Lagak Lajang: Don’t Judge the Book by Its Cover
Oleh: Oscar Arumi
Kalau mau pake label-labelan, saya tidak keberatan bila dikategorikan sebagai bagian dari andro-butch. Yah, kalau kata anak-anak sekarang sih, memang rada macho tapi gak kelihatan cowok banget kok. Ketika semasa kuliah dulu, saya selalu menggunakan kaos dan jins belel plus sepatu kets yang talinya gak pernah nyambung dengan warna sepatu. Dengan sekali pandang, lesbian mana pun yang bertatapan dengan saya pasti bisa menerka-nerka bagaimana saya. Beranjak tamat kuliah dan mulai dewasa, saya terbiasa menggunakan celana bahan kain dibalut kemeja plus sepatu kulit perempuan tanpa hak yang modelnya mirip sepatu pria. Atau, bila sedang tak menggunakan celana berbahan kain, jins yang tak terlalu ketat tetap menjadi pilihan saya. Dengan berbusana demikian, ditambah kemeja atau atasan lain yang dimasukkan kedalam celana hingga mata sabuk kelihatan samar-samar di bagian perut, seorang lesbian dewasa pasti bisa mengenali aura yang saya kenakan. Dan, saya yakin, pasti!
Beberapa tahun lalu, saya pernah bergelut dengan sindrom pengangguran besar-besaran. Artinya, saya menganggur ketika baru tamat kuliah dengan bulan bermalas-malasan yang sangat berkesan. Namun, justru akhirnya memacu diri untuk mengubah masa depan saya. Waktu itu, saya sedang mengikuti ujian psikotes dan wawancara pada sebuah bank. Sampai suatu ketika, seorang peserta mendekati saya.
“Mbak, yang kemarin ngantri di kantor pos kan? Tes juga ya, Mbak?” tanyanya dengan yakin sementara saya benar-benar tak bisa mengingat siapa perempuan yang menyapa saya. Akhirnya, saya cengar-cengir sendiri menanggapi ceritanya.
Lalu, di sebuah kesempatan yang lain, saya harus menemani seorang sahabat yang diserang demam berdarah. Ketika menunggu racikan obat di apotik rumah sakit, saya duduk menunggu bersama pasien lainnya. Seorang pasien menyenggol lengan saya sambil berucap, “Eh, Mbak yang ngantri film Kuch-Kuch-Hota-Hae minggu lalu kan? Wah, dapat tiketnya nggak? Saya nggak dapat loh, Mbak’’.
Berulang kali saya mengerutkan dahi mengingat siapa perempuan ini, berulang kali pula saya gagal memanggil memori pengingat saya untuk mendeteksi “cewek yang mana ya?’’.
Oke, ada apa dengan mereka? Saya bertanya-tanya mengapa perempuan-perempuan yang sama sekali tidak saya kenal malah ternyata ‘mengenali’ saya. Beberapa tahun yang lalu, saya tak sempat menganalisanya dan tak tertarik mengadakan penelitian lebih lanjut. Mengapa dulu, banyak sekali yang gampang ‘menandai’ saya, tapi tidak seperti sekarang? Entah kenapa, akhir-akhir ini saya yang malah meng-introspeksi diri sendiri. Jangan-jangan memang ada yang salah dalam diri saya pada periode tahun lalu.
Saya memandangi cermin dan tersenyum melihat rok mengajar yang wajib saya kenakan, sepatu ber-hak yang tak terlalu tinggi plus blazer yang kerap digunakan sehari-hari. Saya tatap wajah saya di cermin, nyaris tak ada perubahan selain kerutan yang mulai menyeruak ke permukaan dahi.
Perlahan saya sadari, sekarang ini berbeda dengan yang dulu. Penampilan andro-butch dulu, mungkin menimbulkan kesan tersendiri bagi beberapa orang sehingga lekat dalam ingatan. Yang melihat saya bisa saja lesbian, bisa juga bukan. Yang pasti, dengan penampilan yang ‘berbeda’ seperti dulu, orang-orang bisa menandai bahwa saya memang ‘berbeda’ dari perempuan kebanyakan. Lantas, saya pandangi cermin sekali lagi, dan melihat rok mengajar yang saya kenakan. Senyuman puas tersungging di bibir. Puas karena ternyata rok mengajar berhasil mengelabui beberapa orang! Setidaknya saya nggak kelihatan macho.
Tetapi, tiba-tiba teringat status jomblo saya dan kemudian menerka-nerka. Jangan-jangan karena rok mengajar ini, maka saya hampir tak berhasil dekat dengan perempuan femme mana pun? Atau… jangan-jangan mereka justru menganggap saya femme dengan rok seperti ini? PLAK! Tangan saya memukul kening sendiri, menggelengkan kepala tak habis pikir. Saya takut, jangan-jangan ternyata benar!
@Oscar Arumi, SepociKopi, 2009









Hahahahaha..,
huuii o0m…
~_~
ngaJar d kmpUs q d0oNg…
Ad doZy andr0-buTch keyYend d0ng..
mmmm..yang sabar bu..label2,,,selalu menjadi masalah.
bener bgt..don’t judge the book by its cover.
penampilan bukan satu2nya kategori untuk menilai label seseorang,,^_^
Hehe..
Kyk nya ada bener nya deh,kak.
Coz femme biasax lbh tertarik ma andro dan butchie (pengakuan pribadi neh,hihi..)
wah….
jadi musti ganti baju donk biar dapet pacar
kak os jgn pukul dahi terlalu keras,nanti pusing…… Mel yakin pasti byk yg mau sm kak os,tp kakak aja yg blm menemukan yg sreg.Lesbian dewasa ga akn melihat dr luar aja kok !!
iya kan ladys….
Femme-femme godain Oscar donk…………
xixixixi
hahahahah
ROK mengelabui semuanya !
Judge by its EYES ;P
penampilan bisa saja mengelabui , tapi naluri, tetap, tak tersamarkan. cerita yang lucu. patut saya coba, karna mengingat saya sendiri , ‘sensi’ dengan rok……^_^
ka ozz ngedosen di kampus ku sajahhh….
@Berry: beneran neh femme lebih tertarik sama andro dan butchie? pantesan gw juga gak dilirik wkwkwkwkw…
..gak semua femme hanya tertarilk dg andro n butch….ada jg yg tertarik dg femme jg kok…….salam kenal ya….
hayoo.. cik gu.. banyak bergaul banyak bergaul.. jadi bisa tampil dari hati terdalam apa adanya
Hihihihi..
Lucu critany.. Kirain emang ngetop.. :p
aq androfemme yg seringny tampak spt butch, jg ga laku2 deh..
Hahhahah..lucu-lucu…
tapi bener penampilan itu bumbunya cin…
mungkin aja kamu selama ini dianggap femme hehehhe
Nc story os,.. Just be U! L dewasa pasti gak ngeliat dr rok aja.. ;p
Buktinya aku yg kayak gini aja tp yg suka banyak? Wakakaka
ha9..oh nooooo…i love that kinda girl. i hapend to love that kinda type..well, i’m otherwise..i use to put dress or anything cute but past few years i din’t even do that kinda stuff n choose more simple shirt n jeans n hiking shoes hanya untuk kenyamanan..if there’s a woman like that..i’ll love to know
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments