sarcasmbeatskillingOleh: Lakhsmi

Tak ada yang lebih cantik daripada tulisan sarkasme. Berasal dari kata Latin yakni “sarcasmus” yang nenek moyangnya dari ranting kata Yunani yakni “sarkasmos” atau “sarkazein”, memiliki arti harafiah sebagai “menggigit bibir dengan penuh kemarahan” atau “menguliti”. Tujuan sarkasme adalah menciptakan humor dalam nuansa ironis atau menghasilkan bentuk tulisan yang berlawanan dengan kenyataan.

Sudah banyak tulisan-tulisan di SepociKopi yang terbungkus nuansa sarkastik, sayangnya masih banyak pembaca lesbian yang tidak mengerti permainan humor dan kejenakaan mirisnya di sana. Semuanya kelihatan dari komen-komen para pembaca yang nggak nyambung dengan isi tulisan. Bengkel Menulis kali ini akan membahas sarkasme sehingga para lesbian tidak perlu malu, bengong sendirian, atau misuh-misuh tersinggung ketika orang lain tertawa keras pada humor sarkasme.

Banyak orang salah menduga tentang arti sarkasme. Sarkasme tidak berarti suatu kenyataan blak-blakan atau kata-kata kasar yang berintonasi lantang. Misalnya, seseorang hetero membaca tulisan di blog-blog lesbian dan memberikan pernyataan dengan nada manis dan raut wajah kagum, “Kelihatannya sungguh menyenangkan dan seru menjadi lesbian sampai-sampai saya nggak kepengin menjadi lesbi!” Pernyataan tersebut tentu saja mengolok-olok tulisan lesbian yang pastinya bertolak belakang dari kata “menyenangkan” serta “seru”. Kalimat itu dapat dinyatakan sebagai jenis sarkastik.

Selain ironis, sarkastik juga dapat dianggap sebagai humor kering, memiliki tingkat emosi yang rendah dan ruang jeda yang sunyi. Menulis sarkasme lebih sulit karena seringkali sarkasme tergantung pada suara atau intonasi yang diucapkan, tapi penulis Mark Twain dan Jane Austen berhasil menggenggam reputasi keren sebagai penulis novel-novel satiris.

Banyak pembaca yang dapat mengapresiasi sarkasme dan mencintainya, walaupun sejarah memperlihatkan jenis tulisan sarkasme dianggap sebagai bentuk paling hina dari semua kejenakaan humor. Sarkasme dituduh menyerang dan bersikap kurang ajar terhadap orang atau benda yang dijadikan bahan lelucon. Tapi untunglah sarkasme tidak lagi dianggap seperti itu pada zaman sekarang. Para komedi Amerika, seperti David Letterman (Late Night with Letterman) dan John Steward (The Daily Show) menggunakan kendaraan sarkasme dalam acara yang dipandu mereka. Sarkasme menjadi seni; seni dan kemampuan berbicara dan menulis untuk mengolok-olok atau mengejek kenyataan dengan humor yang cerdas.

Banyak sekali ruang-ruang di masyarakat yang dapat dicetuskan dalam ucapan sarkastik. Coba lihat situs ini: The Daily Dose of Zen Sarcasm yang isinya penuh kalimat-kalimat satiris tentang arti kehidupan, tapi lihat dong baik-baik, betapa seriusnya kalimat-kalimat itu! Sarkasme memang permainan kecerdasan, bukan kecetekan. Setelah bertamasya ke banyak situs-situs yang memanfaatkan sarkasme (untuk menciptakan perubahan di masyarakat), aku tergugah dan merasa komunitas lesbian Indonesia seharusnya memiliki situs sarkasme. Isinya sudah pasti ejekan kepada kaum lesbian dalam humor kering yang cerdas. Nah, untuk para lesbian yang belum lihai menulis sarkasme, yuk kita latihan bersama-sama di sini:

1. Pertama dan terutama, kamu harus mengerti arti “sarkasme” sedalam-dalamnya. Coba buka kamus dan klik Oom Google, cari arti sarkasme dalam bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia. Kalau kamu punya masalah buat mengerti arti dan definisi kata “sarkasme”, mendingan kamu nggak usah melanjutkan membaca ke nomor dua.

2. Supaya kamu engeh/sadar betapa sarkastiknya suatu kalimat, kamu harus biasa mendengar ucapan-ucapan sarkastik dan nggak tersinggung ketika terpapar olehnya. Bangkitkan imunitas diri dengan menyuntik vaksin sarkasme sebanyak-banyaknya. Bertemanlah dengan mereka yang pandai bermain humor kering. Apa? Susah? Cari pacar lesbi aja susah, apalagi harus mencari teman yang mempunyai ciri-ciri berat. Nggak mungkin bisa ketemu dengan klub para sarkastik! Udah mencoba, tetap susah nih! Oh, mungkin sebenarnya bukan nggak ketemu, tapi kamu dianggap tidak cukup cerdas sama mereka. Tapi, jangan takut, tak perlu putus asa dikucilkan mereka. Kamu bisa memperluas wawasan dengan membaca banyak buku dan menonton film. Membantu kok!

3. Catat semua kalimat-kalimat sarkastik yang menarik yang kamu temui di buku atau film. Ingat, hapal, lalu rapalkan berkali-kali. Begitu kamu berada di situasi atau keadaan yang pas, keluarkan senjata andalan kamu. Latihlah terus menerus, tak ada yang bisa sempurna tanpa latihan. Belajarah dari kesalahan ucapan kamu, tertawakan diri sendiri, lalu cuek bebek.

4. Mencapai langkah keempat, inilah tantangan yang sebenarnya. Ciptakan kata-kata sarkasme milikmu sendiri. Setiap saat untuk mencoba sarkastik, cobalah ajukan pertanyaan ini “Cukup sarkastik nggak yah?” atau “apa komen ini cukup cerdas?” atau “sindiran saya norak dan kampungan nggak sih?”. Semua memiliki proses, jangan takut untuk terus berusaha. Seperti tadi yang telah disebut di atas, sarkasme adalah seni. Sarkasme adalah permainan kecerdasan. Kalau IQ-mu di bawah rata-rata, sarkasme bukan tempat yang tepat buat kamu.

Sudah siap? Nah, SepociKopi menanti tulisan sarkasme-mu, yang mengolok-ngolok jenaka dan menyindir nyinyir tentang dunia lesbian dan masyarakat heteroseksual. Ditunggu ya!

@Lakhsmi, SepociKopi, 2009