Oleh: Sky
Mendadak saya teringat akan sebuah acara talkshow yang dibawakan oleh Anjasmara. Pada salah satu episode acara tersebut, tampil seorang perempuan yang mengaku tidak jadi dinikahi oleh tunangannya karena menurut gosip yang beredar, adik laki-laki dari perempuan tersebut adalah seorang gay. Si tunangan tidak ingin memiliki anggota keluarga dengan orientasi seksual yang “menyimpang”. Kedua hal tersebut kemudian membuat saya bertanya-tanya: sebenarnya, seberapa besar, sih, kaitan antara gen atau hubungan kekeluargaan terhadap orientasi seksual seseorang?
Berdasarkan penelitian, orientasi seksual memang memiliki hubungan dengan gen. Pada hewan, misalnya, lalat buah (Drosophilla) jantan yang memiliki fruitless gene hanya mengejar lalat buah jantan lain, bukan lalat betina. Berarti bisa kita katakan lalat jantan itu adalah gay. Bagaimana dengan manusia? Penelitian yang dilakukan oleh Kendler, Thornton, Gilman, dan Kessler pada tahun 2000 menunjukkan bahwa ketika salah satu dari sepasang anak kembar ternyata homoseksual, maka terdapat kemungkinan sebesar 31% bahwa saudaranya juga homoseksual jika mereka adalah kembar identik (monozygotic). Sementara itu, pada kembar tidak identik (dizygotic), kemungkinannya hanya 8%.
Kembar identik atau monozygotic adalah kembar yang dihasilkan oleh satu sperma dan satu sel telur, dalam pembelahannya, terjadi identitas lebih dari satu, dan membagi kantung rahim yang sama. Sementara kembar tak identik alias dizygotic adalah kembar yang dihasilkan oleh dua sperma dan dua sel telur, mengalami pembuahan yang bersamaan, dan membagi kantung rahim yang sama.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Bailey dan Pillard pada tahun 1991 serta penelitian Bailey, Pillard, Neale, dan Agyei pada tahun 1993 memberikan hasil yang sedikit berbeda. Penelitian tersebut dilakukan untuk mengetahui orientasi seksual kerabat dewasa (adult relatives) dari seorang pria atau wanita homoseksual. Hasilnya, 52% saudara kembar monozygotic seorang gay adalah homoseksual, 22% jika mereka kembar dizygotic, dan di bawah 15% jika mereka adalah saudara angkat. Hasil penelitian tersebut lebih rendah pada wanita, yaitu 48% jika mereka kembar monozygotic, 16% jika mereka kembar dizygotic, 14% pada saudara yang tidak kembar, dan 6% jika mereka saudara angkat.
Meskipun demikian, tidak perlu menyalahkan siapa pun jika ternyata di antara kerabat kita memang ada gay atau lesbian selain diri kita sendiri. Walaupun gen dapat memengaruhi orientasi seksual seseorang, gen bukanlah satu-satunya faktor penentu. Jika tidak, seharusnya kemungkinan kembar identik untuk memiliki orientasi seksual yang sama adalah 100%, bukan 48% atau 52 %, right? Lingkungan juga merupakan faktor lain yang diduga memiliki hubungan yang sangat erat dengan orientasi seksual seseorang. Sebagai tambahan, sejumlah ilmuwan berargumentasi bahwa hormon, pre-natal events, dan anatomi otak juga berpengaruh terhadap orientasi seseorang.
Terlepas dari riset dan data yang saya dapatkan, pastilah masih banyak lagi riset yang lebih baik di tahun-tahun belakangan ini. Dunia genetika adalah dunia yang memiliki kecepatan luar biasa. Dalam satu bulan, kita bisa menemukan riset terbaru dan teori yang gres. Lagipula, terlepas dari semua hal itu, saya mau memercaya bahwa orientasi seksual adalah pilihan. Yes, I believe that it’s merely a choice. Seringkali, seseorang memang tidak dapat menentukan pada siapa dia ingin jatuh cinta. Namun, orang tersebut dapat memilih untuk melanjutkan cintanya, atau pergi menjauh. You are a lesbian, a gay, a bisexual, or a heterosexual, only when you choose and identify yourself as one. Jadi, bukan salah siapa-siapa jika saya adalah seorang lesbian. It’s my choice, my own responsibility.
@Sky, SepociKopi, 2009
mbun
November 12th, 2009 at 8:59 am
yah sama saja jika selalu berdebat mengenai kover-kover masalah, tanpa melihat isinya. Kemampuan mencintai dan mengasihi serta memutuskan secara tulus tentu tidak melihat remeh temeh begitu. tapi alangkah baiknya jika sampulnya di design dengan manis (tes..tes..tes.drowling slruppppp heh)
Arinie
November 12th, 2009 at 9:03 am
yes sky, its our choice to be a lesbian dan jangan pernah menyalahkan takdir atau kodrat. its abolutely about a choice
yulsic
November 12th, 2009 at 9:13 am
btul! it’s my choice, my own responsibility! XD
LigX
November 12th, 2009 at 9:41 am
Lesbian is given..
Tim
November 12th, 2009 at 10:22 am
Wallahualam bissawab.
