Domine Eduard Oslo dan Sore
Oleh: Rosallyn Tanoyo
Saya sering berpikir untuk mengoleksi sore. Satu sore ke sore yang lain, dengan satu rasa dengan rasa yang lain. Apalagi semenjak sering terkungkung dalam gedung bertingkat (meskipun secara logika semakin tinggi letak kantor saya, semakin dekat dengan sore) tembok-tembok beton berhiaskan kaca menahan sore masuk dalam ingatan saya. Dan sore menjadi mahal.
Saya lebih suka sore dibandingkan pagi. Pagi tercipta untuk terlalu optimis warnanya menjelang terang artinya akan banyak permulaan. Sore terbuat dari berpuluh-puluh ketergesaan, keringat, makian, amarah lama-lama menghitam artinya istirahatlah barang sejenak.
Hari ini saya sedang menikmati sore, tepat di sebelah jendela. Awannya bergulung-gulung dan kemudian jika saya mengalihkan pandangan dia beranjak. Langit menjelang sore warnanya biru bersih. Bandara Domine Eduard Oslo, penduduk setempat menyebutnya DEO, tempat saya duduk saat ini. Bandara ini terletak di Sorong sebuah kabupaten di Papua Barat yang cukup berkembang. Udaranya sangat kering dan anehnya bisa timbul hujan rintik di tengah terik matahari.
Hingga empat tahun yang lalu saat Sorong belum berubah menjadi kabupaten. Bandara aktif adalah Jeffman yang terletak di Pulau Jeffman pulau kecil sebelah barat Sorong. Untuk mencapai kota Sorong penumpang harus menaiki boat selama kurang lebih 20 menit. Namun jika memilih untuk menggunakan feri maka lebih lama lagi yaitu 30 menit. Dan paling seru jika berani memanfaatkan perahu biasa, selama satu jam terombang-ambing di lautan pacific. Bandara ini dibangun pada masa kolonial Belanda, panjang Bandara 1850 m dengan klasifikasi bandara kelas dua. Dulu bandara DEO hanya mampu menerima pesawat-pesawat kecil saja. Saat ini Jeffman sudah tidak dipergunakan lagi. Dengar-dengar hanya menjadi pemukiman penduduk saja.
Meskipun bandara daratan (DEO) sekarang merupakan bandara utama, namun tetap saja menyimpan banyak keunikan. Tidak yang seperti dibayangkan bentuk bandara yang bersih, megah, bandara ini merupakan bandara mungil. Hampir persis dengan perhentian kereta api pedalaman pada film-film tahun 40-an. Loket-loketnya masih terbuat dari kayu, tanpa sentuhan pendingin ruangan. Jika ingin melakukan check-in tiket untuk ditukar dengan boarding pass, suasananya riuh rendah. Petugas bandara akan memanggil satu persatu. Taut muka penumpang terlihat sangat tegang. Ternyata meskipun telah membeli tiket mereka masih punya kemungkinan tidak terangkut oleh pesawat alias tidak dapat tempat duduk. Maklum saja beberapa maskapai penerbangan disini masih memberlakukan penjualan tiket secara manual.
Sehingga ketika saya datang untuk meliput penerbangan perdana Batavia Air ke Sorong, masih sempat terlihat orang-orang berebutan check-in. Dan berdesak-desakan sambil dorong-dorongan. Kawan saya salah satu petugas Batavia Air, berusaha menenangkan mereka dengan berkata, ”Tenang, semua akan kebagian tiket karena kita pakai komputer. Sistem komputer akan membuat Anda bisa terbang semua!”
Hmmm…
Jangan tanyakan masalah penerangan, beberapa maskapai mampu mendarat tanpa landing lamp (saya tidak tahu apakah patut bersorak gembira, tapi hari saya bilang it’s cool dude!). Hanya pilot yang memiliki jam terbang tinggi mampu menguasai bandara ini. Namun, maskapai penerbangan yang mendahulukan safety, tentu saja tidak akan melakukan hal semacam itu.
Sekeliling bandara masih banyak rumah-rumah penduduk. Pembatas antara bandara dan dunia luar hanya pagar kawat saja, yang mudah dibengkokan. Dekat dengan landasan tampak anak-anak kampung bermain sambil menghitung pesawat serta mengumpulkan sampah. Jika sedang melakukan lari pagi, tiba-tiba pesawat bisa lewat di atas kepala seperti adegan di film Pearl Harbour.
Sudah habis sore saya hari ini. Saya masih terkagum-kagum. Cakrawala Sorong bisa membelah langit dengan sempurna bersama semburan merahnya di atas badan-badan pesawat. Koleksi sore saya yang lain lagi.
Saya merindukanmu. Seandainya kau di sini, saya tidak akan ajak menghitung pesawat (meskipun kau akan menikmati dengan sungguh!). Mungkin secangkir teh dan beberapa keping biskuit di atas genting lebih asyik. Bersama salakan shutter kamera saya tentunya. Selamat sore WIB.
@Rosallyn Tanoyo, SepociKopi, 2009
*Redaksi berterima kasih kepada Rosallyn atas kiriman tulisannya
Tentang Rosallyn Tanoyo:
Penulis dadakan sesuai cuaca. Hobi nongkrong dan membaca serta makan. Saat ini sedang mendalami lomography.









selamat siang menjelang sore
asyik tulisannya
makasih makasih kejutan menyenangkan di hari pahlawan
Mbak Ocha idolakuuuu……..!
Sore yg jd kbtuhan pokok
baguus….
Feature yang sempurna..
Setuju sama Rain. Tulisannya asyik
Salam kenal and keep writing
Bagus…tapi kurang panjang
sorong, sorong sorong….aku sangat merindukannya,t4 dimana aku menghabiskan masa 26 tahun disana, koreksi bandanya DEO Dominie Edward Osok,Thanks
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments