Home » Persona

Persona: Triyanto Triwikromo – Hasrat Penulis Menyuarakan Keresahan Sosial

2 November 2009 260 views 4 Comments

Pembaca SepociKopi sebaiknya melirik pada tokoh yang satu ini, Triyanto Triwikromo, penulis yang telah banyak melahirkan karya tulis bertema LGBT dan memberikan cara pandang berbeda tentang homoseksual. Dua cerpen Triyanto Triwikromo bahkan termuat di kolom cerpen SepociKopi, Cahaya Sunyi Ibu dan Badai Bunga.

Lelaki kelahiran Salatiga tahun 1964 ini bukanlah nama asing dalam dunia sastra Indonesia. Ia adalah editor untuk rubrik sastra Edisi Minggu harian Suara Merdeka. Sejumlah cerpennya telah dibukukan, antara lain kumpulan cerita pendek Sayap Anjing (2003), Anak-anak Mengasah Pisau (2003), dan Malam Sepasang Lampion (2004). Yang terbaru adalah Ular di Mangkuk Nabi (2009). Karyanya juga termuat dalam 20 Cerpen Indonesia Terbaik: Anugerah Sastra Pena Kencana. Berbagai penghargaan juga sudah diperolehnya, antara lain tahun 2005 ia menjadi peserta Wordstorm: Northern Territory Writer Festival di Darwin, Australia. Pada Januari 2008 menjadi peserta Gang Festival dan residensi sastra di Sydney, Australia. Pusat Bahasa Depdiknas tanggal 28 Oktober 2009 kemarin juga memberi penghargaan sastra untuk kumpulan cerpen Ular di Mangkuk Nabi.

SepociKopi berhasil melakukan wawancara dengan Triyanto Triwikromo dan mencoba menarik sisi pandang seorang heteroseksual ketika membuat kisah-kisah bertemakan homoseksual. Berikut petikan wawancara eksklusif Ade Rain dengan beliau.

Apa yang melatarbelakangi Mas Triyanto membuat cerita bertema LGBT?
 
Pertama, saya selalu berhasrat menulis dan menyuarakan keresahan-keresahan, perjuangan, dan problem-problem yang dihadapi oleh manusia-manusia yang disingkirkan dalam strata sosial. Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender—kalangan yang dianggap berada dalam ceruk seks minoritas ini—tak pelak lagi menjadi golongan yang daif. Sastra saya kira harus menyuarakan “suara-suara daif”, suara-suara yang dilemahkan, bahkan pinjam ungkapan Dede Oetomo, dibisukan.

Kedua, di Semarang, bersama desainer Anne Avantie, saya ditunjuk menjadi penasihat Persekutuan Hidup Baru dan Kudus—sebuah komunitas beranggota transgender,  gay,  lesbian, dan beberapa teman heteroseksual. Ini membuat saya terlibat dalam urusan-urusan spiritual, hukum, bahkan seksual mereka. 

Karena saya seorang penulis, cara saya mengungkapkan hakikat mereka ya lewat tulisan-tulisan saya, terutama cerpen. Meskipun demikian, saya sedang mempersiapkan buku tentang kisah-kisah spiritual dan seksual para waria. Perjuangan waria untuk mencari Tuhan ternyata sangat dahsyat….

Menurut Mas haruskah penulis cerita bertema LGBT  sebaiknya ditulis oleh LGBT sendiri?
 
Tidak harus. Setiap pengarang yang baik harus bisa “as a LGBT” pada saat menuliskan karya-karya yang berkait dengan dunia LGBT. Meskipun demikian, tentu akan sangat mendalam dan lebih eksistensial dan esensial ketika para LGBT menulis dirinya sendiri. Sangat mungkin sebagai heteroseksual saya tak tahu ceruk paling dalam para LGBT. Sangat mungkin lapis-lapis yang tersembunyi lebih bias diungkapkan oleh para LGBT.

Apa bedanya buat Mas membuat karya tulisan bertema LGBT dan non LGBT.
 
Bagi saya  sama saja. Hanya tantangan untuk menuis tema-tema LGBT lebih besar. Saya harus benar-benar mengadakan riset mendalam baru bisa menulis tentang mereka. Saya harus bergaul dengan mereka, baru bisa memasuki karakter-karakter para LGBT.

Apa kiat-kiat khusus Mas dalam membuat karya tulis bertema LGBT ?

(a).Riset teks tentang mereka. (b).Bergaul dengan mereka. (c).Memahami persoalan mereka. (d).Mencari estetika yang paling pas untuk mengungkapkan dunia yang bagi kaum heteroseksual tak lazim itu. (e).Menulis dengan hati.

Apa yang melatarbelakangi Mas menulis Sirkus Api, Cahaya Sunyi Ibu, Ular di Mangkuk Nabi dan Badai Bunga?

Sirkus Api Natasja Korolenko saya tulis saat saya berkenalan dengan perempuan asal Inggris yang menunjukkan gejala biseksual yang tinggi. Ia punya pacar seorang laki-laki Rusia, tetapi juga punya teman intim perempuan dari Rusia juga. Selama tinggal di Sydney, saya mencoba menyelami hidup mereka, akhirnya jadilah teks yang menceritakan kehidupan lesbian di Sydney itu. Cahaya Sunyi Ibu saya tulis di Amerika. Di beberapa panti jompo di Amerika, kehidupan cinta sesama jenis juga tak terhindarkan. Realitas itu kadang hendak ditutup-tutupi. Tugas saya hanya berperan membeberkan hal-hal yang hendak ditabukan itu. Delirium Mangkuk Nabi saya tulis untuk seorang teman gay Australia yang baru saja operasi otak. Saya ingin saat dia membaca teks itu, ia berani menghadapi hidup. Adapun Badai Bunga saya tulis di Amerika  untuk mengenang seorang teman di Semarang yang memiliki perilaku omnisex. Ia bisa bercumbu dengan siapa pun. Bisa denga pria, wanita, waria, lesbian, ataupun gay. Di Los Angeles, saya juga bertemu dengan orang-orang semacam itu. Ini juga sebuah realitas yang harus dibeberkan.

Apa pandangan Mas terhadap hasil-hasil karya penulis LGBT baik yang dipublikasikan secara online maupun berbentuk cetak/novel/cerpen/dll?

Beberapa yang saya baca sangat menarik. Beberapa biasa-biasa saja.

Apakah ada kiat-kiat khusus dalam mengemas tulisan LGBT?

Sebaiknya justru jangan menganggap terlalu istimewa. Menulis biasa-biasa saja dengan cara-cara yang lazim saja. Dengan memasuki dunia heteroseksual secara biasa, saya kira teks-teks tentang LGBT akan terbaca dengan cepat dan tanpa hambatan. Cerpen saya Ikan Asing dari Weippa-Napranum, Angin dari Ujung Angin, dan Sepasang Ular di Salib Ungu adalah cerpen-cerpen tentang lesbian yang bisa menembus Kompas tanpa memberi embel-embel itu sebagai cerpen LGBT. Para pembacanya juga tak melulu LGBT.

Bagaimana cara Mas membuat cerita-cerita bertema lesbian? Apakah bersinggungan langsung dengan kehidupan para lesbian atau hanya mendapatkan ide tersebut dari fakta-fakta tertulis dari buku atau media massa ?

Saya bersinggungan langsung dengan para lesbian karena memang mereka terbuka dan berteman dengan saya. Tentu agar lebih detail, saya membaca buku-buku dan melakukan riset.

Menurut Mas apakah tulisan-tulisan LGBT dapat dikategorikan melanggar UU Pornografi Pornoaksi, mengingat beberapa poin dari undang-undang tersebut beranggapan bahwa homoseksual melanggar undang-undang?
 
Menurut saya tidak. Itu undang-undang absurd!

Apa pesan Mas untuk para penulis LGBT?

Kini saat terbaik untuk mengungkapkan segala hal tentang LGBT dengan lebih terbuka. Jangan cuma menulis yang hanya berkait dengan seks. Persoalan LGBT lebih besar dari sekadar seks, bukan?

@Ade Rain, SepociKopi, 2009

4 Comments »

  • De Kyra said:

    Stuju! gak melulu seks!

  • Grey said:

    Wowww…. He so cool…
    Great Job Mba Ade….

  • LigX said:

    ih wow..

  • akkaht said:

    Jelas! yang membedakan lesbian dengan yang lain cuma 1 “orientasi sexnya” yg lain mah sama: hrs makan,minum,ke toilet, sekolah,belajar ttg segala hal (termasuk ttg TUHAN) bekerja,punya uang utk memenuhi kebutuhan hidup tentunya, “urusan cinta” dan satu hal lagi disamping hal2 yg lain harus berpakaian yg bagus agar kelihatan indah karena lesbian mahluk yg indah yaitu perempuan. so what be problem? cara kita dalam “menikmati” orientasi sex kita sebagai lesbian keseringan “norak” dan mengkait-kaitkan masalah yg dihadapi semua manusia dengan “KARENA AKU L MAKANYA AKU BEGINI” WUIIIH….Thank’s sist. ADE REIN juga buat Mas Triyanto Triwikromo (agak sedikit susah ngeja namanya Mas) Tdk akan pernah aku berhenti berterima kasih pada para PENULIS.

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.