Home » Friendship, Humaniora, Relationship

My Best Friend, My Only Friend

8 December 2009 86 views 19 Comments

Best_friends_by_missyouxterriblyOleh: Arie Gere

Kakiku digigiti nyamuk liar yang seenaknya mencuri lahan di sudut lemari kamar. Tangan dan kaki berduel maut dengan sang nyamuk, namun mataku tak berkedip menonton film animasi Mary And Max yang berdurasi 109 menit tanpa jeda iklan. Sampul DVD-nya yang bertuliskan Sometime perfect strangers make the best friends membuatku penasaran dengan isi cerita di dalam film. Oh bukan, ini bukan tentang resensi film sama sekali, hanya saja aku suka mengkait-kaitkannya dengan persahabatan kaum “aneh” seperti kita, lesbian tentunya.

Aku ingin berkirim surat kepada sahabatku. Terlebih dahulu kuajukan sebuah pertanyaan padanya, “Bolehkah aku jujur di dalam suratku ini? Bolehkah?” Dan, kuharap jawabannya iya.

Dear sahabatku tersayang,
Sejujurnya, aku terjebak di antara pengertian sahabat dan kekasih. Mungkin aku adalah seseorang yang tidak bisa hidup di dalam dualisme relationship sekaligus. Maksudnya seperti ini, ketika aku mempunyai seorang kekasih, maka aku benar-benar tak mempunyai sahabat lain sama sekali. Atau sebaliknya, ketika aku berdekatan intim dengan sahabatku, sepertinya aku tak membutuhkan kekasih sama sekali. Aku terjebak dalam idealisme mono-relationship dan hampir mustahil menggapai multi-relationship seperti yang dilakukan banyak orang.

Kekasihku adalah sahabatku. Sahabatku pun kuanggap sebagai kekasih. Kepalaku berputar-putar di antara defenisi sahabat dan kekasih. Mungkin tidak seperti ini kalau aku bukanlah seorang lesbian. Bisa saja, aku punya seorang sahabat yang benar-benar mengerti siapa dan bagaimana aku. Tetapi tetap kembali lagi ke belakang, bukankah yang benar-benar mengerti kita itu seharusnya kekasih dan bukannya sahabat? Sepertinya aku terkesan kuper dan anti-sosial ya? Tidak sama sekali, aku bukan seorang anti-sosial. Tanyalah pada orang-orang yang mengenalku di dunia nyata, bagaimana caraku berteman dan bersosial dengan banyak orang. Hanya saja, kekasihku adalah sahabat terbaikku, satu-satunya.

Apakah aku kesepian? Jawabannya, tidak. Aku tidak mempunyai sahabat selain kekasihku. Dicari: SAHABAT dan bukan TEMAN. Temanku sudah cukup banyak, tapi tak satu pun yang menjadi sahabatku kecuali kekasihku. Aku menganggap diriku sebagai orang yang aneh. Jangan-jangan kekasihku pun menganggap diriku seperti itu. Sama dengan mosi tidak percaya terhadap pemerintah, sampai sekarang mosi tidak percaya terhadap lesbian sepertinya masih bergentayangan di kepalaku. Apakah begini rasanya dikelilingi rasa tidak percaya yang berlebihan kepada orang lain?

Kepercayaan tidak tumbuh begitu saja, perlu ruang dan waktu untuk membuktikannya. Tapi sering kali realita mengatakan justru ruang dan waktu mengkhianati segenap kepercayaan yang ada. Aku bertanya-tanya dalam hati, apa yang menjadi alasan utama seseorang masih bisa bersahabat dekat dengan mantan pacarnya? Mengapa tak ada lagi di dunia ini yang bisa dipercayai? Alasannya, karena tak ada satu pun yang lebih tahu tentang diri selain pasangan kita. Bahkan, ketika pasangan sudah menjelma menjadi mantan, bukankan tetap masih dia yang paling mengetahui segala sesuatu baik buruknya kita? Selain Tuhan dan diri sendiri, tentu saja.

Jika di kemudian hari aku memang tak berjodoh dengan kekasihku sekarang (semoga tak pernah terjadi), mungkin aku takkan pernah benar-benar bisa melepaskannya. Namun kubuang jauh-jauh bayangan perpisahan dengan kekasih, tapi kusimpan baik-baik di dalam memori pengingatku apa yang akan kulakukan nanti seandainya perpisahan itu memang harus terjadi.

PS: Tentu saja aku tetap menjadi sahabatnya bahkan menjadi saudara dengannya. Oh ya, mirip seperti yang dikatakan Max kepada Mary di dalam suratnya: You are my best friend. You are my only friend.

@Arie Gere, SepociKopi, 2009.

19 Comments »

  • meliâ said:

    hmm…Mel rasa sih ga aneh(kurang lbh mel jg sperti itu),kpd mantan… Ak slalu berharap yg terbaik,tp itu pun bth waktu untk transisi dr pacar ke teman.mel jg ga mau menyakiti perasaan pasangan kita yg lain.tp pada saat kt memutuskan tuk berpisah ad byk hal yg berubah.things will never be the same again,just dont turn araund to much until y cant see the future… ^_^

  • dro said:

    sahabat bisa jadi pacar…tp pacar belum tentu bisa jd sahabat lagiii……
    tp bgus bisa menjalin komunikasi baik dngan nya bahkan lebih baik..SALUT!!

  • happy_sendiri said:

    ‘kekasihku adalah sahabatku’
    Menjalin kasih dgn sahabat,
    Oh indah ny..

  • athe said:

    yap…kekasihku adalah sahabatku…tapi setelah putus…he he he…bingung juga…karena engga mungkin bersahabat dengan dia….apalagi jika jadi pihak yang tersakiti…

  • Shifra said:

    umm.. setuju dengan istilah kekasih adalah sahabat terbaik.
    tapi setuju juga dengan athe.. ga ada tuh mantan jadi sahabat..
    jadi sampai kapanpun aku tak mau mantanan dengan pacarku yg sekarang… ga bisa ngebayangin kalo harus jadi mantannya dia.. iyada. zettai ni iya da. >,<

  • five said:

    hmm… sahabat q kekasih q..mungkin itu yg sedang aq rasakan skrg..walaupun sbnrnya dia bukan kekasih q.. kadang sahabat lbh mengerti qt drpd kekasih sendiri..

  • happy_sendiri said:

    Sebenarnya, saat ini aku sedang menganggap “tetanggaku idolaku”, “sahabat terbaikku”,, sebagai,,,

    “kekasihku”
    Tanpa sepengetahuan dia,tentunya!
    Kesian bgt y gw!
    So,yg td nya tetangga baru->trus cucok, jd sahabat->trus ke depan jadi kekasih(ngarep)
    Ups! Sori, jd rada belok ne topikny!

  • Abby said:

    sahabat jadi kekasih itu beberapa ngalamin karena saking mengenal satu sama lain.
    Tapi mantan yang akhirnya jadi sahabat, memang ga mudah. Alhamdulillahnya memiliki mantan yang menjadi sahabat dan malah saudara. hanya berpikir mengawali dengan baik dan ingin mengakhirinya dengan baik.
    Bukan bermaksud untuk menyakiti kekasih yang sedang berada disamping, hanya mmg tdk ingin merusak tali silahturahmi. tetap kekasih adalah yang terbaik.

  • LigX said:

    antara sahabat sejati dan kekasih hati. hmm

  • Kyra said:

    ‘kekash adlah shbt tbaek, bhkan ktika dah jd mantan’

    klimat yg menyiksa bg si pcr bru

  • kew said:

    hah,,,sahabat ku meninggalkan ku setelah aku minta dia jadi pacarku.padahal ku ma dia sering ML

  • Rafi said:

    Waduuuh….mantan2ku gak ada yg mau jd sahabatku lg tuh , soalnya mereka pasti jeles ma partner yg sekarang, skalipun partner gak masalah aku mau tetap berteman baik sama mereka. Dgn definisi kekasih itu benar2 kekasih (bukan gebetan atau selingkuhan lho :p ), kl udh jd mantan trus dicoba bersahabat ujung2nya pasti minta perhatian lebih (yg gak mgkn bs kita kasih kan secara kita udh py partner lg?). So, gak selamanya niat baik bisa diterima dgn baik jg ya…menurutku

  • mare said:

    setuju ama shifra.
    padahal gw merasa cuma dia yang benar2 mengerti gw. mencoba tetap jadi teman baik tapi nggak bisaaa..

  • parkit said:

    sukaa bgt tulisan ini! walo gw kagak meyakini sahabat pada umumnya, tetapi ada saja sosok yang sangat mengerti dan memahami gw… klu dah best friend apa itu yang dimaksud sahabat?

  • akkaht said:

    kekasihku adalah “biniku” (gue pinjam istilah hetero, ntar gue balekin klau udah dpt. istlah yg tepat) sahabatku di mana2…
    “kekasihku” milikku selamanya sebab aku percaya cinta sejati yg berpuncak pd kesetiaan.
    sahabatku ku bawa sampai mati sebab aku percaya ketulusan yg berpuncak pd kedamaian.

  • t4nk said:

    Sippp……
    gue bangetttt,,,,,

  • blackbewhite said:

    hahahahahah tuh kek.a yg sdng w alami deh..

  • phiko said:

    same story with me…
    buatnya aq sahabatnya,,tapi dia adalah kekasih hatiq…

  • cmolzrn said:

    Mantan gw adalah sahabat gw, apa lg saat dia masih jd pacar gw, she’s my bestfriend and my only bestfriend. sampe skrngpun begitu. Krn dia satu2nya yg tau segalanya ttng gw. I love her so much!

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.