Hanya Tuhan dan Aku yang Tahu
Oleh: Ade Rain
Aku membuka sajadah, membentang ke arah kiblat. Diam-diam mengusir gusar, merenung amalan. Rintik hujan tinggal satu-satu menembus hening malam, mengusik sepi. Cepu-cepu serangga malam berisik mengerik di antara serak lengking katak jantan yang berjuang menarik perhatian para betina. Usai dua salam, kutinggalkan ruang baca, menggenggam pelan engsel pintu kamar Sulung, menatap tidur lelapnya di antara tebaran buku-buku pelajaran. Glek! Tidurnya mati.
Lima jam mundur ke belakang, aku mengempas badan di sofa kamar itu, ia langsung mengusikku dengan rentetan permintaan, “Aku ingin membawa guruku makan siang ke rumah kita, Mum, seorang perempuan Amerika usia 23. Tapi bukan untuk kujodohkan padamu. Bisakah?” Ia mengerling mata, menahan tawa.
“Buat apa, Nak? Menyogoknya dengan makanan agar nilaimu bagus? Atau sengaja tebar-tebar pesona biar dia naksir aku?”
“Dasar Ade Rain! Aku tahu kamu teramat mencintai Mom, aku juga cinta padanya. Takkan kubiarkan jika ia mengejar-ngejarmu.”
Kugiring tubuh lelah ini tidur di sampingnya, merengkuh seluruh tubuh putri pertamaku yang terbungkus piama beraroma Musk, lembut. Ia diam saja sambil tersenyum, kemudian tidur lagi. Membiarkan kulitku merasa denyut nafas.
Tiba-tiba aku teringat Magi, lesbian dua anak. Ia baru saja berkonflik atas kecondongan perhatian yang ia berikan pada patnernya. Bersiteru dengan darah daging sendiri, konflik atas perebutan perhatian dan cinta yang membuat ia harus menelponku seratusan menit. Bagaimana menjelaskan anakmu bahwa kamu lesbian? Mengapa ia bisa menerima partnermu? Apa bisa menyembunyikan kelesbianan ini dari anak-anak? Kok bisa melibatkannya bertemu dengan teman-teman lesbian? Tak berkonflik pribadikah dia? Piuh, jelas semua ini bukan pertanyaan mudah.
Kuendus kepala anakku, menciumnya pelan-pelan, dan membelai rambutnya berulang kali dari atas ke bawah. Aku mengetatkan badan ke belakang tubuhnya. Mulutku berdzikir mohon ampun atas kelesbiananku sambil memuja Tuhan atas dasar cintaku padaNya. Suara rintik hujan mengetuk hati, menembus relung yang tak berisi. Jika ada yang bertanya bagaimana, terus terang aku tak tahu harus menjawab apa.
Jujur saja, urusan orientasi seksualku pada orang yang dikasihi bukan pekerjaan mudah. Berat dan pahit! Memutuskan untuk berterus terang pada anak pasti akan sangat berdampak luas pada jiwa mereka. Namun anakku mungkin perkecualian. Ia berpribadi cepat dewasa, meski berusia delapan tahun sudah membaca ribuan buku. Kali-kalinya begini, jika satu hari baca satu buku, 30 hari ia sudah baca 30 buku. Selama 12 bulan, berarti 360 buku, jika usia 8 tahun, berarti 360 kali 8 tahun, ada sekitar 2880 buah buku yang sudah tertinggal dalam otak dan tubuhnya.
Pada usia satu tahun, aku membacakan buku setiap malam menjelang tidur, rata-rata memang satu buku per hari. Usia tiga tahun anakku sudah bisa membaca buku ringan sendiri, selain buku yang dibacakan siang hari ia juga membaca buku sendiri. Memang sulit menjelaskan hal ini. Namun ia banyak menemukan dunia dari buku-buku tersebut. Keanehan yang tidak lagi aneh. Dongeng-dongeng seribu satu malam yang memperlihatkan dunia unik dan luar biasa. Apalah arti sebuah orientasi seksual ibunya yang sama-sama menyukai perempuan sejenis dibandingkan kisah-kisah sihir dan aneh yang ia temukan di buku-buku tadi?
“Bukankah itu juga kasih sayang dan cinta, Mum? Tuhan menciptakan rasa cinta untuk kita bagi pada orang lain? Memang aneh mencintai dan bernafsu pada perempuan juga, tapi bukankah yang seperti itu memang menjadi bagian penciptaan Tuhan? Jika begitu biarkan Tuhan yang langsung menemani kamu, Mum.”
Untuk melengkapi semua itu, aku membawanya melihat langsung pada kehidupan fenomena banci yang tak jauh dari rumah kami, bergaul dengan mulut-mulut salon. Ia melihat langsung bagaimana pria-pria yang berusaha menyembunyikan kewanitaan mereka di dalam pakaian gagah, yang menurutnya sungguh terlihat aneh dan lucu. Terkadang ia tak ingin tertawa, namun teman-teman waria membuatnya terbahak. Sering ia berusaha biasa saja ketika berjalan dengan mereka ke tempat makan, apalagi ketika semua mata tertuju pada waria, dan mulut-mulut iseng mengomentari langkah mereka yang gemulai.
”Ceweeek, godain kita dong!”
