Merry dan Kelamin Baru
Oleh: Zetha Septina Abdu
Merry terkepung malam di lampu merah
saat usia mengumpulkan kecemasan
aspal jalan raya serupa lantai dansa
membetoti bibir-bibir lelaki dan janggut kasar
untuk menghisap ngilu
pada silikon yang mengelupasi tubuhnya
kecuali untuk Tuhan yang terburu-buru atas tubuhnya
Merry mencari dan memilih kelamin-kelamin rebah
di etalase pertokoan
meninggalkan kartu kredit
dan orang-orang menagih tubuhnya dengan basah
lewat hujan yang mengerangkan dusta
Tentang Zetha Septina Abdu:
Tetap tinggal di kota berhati nyaman, masih saja suntuk menyelesaikan skripsi di salah satu universitas negeri di Jogja.
Ast
November 30th, 2009 at 12:35 pm
laik dis
lari dari arus lirisme yang lagi jadi jalan lurus buat puisi
Mel
November 30th, 2009 at 1:01 pm
Puisi yg cantik walau agak sulit mencernanya..
zh septina abdu
November 30th, 2009 at 1:43 pm
huehehe….
ada yang tahu rupanya usaha saya untuk lari dari arus lirisme, tapi belum sepenuhnya berhasil yak… namanya juga proses, usaha.he he….
aderain
November 30th, 2009 at 4:39 pm
keren
kopicina
November 30th, 2009 at 4:44 pm
saya agak bingung, apakah si merry baru berganti kelamin >> transvestite, atau si merry selalu mendapat kelamin baru >> pelacur?
zh septina abdu
December 1st, 2009 at 4:52 pm
Mungkin rasanya tidak adil ketika saya membincangkan isi puisi saya, karena dari segi pragmatik saya membatasi pembaca dalam menginterpretasikan puisi tersebut. Bukankah ketika karya lahir, maka penulis sudah mati.
Tapi, saya cuma ingin bilang bahwa puisi ini tentang transgender. Selanjutnya….. Terserah pembaca
ega mavilla
December 7th, 2009 at 6:47 pm
maksud nya apa thu kak puisinya??