Home » Humaniora, Spiritualisme

Sarah

29 November 2009 124 views 37 Comments

flower_heartOleh: Ade Rain

Silakan berkenalan dengan Sarah. Usianya matang, sepuluh tahun lebih muda dariku. Kulitnya masih kencang, segar, cingklong, dan cemerlang. Aku bertemunya secara tak sengaja di sebuah toko kecil kota suci Madinah. Di antara pertokoan yang unik, diselingi bau kemenyan bakar dan rempah yang keluar dari beberapa blok di sebelahnya serta bercampur dengan debu Madinah (yang dipercaya bukan sembarang debu), kulihat Sarah pertama kali duduk di sebuah kursi, pasrah menghadap ke badan jalan. Siapa saja yang lewat, nyaris melirik dan tertarik padanya.

Melangkah gontai sambil menyesap pasrah pada udara panas sepulang dari mesjid, kulihat Sarah seperti sedang menanti seseorang. Selama lima hari di Madinah, belum pernah kutemukan sosok cantik seperti dirinya. Entah… barangkali memang mata kurang menikmati pemandangan sekitar, sehingga ia luput dari penglihatan. Padahal dari hotel menuju mesjid, beberapa kali aku menoleh kepada para pedagang kaki lima, baik yang berjualan di emperan mau pun yang bergerak berpindah sesuai dengan bayang teduh matahari. Setiap pulang salat, rencana membeli sesuatu jadi kabur dan tidak jelas, karena pedagang kaki lima menghilang dari tempat yang sudah ditandai sebelumnya. Pedagang Madinah berjualan dengan cara nomad mengikut arah matahari. Barangkali hal ini yang membuatku lalai melihat Sarah.

Dibanding Mekah, Madinah jauh lebih rapi, teratur, dan bersih. Mesjid Nabawi terdiri dari beberapa gerbang diberi nama dan nomor pintu yang sebenarnya mempermudah jamaah. Aku berusaha mengingat gerbang yang sejajar dengan tempat Sarah biasa berada. Tak habis pikir kenapa mata tak menyadari keberadaannya. Mengapa baru di hari-hari terakhir kulihat dia? Hatiku bergetar ketika pertama kali kami bersirobok mata. Entah apa yang kurasa, namun Sarah membuat pikiran tak lagi tenang ketika tiba di hotel.

Kutantang diri, mengatakan dengan suara keras bahwa aku berada di tempat suci bukan untuk tergoda. Tekad ibadah merupakan penyelubung niat dari tanah air, namun Sarah telah membuatku terjebak melihat sisi lain Madinah. Taman-taman kota bagai di tengah London, serombongan merpati yang menanti diberi makan pengunjung, ditambah Sarah berhasil memekarkan seribu kembang kecil pada bidang dadaku. Malam menjelang tidur, cahaya kecil dari luar jendela bagai jutaan kunang-kunang menyerubut masuk. Pemandangan dari kamar hotel di ketinggian langit begitu menyesak. Kelap-kelip kota menyerupai samudera luas yang berkilauan disiram bulir mentari. Keheningan malam dijajah Sarah. Tuhan, aku benar-benar jatuh hati.

Siang itu, tak sengaja kami bersentuhan ketika tokonya dipenuhi pengunjung. Aku masuk, berpura-pura ingin membeli sesuatu sambil mencari tahu dari mana Sarah berasal. Apakah ia asli Arab atau…? Bahu tangan kananku menyapu kulitnya, tentu dia diam tak merasakan apa-apa. Namun sentuhan itu melekat di kulitku. Terbayang Sarah serasa enggan tidur, namun mata akhirnya terlelap.

Panggilan azan shubuh pertama sayup-sayup menembus kedap suara kamar. Aku bertekad ingin bertemu Sarah hari itu. Entah mengapa firasatku mengatakan ia segera dipersunting orang lain jika tak segera kutemui. Jangan sampai aku tak melihatnya lagi. Siang itu, sebelum meninggalkan Madinah, usai pamit pada Rasulullah di Raudah, aku bergegas menuju tempatnya duduk. Ia masih di sana, oh Rabb… hati dikerumuni seribu capung, kuajak ia pulang bersamaku.

