Home » Memory, Tentang Cinta

Domine Eduard Oslo dan Sore

10 November 2009 411 views 10 Comments

love__5_55_p_m__by_sanitynvrfoundmeOleh: Rosallyn Tanoyo

Saya sering berpikir untuk mengoleksi sore. Satu sore ke sore yang lain, dengan satu rasa dengan rasa yang lain. Apalagi semenjak sering terkungkung dalam gedung bertingkat (meskipun secara logika semakin tinggi letak kantor saya, semakin dekat dengan sore) tembok-tembok beton berhiaskan kaca menahan sore masuk dalam ingatan saya. Dan sore menjadi mahal.

Saya lebih suka sore dibandingkan pagi. Pagi tercipta untuk terlalu optimis warnanya menjelang terang artinya akan banyak permulaan. Sore terbuat dari berpuluh-puluh ketergesaan, keringat, makian, amarah lama-lama menghitam artinya istirahatlah barang sejenak.

Hari ini saya sedang menikmati sore, tepat di sebelah jendela. Awannya bergulung-gulung dan kemudian jika saya mengalihkan pandangan dia beranjak. Langit menjelang sore warnanya biru bersih. Bandara Domine Eduard Oslo, penduduk setempat menyebutnya DEO, tempat saya duduk saat ini. Bandara ini terletak di Sorong sebuah kabupaten di Papua Barat yang cukup berkembang. Udaranya sangat kering dan anehnya bisa timbul hujan rintik di tengah terik matahari.

Hingga empat tahun yang lalu saat Sorong belum berubah menjadi kabupaten. Bandara aktif adalah Jeffman yang terletak di Pulau Jeffman pulau kecil sebelah barat Sorong. Untuk mencapai kota Sorong penumpang harus menaiki boat selama kurang lebih 20 menit. Namun jika memilih untuk menggunakan feri maka lebih lama lagi yaitu 30 menit. Dan paling seru jika berani memanfaatkan perahu biasa, selama satu jam terombang-ambing di lautan pacific. Bandara ini dibangun pada masa kolonial Belanda, panjang Bandara 1850 m dengan klasifikasi bandara kelas dua. Dulu bandara DEO hanya mampu menerima pesawat-pesawat kecil saja. Saat ini Jeffman sudah tidak dipergunakan lagi. Dengar-dengar hanya menjadi pemukiman penduduk saja.

Meskipun bandara daratan (DEO) sekarang merupakan bandara utama, namun tetap saja menyimpan banyak keunikan. Tidak yang seperti dibayangkan bentuk bandara yang bersih, megah, bandara ini merupakan bandara mungil. Hampir persis dengan perhentian kereta api pedalaman pada film-film tahun 40-an. Loket-loketnya masih terbuat dari kayu, tanpa sentuhan pendingin ruangan. Jika ingin melakukan check-in tiket untuk ditukar dengan boarding pass, suasananya riuh rendah. Petugas bandara akan memanggil satu persatu. Taut muka penumpang terlihat sangat tegang. Ternyata meskipun telah membeli tiket mereka masih punya kemungkinan tidak terangkut oleh pesawat alias tidak dapat tempat duduk. Maklum saja beberapa maskapai penerbangan disini masih memberlakukan penjualan tiket secara manual.

Sehingga ketika saya datang untuk meliput penerbangan perdana Batavia Air ke Sorong, masih sempat terlihat orang-orang berebutan check-in. Dan berdesak-desakan sambil dorong-dorongan. Kawan saya salah satu petugas Batavia Air, berusaha menenangkan mereka dengan berkata, ”Tenang, semua akan kebagian tiket karena kita pakai komputer. Sistem komputer akan membuat Anda bisa terbang semua!”

Hmmm…

Jangan tanyakan masalah penerangan, beberapa maskapai mampu mendarat tanpa landing lamp (saya tidak tahu apakah patut bersorak gembira, tapi hari saya bilang it’s cool dude!). Hanya pilot yang memiliki jam terbang tinggi mampu menguasai bandara ini. Namun, maskapai penerbangan yang mendahulukan safety, tentu saja tidak akan melakukan hal semacam itu.

Sekeliling bandara masih banyak rumah-rumah penduduk. Pembatas antara bandara dan dunia luar hanya pagar kawat saja, yang mudah dibengkokan. Dekat dengan landasan tampak anak-anak kampung bermain sambil menghitung pesawat serta mengumpulkan sampah. Jika sedang melakukan lari pagi, tiba-tiba pesawat bisa lewat di atas kepala seperti adegan di film Pearl Harbour.

Sudah habis sore saya hari ini. Saya masih terkagum-kagum. Cakrawala Sorong bisa membelah langit dengan sempurna bersama semburan merahnya di atas badan-badan pesawat. Koleksi sore saya yang lain lagi.

Saya merindukanmu. Seandainya kau di sini, saya tidak akan ajak menghitung pesawat (meskipun kau akan menikmati dengan sungguh!). Mungkin secangkir teh dan beberapa keping biskuit di atas genting lebih asyik. Bersama salakan shutter kamera saya tentunya. Selamat sore WIB.

@Rosallyn Tanoyo, SepociKopi, 2009

*Redaksi berterima kasih kepada Rosallyn atas kiriman tulisannya

Tentang Rosallyn Tanoyo:
Penulis dadakan sesuai cuaca. Hobi nongkrong dan membaca serta makan. Saat ini sedang mendalami lomography.

10 Comments »

  • LigX said:

    selamat siang menjelang sore :-)

  • aderain said:

    asyik tulisannya

  • rosallyn said:

    makasih makasih kejutan menyenangkan di hari pahlawan :)

  • sueswit said:

    Mbak Ocha idolakuuuu……..!

  • Kyra said:

    Sore yg jd kbtuhan pokok

  • Agoessam said:

    baguus…. :D

  • ociZ said:

    Feature yang sempurna.. :)

  • Jo said:

    Setuju sama Rain. Tulisannya asyik :)
    Salam kenal and keep writing ;)

  • Onie said:

    Bagus…tapi kurang panjang

  • insoraki said:

    sorong, sorong sorong….aku sangat merindukannya,t4 dimana aku menghabiskan masa 26 tahun disana, koreksi bandanya DEO Dominie Edward Osok,Thanks :)

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.