Home » Humaniora, Opini

Money for My Honey

2 December 2009 133 views 17 Comments

Oleh: Lakhsmi

Suatu hari iseng-iseng aku bertanya kepada beberapa teman hetero yang sudah menikah bagaimana mereka mengatur keuangan mereka, siapa yang menyimpan uang, siapa yang membayar apa, dan seperti apa traffic-nya. Ternyata sistem keuangan tiap pasangan memiliki persamaan yang agak berbeda dan perbedaan yang agak sama. Maksudnya?

Begini, untuk pasangan yang salah satunya tinggal di rumah mengurus anak, maka dia yang tinggal di rumah mendapat “gaji” atau setoran dari pihak yang bekerja. Untuk pasangan yang sama-sama bekerja, maka pihak lelaki biasanya memberikan “gaji” tambahan kepada sang istri untuk kepentingan pengeluaran rumah tangga, sementara gaji sang istri digunakan untuk tabungan. Aku tidak pernah mendengar kasus kebalikannya, seperti suami istri bekerja, istri memberikan “gaji” kepada suami. Ada juga pasangan yang memiliki satu account di bank di mana seluruh gaji mereka ditransfer ke rekening itu dan segala yang dimiliki di sana diputuskan bersama: berapa yang mau disimpan, berapa yang mau dibelanjakan.

Sebenarnya apa maksud pertanyaan ini? Pertanyaan ini dipicu oleh rasa penasaran tentang urusan finansial pasangan hetero (kepo mode on), yang ujung-ujungnya melakukan neraca perbandingan dengan urusan finansial pasangan lesbian. Di dunia hetero, di mana lelaki masih dipandang sebagai “pencari uang dan penyedia roti di atas meja”, sang lelaki diharapkan bekerja dan mendapatkan gaji lebih banyak daripada sang istri. Tunggu, jangan protes, memang banyak pasangan hetero yang tidak seperti gambaran di atas, tapi aku sedang membicarakan situasi umum. Banyak pasangan suami-istri dengan ilustrasi standar sebagai berikut: perempuan mengurus anak-anak (dan bekerja) dan lelaki bekerja untuk “menghidupi” keluarga (dan membantu mengurus anak-anak juga).

Dalam obrolan yang menggelikan antara sesama perempuan hetero perkotaan yang menikah, terdengar celutukan, “Gaji gue sih disimpan buat tabungan gue di masa depan, laki gue bertanggungjawab kasih uang untuk gue dan anak-anak.” (kedua pasangan bekerja). Atau “Aku yang kerja mati-matian, suami kan di rumah aja, wajar dong kalau aku bersenang-senang membeli sepatu atau baju menggunakan gajiku?” (sang istri menjadi tulang punggung keluarga). Atau “Saya sih mengurus rumah tangga, jelas banget kalau suami harus memberikan uang belanja kepada saya!” (istri tinggal di rumah tidak bekerja). Atau malah lihatlah kepada perjanjian pre-wedding (pembagian harta sebelum pernikahan) di pasal tertentu tertera jelas menyatakan bahwa “pihak pertama (suami) bertanggungjawab menafkahi pihak kedua (istri)”.

Jadi, dalam masyarakat modern, perempuan terasa seolah-olah “dibebaskan” dari tanggungjawab menafkahi keluarga. Bahkan dalam kasus perempuan sebagai tulang punggung keluarga, uang yang diperolehnya tetap dianggap sebagai uang yang dapat digunakan untuk kesenangan-kesenangan pribadinya. Kalau asumsinya perempuan mendapatkan hak “kebebasan” itu, bagaimana dua perempuan dalam hubungan lesbian mempertanggungjawabkan masalah keuangan? Apakah ada permainan peran siapa bertanggungjawab terhadap hidup siapa?

Artikel minggu kemarin, Shinigami di kolom te.Lez.kop telah membahas sebagian masalah keuangan ini. Ekor artikel meninggalkan sisa pertanyaan seperti ceceran nasi yang terjatuh di pinggir meja: apakah hanya dengan cara seperti itu pasangan lesbian mengatur keuangan? Saling bayar-membayar dan saling menunggu giliran? Sungguh terdengar sangat sederhana seperti penghitungan satu ditambah satu dan memberikan kesan pacaran standar saja, tanpa ada keseriusan komitmen di dalamnya. Sehingga untuk melengkapi artikel tersebut, pasangan lesbian dapat meniru skenario keuangan pasangan hetero yang menjadi ilustrasi di atas.