Sementara teman waria tadi pasang muka anteng, tenang, dan pasrah.
“Apa yang ada dalam pikiran mereka ketika diusik oleh mulut-mulut usil ya, Mum? Kayaknya mending kamu yang nggak kelihatan lesbian. Penderitaan tak seberat pria yang kelihatan gemulai atau perempuan lesbian yang tak bisa berganti penampilan dari machonya.”
Aku sudah menceritakan hal ini di beberapa tulisanku yang lain. Tapi aku tak bisa melukis langit milik anak-anak Magi dengan cara yang sama. Coming out pada anak punya sisi baik buruk. Sisi buruk pada anakku ia hanya suka usil menjodohkan iseng perempuan-perempuan aneh yang menurutnya bisa memperbaiki “negara” ini. Atau ia akan mencolek di tempat umum jika menemukan pasangan lesbian sedang bergandeng mesra. Atau sekonyol-konyolnya, ia menggayutkan lengan dengan mesra di tubuhku ketika melewati segerombolan butchy, mengetes mereka dan membuat mata-mata itu mendelik.
Inikah yang mau engkau tiru, Mag? Anakku memang menjadi sahabat sejati, tempat curahan kesedihan jika partner tercintaku sedang mewek dan ngambek atas kesibukanku. Ia menjadi penasehat terbaik ketika hari-hari gelap oleh kehidupan teman-teman lesbian ternyata menyuramkan waktu-waktu berkualitasku. Ia cahaya ketika semuanya terasa gelap dan buntu. Ia juga penengah di saat hati gamang memutuskan mana sahabat lesbian yang baik dan buruk. Aku tak pernah merasa begitu sendiri ketika didera rasa berdosa yang teramat sangat. Seperti malam ini, kupeluk ia hingga mata lelah. Sementara mulut berdzikir mensyukurinya, mensyukuri kelesbianan. Sebagai rahmat atau cobaan? Hanya Tuhan dan akulah yang tahu.
@Ade Rain, SepociKopi, 2009









Ngga’ tau knapa,stiap aku baca tulisan kmu yang bercerita tentang ‘malaikat kecil’mu..aku koq slalu mrasa was2 yah Rain?
Ikut bangga..iyah, tapi koq banyak trenyuhnya.
hidup L mom……
terharu sist,
Naluri seorang ibu dan Naluri seorang Lesbian… Dua sisi yang sama… Penuh cinta dan kelembutan… Saluut utk mombian..
Dan tak ada yg sia-sia.
Bu Rain beruntung ya, punya putri yang pengertian
harta yang tak tergantikan… sukses yaaa mbak rain….
dear rain,, apa yang kita alami kini mungkin tak dapat kita mengerti.. namun satu hal selalu tanamkamkan dihati semua indah yang Tuhan beri .. kita sudah lakukan bagian kita, dan biarkan DIA melakukan bagian-NYA.. ( also for my dear son Mike diujung sana.. mum loves u so much! )
dengan cintamu nan sejuk seperti air dan sehangat mentari, dalam pelukanmu , semoga kuncupnya mekar berbunga,indah dipandang mata
u’re the great mom, n she’s the great angel……
14
saluut..:-)
Mbak rain, aku akan menyusulmu 6 tahun dari sekarang…
bergandingan dengan anak-anakku sambil menyelusuri
dunia tanpa sempadan…
Mencintai caramu mencinta
sepertinya tidak ada hukum (teori) yg baku dalam mendidik anak ya? tapi cara anda dalam mendidik anak anda, adalah cara yg saya pilih (suatu saat nanti) dan itu juga yg dilakukan kedua orangtuaku, bercerita sebelum tidur, memperkenalkan berbagai bacaan dan keberagaman jenis kehidupan hasilnya sekarang aku dan saudara2ku punya kehidupan yg warnanya macam2.
Membaca tulisanmu sebagai pembelajar dunia
punya anak……
saya sepertinya beda dgn teman2 yg lain,,,… saya ga pengin pya anak… ga tau kenapa? padahal saya suka bgt sama kecil…. keponakan2 saya betah bgt berlama2 sama saya.
Mereka betah bgt bermanja2 ama saya…… hayo gmn tuh…
Yg saya butuh adalah teman hidup….
Aku suka cara kamu mendidik putrimu, membacakan buku & mengajarkan penddkn khdpn tntg apapun, tp memang tdk smua anak bsa menerima kalo t’nyata ibunya s’org lesbian…
Salam kasih u/ putrimu…
Ya ALLAH berikan kekuatan dan keikhlasan dalam menjalani kehidupan ini kepada salah satu sahabat baikku ini…amin(aku tau kamu pasti berat sekali menjalaninya)
selain cantik ternyata sulung kakak juga berfikiran dewasa yah….ibu dan anak yg slalu membuat saya penasaran…hhehe..^^~
dear rain, tulisanmu ini sungguh menjawab semua kontraversi yang pernah kudengar tentang opini sistas yang mempertanyakan segala pertimbangan kaum L-mom untuk CO terhadap anak-anak mereka… You’re the lucky one who has a very special daughter… ^_^
Four thumbs for this
Syukuri apa yang ada, HIDUP adalah ANUGERAH
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments