Home » Telezkop

te.Lez.kop: Femme’s Playground

2 December 2009 44 views 12 Comments

tukang_pelek____by_giandhalimartaOleh: Shinigami

Mari saya data apa yang muncul di benak kalian ketika pertama kali membaca judul itu. Butik? Lantai bagian kosmetik atau sepatu suatu pusat perbelanjaan? Spa? Kelas yoga? Kelas menjahit? Kursus membuat kue? Ya, ya, daftarnya akan terus bertambah dan mungkin menyaingi daftar belanja bulanan seorang ibu kepala asrama, tetapi saya yakin –bahkan saya nyaris berani pasang taruhan– kalian hampir tidak akan memikirkan satu jenis tempat yang akan saya bahas kali ini: bengkel. Tidak, saya tidak salah ketik atau mabuk.

Apakah yang saya maksud itu bangunan yang bagian lantainya sering kali sudah tak jelas warna aslinya lantaran terlalu sering kena oli dan yang memiliki mesin kompresor yang menghasilkan suara desis memekakkan telinga setiap kali angin dipompa keluar melalui selang kecil? Ih, itu kan tempatnya kotor banget? Bagaimana bisa membayangkan para femme wangi dan cantik dengan tas imut, sepatu berhak, dan pakaian warna pastel mereka duduk di pojok, menunggui kendaraannya di-tune up?

Mungkin absurdnya seperti membayangkan Ade Rai pakai kostum tari pendet ya? Memang sih, bengkel bukanlah tempat yang lazim untuk diasosiasikan dengan femme yang cantik dan imut. Tetapi sesuatu yang jarang terjadi bukan berarti ia tak dapat atau tak seharusnya terjadi. Bisa saja hal itu sangat jarang terjadi karena kita belum benar-benar memikirkan atau mencermatinya.

Kondisi bengkel yang tak terawat dan cenderung berantakan cukup sering membuat orang malas ke bengkel. Tidak semua bengkel bersih dan menyenangkan seperti yang pernah ditulis Sidney di artikelnya A New Dating Place. Ralat, sebagian besar bengkel TIDAK bersih dan TIDAK menyenangkan. Karena itu, perempuan biasanya akan meminta pacar atau teman yang lebih maskulin (entah laki-laki atau perempuan) untuk membawa kendaraannya ke bengkel. Akibatnya bengkel seakan menjadi tempat yang didominasi kaum laki-laki dan sangat berbau maskulin.

Sampai di sini kalian mungkin sudah bersorak: Tepat! Karena itulah bengkel tidak cocok dijadikan tempat bermain femme. Tidak salah, itu satu sudut pandang yang bisa kita pakai. Tetapi, jangan kaget bila saya katakan bahwa justru dominasi kaum laki-laki dan sifat maskulin bengkel itulah yang menjadi alasan mengapa bengkel seharusnya menjadi arena para femme.

Kalau kalian belum menyadarinya, lelaki biasanya ingin tampil sebagai pahlawan bagi perempuan; bila bukan sebagai penyelamat segala sesuatunya, setidaknya sebagai sosok yang bisa diandalkan. Apalagi kita bicara soal otomotif, bidang yang secara otomatis dianggap dunia laki-laki. Nah, femme dapat dengan mudah memanfaatkan dua kondisi tersebut.

Bayangkan seorang perempuan manis berkuncir kuda yang sedikit lepek karena keringat, memasuki bengkel sambil menuntun sepeda motornya. Ia terlihat bingung dan panik, tidak mengerti apa yang salah dengan motornya yang tiba-tiba mati di perempatan jalan. Bagi lelaki, pemandangan semacam itu di mata mereka berubah menjadi semacam lampu Batman yang dinyalakan penduduk Gotham City ketika mereka membutuhkan bantuan. Mereka akan merasa berdosa bila tak melakukan sesuatu pun untuk membantu. Dan demi menjalankan peran pahlawan itu, mereka akan melakukan hal yang terbaik, terefektif, serta terefisien. Kalau perlu perempuan manis itu tak perlu mengotori tangannya satu milimeter pun. Serahkan saja semuanya kepada mereka, kaum laki-laki.

Coba kita ganti sedikit ilustrasi tadi dengan seorang butch gagah, lengkap dengan tas ransel, jaket balap, dan helm teropong mentereng. Ketika ia muncul sambil menuntun motornya, yang terlihat oleh para laki-laki adalah seorang teman yang kebetulan sedang bernasib sial. Entah bagaimana, mereka cenderung melihat sesama lelaki sebagai sesama superhero yang pasti bisa mengatasi masalahnya sendiri tanpa perlu dibantu. Alhasil, si butch tak akan mendapatkan perhatian atau pertolongan dengan level yang sama seperti yang seketika didapatkan perempuan manis berkuncir kuda yang saya jadikan contoh di atas. Biasanya diperlukan waktu cukup lama untuk menyadari bahwa pemilik sepeda motor mogok itu sebenarnya seorang perempuan yang sangat tomboi. Dan ketika itu terjadi, si butch kemungkinan besar sudah bermandi keringat dan sedikit frustrasi dengan kondisinya.

Selain kesigapan dan bantuan maksimal dalam tempo singkat yang diperoleh, femme juga akan diuntungkan dalam hal perolehan pengetahuan otomotif. Meskipun perempuan, ada baiknya juga kan kita sedikit mengerti tentang otomotif, terutama yang berhubungan dengan kendaraan yang kita pakai. Sering kali, montir-montir di bengkel itu bersikap seperti orang yang menderita radang tenggorokan alias irit bicara. Mereka biasanya diam saja kalau tak ditanya, dan kalau ditanya, mereka hanya akan menjawab pendek-pendek. Nah, ceritanya akan sedikit berbeda bila yang bertanya seorang femme cantik. Saya yakin, si montir akan memberikan jawaban yang lebih lengkap dari biasanya dengan tingkat antusiasme dan kesabaran yang di atas garis rata-rata. Kapan lagi bisa membuat perempuan cantik terkesima dengan pengetahuan yang dimilikinya?

Kalau yang bertanya butch? Kemungkinan besar montir itu akan menganggap ‘laki-laki’ ini sudah cukup tahu sehingga pemberian jawaban pendek pastilah cukup atau bisa jadi si montir akan menjawab dengan serangkaian istilah pelik bidang otomotif semacam “stang seker” atau “rantai kamrat” yang biasanya menimbulkan tanda tanya sebesar benua Amerika di pikiran seorang perempuan.

Bagaimana, masuk akal kan kalau saya bilang bengkel itu seharusnya menjadi playground femme? Demi pelayanan ekstra sigap dan penambahan pengetahuan bidang otomotif yang bisa jadi berguna suatu hari nanti, mulai sekarang mintalah pacar kalian yang femme untuk ke bengkel. Jangan suruh si andro atau butch, sebab mereka hanya akan menjadi sangat berguna bila bengkel itu bermontirkan perempuan semua. Hehehe….

@Shinigami, SepociKopi, 2009

12 Comments »

  • Mel said:

    Ha.. Bengkel!
    Utk fem2 cantiku.
    Ada2 sj shinigami ini.

    Itu reaksi pertamaku baca artikel diatas sambil geleng2 kepala . . . Ck..ck..ck..

  • dee said:

    waduwh,
    aku berasa femme tapi ko males banget menginjakkan kaki ke bengkel ya..
    ;D
    i dont like the noise of it.

  • meliâ said:

    iya ya,mel jg ngerasain tuh.tp tetap mel males bgt kalo ga terpaksa,walau si abang baik !! biasanya paling ganti oli (stelah lewat 1 bulan dan motor dah mulai lemot) maklum lah,ngeduluin bedak dr pd oli (^_^)

  • Tim said:

    Jadi montirnya femme2 cantik,
    wuaaaahhhh bisa sering2 ke bengkel tuh,ngliatin femme yg lgi dikolong mobil pasti sexy banget,jdi inget video klipnya rihana,shut up n drive yiiiihuuuu…………

  • Tim said:

    Jadi montirnya femme2 cantik,
    wuuaaaaahhh bisa sering2 ke bengkel tuh,ngliatin femme yg lgi dikolong mobil pasti sexy banget,jdi inget video klipnya rihana,shut up n drive yiiiihuuuuu………

  • purple_arch said:

    yup stuju ma shinigami..
    nyatanya ak kalo ke bengkel slalu dilayani dgn baik..
    mangkana ke bengkel bukan momok yg bkin ilfil bt femme

  • SummerBerry said:

    Lucu..lucu..
    Hahaha..
    Bner jg..bner jg..
    So ladies..dandan yg cntik kl mw ke bengkel,,
    Hohoho..

  • April said:

    Hehehe… Betul jg tuh…. :-)

  • olinamikaze said:

    justru gw suka bgt nih klo ada femme yg doyan ke bengkel.. hahaha… karna menurut gw beda ma yg lain. dimana femme pada sibuk mempercantik diri eh ni malah ke bengkel.. :p

  • libraries said:

    udah ngerasain sih ada diposisi as a femme or Butch kalo datang kebengkel!!! hasilnya memang seperti yg ditulishan oleh shin,,,
    tpi balik lg masalah atau kondisi yg menyebabkan mengapa kita harus kebengkel dan siapa atau perlakuan apa yang diterima adalah tergantung dengan amal dan perbuatan ;)

  • ENO said:

    TEPAT !
    Gw banyak dpt ilmu otomotif dari hasil “pasang badan” dg mas2 teknikal saat di bengkel :D

    Jadi femme yg komplit ga ada salahnya kan, lebih mandiri & multi talenta.

  • sarah said:

    teringat motor ku di rumah yang belum sekalipun tesenuh oleh ku *karena aku nggak bisa naik motor,, hhe he he*..kalo motor ku ‘sakit’ mending nyuruh adek ku aza dewh yang berangkat (soalnya dia yang bikin sang motor sakit, dan dia cukup manis ^^)

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.