the_story_of_a_lifetime_______by_foureyesOleh: Lakhsmi

Pernah merasa deja-vu bahkan merasa capek ketika sedang membaca novel? Coba intip deretan kisah di bawah ini, kira-kira pernah merasa membacanya atau tidak:

1. bangun pagi, terlambat, tergesa-gesa menuju sekolah, kemudian bertemu dengan si anak baru yang juga terlambat ke sekolah
2. dua perempuan berteman akrab, semakin akrab, kemudian ternyata mereka adalah sepasang lesbian
3. tokoh perempuan yang miskin tapi cantik dan baik hati, bertemu dengan lelaki sempurna, lalu mereka jatuh cinta dan hidup bahagia selama-lamanya

Pernah? Dari ribuan novel yang aku baca (baik novel bagus atau buruk), mungkin aku berhasil menemukan adegan-adegan di atas dengan mudah. Klise yang aku maksud (lihat judul) bukan berarti klise dalam kata-kata (seperti mengapa awan selalu harus “berarak”? Atau mengapa hujan selalu diasosiasikan dengan suasana melankolisme?), melainkan klise dalam cerita.

Pertama-tama, mari kita menyamakan persepsi dengan menemukan arti klise. Definisi klise dalam cerita adalah adegan yang digunakan berulang-ulang. Seorang penulis yang telah menulis ratusan naskah tidak dapat mengelak adegan klise ini. Misalnya, berapa ribu kisah tentang perempuan yang sempurna: ia cantik, hebat, tabah, berani, dan tergila-gila fashion? Contohnya novel-novel pop-art yang ngetop dilabelin chicklit, atau novel pemenang Pulitzer, Gone with the Wind. Berapa ribu kisah tentang cerita dalam mimpi atau khayalan di mana pembaca akan sulit membedakan mana yang real dan sureal? Contohnya Alice in the Wonderland atau The Book of Lost Things. Berapa ribu kisah tentang tokoh yang nyaris mati dan kemudian menemukan pencerahan dalam perjalanan menuju kematiannya? Contohnya Wednesday with Morrie atau Through the Glass, Darkly. Bagaimana kisah tentang lesbian, tentang perempuan yang bertemu dengan perempuan lalu jatuh cinta? Itu terlalu banyak, sampai otakku tidak sanggup meng-download judul-judulnya.

Jadi, apa salahnya menggunakan cerita yang klise? Mungkin kita harus membedakan suatu cerita tergelincir menjadi klise-yang-garing-dan-membosankan atau klise-yang-tidak-terasa-klise. Misi menulis tentang saja menciptakan adegan-adegan yang original, tapi seperti yang sudah aku tulis di atas, adegan klise tidak dapat begitu saja dibuang. Menulis adegan klise ternyata lebih sulit daripada menulis adegan fresh yang berbeda, ibaratnya seperti pemain akrobat meniti tali. Sedikit saja dia kehilangan keseimbangan, maka ia akan terjun bebas dan terjatuh.

Kata kuncinya terletak dari kemampuan si penulis untuk menjalankan ceritanya dengan lancar. Patrick Davis, penulis skenario untuk film Hollywood, memberikan analogi seperti ini: benang merah cerita adalah supir dari suatu kendaraan. Sementara adegan adalah kendaraan itu tersebut, bisa berarti pesawat, mobil, sepeda, motor, perahu, dan lain-lain. Hal sepele dan klise seperti cerita boy-meet-girl bisa dibungkus dengan berbagai adegan sehingga terasa unik. Adegan itu bisa saja berupa adegan politis, horor, historical romance, atau setting yang menarik dan berbeda.

Pengetahuan itu juga penting, apalagi informasi. Banyak-banyaklah mendapatkan gudang informasi tentang seluruh cerita, sehingga tema klasik (sebagai pengganti kata “klise”) tidak menjadi terasa basi. Aku pernah membaca satu novel yang tokoh utamanya katanya menderita HIV (sepertinya tujuan cerita adalah tokoh sekarat yang menemukan makna kehidupan dalam perjalanan menuju kematiannya, kurang klise apa coba?), tapi ternyata si penulis sama sekali tidak memiliki back up informasi tentang medis, kedokteran, dan informasi HIV sehingga terasa kisahnya mengada-ada dan miskin tentang fakta-fakta.

Fiksi memang fiksi – bukan fakta, tapi fiksi harus masuk akal dan ditopang oleh fakta yang masuk akal juga. Unpublished writers, take heart. Menulis cerita yang klise tapi segar membutuhkan ketrampilan. Jangan juga selalu terjebak memikirkan cerita yang “harus selalu berbeda dan unik”. Lihatlah bagaimana klisenya dongeng Twilight saga, tapi kenapa orang bisa tergila-gila?

@Lakhsmi, SepociKopi, 2009