Sent
Oleh: Abmi Handayani
Sent dimuat di majalah Esquire, April 2009
Jakarta
“Silakan.” Sebuah mug diletakkan di samping kamera.
“Makasih.”
Lelaki itu membuang nafas, melihat sekeliling kafe baru ini. Dia datang kemari atas saran seorang teman. Sesekali siapapun pasti butuh sesuatu yang baru. Ia menyeruput kopinya, melirik seorang lelaki muda yang melintas. Lelaki itu balas melirik.
Mendadak dia ingat sesuatu. Dikeluarkannya sebuah amplop hijau dari dalam tasnya. Dibolak-baliknya amplop itu. Beberapa hari yang lalu perempuan itu memang pernah menanyakan alamatnya, tanpa memberi tahu buat apa. Tunggu saja, jawabnya. Dan pagi ini penjaga kosnya menyerahkan sebuah amplop saat dia akan pergi. Tapi dia tidak punya waktu untuk membaca. Dia sudah terlambat ke lokasi pemotretan.
Untuk apa kirim surat lewat pos yang makan waktu berhari-hari kalau bisa lewat e-mail? Dasar cewek aneh, pikirnya. Rangga merobek amplop itu hati-hati—surat pertama dari Tiva. Lipatan-lipatan kertas ia buka. Tiva jelas bukan orang yang cocok dengan pena dan kertas. Tulisannya nyaris tak terbaca.
Dear Rangga,
Mmuah (huek). Apa kabarmu di sana, kawan? Masih bisakah dirimu bernafas lega di kota yang sama sekali tidak mengenal konsep hidup itu? Kuharap dirimu masih berwujud/bersifat manusia saat menerima surat ini.
Bagaimana pekerjaanmu? Hidupmu? Percintaanmu? Gue baik-baik saja di sini. Jogja sudah mulai hujan. Senang sekali rasanya. Akhirnya bisa mencium bau tanah sambil minum air hujan dari talang. Trus… gue masih nulis. Cerpen-cerpen lo belum gue baca semua. “Surat dari Akherat” itu keren. Ale juga suka lho, bo. Kalo ada waktu, dia akan mengeditnya (secara dia editor semua orang, begitu). Tapi “Paris” belum selesai gue baca. Sejauh ini gue suka banget karakter Paris dan bagian di mana lo nyelipin Velvet Goldmine. Duh, mau dong sama Jonathan :p
Udah deh, lo berenti jadi fotografer dan jadi penulis aja.
Rangga menyeruput lagi kopinya. Senyumnya tersimpul, tak acuh pada keramaian yang makin riuh.
Lo pasti heran ada angin topan apa gue nulis surat (dan sori ya, bo, kalo tulisan gue acakbadut). Diriku merangkai isi surat ini sebagai penyambung lidah untuk bertutur pada dirimu mengenai apa yang sedang kurasakan. Lagi-lagi, dan lagi-lagi, permasalahanku berkisar pada sejenis perasaan yang kurang ajar.
Yogyakarta
“Hot Chocolate-nya dua ya, Mas,” kata Tiva sambil mengeluarkan laptop.
“Dua? Mbak Tiva haus apa laper to?”
“Satunya buat temen saya, Mas. Ntar lagi datang.”
“Oh, oke. Hot Chocolate dua. Ada lagi?”
“Itu dulu deh.”
“Sip. Ditunggu ya.”
Tiva menyalakan laptopnya, kemudian merogoh ponsel. Sudah hampir pukul delapan. Tadinya dia janji untuk datang pukul setengah delapan. Ternyata yang diajak nongkrong tak mau kalah telat.
Eh, lo jadi ke Break kan? Gw dah di sini, awas lo gak datang.
Pesan terkirim.
Ia memeriksa sejumlah file di CD yang tadi siang diserahkan temannya, lantas menyalin seluruhnya ke dalam folder baru. Ia menamai folder itu: BuletinAnjritBikinGwMakinSibukAja. Udah banyak kerjaan, diminta me-layout buletin pula.