Takbir Idul Adha bersahutan di corong mesjid, aku memandang Sarah sedang duduk manis. Bibir berdzikir mensyukuri keberadaannya di kamar tidurku. Tubuhnya mulus dan lembut, terkulai pasrah di sofa. Warna kulitnya bersinar disiram cahaya lampu. Malam itu aku teramat lelah, sehingga aku hanya menciumkan dahiku padanya terburu-buru. Namun dini hari, dengan tenaga yang utuh, kusentuh ia lebih lama. Kuraih Sarah dari sofa, mengibaskannya di pahaku agar bersih dari debu. Di sisi bagian atas dadanya bergambar Ka’bah. Saat kugelar ia di atas lantai, ia menatapku penuh cinta. Getaran tersebut tak pernah berubah sejak kuputuskan menghabiskan sisa umur bersamanya.

Malam itu kami mengobrol tentang lembah-lembah indah di Madinah, wadi Buthan yang bercabang ke Wadi Mudzaineb. Kemegahan Jabal Tsur, sebuah gunung kecil yang berwarna kemerah-merahan yang mengelilingi jabal Uhud utara Madinah. Kami juga mengkhawatirkan para jamaah haji yang sedang wukuf di Arafah. Sarah berbisik di telingaku, setiap kali dahi menunduk dan menyentuhnya.

“Aku mencemaskan para pejuang haji.”

“Kudoakan mereka semua, Sarah, semoga pulang haji dengan selamat.”

Senandung sayu dari mesjid dekat rumah membasah usai Isya, mata menatap Sarah penuh cinta, mensyukurinya sebagai pasangan setia hidupku. Ia tak pernah mengeluh, tidak juga memprotes jika aku terlambat menemuinya. Tak pernah ada kata-kata yang tidak mengenakkan hati. Ia menjadi pelita siang dan malam. Duduk diam dengan sopan ketika aku sedang sibuk mengobrol bersama Allah. Ia mengingatkanku suara-suara orang thawaf mengelilingi Ka’bah. Mengiangkan azan merdu mesjid Nabawi, serta samar-samar membuka kembali ingatan akan dendang lafaz Qur’an jamaah yang membaca tartil merdu menunggu azan tiba. Sejak kubawa Sarah pulang ke Indonesia, itulah hari-hari di mana dua per tiga malamku terasa begitu sempurna bersama dirinya.

Selamat hari raya haji, wahai insan lesbian yang telah mengunjungi tanah suci. Semoga sajadah indah yang engkau bawa pulang dari tanah suci, bagai Sarahku – semakin merekatkan dirimu pada Tuhan, pemilik setiap raga yang hidup. Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamd.

@Ade Rain, SepociKopi, 2009

37 Comments »

  • cahaya said:

    Kapan ya, aku bisa memenuhi panggilan Allah swt.
    selamat idul adha sahabat semua…
    rinduku mencecap keheningan di dua per tiga malam

  • Mel said:

    Sarah?
    Sebenarnya siapa sih?
    Jd bingung. Met idul adha utk semua L yg merayakannya.

  • 14 said:

    Selalu saja ada keindahan di balik goresan pemilik hutan hujan………
    Semoga ‘Sarah’mu setia menemani.Melengkapi kebersamaan denganNya dalam kehidupan yang dijalani. .

    14

  • tiek said:

    Who is Sarah, Rain?
    michiru mu k?

  • Tuyus said:

    Selamat Hari Raya Idul Adha 1430 H, Rain. Semoga Allah menerima kurban kita dan memberikan kita hikmah untuk meneladani ajaran Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Muhammad s.a.w. Aamiin.

  • Juno Bis said:

    Sajadah indah, sajadah cantik, tempat para insan beriman bersujud di hadapan Sang Khalik Nan Maha Bijak. Kebiasaanmu membawa sajadah dan mukenah ke manapun kau pergi, kebiasaanmu untuk shalat pada waktunya dan ujar lembutmu tentang Sinar Nan Maha Suci di artikel-artikelmu bagai usapan sejuk di hatiku, lil-sis AdeRain.

  • tita said:

    Berusaha dekat kepada Allah banyak caranya. bukan hanya melalui sholat, puasa, haji, zakat dan zikir. Rasullah bersabda” memenuhi keperluan seorang Mukmin lebih Allah cintai daripada melakukan dua puluh kali haji. Selain itu Sabda Rasul : manusia yang paling Allah cintai adalah manusia yang paling banyak berkhidmat (menolong) kepada sesama manusia. Memasukkan rasa bahagia pada orang lain adalah juga ibadah yang utama.

  • gian said:

    Indah…..

  • ChiL said:

    Waaaah….w0o0ooowW…
    Aiiih….
    ^_^

  • Maly said:

    Sarah punyamu ingin ku sunting buat peneman punyaku Aydin
    pasti jika keduanya bergandingan segala DOA yang ada di hati dan bibir pasti terus akan di angkat ke langit dan di AMINkan oleh para MALAIKAT…AllahuAkbar!

