Oleh: Ade Rain
Sudah lama aku tak membuka lemari mainan Sulung, sejak ia mulai menyibukkan diri dengan beragam kegiatan teenager yang riuh dan lebih berwarna, ia nyaris tak menyentuh lagi harta karun yang ada di dalam kandang tersebut. Di lima deretan rak, bukan hanya aneka Barbie terbaring berdebu, tapi juga patung-patung hewan dan manusia kecil bermerek Molly. Oh Molly!
Masih segar di ingatanku ketika akhirnya Molly berhasil menggeser Barbie. Setiap travelling, ia tak sanggup membawa keluarga Barbie ke dalam koper. Beratnya bisa mengisi setengah tas. Alhasil, Sulung pindah hati menciptakan dunianya meminati Molly. Sebenarnya dari segi bentuk, meski hanya seukuran jari orang dewasa, orang-orangan Molly juga banyak yang dibuat dengan tubuh seksi. Tapi tak seekstrim Barbie yang diciptakan dalam bentuk sempurna; perempuan muda, cantik, dan seksi, atau pria ganteng berbadan atletis layaknya robot manusia di film The Surrogates yang semuanya molek. Molly diciptakan lebih manusiawi dan tidak berfigur “menggairahkan”.
Dari sisi harga, Molly tetap sama mahal dengan Barbie. Harus dibeli dengan paket musimnya. Misal pesta, maka dalam kemasannya, akan menggabungkan style baju, sepatu, dan aneka keperluan pesta. Satu bungkus tersebut harganya sama dengan satu Barbie. Tetap saja mainan tersebut adalah mainan yang lumayan merogoh kocek. Belum lagi lemari pakaian, asesori seperti anting, gelang, dan segala perlengkapan rumah tangga.
Ketika ia melakukan perjalanan jauh denganku, tak mungkin membawa semua tokoh Molly, tetap saja ia harus kelimpungan memilih-milih. Paling banyak ia akan membawa lima figur dan satu tas kecil baju serta seperangkat perlengkapannya. Anak perempuanku ini memang tak bisa cengok atau bengong sendirian nggak tahu apa yang dikerjakan. Ia selalu menemukan ide untuk menciptakan dunia sendiri meramaikan waktu-waktunya. Kalau keluar kota bersamaku, selain mini Teddy Bear, gunting, kertas, puzzle, dan lem, Molly cs salah satu barang yang wajib dibawa.
Saat usianya 9 tahun, perjalanan seminggu kami ke sebuah tempat terpencil di Pulau Perhentian Trengganu yang bibir pantainya berkiblat ke laut Andaman. Ia mulai membuat sibuk dirinya mendirikan rumah bagi keluarga Molly sejak hari pertama. Pojok ruangan sebuah villa kecil dikuasai untuk merealisasikan ciptaan-ciptaan tersebut.Ia mulai membuat kamar tidur, ruang tamu, toilet, dapur, tempat santai dengan segala macam pernak-pernik yang dibuatnya sendiri dari kertas, kerang, ranting, batu, dan apa saja yang ia dapatkan di pulau tersebut.
Masalah baru muncul ketika hanya ada lima tokoh Molly yang dibawa. Aku mulai sering mendengar keluhan-keluhan menakjubkan. Molly lelaki bernama Tim, ia jodohkan dengan Tracy, sementara Donna, Cathy, dan Sherly jomblo. Ia mengarang cerita bahwa Donna dan Cathy bersahabat baik sejak lama, tak terpisahkan. Sementara Sherly tokoh yang selalu membayang-bayangi Tim dan Tracy. Karena hanya ada lima manusia di sebuah negara buatannya, tak heran Sulung suka-suka mengganti-ganti pasangan Tim. Setidaknya nalar Sulung berfungsi baik bahwa pasangan terdiri dari laki-laki dan perempuan. Namun ia mulai bosan ketika menyadari Sherly tokoh penyendiri tak lagi asyik dimainkan ke dunia ciptaannya.
Enam tahun kemudian, dunia kecil itu berpindah di sebuah negara. Lima tokoh tadi kali ini kesemuanya perempuan lesbian usia antara 30 hingga 40 tahun. Dunia yang besar dengan tokoh yang sangat terbatas, konflik yang dihadapi Sulung di pulau terpencil tadi kembali terjadi. Maya awalnya berpatner dengan Dyan, Rose dan Julia, Gia jomblo. Mereka yang hidup berjauhan ini suatu kali terkoneksi dengan dunia maya. Bertemu sebagai pembaca di SepociKopi. Gia mengenal Maya dan Dyan lewat blog mereka, di sambungan link ke link Planet SepociKopi. Sementara Rose dan Julia menyapa Gia, Maya, dan Dyan juga dari blog mereka masing-masing.