HP-nya berdering. Satu pesan masuk: Iya non. Tar lg gw ke sana. Baru bangun neh.
Tiva memasukkan handphone ke dalam kantong jaketnya kemudian membuka folder berisi tugas-tugas kuliah. Ada laporan wawancara yang harus selesai lusa, enam belas halaman MS Word mengenai Vico yang harus ia baca, lantas beberapa soal mengenai Filsafat Sejarah yang harus ia uraikan jawabannya. Kuliah benar-benar brengsek. Mengganggu waktu bermain saja.
Jakarta
Pandangan Rangga masih tertuju pada surat Tiva. Lembar kedua sekarang. Seluruhnya ada lima, ditulis pada kertas folio yang dirobek rapi jadi dua kemudian distaples di sudut kiri atas.
He’s a slut! Padahal kan gue udah niat mau cari perempuan, eh malah ketemu tuh anak. Tertarik pula! Ah, brengsek nian malam itu.Gue sudah bolak-balik denger berita miring tentang dia. Dia juga nyantai aja cerita soal pasangan-pasangannya ke gue. Kok bisa ya, bo? Bego banget gue suka sama dia. Kayak nggak ada laki-laki lain aja gitu.
Yogyakarta
“Heh! Serius amat sih? Lagi ngerjain apa?”
Laki-laki itu duduk di depan Tiva setelah menepuk pundaknya, berusaha menampilkan ekspresi selucu dan seimut mungkin. Tapi, lagi-lagi, garing.
“Bisa nggak sih nggak pake ngagetin.”
“Sori ya telat. Ketiduran gue. Abis fitness tadi sore. Ini punya gue kan?” Laki-laki itu langsung mencicipi Hot Chocolate-nya.
“Rokok, rokok!” Tiva mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja.
“Sabar atuh, Non.” Dan ia pun mengeluarkan sebungkus A Mild isi enam belas.
Tiva menyulut sebatang rokok bersemangat. “Hhh, oksigen…” Ia menghembuskan asap dari mulutnya perlahan. Laki-laki itu juga menyulut sebatang.
“Ngapain sih ngajak gue ke sini? Yang lain mana?”
Tiva memandangi wajah laki-laki di hadapannya, menghisap rokoknya dalam-dalam. “Melepas lelah, bo. Yang lain pada sibuk. Tadi di kampus juga gak ketemu.” Tiva memalingkan wajahnya ke luar, melihat gerimis, lantas membiarkan diam menari di antara mereka.
Laki-laki itu beranjak ke rak buku, mengambil MensHealth edisi terbaru. Tiva melengos melihatnya. Dia memperhatikan wajah laki-laki itu, jemarinya membolak-balik halaman. Terkadang berhenti agak lama pada bagian yang memajang foto laki-laki ganteng bertubuh kekar.
Jakarta
Rangga menguap usai membaca surat Tiva. Lima lembar hanya untuk memberi tahu bahwa dia sedang suka pada seorang “laki-laki asshole biseksual”.
Sembari menunggui taksi di pinggir jalan, dia teringat kata-kata Tiva, “Masih bisakah dirimu bernafas lega di kota yang sama sekali tidak mengenal konsep hidup itu? Kuharap dirimu masih berwujud/bersifat manusia saat menerima surat ini.”
Dia tersenyum kecut.
Dia masih hidup, tentu saja. Tapi apakah dia baik-baik saja? Sepertinya dia sama gelisahnya dengan Tiva yang tengah bingung menghadapi laki-laki. Tapi setidaknya Tiva menemukan hal baru, sementara dirinya gelisah karena hidup terus memainkan nada yang itu-itu saja. Dia bosan dengan segala sesuatu yang pergi dan datang. Muncul dan menghilang.
Dia mengambil handphone-nya.
