ist2_5440194-giving-money-isolated-on-whiteOleh: Lakhsmi

Suatu hari iseng-iseng aku bertanya kepada beberapa teman hetero yang sudah menikah bagaimana mereka mengatur keuangan mereka, siapa yang menyimpan uang, siapa yang membayar apa, dan seperti apa traffic-nya. Ternyata sistem keuangan tiap pasangan memiliki persamaan yang agak berbeda dan perbedaan yang agak sama. Maksudnya?

Begini, untuk pasangan yang salah satunya tinggal di rumah mengurus anak, maka dia yang tinggal di rumah mendapat “gaji” atau setoran dari pihak yang bekerja. Untuk pasangan yang sama-sama bekerja, maka pihak lelaki biasanya memberikan “gaji” tambahan kepada sang istri untuk kepentingan pengeluaran rumah tangga, sementara gaji sang istri digunakan untuk tabungan. Aku tidak pernah mendengar kasus kebalikannya, seperti suami istri bekerja, istri memberikan “gaji” kepada suami. Ada juga pasangan yang memiliki satu account di bank di mana seluruh gaji mereka ditransfer ke rekening itu dan segala yang dimiliki di sana diputuskan bersama: berapa yang mau disimpan, berapa yang mau dibelanjakan.

Sebenarnya apa maksud pertanyaan ini? Pertanyaan ini dipicu oleh rasa penasaran tentang urusan finansial pasangan hetero (kepo mode on), yang ujung-ujungnya melakukan neraca perbandingan dengan urusan finansial pasangan lesbian. Di dunia hetero, di mana lelaki masih dipandang sebagai “pencari uang dan penyedia roti di atas meja”, sang lelaki diharapkan bekerja dan mendapatkan gaji lebih banyak daripada sang istri. Tunggu, jangan protes, memang banyak pasangan hetero yang tidak seperti gambaran di atas, tapi aku sedang membicarakan situasi umum. Banyak pasangan suami-istri dengan ilustrasi standar sebagai berikut: perempuan mengurus anak-anak (dan bekerja) dan lelaki bekerja untuk “menghidupi” keluarga (dan membantu mengurus anak-anak juga).

Dalam obrolan yang menggelikan antara sesama perempuan hetero perkotaan yang menikah, terdengar celutukan, “Gaji gue sih disimpan buat tabungan gue di masa depan, laki gue bertanggungjawab kasih uang untuk gue dan anak-anak.” (kedua pasangan bekerja). Atau “Aku yang kerja mati-matian, suami kan di rumah aja, wajar dong kalau aku bersenang-senang membeli sepatu atau baju menggunakan gajiku?” (sang istri menjadi tulang punggung keluarga). Atau “Saya sih mengurus rumah tangga, jelas banget kalau suami harus memberikan uang belanja kepada saya!” (istri tinggal di rumah tidak bekerja). Atau malah lihatlah kepada perjanjian pre-wedding (pembagian harta sebelum pernikahan) di pasal tertentu tertera jelas menyatakan bahwa “pihak pertama (suami) bertanggungjawab menafkahi pihak kedua (istri)”.

Jadi, dalam masyarakat modern, perempuan terasa seolah-olah “dibebaskan” dari tanggungjawab menafkahi keluarga. Bahkan dalam kasus perempuan sebagai tulang punggung keluarga, uang yang diperolehnya tetap dianggap sebagai uang yang dapat digunakan untuk kesenangan-kesenangan pribadinya. Kalau asumsinya perempuan mendapatkan hak “kebebasan” itu, bagaimana dua perempuan dalam hubungan lesbian mempertanggungjawabkan masalah keuangan? Apakah ada permainan peran siapa bertanggungjawab terhadap hidup siapa?

Artikel minggu kemarin, Shinigami di kolom te.Lez.kop telah membahas sebagian masalah keuangan ini. Ekor artikel meninggalkan sisa pertanyaan seperti ceceran nasi yang terjatuh di pinggir meja: apakah hanya dengan cara seperti itu pasangan lesbian mengatur keuangan? Saling bayar-membayar dan saling menunggu giliran? Sungguh terdengar sangat sederhana seperti penghitungan satu ditambah satu dan memberikan kesan pacaran standar saja, tanpa ada keseriusan komitmen di dalamnya. Sehingga untuk melengkapi artikel tersebut, pasangan lesbian dapat meniru skenario keuangan pasangan hetero yang menjadi ilustrasi di atas.

Katakan begini, dua lesbian saling jatuh cinta dan memutuskan untuk berkomitmen (tinggal bersama dan bersetia satu sama lain). Nah, lesbian yang memiliki pendapatan gaji yang lebih besar berkata kepada pasangannya, “Honey, simpan saja uang untuk dirimu, pakailah gajiku untuk keperluan kita berdua.” Lesbian ini mengambil peran “sosok yang menafkahi”. Apakah pemikiran seperti ini bisa masuk ke dalam vibrasi otak lesbian yang telah terbiasa dengan konsep saling membayar dan mengatur giliran membagi?

Mungkin saja ada pasangan lesbian yang melakukan hal yang kusebut di atas: menyetor uang kepada “istri”nya untuk biaya rumah tangga dan membiarkan sang “istri” menyimpan gajinya untuk kesenangan dan kebutuhan dirinya pribadi. Kalau memang ada pasangan lesbian yang mengatur perilaku keuangan mereka seperti itu dan berjalan dengan baik, maka hal tersebut dapat dijadikan alternatif lalu lintas keuangan bagi lesbian yang sungguh-sungguh siap berumah-tangga. Tetap ingat resikonya saja, tanpa ikatan hukum yang sah di negara tercinta ini, segala harta gono gini yang telah dibayarkan atau dipinjamkan tidak dapat diambil kembali jika terjadi perpisahan.

@Lakhsmi, SepociKopi, 2009