Merasa mendapat teman senasib, kelimanya memutuskan untuk saling bertemu dengan waktu dan tempat yang berbeda-beda. Namun tanpa disadari, ternyata kelima perempuan lesbian ini sudah pernah saling menjadi partner di antara mereka tanpa bisa dibendung. Tentu saja pada akhirnya ada fenomena drama amarah, cemburu, sakit hati, saling menyikut, dan merelakan.
“Mum, aku jenuh dengan Molly-molly ini, dunianya terlalu besar, manusianya terlalu sedikit. Tidak seimbang, ini bukan mainan yang asyik. Kasihan melihat satu Molly yang harus melajang tanpa pasangan, sementara aku tidak tega menukar pasangan yang lain karena menurutku Tim hanya cocok dengan Tracy, sudah kucobakan Tim pada Sherly atau Donna, namun Tim memang lebih sesuai hidup dengan Tracy. Ini menyakitkan Mum. Kusimpan saja semua mainan ini, besok aku mengikutimu seharian snorkling di tepian pantai.”
Aku menatap lemari Sulung. Setumpuk Molly dalam rak paling bawah berjajar rapi. Beberapa di antaranya mengenakan pakaian plastik yang sudah mulai rapuh. Sementara semua perangkat pelengkapnya dimasukkan dalam sebuah peti kecil diletakkan bersisian. Aku mulai berkeinginan memiliki lemari seperti milik Sulung. Menyimpan semua yang bernuansa dunia mainan di dalam satu tempat khusus. Sepertinya akan aman di sana selama-lama yang kumau, atau membiarkannya berdebu sampai seseorang yang lebih menghargai memainkan kembali peranan penting dunia-dunia ciptaan tersebut.
“Ada kehidupan lebih indah daripada dunia mainanmu, Nak. Mendung di pantai kemarin siang menciptakan fenomena halo di langit. Ikan-ikan bawah laut berjuta ukuran bermain-main menggigiti kaki. Bentuk mereka aneh dengan corak loreng penuh keunikan. Sementara aneka warna terumbu menyesak mata. Hari ini juga perasaanku diorak-arik ketika seekor manta ray raksasa berenang bersama anaknya tepat di bawah badan. Aku berpikir, jika saja kamu ikut melihat keindahan itu bersamaku…”
“Ah Mum, kusimpan saja semua mainan ini sekarang, seharian besok aku akan bersamamu. Semoga mummy Manta dan anaknya masih ada di sana.”
Usai merapikan seluruh dunia ciptaanya, sulung berpindah ke pelukanku. Kami duduk membisu menunggu hujan berhenti sembari menatap kilat saling mengejar di rentang cakrawala. Antara aroma hujan dan laut, mata kami berdua melepas ombak datang dan pergi, menghampiri, lalu pergi lagi…
@Ade Rain, SepociKopi, 2009
mbun
November 18th, 2009 at 12:42 pm
mmmm saya lupa sudah berapa lama saya tidak bermain boneka…atau tidak pernah bermain boneka heheheh…mereka (boneka) selalu terlihat aneh dan terkesan menantang. Terutama boneka seperti barbie, bratz dan kawan-kawannya. Eniwei…tapi saya selalu dimintai bercerita memakai boneka oleh anak2 tetangga, dan teman2 sekolah kakak Rhei..bahagianya…
salam sayang untuk keluarga
akkaht
November 18th, 2009 at 1:19 pm
artinya dunia terlalu kecil utk kebohongan dan terlalu luas buat berpikiran kecil (gaya bahasaku sendiri).
sebaiknya jgn disimpan lebih baik di buang or diserah terimakan pada org lain.
dian
November 18th, 2009 at 6:19 pm
Baca judulnya aku udah nebak ini tulisanmu kak
April
November 19th, 2009 at 2:52 am
Sejk awl aq kenal sepocikopi. Aq lgsng jtuh hati am tlisanx ade rain,, pxa krkter sndri. Sukses sllu y ade rain n sepocikopi
14
November 19th, 2009 at 3:50 am
Berinteraksi atau tidak adalah suatu pilihan. Kita bebas memilih tapi tidak bebas atas konsekuensinya. Ketidaksiapan atas konsekuensi berakibat pada konflik panjang.Memilih realita dalam maya berarti siap atas konsekuensinya….siap atas kepalsuan atau keaslian,kebohongan atau kejujuran…Semua tergantung bgm kita menciptakan diri . Palsu dengan palsu, Jujur dgn Jujur…teori menuai angin tetap berlaku walau di alam maya….(tulisan yang bagus, special applaus for aderain)
TITA
November 22nd, 2009 at 12:10 am
salam kenal ade rain…
tulisan tulisan kamu nyantai, gak berat-berat jadi enjoy bacanya.
tita
November 22nd, 2009 at 12:11 am
kenalan dong ade rain
tita
November 22nd, 2009 at 7:39 pm
aku tunggu lagi nih tulisan kamu