Kyra
November 12th, 2009 at 10:26 am
Hm. . .
menurutq c, genetika emg bpengaruh, tp yg lebh bpengaruh krna emg kseharinnya dg org yg berorientasi gay. krna kbiasaan, yah. , mungkin aja pola pikirnya terpengaruh n identik dg saudaranya yg notabene gay.
bwt sky, stju bgt yg bgian ending.
its our own choice to choose who we are
tika
November 12th, 2009 at 4:50 pm
jd inget kucing jantan di kos temen. sukanya cuma sama kucing jantan juga. kalau ada kucing jantan, lgs agresif n ngajakin kawin sampai keluar cairan dari alat kelaminnya. tapi klo ada kucing betina malah cuek beibeh.
rilee
November 12th, 2009 at 10:15 pm
wah artikel yg g cari-cari…
g setuju bgt dengan sky..
gen hanya penentu beberapa persen, selanjutnya ada pilihan sendiri… tidak ada yg harus disalahkan.. just enjoy it…
^^
Sky
November 13th, 2009 at 9:12 am
@Mbun: Yah…dan yang biasanya mau membahas kemampuan mencintai secara tulus biasanya adalah mereka yang sedang memiliki masalah besar dalam percintaannya…hehe…I guess…
@Arinie: I agree. Totally…:-D
@Yulsic: Yep. Semangat, ya, menanggung responsibility itu… Rintangannya banyak…hehehe…
@LigX: Some people believe so. But, I’ve given up to blame nature for the differences in me… I’m really glad to find different opinion & point of view, though…^_^
@Tim: Yep. Sometimes I think so.
@Kyra: Saya juga berpikir lingkungan sekitar memiliki peran yang besar… Tapi tetap ada pilihan untuk stay atau move out dari lingkungan itu, kan…”^_^)?
@Tika: Hee….kucing yang menarik…jadi ingin lihat…:-D
@Rilee: Hehe…terima kasih sudah mencari-cari artikel ini…^_^
mel
November 13th, 2009 at 11:34 am
jujur sebenarnya saya ga gitu ngerti tulisan diatas. saya terlahir kembar. saudari kembar saya tdk L seperti saya, dia telah menikah dan sekrang sedang menunggu kelahiran anak pertamanya.
saya pernah baca sebuah penelitian mengatakan bahwa diantara pasangan kembar banyak sekali kemungkinan salah satunya adalah gay/Lesbian. saya sedikit percaya kra teman SMA saya jg seperti saya terlahir kembar tp salah satunya adalah L.
L adalah sebuah pilihan????
saya ngak begitu yakin akan kalimat itu. kalo ada pilihan saya memilih untuk tidak menjadi L karena menghadapi tantangan hidup yg begitu besar terlebih lagi dalam keluarga, agama dan adat.
jean_piaget
November 13th, 2009 at 12:01 pm
jadi nature ato nurture?? ahahaha, udah ah gak mau membahas dari mana asal mulanya. gw setuju dengan kesimpulan dan sky, bahwa itu semua pilihan.
losemygrip
November 13th, 2009 at 9:30 pm
menjadi L adalah pilihan? sulit untuk setuju. Karena aku tak merasa sedang memilih ketika menyadarinya.
akkaht
November 13th, 2009 at 10:38 pm
Tulisan yg membuat tidurku bakalan pulas disamping kekasihku malam ini & forever, karena aku yg memilihnya (meskipun ssh dapatinya) bukan karena “gen” (dak kenal tuh…). And than… we’ll fly to the sky …
Yupz
November 14th, 2009 at 5:11 am
Stuju ma Mel…klo bisa milih,aku ga mau jd L krna ga bisa nikah ma patner khususnya d sini. Klo pilihan tuk menjauh ato mengikuti itu hanya dmata umum hati tetap saja L.
jn
November 22nd, 2009 at 8:59 pm
nice artikel
pus
November 23rd, 2009 at 8:00 am
klo dari lahir pasti ga memilih,, tp ada jg yg memilih krn suatu hal… ketika q,sadar: loh koook??? selanjutnya, ya sudah…baru masuk pilihan: milih pasangan yg cocok…ehemmm..
Cassandros
November 25th, 2009 at 8:46 pm
Making choice is indeed a human right, but making right choice is a human obligation. Meski anda tidak memilih kepada siap anda tertarik secara seksual, tapi anda bisa memilih cara bersikap terhadap ketertarikan itu. Itulah yang membedakan gay dan non-gay. Makanya, saya bisa bilang bahwa menjadi lesbian adalah pilihan. Kalau kita memilih secara sadar dan ikhlash untuk mengekang dan melawan same-sex attraction dalam diri, bagaimanakah bisa disebut sebagai gay/lesbian?
strawberry kiss
January 18th, 2010 at 10:30 pm
L is a choice? maybe yes maybe no.. ada beberapa faktor traumatik terhadap kaum adam juga bisa menjadi pemicunya. gw dari dulu suka banged mandangin cewe cantik n sexy sampe skrg, and itu bukan pilihan tapi happening begitu aja. sampe bestfren gw kiss gw for the first time and disitu gw melihat everything so different with a woman. even gw punya pacar cowo tapi tetep imajinasi gw and fave gw itu cewe.. and now gw pacaran sama my lovely woman, if being a lesbian is choice i wanna live normally, krn berat jadi lesbian. senangnya aja ga bisa cerita gimana sedihnya… but gw ga nyesal jadi L, because that is who i am…