Home » Humaniora, Perempuan

Perempuan dalam 4M

11 November 2009 204 views 30 Comments

woman_and_bamboo_by_miakiOleh: Arinie

Terlahir sebagai perempuan dalam tradisi Jawa yang kental, sejak kecil saya telah terbiasa mendengar nasihat, petatah-petitih dari orang-orang tua dalam keluarga besar ayah maupun ibu. Petatah-petitih yang menjadi adagium yang tercetak tebal di kepala bahwa seorang perempuan, sesuai kodratnya suatu hari harus menjadi seorang istri yang mengabdikan hidupnya pada sang suami atau garwo. Seorang garwo yang berarti sigaranne nyowo atau belahan nyawa, belahan jiwa yang berhak mendapatkan pengabdian berupa kemampuan 3M sepenuhnya dari sang istri yaitu macak, manak, dan masak.

3M yang menjadi sebuah kewajiban bahwa seorang perempuan wajib bisa berdandan (macak) demi menyenangkan hati suami, melahirkan (manak) demi kelangsungan keturunan, dan memasak (masak) untuk memenuhi kebutuhan ragawi seluruh anggota keluarga. Lengkapnya seorang perempuan memiliki kewajiban sekitar dapur-sumur-kasur bagi lelaki yang menjadi suaminya.

Seiring perkembangan sosial dalam kehidupan, tugas perempuan bertambah dengan makaryo atau bekerja, menghasilkan sesuatu yang bukan cuma sekedar menopang roda perekonomian keluarga melainkan juga seringkali seorang istri menjadi tulang punggung keluarga di banyak rumah tangga di setiap pelosok negeri kita tercinta.

Perempuan, yang konon katanya terlahir sebagai sosok yang lemah, nyatanya mengemban kewajiban yang tak bisa dibilang ringan. Siapa bilang melahirkan dan memasak cuma sekedar kewajiban domestik yang ringan? Kalaulah para lelaki diberi dua kewajiban ini, maka keluh kesah mereka akan lebih panjang dari aktivitas ngerumpi para perempuan. Begitu pula tak bisa dipungkiri, melahirkan adalah arena pertarungan hidup dan mati seorang perempuan demi kelangsungan sebuah generasi yang sama sekali tak bisa diwakilkan oleh lelaki mana pun demi nama solidaritas. Itu juga bukan sebuah keputusan yang ringan ketika seorang perempuan memutuskan untuk bekerja di sela aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga.

Adagium 4M bukan lagi hal yang asing di mata masyarakat pada hari ini. Ia tak lagi milik orang Jawa melainkan milik seluruh bangsa Indonesia. Sejujurnya 4M bukanlah semata doktrin, melainkan rambu buat para perempuan yang mengemban tugas mulia sebagai ibu generasi. Walaupun banyak di antara kita, lesbian, yang terhalang memenuhi kriteria 4M terutama manak, bukan berarti tak mampu tapi lebih karena merasa tak bisa. Tetap saja, seorang sahabat lesbian memilih menikah untuk mendengar suara jam alam memanggilnya: mengandung dan memiliki anak. Atau para mombian yang menyadari bahwa pernikahan, suami dan anak – tak bisa membuat dirinya lepas dari kelesbianannya. Tapi bukan berarti mereka yang memilih tidak menikah, sama sekali tak memiliki rasa keibuan dan sifat-sifat alamiah kewanitaannya. Tak heran jika seorang butchi menghasilkan lima kerajinan kruistik ukuran besar dalam waktu 3 bulan atau seorang andro merajut mute dan memasak ala resto.

Bukan bermaksud mengingkari kewajiban melahirkan jika seorang lesbian memilih tidak menikah. Jika diteropong jauh ke dalam hati, pasti ia juga merindukan hadirnya makhluk kecil yang lucu sebagai keturunannya. Hidup, bagaimanapun, adalah sebuah pilihan. Seorang lesbian dengan pilihannya untuk tidak menikah tetaplah seorang perempuan. Dia tidak melahirkan dari rahimnya, tapi bukan berarti tidak bisa melahirkan dari hatinya. Perempuan-perempuan yang (mampu) menjalankan peran 4M dalam keluarga adalah pahlawan yang layak dihormati, misalnya para ibu yang, melahirkan para lesbian ke dunia. Mereka layak mendapatkan cinta, kasih, dan penghormatan tulus dan tak layak mendapatkan pelecehan sekecil apa pun bentuknya.

Bagaimana dengan lesbian? Layakkah kita mendapat sebutan pahlawan keluarga dengan anomali (jika menjadi lesbian bisa disamakan dengan sebuah “kecacatan”) yang kita sandang? Tentu saja, tetaplah berkarya dengan apa yang kita bisa bukan semata hanya berharap mendapat sampiran gelar pahlawan. Karena seringkali seorang pahlawan ada dalam bayang-bayang kegelapan, tak nampak, dan tak dikenal. Biarkan dunia merasakan hasil makaryo kita. Tidak apa-apa jika kita menjadi pahlawan tak dikenal, tak dikenang, asalkan kebaikan yang kita ukirkan menjadi genta yang gaungnya dirasakan oleh setiap orang yang kita cintai. Ini bukan saatnya bagi seorang lesbian untuk meratapi segala duka dan ketakberdayaan diri. Bangkitlah, tunjukkan pada dunia bahwa kita bisa berarti dalam segala keterbatasan diri. Jadilah pahlawan paling tidak buat diri kita sendiri. Selamat Hari Pahlawan, saudari-saudariku.

@Arinie, SepociKopi, 2009

30 Comments »

  • dee said:

    humh,
    yes we are.
    we all are invisible heroines.

    tapi aku ga setuju banget tuh,
    kalo ada yang bilang kelesbianan kita2 ini
    disebut sebagai kecacatan.
    totally disagree!!

  • LigX said:

    selamat hari pahlawan

  • nona-amelia said:

    wow…Arin.how.amazing.u’re,,aq.suka.tulisan.km..!
    “SETIAP..ORANG.YG.SUDAH.MENGORBANKN.APAPUN.DEMI.KITA,,
    BAIK.WAKTUNYA,TENAGANYA,DAN.PERJUANGANNYA,ADALAH,SEORANG.PAHLAWAN.BAGI.SAYA

  • Kyra said:

    Wah, ribet juga. . . mw cari suami pa istri ini?

  • Jill said:

    Seperti doa yg sering diucapkan ketika kita msh bayi, “smoga menjadi org yg berguna bg masyarakat, agama dan bangsa”…so, meski lesbian tp tdk menjadi penghalang :D

  • lifeishappi said:

    rahmatan lil’alamin…yaa…berguna bagi alam sekitar kita…

  • lifeishappi said:

    harusnya di share niyy…

  • De Ni said:

    Nice artikel Mbak!

  • zetha septina abdu said:

    Menjadi perempuan atau pun lesbian itu bukan kutukan!

    Aiiiih… mungkin saya harus belajar lagi memahami apa yang namanya kodrat. Seingat saya, KBBI mengajarkan pada saya bahwa kodrat adalah kekuatan (tuhan), manusia tidak mampu menentang. Senada juga kodrat ditinjau dari perspektif agama. Baru saya tahu dari tulisan di atas, bahwa sekumpulan “M” itu adalah kodrat yang menimpa perempuan.

    Seandainya memang benar seperti itu, maka saya lebih memilih menghapus “kodrat” dari hidup saya. Kalaupun tuhan memang sepakat betul dengan sekumpulan ‘M’ yang ditimpakan pada perempuan, maka saya akan memilih melupakan tuhan.

    Jika untuk menjadi pahlawan saya musti mematuhi sekumpulan ‘M’ demi kesempurnaan keperempuanan saya, maka saya akan memilih menjadi pecundang saja.

    Namun, tampaknya saya masih belum akan bergandengan tangan dengan orang2 atheis, menjadi pecundang, atau kehilangan sebuah kosa kata beserta esensinya bagi diri saya.

    Meskipun saya bukan feminis, ribuan rasa terimakasih akan saya sampaikan buat kaum feminis. Paling tidak dari mereka akhirnya saya merasa bahwa menjadi perempuan bukanlah sebuah kutukan. Mereka mengajarkan bagaimana membedah antara sex dan gender. Membedakan antara kodrat yang lebih bersifat biologis dengan pembagian tugas atau kerja yang dibentuk oleh konstruk masyarakat (tentunya konstruk ini tidak lepas dari tujuan tertentu dan kekuasaan).
    Tabik!

  • mel said:

    yup. met hari pahlawan jg bt semua…..

  • lia said:

    agree..wanita tetaplah wanita,ada sisi kewanitaannya yg ngg mungkin bs hilang mesti dia seorang L sekalipun,dan mencintai tetaplah anugerah bkn kecacatan.

  • Peace said:

    Keren tulisannya Mbak Arinie…

  • Arinie said:

    thanks buat semuanya atas komen kalian.

    @Zetha: apakah dengan kodrat dlm sekumpulan M itu berarti sebuah penindasan pada perempuan?? atau kamu tidak sadar bahwa kamu terlahir dari kodrat seorang perempuan yg bisa melahirkan??, saya tak hendak membuka polemik, cuma sepertinya lucu aja kalo seorang lesbian berusaha mengingkari kodratnya hanya krn dia merasa “teraniaya” dg kodrat itu. bisa tolong sebutkan yang kamu maksud dengan kodrat bilogis? dan apa bedanya dg pembagian tugas kerja yg dibentuk olek konstruk masyarakat?? kita memang lesbian, tapi bukan berarti kita menafikan kodrat keperempuanan kita, dan bukankah kita mencintai perempuan karena dia perempuan ansich dg segala kodratnya??

  • Tim said:

    Sebagai ciptaanNya label kta adl manusia. Bnyk yg terjebak dan terlalu fokus pd pelabelan produk sendiri akibatnya pemikiran dan ruang gerak jdi sempit. Kodrat bukan penjara justru perempuan mulia karena kodratnya.

  • akkaht said:

    Tulisan ini memberi jawaban pd saya kenapa para lesbian (khususnya) di negeri kita tercinta ini slalu merasa terpuruk dan akhirnya jatuh, jatuh, dan jatuh lagi dan berakhir dengan……. Lupakan semua itu!! marilah jadi pahlawan bagi diri kita sendiri tidak perlu muluk2lah…. (ctt: seandainya saya punya kekuasaan utk menghapus kata2 yg ada dlm KBBI hanya ada 2 kata yg ingin saya DELET. Pertama: kata CACAT. Karena aku lebih suka dibilang dgn sebutan penghuni2 ragunan (manusia binatang sekalian) dari pada di sebut manusia penyandang “kecacatan” ( jika aku jadi kerbau aku masih bisa digunakan petani untuk membajak sawah dan jika aku jadi anjing aku masih bisa digunakan untuk menjaga rumah dan menggigit pencuri tapi jika aku jd manusia penyandang kecacatan dimana aku mestinya berada?? tentu dong yg bisa mikir tau jawabnya). Sungguhlah “manusia yg cacat pengetahuan” yg memberi julukan itu. Kedua: Kata Kodrat (siapalah yg begitu pintarnya menciptakan kata sialan itu).

  • meliâ said:

    hmm …itu lah kodrat perempuan,dari anak yg hrs berbakti pd orangtua,jd istri yg berbakti pd suaminya,jd ibu yg berbakti pd anak2nya.jd nenek pun kadang2 msh dititipin cucu2nya yg lucu tp bkn encok kambuh.wanita adalah pahlawan disetiap kehidupan yg ia jalani !met hari pahlawan ladys!

  • Arinie said:

    Again, thanks girls for the comments.

    @Akkaht : bagaimana kalau kamu ciptakan kata lain yang lebih pas menggantikan kata cacat dan kodrat?? atau daripada ribut ingin menghapus dua kata itu, knp tidak kamu buat sebuah tulisan yang bisa membuat orang lain melek bahwa kata cacat dan kodrat sama sekali tidak membuat lesbian terpuruk.
    Anyway, thanks for the comment

  • yasmin said:

    heh heh bacanya telat….4 M kan perempuan buat suami, tapi lesbian kan nggak bersuami, jadi 4 M nya buat diri sendiri, termasuk Manak, buat diri sendiri aja. Jadilah pahlawan untuk diri sendiri….

  • Sagita said:

    Jeng Arinie, untuk dedikasi kepada L-mom L-mum, perlu ditambah 1 M lagi jadi 5M; MACAK, MANAK, MASAK, MAKARYO dan MELESBIAN. :mrgreen:

  • akkaht said:

    @Hi…Sist. Arini, aku bukan seorg. penulis, aku cuma penikmat tulisan seperti aku menikmati segelas wine, aku bisa betul membedakan rasanya, depend dengan harganya tapi aku tidak pernah tau dan tdk ingin tau cara menghasilkannya karena itu bukan bidangku. Tapi sist. di SK itu tdk berlaku ya… tdklah pantas aku hanya menikmati saja karena aku tdk membayar bukan?? karena itulah sist. sbg. rasa respek & terima kasihkku yg teramat dalam kepada semua penulis di SK kugoreskan penaku (comment), itu sungguh sulit kulakukan karena aku tdk terbiasa menulis (bahkan semasa sekolah, mendengar & membaca utkku lbh menyenangkan). Aku org yg percaya kepada “kekuatan dari tulisan” sebanding dgn “knowledge is power” karena itulah kenapa aku begitu kritis terhadap yg namanya TULISAN. Tulisan bisa menghidupkan juga membunuh (cth. kecil: surat cinta) begitu besar tanggung jawab seorg penulis ya… Sist. Arini, biarlah aku menunjukkan dgn bidang yg ku lakonin kepada org yg di sekitarku bahwa aku tdk terpuruk dgn cinta yg ku miliki terhadap “perempuanku” dan izinkan juga aku menikmati serta mengasah penamu sist. Arini. (Besi menajamkan besi. Manusia mengasah manusia). SK (berarti semua yg menulis disana) adalah pahlawan buat lesbian (khususnya) karena itu berjiwalah sebagai pahlawan. GBU ALL.

  • Arinie said:

    @Sagita : :) tambahan yang buat geleng2 kepala

    @Akkaht : “berjiwalah sebagai pahlawan” semoga kalimat ini juga berlaku buatmu, karena seorang pahlawan selalu memulai sesuatu dari dirinya sendiri. termsuk mengasah jiwamu dengan balasan komen dariku :) thanks sis…

  • zetha septina abdu said:

    Dalam terminologi feminisme, dibedakan antara gender dan sex(jenis kelamin).

    dalam sex, secara kodrat yang membedakan antara laki-laki dan perempuan adalalah 5M (pake em-em an lagi, hehehe). yakni menstruasi, mengandung, melahirkan, menyusui, dan menopause.

    selain hal itu sekumpulan M selain hal di atas adalah konstruk sosial masyarakat. semisal pembagian kerja antara wilayah domestik dan publik antara laki-laki dan perempuan.
    apa iya, yang berkewajiban masak itu perempuan? Apa iya perempuan mesti berdandan (macak) demi orang lain (suami), sehingga berdandan itu bukan lagi menjadi sebuah pilihan, tapi kodrat?
    Apa iya yang mesti berkutat pada wilayah domestik (rumah tangga) adalah perempuan?

    semua konstruk itu dibangun oleh masyarakat, bekerja sangat halus. sehingga terkadang sudah menjadi hal mapan yang kemudia diterima begitu saja menjadi kodrat.

    lha dari kecil juga dicekokin kalo perempuan gak boleh manjat pohon sementara laki-laki boleh. Baca juga pelajaran bahasa Indonesia buat anak SD, yang dahulu kala masih berkisah tentang si Budi.

    “Budi membantu ayah mencangkul, sedangkan Tini membantu ibu di dapur” nah lo!

    aku cuma menolak kodrat yang dilabelkan pada perempuan selain lima perbedaan dasar yang sudah saya sebutkan di atas. aku menolah kalo ‘Masak’ adalah kodrat yang ditimpakan pada perempuan. aku menolak kalo ‘Macak’ adalah kodrat yang melekati punggung perempuan.

    salam….

  • Arinie said:

    @zetha :tidak ada yang melarang penolakan2mu, pun halnya tidak ada yang memaksa kamu menerima semua itu, silakan saja berpikiran beda, karena itu yang membedakan manusia dengan makhluk lain yang tak berakal. Setiap orang bebas bicara sesuai dengan nalar berpikir yang mereka miliki. Jika masih kurnag sreg dengan jawaban ini, silakan buka ruang diskusi yang lain karena ruang komen ini bukan ajang diskusi…ok, thanks

  • Arinie said:

    @zetha : and 1 lagi di zaman pelajaran SD masih diisi tokoh budi, tidak ada nama tini yang ada “budi adik wati, budi kakak iwan”, so di buka lagi buku pelajarannya ya naaaaakkk :)

  • zetha septina abdu said:

    iya, saya ternyata salah menulis nama kakak Budi adalah Wati.

    ya, saya pikir ruang untuk coment di sini adalah untuk menanggapi isi tulisan. Semacam apresiasi juga, bukan cuma tempat ajang untuk memuji-muji atau mengamini saja. Suatu ruang dua arah.

  • Arinie said:

    @Zetha : waaaahhh saya malah nggak ngarep tulisan saya cuma mendapat pujian atau diamini, lg pula gk da yg nglarang km berpendpt sama jg gk da yg nglarang sy menanggpai komenmu, cm ini memang bukan ruang utk diskusi atau berdebat, bisa2 kena semprit redaksi deehhh :) silakan siapkan ruang lain kalo masih mau berdiskusi ttg kesetaraan gender atu pendapat kaum feminis berkaitan dg kodrat. anyway thanks dah berkomen.
    lain kali jangan salah sebut lagi yaaa (bkn salah tulis) gmnpun tokoh wati itu dibuat dengan pemikiran yang loohh :)

  • Angel said:

    Mbak Ar,,, you’re the best
    ga sabar nunggu artikel selanjutnya
    sukses ya ^_^

  • eky said:

    Tulisannya bagusss,,and diskusinya Mbak Ar,,,dgn Zetha septina Abdu juga seruuuuu..salam kenal teman2 penulis disepoci kopi (nine muses) kemana yaaa???

  • Danish said:

    Semakin dipikir, salut kpada perempuan2 yg mampu menjalani 4M dgn sepenuh hati..

  • Lafé said:

    Well, g setuju banget sama lia. Yang namanya WANITA akan tetap n selalu menjadi seorang WANITA!! No matter who you are n what your label is, tidak ad seorang wanita pun yg bisa menyangkal sisi kewanitaannya

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.