orgasme. Bahkan, kalau mau, komunikasi ini bisa dilakukan langsung di saat bercinta. Beri tanda melalui gerakan, raut wajah, atau kata-kata jika pasangan melakukan hal-hal yang tepat untuk membawa kalian menuju orgasme. Saya yakin si pasangan akan dengan senang hati menerima pengarahan sedemikian rupa dari kalian dan dengan semangat mempraktekkannya. Cara-cara baru mencapai orgasme juga bisa ditemukan dengan metode ini. Malah jadi semakin seru kan?
Yang jelas, apa pun yang kalian lakukan, lakukan dengan kepala dingin tanpa perlu menyalahkan siapa-siapa. Jangan sampai ada kejadian marah-marah atau merajuk model drama queen, lengkap dengan tudingan, “Kamu pasti lagi mikirin cewek lain! Hayo, ngaku! Kamu selingkuh ya??!!” Kalau sudah begitu, bukan hanya orgasme yang enggak dapet, pacar juga bisa enggak dapet alias diputusin karena dia udah enggak tahan. Saya yang nulis aja enggak tahan, apalagi yang digituin. Udah ah, saya pamit. Have a nice orgasm!
@Shinigami, SepociKopi, 2009









tulisan yang hebat
gw slalu suka tulisanmu, shin
salam kenal
@shinigami: membaca sambil senyum2. Orgasme.. Saya tmsk org yg gmp2 susah mencapai puncak ini, tp saya ama mantan komunikasinya bgs..jd tau apa keinginan pasangan. Setelah 3 bln ga ma pacar, bc tlsan ini jd horny sendiri..
I miss her body, her face…
Terlebih wajahnya yg memerah saat kta sdg ml.. Gila dasyat bgt.
Ditangan Shinigami, ulasan Sexualitas terasa Relax & nggak bikin OMes.
Two Thumbs 4U, Sista…
hahaha
great writing sist. I love orgasm. Haha
Blum pnah orgasm
Menarik juga.. tapi lg ga kepikiran ttg seks ni, palagi orgasme. He3x
yhaaa.. mantab2.. tp shin yg point 1 ntu..bdasarkan pngalaman neh.. ehm sensasi na justru lbh dahsyat lo.. BIG O.. (tp klo “smp” y..) klo g malah capeknya bratus kali lipat n d jamin tmbh puzink.. alamaak og jd pengen y wkkwkwkkk
saia sangat setuju… hmhmhm… X)
*ngangguk2*
wah2 bs di coba bwt tar mlm ni,hehe^_^
thx shin
Sama, lg ga kpikiran about sex,palagi orgasm!
Jd merinding akyu..
Soalnya lom ada experience about it’ bru tahap ayang ayang doang sm someone yg aku anggap ayangku!
low orgsme sendiri gmna hayoo……hihihi
Lucu penulis satu ini. Baru kali ini baca artikel orgasme seperti baca koran kompas dan yotsuba di saat yg sama.
Gak pernh ngerasain orgasme… Sgtu luar biasax kah orgasme it??? Mw cb tp g ad t4 pelampiasn… ^^
Xexexe….jadi inget yg enak2 ney… @kyra…masa lom prnh sey…o^ong kali akh…
haha ini very2 true… pernah ngadepin 3 kasus, tapi terselesaikan… untuk partner bisa understand hehehe… ngakak dibagian romy refael.. hahaha
Aq slalu b’hsl m’alihkn duniannya utk aktftas yg satu ini,xixixi. . .
Orgsm uuUh,i’m lovi’n it!
apapun itu dunia belok dan berserta seksualitasnya,, semua harus di lakukan dengan normal,,,,
tidak d luar yg tdk sewajarnya,,,
i need more love ,,,
miss you my lovely
@sam_moel
Sumpeh blum pnah. pnya pcr yg d seriusin ja bru kali ini, mana LDR, gmana mw orgasm? msa manual? gublak
Kyra: ada y manual orgasm? Hehe.. *lg nangis jd lsng ktawa*
shin: lucu tulisanny.. Tp kalo pcrn ama romy rafael, ga bs bo’ong atau cheat.. Q jg tmasuk yg ga gampang orgasm.. N malu kalo komunikasiin ny.. Huaa udh hmpir 1thn jomblo, jd pngen orgasm tp ama sapa..
@Danish
manual aja deh. . .tp resikonya ni otak musti mkir jorox. . .plus tmbh sulit nyampe puncknya, hehehe
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments