Best_friends_by_missyouxterriblyOleh: Arie Gere

Kakiku digigiti nyamuk liar yang seenaknya mencuri lahan di sudut lemari kamar. Tangan dan kaki berduel maut dengan sang nyamuk, namun mataku tak berkedip menonton film animasi Mary And Max yang berdurasi 109 menit tanpa jeda iklan. Sampul DVD-nya yang bertuliskan Sometime perfect strangers make the best friends membuatku penasaran dengan isi cerita di dalam film. Oh bukan, ini bukan tentang resensi film sama sekali, hanya saja aku suka mengkait-kaitkannya dengan persahabatan kaum “aneh” seperti kita, lesbian tentunya.

Aku ingin berkirim surat kepada sahabatku. Terlebih dahulu kuajukan sebuah pertanyaan padanya, “Bolehkah aku jujur di dalam suratku ini? Bolehkah?” Dan, kuharap jawabannya iya.

Dear sahabatku tersayang,
Sejujurnya, aku terjebak di antara pengertian sahabat dan kekasih. Mungkin aku adalah seseorang yang tidak bisa hidup di dalam dualisme relationship sekaligus. Maksudnya seperti ini, ketika aku mempunyai seorang kekasih, maka aku benar-benar tak mempunyai sahabat lain sama sekali. Atau sebaliknya, ketika aku berdekatan intim dengan sahabatku, sepertinya aku tak membutuhkan kekasih sama sekali. Aku terjebak dalam idealisme mono-relationship dan hampir mustahil menggapai multi-relationship seperti yang dilakukan banyak orang.

Kekasihku adalah sahabatku. Sahabatku pun kuanggap sebagai kekasih. Kepalaku berputar-putar di antara defenisi sahabat dan kekasih. Mungkin tidak seperti ini kalau aku bukanlah seorang lesbian. Bisa saja, aku punya seorang sahabat yang benar-benar mengerti siapa dan bagaimana aku. Tetapi tetap kembali lagi ke belakang, bukankah yang benar-benar mengerti kita itu seharusnya kekasih dan bukannya sahabat? Sepertinya aku terkesan kuper dan anti-sosial ya? Tidak sama sekali, aku bukan seorang anti-sosial. Tanyalah pada orang-orang yang mengenalku di dunia nyata, bagaimana caraku berteman dan bersosial dengan banyak orang. Hanya saja, kekasihku adalah sahabat terbaikku, satu-satunya.

Apakah aku kesepian? Jawabannya, tidak. Aku tidak mempunyai sahabat selain kekasihku. Dicari: SAHABAT dan bukan TEMAN. Temanku sudah cukup banyak, tapi tak satu pun yang menjadi sahabatku kecuali kekasihku. Aku menganggap diriku sebagai orang yang aneh. Jangan-jangan kekasihku pun menganggap diriku seperti itu. Sama dengan mosi tidak percaya terhadap pemerintah, sampai sekarang mosi tidak percaya terhadap lesbian sepertinya masih bergentayangan di kepalaku. Apakah begini rasanya dikelilingi rasa tidak percaya yang berlebihan kepada orang lain?

Kepercayaan tidak tumbuh begitu saja, perlu ruang dan waktu untuk membuktikannya. Tapi sering kali realita mengatakan justru ruang dan waktu mengkhianati segenap kepercayaan yang ada. Aku bertanya-tanya dalam hati, apa yang menjadi alasan utama seseorang masih bisa bersahabat dekat dengan mantan pacarnya? Mengapa tak ada lagi di dunia ini yang bisa dipercayai? Alasannya, karena tak ada satu pun yang lebih tahu tentang diri selain pasangan kita. Bahkan, ketika pasangan sudah menjelma menjadi mantan, bukankan tetap masih dia yang paling mengetahui segala sesuatu baik buruknya kita? Selain Tuhan dan diri sendiri, tentu saja.

Jika di kemudian hari aku memang tak berjodoh dengan kekasihku sekarang (semoga tak pernah terjadi), mungkin aku takkan pernah benar-benar bisa melepaskannya. Namun kubuang jauh-jauh bayangan perpisahan dengan kekasih, tapi kusimpan baik-baik di dalam memori pengingatku apa yang akan kulakukan nanti seandainya perpisahan itu memang harus terjadi.

PS: Tentu saja aku tetap menjadi sahabatnya bahkan menjadi saudara dengannya. Oh ya, mirip seperti yang dikatakan Max kepada Mary di dalam suratnya: You are my best friend. You are my only friend.

@Arie Gere, SepociKopi, 2009.