Oleh: Shinigami
Imajinasi bukanlah monopoli kelompok tertentu; ia bukan hanya milik para pembuat film, pelukis, penulis, atau segala macam profesi berbasis seni lainnya. Manusia sudah bisa berimajinasi sejak kanak-kanak. Masih ingat bagaimana kita membayangkan diri menjadi dokter, mengenakan jas panjang putih dengan stetoskop melingkar di leher? Atau bagaimana akan menenteng tas kerja warna hitam dari bahan kulit sambil melangkah yakin dalam balutan blazer berwarna senada layaknya seorang direktur utama suatu perusahaan multinasional? Melihat keberadaan imajinasi yang telah muncul dalam hidup manusia sejak usia yang sangat muda –seperti halnya kemampuan untuk makan, minum, serta merasakan— saya percaya bahwa imajinasi itu sesuatu yang penting dan tidak dapat diremehkan, termasuk dalam suatu hubungan percintaan.
Eits, tolong dibersihkan sedikit pikirannya. Saya tidak akan membahas tentang imajinasi dan fantasi seksual liar yang dimiliki para lesbian. Tergoda sih, tapi ah, tidak sekarang. Imajinasi yang saya bahas lebih kepada membayangkan hidup, membayangkan masa depan… ehm, yang lebih jauh daripada aktivitas ranjang nanti malam dengan pasangan. Konsentrasi yang benar dong bacanya. Hehehe… Senang deh menggoda.
Kembali ke topik imajinasi yang lebih serius ini. Ya, imajinasi tentang masa depan itu penting dalam suatu hubungan, atau bahkan ketika baru akan memulai suatu hubungan. Setiap orang pasti memiliki pandangan yang ideal mengenai kehidupannya, khususnya kehidupan dengan pasangan. Misalnya bayangan untuk tinggal berdua di rumah kecil yang nyaman, dengan taman kecil di belakang dan pagar tinggi di depan sehingga tidak diributi oleh para tetangga yang bisa jadi selalu ingin tahu urusan orang. Saya yakin kalian pasti memiliki versi masing-masing.
Bagus kan? Bagus dong. Tetapi apakah beres sampai sini dan segalanya akan lancar-lancar saja? Sayangnya bukan begitu aturan mainnya. Terkadang saya berpikir bahwa setiap orang yang memiliki imajinasi seperti layaknya seorang sutradara pementasan teater yang membangun panggungnya berdasarkan naskah yang ia kerjakan. Setelah mendalami naskahnya, ia tahu apa yang dia inginkan, mulai dari bentuk, warna, hingga bahan. Tetapi ini baru separuh jalan, sebab yang ada barulah suatu setting alias lingkungan fisik yang mati. Semuanya tidak akan sama sebelum ada manusia yang menempati lingkungan fisik tersebut.
Maka di sinilah kolaborasi antara (calon) pasangan dan imajinasi seseorang terjadi. Sebagaimana yang harus dilakukan seorang sutradara, pada tahap ini seseorang akan melakukan audisi atas (calon) pasangan itu, mencoba melihat dalam bayangannya apakah perempuan itu cocok berperan sebagai pasangan di dalam setting kehidupan ideal yang dimiliki orang tersebut. Jadi, kalau dirasa tidak cocok, dibuang dong perempuan itu? Belum tentu. Sebab, pada tahap ini seseorang akan melihat seberapa besar perubahan yang perlu dilakukan terhadap gambaran idealnya bila memang perempuan ini tidak bisa seratus persen pas berada di dalamnya. Kompromi itu pasti ada. Seberapa banyak dan seberapa rela itulah masalahnya.
Menurut saya, untuk suatu hubungan yang tahan lama seperti sepatu Crocs, seseorang harus bisa membayangkan hidupnya bersama si (calon) pasangan dan menyukai bayangan yang dilihatnya itu. Tetapi ingat, bayangannya bukan bayangan buta loh. Maksud saya jangan asal membayangkan tanpa didasari pemahaman yang cukup atas diri, watak, dan kebiasaan (calon) pasangan. Jangan mentang-mentang sedang jatuh cinta lalu memaksa melihat bahwa semua yang ada baik-baik saja. Itu namanya takabur dan seenaknya sendiri. Kenali perempuan itu dengan baik, atau malah sangat baik, sebelum mulai membayangkan untuk menjalin hubungan serius dengannya.
Kesimpulannya, demi kebaikan sendiri, gunakan imajinasi dan ciptakan bayangan yang realistis. Saya tahu ini terdengar berlawanan, tetapi memang begitu kenyataannya — bersikap realistis itu penting. Ya, artinya kalau memang setelah dibayangkan dengan realistis yang terjadi malah bukannya senyum lebar sarat cinta, melainkan kerenyitan dahi dalam, dan merasa tidak nyaman dengan apa yang dilihat, sebaiknya lupakan saja; tidak perlu memaksakan diri menjalin suatu hubungan yang tidak akan membuat bahagia. Membayangkannya saja susah, apalagi saat benar-benar harus menjalaninya. Save your breath, find another girl.
@Shinigami, SepociKopi, 2009
LigX
November 11th, 2009 at 9:34 am
yup.
save my breath, find another girl !
Kyra
November 11th, 2009 at 10:47 am
Bener sih. . tapi susah bwt berpaling. . . terlanjur mencintai dirinya. . terlambt bgiku, pergi drinya.. .
meski g telat pun jg g kan mau pergi, hhe. . .
lifeishappi
November 11th, 2009 at 1:13 pm
hohohoh…
save my breath…find ANOTHER girl!!! hahahahah….gud quotation!yihaaa…
meliâ
November 11th, 2009 at 10:54 pm
hmmm….pusing ah!!.. Ih knp sih ga dijalanin dulu aja.mungkin solusinya akan menyusul (boleh kan mengharap keajaiban datang!)hiks!
akkaht
November 11th, 2009 at 11:01 pm
Sist. Shin… lo pintar banget deh… semoga lesbian2 yg akan datang pintarnya kayak lo… (hindari makan udang ya…)
Danish
November 18th, 2009 at 2:10 pm
Sebelum dbayangin, kalo udah berasa gak nyaman dsamping dia saat baru kenalan aja, udah pasti madesu(masa depan suram)..
Tapi bener c, kudu d imagine dulu.. Sayangnya, saat ini single n belum ada calon pasangan juga, jadi belum bisa ber-imagine..