Katakan begini, dua lesbian saling jatuh cinta dan memutuskan untuk berkomitmen (tinggal bersama dan bersetia satu sama lain). Nah, lesbian yang memiliki pendapatan gaji yang lebih besar berkata kepada pasangannya, “Honey, simpan saja uang untuk dirimu, pakailah gajiku untuk keperluan kita berdua.” Lesbian ini mengambil peran “sosok yang menafkahi”. Apakah pemikiran seperti ini bisa masuk ke dalam vibrasi otak lesbian yang telah terbiasa dengan konsep saling membayar dan mengatur giliran membagi?

Mungkin saja ada pasangan lesbian yang melakukan hal yang kusebut di atas: menyetor uang kepada “istri”nya untuk biaya rumah tangga dan membiarkan sang “istri” menyimpan gajinya untuk kesenangan dan kebutuhan dirinya pribadi. Kalau memang ada pasangan lesbian yang mengatur perilaku keuangan mereka seperti itu dan berjalan dengan baik, maka hal tersebut dapat dijadikan alternatif lalu lintas keuangan bagi lesbian yang sungguh-sungguh siap berumah-tangga. Tetap ingat resikonya saja, tanpa ikatan hukum yang sah di negara tercinta ini, segala harta gono gini yang telah dibayarkan atau dipinjamkan tidak dapat diambil kembali jika terjadi perpisahan.

@Lakhsmi, SepociKopi, 2009

17 Comments »

  • AL said:

    Kalo menurut Islam memang uang suami untuk seluruh keluarga sementara uang istri adalah miliknya sendiri. Tapi kawan saya malah kebalikannya tuh, gajinya untuk kebutuhan sementara gaji suaminya 100 persen ditabung. Alasannya karena mereka belum punya banyak kebutuhan sementara gaji istrinya bisa ngepas. Tahun-tahun yang akan datang, setelah ada anak dan tentu kebutuhan jadi membesar, baru situasinya dibalik. Ada juga yang punya tabungan di banyak tempat. satu tabungan pendidikan untuk setiap anak, padahal baru lahir, ada yang untuk masa tua, untuk keperluan mendesak dan musibah. Saya sampai pusing ngedengerin penjelasannya.
    Apa mungkin musti ada perjanjian yang jelas hitam diatas putih pake materai untuk pasangan L, heheh…

  • noy said:

    gw miswa (saya hetero)
    spakat mnikah adlh ksepakatan bdua
    dan keterbukaan adalah kunci utama
    hak dan kwajiban d tanggung bersama
    trutama u masalah finansial
    kami punya rekening bersama (kami bdua bkerja)
    dan masing2 rekening u bsenang2
    yg isinya pun d spakati bersama
    stelah mnikah 5 th, tk pernah skalipun
    kami bermasalah dlm hal finansial :D

  • meliâ said:

    setuju….maksudnya,mel jg berharap pasangan mel bs mencukupi kebutuhan sehari2(trutama makan).tp jg bkn berarti lepas tangan,mel seimbangkan dgn membayar makan2 diluar atw hiburan lain.atw jg mungkin membeli kebutuhan sehari2 (sabun dll ) .pokoknya sebagian besar pengeluaran di cover dia dan ak back up jika kurang.

  • kaka said:

    Memang pengaturan finansial antara pasangan hetero dengan pasangan lesbian sangat jauh berbeda.Hal ini sudah disinggung pada bagian akhir bahwa pasangan lesbian tidak memiliki ikatan hukum yg sah. Tidak adanya ikatan hukum yg jelas pada pasangan lesbian, membuat tidak adanya rasa tanggung jawab “pihak laki-laki” (pasangan lesbian) untuk menafkahi “istrinya’. Jadi prinsip finansial yang digunakan hanya berbentuk giliran saja. Dengan demikian, sistem finansial pasangan hetero sangat sulit untuk diterapkan dalam pasangan lesbian.

  • akkaht said:

    sepertinya tdk ada yg tdk mengandung resiko dalam hidup ini ya… (semua depend dg hasilnya). HUKUM!!! di negeri tercinta ini bicara HUKUM!! HA…HA… Cintaku tdk perlu hukum!!! tapi aku harus kerja salah satu hasil ya uanglah… (buat apa? ya macam2lah..)

  • kinomoto erie said:

    okelakalobegitu….
    slg memahami, slg mngisi,krja sma antr pasangan n pngrtian dlm mslh finansial jg dbthkn…y dstu kekompakan n kstiaan qt sbg pasangan…jgn egois n menang sndri..maunya ditraktir mulu.. susyeh klu gt…hihihi…

  • Ning said:

    Aku dan partner sudah 5 tahun lebih menjalankan pengelolaan finansial berdasarkan prinsip kasih sayang dan saling melengkapi. Sebesar apapun pengeluaran buat kekasih itu priceless.

    Partner menyetor sebagian salarynya untuk kas rumah tangga selama sebulan, aku bertanggungjawab mengelola seluruh masalah keuangan. Belanja sehari-hari, pembayaran tagihan, asuransi dll. Aku menghormati setiap rupiah yang dia peroleh dari kerja kerasnya.

    Sedangkan salaryku yang sebagian besar teralokasikan untuk ortu, sisanya untuk menambahi kas rumah tangga, dan untuk memanjakan partner tercinta.

    Alhamdulillah, bila dilakukan dengan tulus dan ikhlas, meski tanpa ribet urusan ikatan hukum pun Tuhan berkenan menjaga dengan berkatNYA.

    Cara menilai kualitas hubungan dari segi finansial tidak sulit kok, apakah kamu bertambah kaya setelah bersama partner? apakah partner kamu bertambah kaya setelah bersama kamu? apakah setelah bersama kaliah tidak lagi bermasalah dan tidak ribet serta ribut urusan keuangan?

  • Dian said:

    Sy kbetulan br ‘mlangkah’ utk ‘menikah’ dan tgl brsm dgn partner sy. Kami mberlakukan asas kterbukaan dlm hal financial,wlpun partner sy bekerja jg, tp kami spakat sy yg wjb memenuhi kbutuhan RT dgn mnyetor sjumlah uang k rek partner sy dan dia yg mngurus utk sehari-hari sdgkan gaji dia utk kbutuhan dia pribadi. So far kami slg memahami kewajiban dan hak kami masing-masing. Di luar kewajiban itu, sy dibebaskan utk mpergunakan sisa gaji sy dan pghasilan sampingan sy utk ksenangan sy sendiri. Jd tidak se strict pasangan hetero yg hrs mnyetor smua pghasilan atw istri hrs serba tahu suami beli apa. Sy nyaman dengan kondisi yg kami sepakati ini.

  • Peace said:

    Jika salah satu dr pasangan lesbian yg mempunyai uang lebih byk ato gaji lebih besar drpd partner nya ya dy lah yg “menafkahi” partnernya sepenuhnya tentunya dengan tulus n ikhlas..sehingga klo mis.nya suatu saat ada masalah, ya yg “menafkahi” ga boleh mengungkit2 soal uang itu lg.. Saling mengerti n memahami pasangan…

  • tika said:

    intinya tetep di saling pengertian itu tadi kok. menurutku, baik pada pasangan hetero maupun pasangan L sebaiknya emang kudu fleksibel. kalau aku, selalu menganggap uang yang kami peroleh sebagai uang bersama. semua dijadikan satu, berapa pun jumlahnya. nanti siapa butuh apa, tinggal dikomunikasikan aja, asalkan kebutuhan pokok dah terpenuhi.

  • De said:

    Setuju Tika, aku n partner juga begitu. Sama2 nyari duit, dan dianggap sebagai uang bersama n digunakan bersama. Berharap uang kami akan semakin buanyaaakk..buat beli rumah, he..he

  • chesan said:

    wkt msh tinggal bersama, keuangan kami diatur oleh partner. setelah kami tinggal beda kota (karena pekerjaan) terpaksa keuangan diatur masing2. hal ini tidak menyenangkan karena saya gak bisa nabung…*berharap bs secepatnya tinggal bersama lg*

  • Rafi said:

    Uang sy ya pastinya uang partnerlah. Kayaknya urusan financial di hub L akan menjiplak dr cara hub hetero yg sewajarnya deh…it means yg menyandang gelar A ato B pasti cenderung utk menafkahi pasangannya yg F, apalg kalo penghasilannya lbh besar. Itu kan bgn dr keinginan utk melindungi & membahagiakan pasangan. Kalo penghasilannya lbh kecil, setidaknya menghidupi diri sendiri tanpa membebani pasangannya. Kasian donk kalo pasangannya hrs banting tulang utk mengcover smua kebutuhan bersama ;) Dlm Islam, mencari nafkah hukumnya wajib bagi suami. Istri? Sunnahpun tidak, apalg wajib mencari nafkah! Kalopun istri mencari nafkah itu adalah buah dr ‘kebaikan’ dr si istri dlm membantu suami. So, tinggal dari kita sendiri… mau menempatkan diri kita sbg apa?? ;)

  • anteos said:

    im married with my gay partner. well, its been two years. of course there is some problem with our financial.
    I never can handle my shopping instinct, beda dengan my wife.

    Penghasilan dia, dia yang mengurusnya, kebanyakan untuk cicilan rumah dan property lainnya. dan penghasilan saya untuk keperluan rumah, credit card bills, listrik dan lainnya.

    entah apa jadinya kalau penghasilan dia saya yang memegang, walaupun dia selalu memanjakan saya dengan hampir tiap bulan membelikan saya tas, dan sepatu.

    mengatur keuangan gampang kok, asal jangan ada yang serakah saja, dan harus terbuka. =)

  • maia said:

    Nah kalo yang satu ini ikutan ah….tergantung konsepnya kali ya…awal punya hub kita sama2 sharing buat semuanya…jadi tanggung jawabnya lebih terasa…seiring perjalanan secara dah 10 taon bareng..pasti lah ada up n down..nah siapa aja bisa berperan jadi “mesin uang” istilahnya…karna keadaan kan ngk bisa kita atur…

    So sampai hari ini seh, kita ngk kepikiran tentang harta gono gini nantinya ya…:mudah2an ngk ada apa” kalaupun ada apa2 kita dah secara verbal menyetujui kalo semua akan dibagi 2…cuma yang bingung kalo kita ampe the end bareng hartanya dikasih ke siapa ya? hehehhehe sori OOT

  • juwita said:

    kami sama2 memiliki penghasilan. tp krn latar keluarga kami beda, maka
    pengeluaranny pun beda. karena saya dari keluarga yg butuh di support,
    salah satu pengeluaran saya adalah untuk keluarga, lalu kebutuhan sehari2, lalu perencanaan masa depan dan penuh dengan menabung untuk ini dan itu. jarang untuk bersenang2. partner yg dari keluarga berada, saya kurang tw pengeluaranny untuk apa, karena tidak ada yg perlu dia support. karena itu juga, dia sangat memanjakan saya. sebisa mungkin menolong saya untuk ini dan itu yg dia mampu. kadang saya jd berasa matre, :p yah, tp kalo pacar saya g ngasih apa2, saya tetap mw koq sama dia :) tp, kalo dia ngasih sesuatu ke saya, atau manajain saya, masakan saya menolak :P

  • carmen said:

    Pengaturan keuangan. Interesting. Hmm.. Sekedar sharing. Berarti pengaturan keuangan kami jelas referensinya bukan seperti pasangan hetero. Kami juga sama-sama perempuan femmes yang tinggal bersama; jadi tidak ada pembagian peran suami-istri seperti beberapa pasangan butch-femme, dimana ekstensi perilakunya ada yang berkewajiban menafkahi dan berhak dinafkahi. Kami juga punya gengsi tinggi; jadi mungkin kalau soal finansial agak jauh dari romantis.

    Ada rekening “bersama” walaupun itu account pakai nama dia. Kami berdua wajib menyetor dengan jumlah sama per fortnight ke rekening tsb (jadi ga peduli partner gajinya lebi gede dan aku lebi kecil; jumlah yang disetor sama) untuk kebutuhan sehari-hari. Terdengar simpel? Ribet juga lho, karena berakibat gaya hidup yang musti menyesuaikan satu sama lain; termasuk kalau liburan juga share duitnya sama. Untuk urusan di luar kebutuhan hidup bersama, misalnya harta gono gini atau tabungan atau asuransi atau shopping hura hura pribadi dll, ya diurus sendiri-sendiri. Contoh gede, kami tinggal bareng di rumah yang dibeli partner dan itu tetap rumahnya partner (kebutuhan rumah tangga tetep dishare berdua!) ; aku lagi bangun rumah yang adalah rumahku, ga ada kaitannya dengan pacar. Jadi intinya finansial kami masing-masing independen (walau gajiku ga segede partner, aku ga nyaman “bergantung” atau jadi pihak yg banyak “dikasih”. Gengsi!). Kalo saling membelikan/men-share tempat tinggal ya urusan sendiri-sendiri juga; keikhlasan tapi juga bukan kewajiban. Ga romantis ya?

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.