  • bear said:

    so nice… aku berharap dapat menemukan cinta sejatiku di tanah suci

  • pus said:

    indahnya…….

  • akkaht said:

    paling bisa?bikin bingung sista yg satu ini ha….ha…. mondar-mandir dulu ke sana kemari baru di bawa ke tujuan sebenarnya nan begitu indah…. tq, selamat lebaran bt yg merayakan.

  • Kyra said:

    tulisanmu bnar2 membwtq terhenyak. kmbali terhuyung, tapi kali ini lebh limbung, memang, Cinta yg sempurna adl cinta pada Yang MahaMencinta Umatnya

  • Tim said:

    Tante Ade, tulisannya memiliki jiwa. Energi n magnetnya terasa kuat.

  • AL said:

    Indah :)

  • Tuyus said:

    Tita : Setuju dengan tulisanmu. Selain hablul minallah kita juga diminta untuk melaksanakan hablul minannas. Bahkan melalui hablul minannas sering doa-doa kita dikabulkan Allah.

  • A-rhea said:

    I love it.. so beautiful…. (n_n)

  • Redmoon said:

    Four tumbs up!
    Aq suka alur critanya,,SUPRICING!
    B’harap bs nulis ky gitU..

  • jn said:

    :-) Keren bgt penulisannya rain.. d awal crt pst ktipu smw neh yg mbaca tp slanjutnya..mnyentuh kalbu..

  • meliâ said:

    slamat idul adha buat smua,dan slamat buat rain yg udah bs menghadap kesana,smoga membawa berkah untuk mu!sdang kan mel msh blm brani sholat….. Rain gmn cr nya untk menghilangkan perasaan berdosa dan tak pantas ini ?? Mel jg mau sholat,tp ragu apa mel pantas??

  • Mango said:

    Tulisan yang indah ade….. selamat idul adha buat semuanya juga…..

  • LigX said:

    très belle écriture..

  • April said:

    Sarah it sp?? Sajadah y,bingng… Tp indah bgt ni artikel….

  • lifeishappi said:

    hi sarah! i love you too…

  • dee said:

    nice story,
    met idul adha semuanya.
    jadi pingin liat sajadah kaya apa yang telah membuat seorang Ade Rain jatuh cinta..
    :)
    @melia: semua orang pantas untuk memohon padaNYA.
    ga ada 1 orang pun manusia yang bisa menjudge
    manusia lain. hanya DIA yang berhak. jadi jangan
    membelenggu dirimu untuk tidak shalat karena
    rasa bersalahmu itu.

  • Ri said:

    Bagus banget tulisannya :)

  • noy said:

    @dee
    manusia itu vertikal n horizontal
    Tuhan jg gk akn ciptakan manusia
    semata u mnyembahNya
    praktik horizontalnya sperti apa
    lihatlah pada lingkungan sekitarmu

  • kinomoto erie said:

    subhanallah..spiritual dan religius.. L yg religius, tdk mlupakan sang Khalik, slg mngingatkn dlm kbaikan n ibadah..tdk kalah dg yg hetero.keep the burning spirit lady..love u

  • Lafé said:

    Speechless,two thumbs up! Ga nyangka bs mendefinisikan Sarah begitu imdahnya dgn ttp ad unsur L nya…..Sarah!!

  • wangi said:

    sekali baca juga udah tau kalo sarah itu sajadah….hehe :P PP

  • nobody said:

    Rain….maaf tulisan mu sempurna…tapi please baik mekah maupun madinah kan kota suci………alangkah lebih indahnya bila ibadah mu tidak berbaur lebur dengan duniawi mu, kamu bisa menghampiri sarah2 yg lain sekembali nya nanti…….

  • nobody said:

    hahaha…sorry pls disregard yg previous aku belom selse nyimak udh mo protes……..hahahaha…..ok deh…..pasti keren sarah nya yah made in turkey yah?

  • Jai said:

    Ya ampun gak kepikiran deh buat namain sajadah, lagian tau aja klo ke arab belinya sajadah. Punyaku sajadah berwarna biru sulaman india beli di Madinah, kalo gitu kunamain Sharukh Khan aja deh biar ketemu jodoh Ashwara Rai :D

  • LineGrey said:

    sarah siapa sih ? wanita bukan ?

  • chesan said:

    jadi punya ide untuk namain sajadah :)

  • cmolzrn said:

    Wehh, sumpah takjub dan speechless bgt gw bacanya. Keren bgt!

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.