cinta_itu____by_oriegamieOleh: Oscar Arumi

Perjalanan cinta hampir selalu diawali dengan rasa bahagia yang melambung tinggi, meski akhirnya sebagian cinta itu menjelma menjadi barang rongsokan yang dicampakkan begitu saja. Lalu, apakah berarti tidak cinta yang berakhir bahagia seperti kisah di dalam dongeng pengantar tidur? Ataukah pangeran tampan berhati malaikat itu hanya sebatas bualan belaka? Hmm, mungkin benar, mungkin salah. Sebatas ingatan dan pengalaman bercinta saya, tidak ada yang benar-benar dikategorikan sebagai romantika sukses dalam bercinta. Semuanya hampir menyerupai belantara yang gelap, tak tahu kemana arah, dan dipenuhi dendang-dendang satwa liar yang menyeramkan. Andai saya merupakan bagian dari suku Anak Dalam di pedalaman, pastinya tak akan tersesat. Hanya saja berbeda, ternyata saya malah menjadi bagian dari penebang liar yang sialnya tersesat di tengah-tengah rimbunan hutan.

Dan, meskipun sudah tak berada di hutan, rasa sesat itu beberapa kali menghantui seperti zombie berjalan di tengah malam. Seperti malam minggu ini, yang posisi duduk saya berada di teras kos rumah Syaira, namun sebenarnya posisi jiwa saya masih tersesat di belantara. Masih ingat Syaira, kan? Anak kos yang rumah kosnya di sebelah rumah kos saya, makanya saya sebut dia sohib kos.

“Lo berapa kali pacaran?’’ celetuknya sambil mengikis-ngikis kuku pucatnya dengan alat yang entah apa namanya.

“Yang satu saiko, satu pembantu rumah tangga, satu terjerat narkoba, ada yang suka kekerasan psikis, ada yang muda banget, sampai yang tua banget, ada yang cungkring, ada yang gembrot , ada yang…. Emmm, gue lupa, Ra!’’

Syaira langsung nyengir mendengar penjelasan yang tak jelas dari mulut saya, sambil berucap, “Hebat dong lo, pengalaman segudang, tapi nyali ompong-melompong.”

Sudah biasa dicocolin sambal pedas dari mulut Syaira, jadi rasa sambalnya sudah hambar, tak rawit lagi. Dengan memelas, saya membalas, “Ya, Ra. Tetapi pengalaman adalah guru terbaik.’’

Syaira menatap saya dalam-dalam, kemudian menjatuhkan pandangannya ke titik nadir bernada dasar Do alias standar. Saya menghela napas juga dalam-dalam, merasakan kalimat yang terakhir keluar dari mulut saya adalah pernyataan basi berbau pesing dan apak. Apakah benar bahwa pengalaman adalah guru terbaik bagi setiap insan? Apakah benar bahwa pengalaman akan menjadikan seseorang sebagai insan yang makin mengerti akan suatu hal yang dulunya ia tak pahami sama sekali? Apakah benar bahwa pengalaman akan membantu setiap insan menjadi manusia yang lebih baik lagi? Mungkin iya bagi setiap orang, tetapi sepertinya tidak berlaku buat saya. Pengalaman bercinta saya, ibarat guru lesbian yang melekatkan trauma terburuk ke dalam kepala saya. Trauma itu sulit hilang, bahkan bekasnya pun terus nampak meski ditutup-tutupin.
“Tapi cinta nggak butuh pengalaman, Oz.” Nada Syaira mulai menggema di kepala saya.

Pengalaman adalah guru terbaik, kata pepatah seperti itu. Tetapi apakah level generalisasinya boleh bersifat umum? Bukankah sepatah kalimat itu hanya cocok dikumandangkan untuk kasus-kasus tertentu, tetapi bukan dalam hal bercinta. Seorang pelamar cinta mungkin tak butuh kualifikasi mahir dan berpengalaman agar cintanya dapat diterimakan?. Karena memang, bukan pengalaman yang menjadi tolak ukurnya. Rasa-rasanya seperti itu tetapi entahlah, yang pasti yang saya butuhkan adalah cinta yang absolut, bukan cinta nisbi seperti yang sudah-sudah.

Seketika dada saya terasa sesak, menyadari ternyata betapa tak pentingnya pengalaman cinta saya yang dulu-dulu. Samar-samar ucapan Syaira berlalu di telinga saya,”Cinta itu hanya butuh KLIK dan KLOP!’’

Saya terdiam. Merenung…

@Oscar Arumi, Sepoci Kopi, 2009.