Home » Bengkel Menulis

Bengkel Menulis: Kecantikan Sarkasme

Submitted by on 03/12/2009 – 5:56 pm25 Comments | 3,297 views

Oleh: Lakhsmi

Tak ada yang lebih cantik daripada tulisan sarkasme. Berasal dari kata Latin yakni “sarcasmus” yang nenek moyangnya dari ranting kata Yunani yakni “sarkasmos” atau “sarkazein”, memiliki arti harafiah sebagai “menggigit bibir dengan penuh kemarahan” atau “menguliti”. Tujuan sarkasme adalah menciptakan humor dalam nuansa ironis atau menghasilkan bentuk tulisan yang berlawanan dengan kenyataan.

Sudah banyak tulisan-tulisan di SepociKopi yang terbungkus nuansa sarkastik, sayangnya masih banyak pembaca lesbian yang tidak mengerti permainan humor dan kejenakaan mirisnya di sana. Semuanya kelihatan dari komen-komen para pembaca yang nggak nyambung dengan isi tulisan. Bengkel Menulis kali ini akan membahas sarkasme sehingga para lesbian tidak perlu malu, bengong sendirian, atau misuh-misuh tersinggung ketika orang lain tertawa keras pada humor sarkasme.

Banyak orang salah menduga tentang arti sarkasme. Sarkasme tidak berarti suatu kenyataan blak-blakan atau kata-kata kasar yang berintonasi lantang. Misalnya, seseorang hetero membaca tulisan di blog-blog lesbian dan memberikan pernyataan dengan nada manis dan raut wajah kagum, “Kelihatannya sungguh menyenangkan dan seru menjadi lesbian sampai-sampai saya nggak kepengin menjadi lesbi!” Pernyataan tersebut tentu saja mengolok-olok tulisan lesbian yang pastinya bertolak belakang dari kata “menyenangkan” serta “seru”. Kalimat itu dapat dinyatakan sebagai jenis sarkastik.

Selain ironis, sarkastik juga dapat dianggap sebagai humor kering, memiliki tingkat emosi yang rendah dan ruang jeda yang sunyi. Menulis sarkasme lebih sulit karena seringkali sarkasme tergantung pada suara atau intonasi yang diucapkan, tapi penulis Mark Twain dan Jane Austen berhasil menggenggam reputasi keren sebagai penulis novel-novel satiris.

Banyak pembaca yang dapat mengapresiasi sarkasme dan mencintainya, walaupun sejarah memperlihatkan jenis tulisan sarkasme dianggap sebagai bentuk paling hina dari semua kejenakaan humor. Sarkasme dituduh menyerang dan bersikap kurang ajar terhadap orang atau benda yang dijadikan bahan lelucon. Tapi untunglah sarkasme tidak lagi dianggap seperti itu pada zaman sekarang. Para komedi Amerika, seperti David Letterman (Late Night with Letterman) dan John Steward (The Daily Show) menggunakan kendaraan sarkasme dalam acara yang dipandu mereka. Sarkasme menjadi seni; seni dan kemampuan berbicara dan menulis untuk mengolok-olok atau mengejek kenyataan dengan humor yang cerdas.

Banyak sekali ruang-ruang di masyarakat yang dapat dicetuskan dalam ucapan sarkastik. Coba lihat situs ini: The Daily Dose of Zen Sarcasm yang isinya penuh kalimat-kalimat satiris tentang arti kehidupan, tapi lihat dong baik-baik, betapa seriusnya kalimat-kalimat itu! Sarkasme memang permainan kecerdasan, bukan kecetekan. Setelah bertamasya ke banyak situs-situs yang memanfaatkan sarkasme (untuk menciptakan perubahan di masyarakat), aku tergugah dan merasa komunitas lesbian Indonesia seharusnya memiliki situs sarkasme. Isinya sudah pasti ejekan kepada kaum lesbian dalam humor kering yang cerdas. Nah, untuk para lesbian yang belum lihai menulis sarkasme, yuk kita latihan bersama-sama di sini:

1. Pertama dan terutama, kamu harus mengerti arti “sarkasme” sedalam-dalamnya. Coba buka kamus dan klik Oom Google, cari arti sarkasme dalam bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia. Kalau kamu punya masalah buat mengerti arti dan definisi kata “sarkasme”, mendingan kamu nggak usah melanjutkan membaca ke nomor dua.

2. Supaya kamu engeh/sadar betapa sarkastiknya suatu kalimat, kamu harus biasa mendengar ucapan-ucapan sarkastik dan nggak tersinggung ketika terpapar olehnya. Bangkitkan imunitas diri dengan menyuntik vaksin sarkasme sebanyak-banyaknya. Bertemanlah dengan mereka yang pandai bermain humor kering. Apa? Susah? Cari pacar lesbi aja susah, apalagi harus mencari teman yang mempunyai ciri-ciri berat. Nggak mungkin bisa ketemu dengan klub para sarkastik! Udah mencoba, tetap susah nih! Oh, mungkin sebenarnya bukan nggak ketemu, tapi kamu dianggap tidak cukup cerdas sama mereka. Tapi, jangan takut, tak perlu putus asa dikucilkan mereka. Kamu bisa memperluas wawasan dengan membaca banyak buku dan menonton film. Membantu kok!

3. Catat semua kalimat-kalimat sarkastik yang menarik yang kamu temui di buku atau film. Ingat, hapal, lalu rapalkan berkali-kali. Begitu kamu berada di situasi atau keadaan yang pas, keluarkan senjata andalan kamu. Latihlah terus menerus, tak ada yang bisa sempurna tanpa latihan. Belajarah dari kesalahan ucapan kamu, tertawakan diri sendiri, lalu cuek bebek.

4. Mencapai langkah keempat, inilah tantangan yang sebenarnya. Ciptakan kata-kata sarkasme milikmu sendiri. Setiap saat untuk mencoba sarkastik, cobalah ajukan pertanyaan ini “Cukup sarkastik nggak yah?” atau “apa komen ini cukup cerdas?” atau “sindiran saya norak dan kampungan nggak sih?”. Semua memiliki proses, jangan takut untuk terus berusaha. Seperti tadi yang telah disebut di atas, sarkasme adalah seni. Sarkasme adalah permainan kecerdasan. Kalau IQ-mu di bawah rata-rata, sarkasme bukan tempat yang tepat buat kamu.

Sudah siap? Nah, SepociKopi menanti tulisan sarkasme-mu, yang mengolok-ngolok jenaka dan menyindir nyinyir tentang dunia lesbian dan masyarakat heteroseksual. Ditunggu ya!

@Lakhsmi, SepociKopi, 2009

  

Tags:

25 Comments »

  • rave says:

    berharap kemajuan peradaban atau ingin melupakan diri yg hidup di tempat berkembang :P

  • silz says:

    Selama ini, teman-teman di kantor selalu bilang kalo saya ini sarkastik.., tp saya ga tau arti kata itu apa.. Baru ini saya googling.. Ok deh, menarik juga.. Love doing it :)

  • ochi says:

    lakhsmi orang yang hebat , norak seh tulisannya tapi terlalu menarik untuk dilewatkan

  • cinta rupiah says:

    Lumayan bagus kok ini ..
    jangan sinis ah ….
    cuma pembaca tidak semua nya mengerti lekuk-lekuk dunia tulis menulis …atau jangan-jangan pembaca memang harus di paksa untuk cerdas?

  • akkaht says:

    @hi.. mozz: benar! bahasa negeri sendiri aja belepotan apa lagi bhs.negeri paman sam ya… keliatan dari comm.nya sis.. (dlm kamus bhs indo.ku gak ketemu aku ama kata “cucok” nyarinya dimana ya?? he..he..)
    mimpiku tdk hanya bhs.dr neg. paman sam yg ada di comm.bahkan tulisan di SKku (merasa memiliki nih…) tp dr neg. paman PELE dan dewi Arthemis, bila perlu neg. Unta ha… ha… (serius! bkn sarkasme ya..) aku ingin dunia dapat merasakan betapa nikmat dan legit kopi racikan putri bangsaku.

  • mozz says:

    Kayaknya web ini lebih cucok de boo pake nama http://www.coffeepitcher.com
    Owner ma commentatornya yang jago bahasa bule pade ga cucok lagi ngucapin sepoci ma kopi qiqiqiii..
    Peace lo mbaaak..

  • AL says:

    Eniwei, gemes ya kalau udah nulis sarkatik dengan penuh perasaan dan deg-deg-gan berharap yang baca ngerti, eh gak taunya malah gak ngerti. Suatu kali, saking sebelnya, saya sampai menulis tambahan di bawah tulisan saya: Sesungguhnya tulisan ini satir. Eh, masih juga pada gak ngerti.
    Mungkin saya kurang tajam :)

  • AL says:

    Yailah! Apa koment di tulisan ini musti satir, ya? Ribet bener! Kalo gak gak apa-apa kan? Maksa pengen keliatan pinter ngerinya malah jadi kepinteran sampe yang baca komentar bingung.
    Untuk point nomor 3. Masalah tulis kalimat bagus, lalu mengutipnya saya kira okey.. Sering banget! Tapi kalau sarkastik, entahlah.. Kurang naceb kali ye, heheh.. Karena biar bagaimanapun, kita menulis atau mengatakannya dengan maksud ‘menempeleng’ dalam beberapa hal. Jadi, lebih mateb kalo pakai bahasa sendiri yang keluar dari hati, bukan kalimat orang lain. Atau paling tidak, kita musti benar-benar merasakannya dan berpendapat itu.

    Tulisan yang bermanfaat di Benkel Menulis, seperti biasanya.. :)

  • dee says:

    what an article, sister.
    quite insulting.
    but, that’s who u r,
    luvs to insult people’s point of viewz.
    haha
    ;D
    good job, sister.

  • Fredric says:

    Initially I felt like my lesbian intelligence was being insulted but then again as we all know lakhsmi some people including me have irony deficiency :p

    (f)

  • Arie Gere says:

    Sarkasme yang cantik, persis seperti yang menulis..

  • Mango says:

    Menurut riset yang pernah aku baca otak manusia punya area untuk mengenali sarkasme.. Intinya kalau kita punya masalah mengenali atau sulit berhubungan sosial, kita juga susah mengerti bahasa literal…. Nyambungnya sih ke autism tapi disebut-sebut juga sebagai otak yang punya “kunci” untuk mengenali ironi atau sinisme….. jadi inget Saturday night Live,,, itu juga lucu Lax penuh sarkasme en parodi…… !!!

  • akkaht says:

    dalam tulisan aku sangat mengagumu gaya bahasa sarkasme namun dalam pembicaraan TIDAK!
    untuk novel/tulisan yg kuanggap menarik dan sukses sebagai sarkasme adalah tulisan Tamara Geraldine (Indonesia).

  • Lakhsmi says:

    @Erian Thanky you. I know I’m one of those arrogant lesbians I admire, and just like them, I’m good at it.

    *Lakhsmi

  • Lakhsmi says:

    Benar sekali, Rei! You are so sharp! Tidak ada alasan buat lesbian dijadikan topik sarkasme. Juga tidak ada alasan penting untuk menikmati omongan lesbian lain yang penuh dengan sarkastik tentang dunia lesbian. So, here’s my humbly advise, don’t push your brain to the limit.
    It’s painful. Ouch.

    *Lakhsmi

  • Erian says:

    Maaf, ini tidak ada hubungannya dengan artikel…
    Hanya ingin bilang karena ‘arrogant’ lah Lakhsmi jadi lebih menarik….

    Salam kenal

    Erian

  • Lakhsmi says:

    Oh wow, Fredric, it’s evolution! Lesbians are getting smarter! “Voices” have told me so :P

    LOL. Your sarcastic comment is beautifully crafted, made me wondering if you are *the* sarcastic master I should bow to.

    *Lakhsmi

  • Rei says:

    Sarkasme untuk lesbian, penting??

  • Fredric says:

    Haha, definitely great post.

    Well I don’t know, perfection comes pretty easy to me. Don’t worry your little head. I know it’s exhausting having to be right all the time. But those of us with the perfect gene will continue to procreate so that eventually all idiots will be choked out by the crush of perfect humanity.

    :p

    Sarcastic enough lakhsmi?

    You’re so original. Love you sis.

    (f)

  • Lakhsmi says:

    Tanpa bermaksud menghina kecerdasan para pemberi komentar (kalimat ini bukan sarkasme), dan pada saat bersamaan aku mengerti makna pujian yang disampaikan (kalimat ini juga bukan sarkasme), sarkasme tidak pernah bertujuan untuk memberikan pujian, malah selalu kebalikannya. Sarkasme juga tidak selalu tampak blak-blakan dalam melakukan serangan brutalnya. Sarkasme melawan dengan anggun, menusuk dengan cepat, lalu menghilang.

    Thank you for the comments. I often ask myself how it feels like to be right all the time. How delightful would it be to critize on lesbians’ doing? How fullfilling would it be that my opinion matters more than anyone else?

    Now. I. am. being. sarcastic.

    *Lakhsmi (incurably sarcastic)

  • redmoon says:

    “Artikel yg tdk masuk akal, sampai2 sy ingin membuat komen dgn unsur sarkasme, hah!”

    @,@

  • redmoon says:

    “Artikel yg tidak masuk akal, sampai2 saya tdk ingin melihat sepocikopi lagi.”

  • A-rhea says:

    tulisan ini payah dan tdk berbobot, saya tidak sudi harus melewatkan artikel dengan keterangan “oleh: Lakhsmi”

    ;)

    how???

  • Lakhsmi says:

    Komen pertama yang bagus, ingat definisi sarkasme di paragraf pertama “…menghasilkan bentuk tulisan yang berlawanan dengan kenyataan…”

    The word arrogance tickles my nipples I get my first orgasm.

    *Lakhsmi

  • Rei says:

    Lakhsmi, nona arogan yang memang pintar membuat sarkasme.

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.