Honey, gimana si biseksual asshole-mu? Hehehe, gw dah baca. Thank you ya, jarang-jarang dapat surat. Daku sedang bosan seperti biasa. Really hope bisa maen ke Jogja barang dua tiga hari. Kalau ketemu kalian baru gw ngerasa jadi manusia beneran :p Miss u all so much.
Pesan terkirim.
Yogyakarta
Tiva mengembalikan HP-nya ke saku.
“Senin depan ke Bedhot ya. Gue sama Ale mau ngerayain terbitnya novel kami. Abis itu langsung clubbing. Masukin kita ke guest list dong, kan lo member di Hugo’s.” Tiva menyulut rokok untuk ketiga kalinya.
“Sip. Jam berapa?”
“Makan-makannya jam setengah delapan. Lo ke kos gue aja dulu kalo nggak tau tempatnya.”
“Oke, bos. Bentar ya, gue ke belakang dulu.”
Mata Tiva mengikuti langkah laki-laki itu sampai ia menghilang di balik pintu. Sebenarnya dia lebih pendek ketimbang Tiva, tapi tubuhnya proporsional dan terbentuk. Wajahnya tampan, rahangnya lebar. Tiva suka padanya. Tapi sayang, dia laki-laki yang makan apa saja selama ada selera. Dua teman dekat Tiva bilang lebih baik dia jadi lesbian daripada memacari laki-laki itu. Tiva paham, tapi dia tidak bisa mengabaikan hasratnya. Dia ingin mengenal laki-laki itu lebih jauh. Siapa tahu masih ada yang bisa diselamatkan darinya.
Laki-laki itu punya selera humor yang buruk. Bahasa Inggrisnya berantakan. Dan yang paling parah lagi, dia bodoh. Bodoh, bodoh, bodoh! Dia bahkan berdebat bahwa Antropologi adalah ilmu tentang benda-benda purbakala. Aneh tapi nyata, dia selalu jatuh hati pada pria-pria semacam itu. Jadi, siapa yang lebih bodoh?
Setelah putus dengan pacar terakhirnya, yang terus-terusan mengajaknya ke tempat tidur meskipun dia sudah berkali-kali bilang ‘tidak’, Tiva berencana mencari pacar perempuan. Cukup sudah dia terlibat dengan laki-laki hetero mulai dari yang gila seks, sok macho, bodoh, sampai yang doyan meremas pantat. Tapi beberapa malam yang lalu dia malah bertemu dengan laki-laki yang satu ini. Laki-laki yang sempat ia kenal namun berbulan-bulan lamanya menghilang tanpa kabar. Mereka menghabiskan malam minum bir, merokok, dan mengobrol di depan Circle K.
Jakarta
Rangga melempar handuknya ke atas tempat tidur. Ia menyalakan komputer, memutar lagu True Love oleh Fuji Fumiya, lalu menyulut sebatang Marlboro Menthol. Sambil memasukkan asap ke dalam paru-paru serta membuka program Adobe Photoshop ia menikmati lirik yang mengalir.
Ini lagu kesukaannya. Dia bisa memutarnya berkali-kali dalam sehari, terutama setelah ia menggunakannya sebagai nada dering SMS. Dia ingat siang itu, sewaktu dia nongkrong di Kemang bersama Ale, Tiva, dan Bianca, Tiva melarangnya membuka SMS yang baru saja masuk hanya untuk mendengarkan True Love sampai selesai. Ia sempat tergila-gila pada lagu itu, katanya.
Handphone-nya berdering.
“Halo,” sapa Rangga, tersenyum akibat rasa yang menjalar.
“Hi, how arrr you, man? It is been while ya,” suara laki-laki dengan bahasa Inggris amburadul menyapa.
“I’m all right, I guess. You?”
“All right too.”
Rangga beranjak ke balkonnya. “Apa kabar Jogja?” tanyanya.
“Baik-baik aja. Jakarta gimana?”
“Seperti biasanya.” Terdengar air mengucur dari ujung sana. “Kamu lagi di mana?”
“Di toilet.”
“Hahaha! Lagi pup ya?”
“Nggak, iseng aja. Aku lagi di kafe, ketemuan sama teman.”
“Trus ngapain nelpon sampe ke toilet? Sinyalnya cuma ada di situ?”
“Hehe, kayaknya iya. Aku kangen nih sama kamu.”
Rangga terdiam, menghisap rokoknya dalam-dalam sambil menatap langit. Kata Tiva langit Jakarta seperti dibungkus plastik hitam sampai bintang-bintangnya tak terlihat. Waktu itu dia hanya tertawa, tapi kali ini matanya begitu rindu melihat bintang barang sekerlip.
“Rangga?”
Ia tersadar handphone masih lekat di kupingnya.
“Makasih banyak lho, udah kangen ma gue.” Rangga melempar rokoknya ke halaman.
“Lo nggak kangen ama gue?”
“Nggak. Kenapa emang?”
“Yah, kok nggak kangen sih?”
“Hehehe, biasa aja kali.”
“Ya udah deh. Tar gue kontak lagi ya. See you. Tek ker.”
Rangga kembali ke kamar, melempar handphone-nya ke atas kasur lantas duduk di depan komputer. Sekali lagi, ia mengklik file Fuji Fumiya – True Love.mp3.
Yogyakarta
“Lo tidur di toilet?” tanya Tiva sambil menggigiti sedotannya.
“Hehehe,” laki-laki itu terkekeh. Memuakkan. “Nggaklah, cuma nelpon temen di Jakarta,” jawabnya, lantas duduk. Jemarinya kembali membolak-balik lembaran MensHealth.
Tiva menatap laki-laki itu, lama. Hingga akhirnya, “Lo beneran biseksual ya?”
“Hmm? Iya.”
“Sama dong.”
Laki-laki itu tertawa singkat, balas menatap dengan matanya yang binal.
“Gue suka sama lo,” ujar Tiva.
“Oya?” Laki-laki itu mengerutkan kening.
“Yap. Absurd juga sih, secara reputasi lo udah bleberan ke mana-mana. Tapi lo nggak bakal gue apa-apain kok. Gue nggak bisa horni, ini.”
“Masa?”
“I’m not kidding. I just can’t. Emang dasarnya belom minat sih. Well, I will eventually do it one day. Tinggal nunggu orang yang tepat aja. Yang bisa mengajarkan bagaimana caranya menggunakan selangkangan dengan baik dan benar.”
Jakarta
Baru saja dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur saat seseorang mengetuk dari luar. Sudah pukul sebelas malam. Rangga melangkah malas membukakan pintu. Berdiri di situ mantan pacarnya. Hubungan dua tahun yang baru saja berakhir tiga minggu lalu.
“Hei,” sapa mantannya.
“Yuk masuk.”
Mantan pacarnya duduk di lantai dekat ranjang. Ia mengambil kotak rokok yang tergeletak. “Gue ngganggu nggak?” tanyanya.
Rangga ikut-ikutan menyulut sebatang rokok. Kesebelas hari ini. “Nggak. Tumben lo ke sini.”
“Kangen”
“Buset, banyak amat yang kangen sama gue malam ini.”
“Siapa aja emang?”
“Itu lho, si cowok Jogja.”
Mantannya tersenyum pahit. Lantas, “Mau nongkrong gak?”
Rangga diam menatap mantan pacarnya.
Rangga menutup mata dan menciumnya.
Yogyakarta
“Makasih ya, bo, udah nemenin gue. Besok-besok lagi ya,” kata Tiva sambil membuka pintu gerbang kosnya.
“Oke, Non. Traktiran ntar ingetin gue ya.” Laki-laki itu memutar motornya. Dia punya janji dengan seorang perempuan berusia 30-an di TJ’s jam sebelas malam ini.
Hujan sudah lama berhenti. Tiva meletakkan tasnya perlahan-lahan di atas tempat tidur lalu pergi mandi. Ia menggosok tubuhnya dengan scrub sampai merasa benar-benar bersih, seolah-olah hari ini dia lebih kotor dari biasanya.
Keluar dari kamar mandi, ia menyalakan laptop, memutar lagu Hallelujah oleh KD Lang dalam volume kecil. Lantas ia memungut ponsel putihnya. Jarinya mulai memencet-memencet.
Bo, gue dah ketemuan ama tuh cowok. Kyknya gue jadi lesbian aja deh. Lo lg ngapain?
Pesan terkirim.
1 pesan baru.
Hei, bo. Tadinya gw mo tidur, tapi tau2 mantan gw nongol di kosan. Kuajak bercintalah dia. Ternyata msh mau. Hah! Skrg gw malah bengong sendiri. Hiks. Bosan. Aku ingin drama! Drama!
Bunuh diri aja.
Pesan terkirim.
1 pesan baru.
Kangen jogja nih.
Ya ke sinilah. Jalan kaki.
Pesan terkirim.
1 pesan baru.
Enakan ngesot kali ya.
Gih ngesot. Gue jemput di Tugu :p
Pesan terkirim.
Tiva terkekeh-kekeh membalas tiap pesan yang masuk. Dibayangkannya wajah Rangga terakhir kali dia melihatnya. Garis muka yang lembut dengan sepasang mata lelah. SMS demi SMS terkirim. Sent, delivered. Pesan terakhir masuk pukul 00:12, namun Tiva telanjur tertidur oleh buaian kipas angin dan suara tetes air dari talang di depan kamarnya.
@SepociKopi, 2009
Tentang Abmi Handayani:
Lahir di Balikpapan pada tanggal 5 Januari 1987. Ia menghabiskan masa kanak-kanak sampai remajanya di Balikpapan, kemudian pindah ke Yogyakarta untuk belajar di Fakultas Sejarah UGM pada tahun 2004. Bersama Dalih Sembiring ia menulis Cha Untuk Chayang (GPU, 2007), bergenre teenlit. Di waktu luangnya, dia menulis cerpen-cerpen untuk dipajang di blognya, menghabiskan waktu di coffee shop sambil main internet, membaca, blogging, dan chatting.
lifeishappi
November 23rd, 2009 at 5:34 pm
nice life story…:)
ang
November 23rd, 2009 at 9:06 pm
seger temanya..
lushka
November 24th, 2009 at 6:08 am
Abmi-kamu-keren
Bok,jejamuraaaan.
LigX
November 24th, 2009 at 1:14 pm
wow,nice story baby
abmi handayani
November 24th, 2009 at 2:41 pm
te-ri-ma-ka-sih SepociKopi dan teman-teman semanya =D
salam,
Abmi
akkaht
November 24th, 2009 at 3:49 pm
tokoh2 ribet penyuka masala. Such is life… tulisan ini ibarat cermin.
mel
November 24th, 2009 at 4:14 pm
semua jempol bwt loe…
Singa.Sakti
November 25th, 2009 at 11:25 pm
K0mennya cuman 1 kata…
“laaaah??”
chesan
November 28th, 2009 at 10:35 am
keren…dua jempol
elizabeth
December 7th, 2009 at 1:25 pm
waw… keren sekali ceritanya…
ABe
January 14th, 2010 at 8:18 pm
lagunx fuji fumiya – True Love bikin gw inget ma kk” gw yg couple…dah lama g ktemu n ktemu ptama n trakir d jogja..
akhirnya bis baca neh cerpen gw ma download lagu true love..
miss u…
thx 4 memories
fey
April 7th, 2010 at 2:57 pm
nice..
ietjha
April 26th, 2010 at 10:18 am
keren nich ceritanya