Home » Friendship, Humaniora

Sahabat dari Masa Lalu

24 November 2009 126 views 9 Comments

4e8a51f9878bd62c204283d6ff8bc8c4Oleh: Justine Ht

“Apa kabar? Masih ingat aku?”

Pesan masuk di Facebook. Hmm… nama itu! Seorang sahabat dari masa lalu. Kembali terangkai ingatanku akan dirinya.

Jatuh cinta memang menerbitkan keriangan yang meluap sekaligus nyeri yang mengiris nyali ketika tersadar dia juga seorang perempuan. Gamang. Terapung. Limbung. Tanpa arah. Mencoba menggapai apa saja untuk berpegang. Bersama kekasihnya, tangannya terulur mengajakku berkata “Tidak ada yang salah dengan menjadi lesbian!”

******

Kabut tipis masih menutupi cekungan alam yang digenangi air di kehijauan Bukit Barisan, Danau Singkarak. Gunung Singgalang dan gunung Marapi tampak menjulang dikejauhan, diperindah dengan barisan rumah Bagonjong di pinggirannya. Ibu pertiwi memang mengandung berjuta pesona. Aku turun dari bus, udara segar menyusup hidung. Aku duduk di warung pinggiran danau mengamati riak kecil air yang jernih, ikan bilih dan ikan lainnya tampak berkeliaran mengitari bebatuan di sepanjang tepiannya.

“Wow, rancak bana!” Suara jenis alto mengusikku. Dia merentangkan kedua tangannya dan menarik napas dalam, sesaat kemudian duduk di sebelahku.

“Hai, udah sarapan? Kita nyobain Teh Talua yuk?” ajaknya.

“Boleh, boleh!” jawabku antusias.

“Uda, Teh Talua dua!” teriaknya memesan minuman pada abang pemilik warung.

Perhatianku beralih ke abang pemilik warung yang trampil membuat teh talua. Dengan kayu rotan yang telah terbelah dia mengaduk kuning telur ayam kampung dan gula pasir sampai putih dengan gaya yang khas, kemudian dicampur dengan teh panas dan ditambah sedikit jeruk nipis. Sangat menggoda untuk dinikmati.

Sambil menyeruput teh, obrolan pun bergulir. Acapkali kami hanya saling melempar senyum jika bertemu di kampus, belum pernah bertegur sapa, mungkin karena beda fakultas. Saat ini kami tergabung dalam satu tim bersama beberapa dosen dan mahasiswa dalam suatu program penelitian universitas ke Solok dan Bukit Tinggi. Walau matahari belum melotot garang, udara sejuk dan semilir angin menggoda kami untuk melahap nasi panas dengan lauk Ikan Bilih Lado Ijo (ikan khas Danau Singkarak) sebelum meneruskan perjalanan ke Bukit Tinggi.

Pembawaannya yang santai dan ceplas ceplos membuat keakraban terjalin. Keakraban itu menciptakan keterbukaan hingga menguak identitas kelesbianannya. Aku seperti menemukan jarum ditumpukan jerami. Aku dan kekasihku tidak pernah memiliki sahabat lesbian sebelumnya. Hingga bus kembali ke kampus, dengan tidak sabar aku mencari kekasihku, selain karena rindu tentunya aku ingin memperkenalkannya. Namun kekasihku hanya diam. Dengan tenang, dia mengingatkanku bahwa sahabat sahabat hetero yang ada saat ini adalah yang terbaik.

*******

Aku terlalu keras kepala untuk mendengar kekasihku. Awalnya semua memang terasa menyenangkan. Aku tidak lagi merasa sendiri. Dia bersama kekasih butchi-nya membawaku pada euforia persaudaraan yang kental dan seringkali mengundangku ke tempat hiburan malam. Namun aku tidak menyangka sama sekali, ternyata persaudaraan itu bertambah dengan mengikuti pola deret ukur, membuatku kehilangan hak memilih. Apalagi ketika zona pribadiku terusik, mereka mulai beramah tamah dengan keluargaku. Senangkah aku? Oh,tidak! Aku ketakutan setengah mati! Ke mana pun aku melangkah di kota ini, seringkali ada yang mengenaliku. Kamu adiknya si A kan? Keponakannya si B kan? Anaknya pak C kan? Berapa lama aku sanggup bertahan?

