Home » Telezkop

te.Lez.kop: Your$, Min€, or Our$

25 November 2009 61 views 7 Comments

money_by_idlenessOleh: Shinigami

Ketika dua orang sedang kasmaran, dunia mendadak berubah lebih indah dari biasanya (tentu saja bagi dua orang itu, bagi orang luar sih sama aja: jalanan tetap macet, hujan tetap turun tak peduli waktu, dan liburan selalu berlalu lebih cepat dari semestinya.) Semua seakan milik berdua, apa-apa dipakai bersama—kecuali baju dalam dan sikat gigi. Semuanya? Sepertinya begitu. Tetapi hmm… mungkin ada satu hal yang masih dalam ranah abu-abu dan agak jengah untuk dibicarakan: uang.

Memang, kalau tidak ingin dibilang pelit, pasangan biasanya akan mudah bilang, “Sudah, pakai duitku aja,” atau “Pakai duitku dululah, gampang deh ntar gantinya.” Sebagai manusia berbudi, saya percaya kita tentu bisa mengesampingkan rasa senang dan terharu mempunyai pasangan seperti itu, dan menempatkan hal ini pada posisi rasionalnya. Dengan kata lain, kebaikan hati pasangan itu seharusnya tidak menghentikan kita untuk berpikir, entah sekali dua kali atau sering, “Masa sih pakai uang dia terus?”

Menurut saya, ada dua cara yang bisa dipilih. Cara pertama adalah bagi mereka yang tidak mau bersusah payah dengan sistem pengaturan dan rumitnya kesepakatan. Yang terjadi biasanya adalah bergantian mentraktir. Kalau kali ini si A yang bayar, kali berikutnya adalah giliran pacarnya. Tetapi cara ini juga tidak terlalu bisa menjawab kegelisahan bahwa salah satu kerap mengeluarkan lebih banyak uang untuk yang lain karena, misalnya, kebetulan beberapa kali giliran dia mentraktir, jumlah yang dibayar ternyata lebih besar daripada ketika dia ditraktir. Kalau yang seperti ini terjadi berkali-kali, kasihan juga kan?

Kemungkinan lain dari cara pertama yang juga biasa dipilih adalah dengan membagi pengeluaran sesuai jatah masing-masing. Jadi, bila si A hanya makan dua menu dari lima macam lauk yang dipesan, maka ia akan membayar seharga dua menu tersebut. Fair and square, itu moto sistem ini. Lega? Kadang tidak juga. Ada sebagian orang yang menganggap pengaturan semacam ini mengkhianati esensi cinta yang ada di dalam hubungan itu dan menjadikannya lebih menyerupai suatu hubungan bisnis belaka.

Sementara itu, cara kedua membutuhkan lebih banyak komitmen dan kedisiplinan antara sepasang kekasih tersebut. Ya, saya bicara soal rekening bersama atau joint account. Rekening bersama kan tinggal buka saja rekening dan diisi bersama-sama, apa susahnya? Hoho, siapa yang mempersoalkan membuka rekening? Kalau cuma itu, mbak-mbak layanan pelanggan segala macam bank akan dengan sigap melayani sambil tersenyum semanis kembang gula. Bahkan mereka juga akan memberi bonus berupa payung, agenda kecil, atau mug imut kalau sedang program promosi. Tetapi bukan, bukan itu yang perlu kita soroti.

Menyepakati keberadaan rekening bersama berarti menyepakati jumlah uang yang disumbangkan masing-masing pihak dan frekuensi penyetorannya. Sama rata, bukan? Bisa iya, bisa tidak. Bila keduanya tidak memiliki gaji yang sama besar, tentu harus dipikirkan jalan yang terbaik. Selain itu, perlu dirumuskan juga hal-hal yang akan dibiayai dengan uang yang tersimpan dalam rekening bersama itu. Apakah dana yang terkumpul itu hanya akan membiayai pos-pos yang melibatkan pasangan itu? Seperti cicilan mobil atau rumah mereka, atau liburan akhir tahun ke luar kota atau negeri. Atau apakah saldo yang terkumpul juga bisa dipakai sebagai dana darurat, tanpa melihat kepentingan siapa yang terlibat? Membantu keluarga salah satu pasangan yang terbelit hutang, misalnya.

Tidak berhenti di situ, serangkaian kesepakatan yang dihasilkan bersama itu tidak akan berarti apa-apa jika tidak dibarengi kedisiplinan dalam menjalankannya. Tersendatnya setoran ke dalam rekening bersama tentu membuat saldo yang ada tak berkembang sesuai yang diinginkan, dan ini bisa memengaruhi rencana pembiayaan yang sudah disepakati. Kapan bisa liburan enak kalau jumlah yang terkumpul hanya mampu membiayai ekspedisi ala backpacker selama tiga hari? Ketidaksetiaan pada kesepakatan pos-pos pembiayaan juga bisa mengacaukan rencana yang telah disusun. Bagaimana mau melunasi cicilan mobil dalam waktu lima tahun kalau duitnya sering dipakai menutupi tagihan kartu kredit yang cukup gila-gilaan? Kalau enggak dibayar, pacar bisa dikejar-kejar debt collector tuh.

Pusing ya? Memang rumit dan memusingkan, terutama di bagian awal. Tetapi bila sistem itu sudah berjalan, saya yakin akan cukup membantu pengaturan keuangan pasangan yang bersangkutan. Keduanya akan tahu dengan jelas berapa yang bisa mereka habiskan untuk keperluan pribadi tanpa perlu khawatir akan mengambil jatah keperluan bersama. Dan ya, memang, menimbang kepelikan yang muncul dari joint account ini, saya hanya menyarankannya bagi para pasangan yang sudah berada di level mantap plus yakin atas hubungannya. Bagi yang belum, bisa mengasah kemampuan teknik Kumon untuk membagi jumlah tagihan atau main traktir-traktiran saja lah.

@Shinigami, SepociKopi, 2009

7 Comments »

  • Redmoon said:

    Uang memang mslh yg sngat sensitf. Aq bbrapa kli ribut krn mslh ini dgn kekasih,tp bs dislesekn dgn m’perkuat komitmen & m’buang gengsi.

  • meliâ said:

    yap,kudu ati2 dgn masalah ini.amat SENSITIF.bahkan orang yg paling baikpun bisa mengungkit2 jk ada masalah!wong suami istri aj bs ribut!!Pastikan jika memberi sesuatu jgn dipaksakan(iklas),bgt jg dgn pasangan.jgn sampai ad yg disesali kemudian hari.

  • dee said:

    tetep,
    uang menjadi isu paling sensitif di antara suatu hubungan.
    bahkan kerap suami istri pun masih suka ribut masalah uang.
    hidup uang!

  • tiara said:

    :)

  • ChiL said:

    Butch’a slalu bLg “ga usaH” wkt gti dtraktiRin.
    Cp yg blg ‘gengsi’ td..
    Emg gt ia..?

  • tiek said:

    kapan ya aku dapat duit banyak ….
    bulan madu dengan kekasih ….
    belanja dengan kekasih ….
    wisata berdua di tempat yang menyenangkan dengan kekasih
    semuanya dengan duit ….
    nabung dulu berdua untuk bulan madu …
    pasti menyenangkan ..
    ya sayang …

  • akkaht said:

    bicara ttg uang bagiku adalah bicara ttg kejujuran. jika suatu saat aku dan kekasihku ribut ttg uang itu artinya KEJUJURAN di antara kami ada yg menginkarinnya. dari awal aku mencinta perempuanku hingga saat ini dia tdk pernah mempermasalahkan UANG (bkn krn uangku banyak ya!) tapi karena kejujuran yg slalu “kukatakan” padanya.

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.