Maaf, sahabat…
Perlahan aku beringsut menjauh.

Yah, benar! Cintaku memang menancap di tempat yang tidak tepat. Namun tidak kubiarkan cintaku mengirimkan orangtuaku ke surga sebelum waktu yang seharusnya. Tidak kubiarkan cintaku menjadi penghuni gudang tua berdebu dan kekasihku berlalu dengan sayap patah. Tidak kubiarkan cintaku mengantarkanku ke pelaminan sebagai dalih terapi penyembuhan dan menjadikannya souvenir untuk para undangan terhormat.

Yah, benar! Aku memang lesbian, tapi aku hidup di dunia nyata. Bukan di dunia antah barantah yang semua bisa disulap Bim salabim! Abrakadabra! Membuatku jadi pemimpi nomor wahid sedunia. Bukan di dunia gemerlap yang kilauan lampunya meredupkan kornea, dentuman basnya mengoyak gendang telinga, kabut asapnya menyelinap hidung dan terlelap di paru paru, yang pada akhirnya menumpulkan inderaku yang memang sudah ala kadarnya.

Batu asah, itu yang kubutuhkan untuk menajamkan inderaku. Hingga aku mampu mendengar suara hatiku. Hingga aku mampu menatap pelangi seusai hujan. Hingga aku mampu mencium aroma cinta dalam keseharianku. Hingga aku mampu bertutur santun dengan bibirku. Hingga aku mampu merasakan kehadiranNya menyatu didalam hidupku. Sampai aku benar benar mampu berdiri di atas kakiku sendiri dan melangkah pasti, menapaki kehidupan bersama kekasihku.

*******

Kutambahkan namanya didaftarku. Kuamati foto-foto di dalamnya. Sesosok wajah wibawa dan sepasang putra dan putri terlihat bersamanya.

Kubalas pesannya, “Tentu dong, aku ingat kamu! Kabarku baik-baik aja. Semoga kamu juga begitu. Salam buat keluargamu.”

(Semoga masa lalumu telah kau tenggelamkan di samudra terdalam, hingga tidak ada keinginanmu untuk
memungutnya kembali dan menorehkan luka pada beberapa hati yang telah dititipkan kepadamu).

@Justine Ht, SepociKopi, 2009

9 Comments »

  • LigX said:

    ow, sudah menikah ternyata,

  • ang said:

    hmmm..realistis..

  • lifeishappi said:

    hohooo…

  • tweet-tweet said:

    gaul dgn sesama L = R.I.B.E.T
    ironisnya aq mrasa lebih aman gaul ama hetero,(teteup nyamar dong)

  • Lafé said:

    G stuju bgt ma Ang, realistis!!! Ttp brada dlm jalur jlanan mskpun kdang tdk ykn dgn jlur jlanan tsb dan ingin mncba k jlur yg lain yg pdhal tdk tahu berujung k mn!

  • Mango said:

    aih tulisannya beautiful…….

    :)

  • pus said:

    like this!…yg hetero maupun L,,sama aja..ada yg baek n da yg rese…gmn orangna..

  • Kyra said:

    NIce post. . .g asal krna mrasa berbeda, maka lgsung nyamber saat mencium keberbedaan yang sama

  • akkaht said:

    thanks honey…. untuk sayap yg tdk dan tdk akan pernah kau patahkan (kupercaya itu seperti aku percaya akan matahari pagi dan purnama di malam gelap) honey… sayap itu sekarang semakin cantik dgn warna-warni yg kau lukis dan makin lincah dan kokoh mengarungi apapun hem….(kau dpt merasakannya kan…)
    @Kyra: so smart ‘ur mind…
    teman2 heteroku tdk pernah bertanya ttg jln”motorku yg tdk bisa “lurus” namun mereka ngingatin aku “teman jln masih panjang service motor lo supaya jlnnya bisa “lurus” ngak “belok” melulu bisa2 lo ngak sampai ketujuan nanti sia2 isi kepala lo ntar. lalu ku ukir dgn indah di kepalaku “Cerdaslah membaca Suasana” agar impian dan cinta sampai ke tujuan.

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.