Home » Coming Out, Humaniora

Hanya Tuhan dan Aku yang Tahu

30 October 2009 260 views 19 Comments

db21e67864ed38aadd49da4094b073a01Oleh: Ade Rain

Aku membuka sajadah, membentang ke arah kiblat. Diam-diam mengusir gusar, merenung amalan. Rintik hujan tinggal satu-satu menembus hening malam, mengusik sepi. Cepu-cepu serangga malam berisik mengerik di antara serak lengking katak jantan yang berjuang menarik perhatian para betina. Usai dua salam, kutinggalkan ruang baca, menggenggam pelan engsel pintu kamar Sulung, menatap tidur lelapnya di antara tebaran buku-buku pelajaran. Glek! Tidurnya mati.

Lima jam mundur ke belakang, aku mengempas badan di sofa kamar itu, ia langsung mengusikku dengan rentetan permintaan, “Aku ingin membawa guruku makan siang ke rumah kita, Mum, seorang perempuan Amerika usia 23. Tapi bukan untuk kujodohkan padamu. Bisakah?” Ia mengerling mata, menahan tawa.

“Buat apa, Nak? Menyogoknya dengan makanan agar nilaimu bagus? Atau sengaja tebar-tebar pesona biar dia naksir aku?”

“Dasar Ade Rain! Aku tahu kamu teramat mencintai Mom, aku juga cinta padanya. Takkan kubiarkan jika ia mengejar-ngejarmu.”

Kugiring tubuh lelah ini tidur di sampingnya, merengkuh seluruh tubuh putri pertamaku yang terbungkus piama beraroma Musk, lembut. Ia diam saja sambil tersenyum, kemudian tidur lagi. Membiarkan kulitku merasa denyut nafas.

Tiba-tiba aku teringat Magi, lesbian dua anak. Ia baru saja berkonflik atas kecondongan perhatian yang ia berikan pada patnernya. Bersiteru dengan darah daging sendiri, konflik atas perebutan perhatian dan cinta yang membuat ia harus menelponku seratusan menit. Bagaimana menjelaskan anakmu bahwa kamu lesbian? Mengapa ia bisa menerima partnermu? Apa bisa menyembunyikan kelesbianan ini dari anak-anak? Kok bisa melibatkannya bertemu dengan teman-teman lesbian? Tak berkonflik pribadikah dia? Piuh, jelas semua ini bukan pertanyaan mudah.

Kuendus kepala anakku, menciumnya pelan-pelan, dan membelai rambutnya berulang kali dari atas ke bawah. Aku mengetatkan badan ke belakang tubuhnya. Mulutku berdzikir mohon ampun atas kelesbiananku sambil memuja Tuhan atas dasar cintaku padaNya. Suara rintik hujan mengetuk hati, menembus relung yang tak berisi. Jika ada yang bertanya bagaimana, terus terang aku tak tahu harus menjawab apa.

Jujur saja, urusan orientasi seksualku pada orang yang dikasihi bukan pekerjaan mudah. Berat dan pahit! Memutuskan untuk berterus terang pada anak pasti akan sangat berdampak luas pada jiwa mereka. Namun anakku mungkin perkecualian. Ia berpribadi cepat dewasa, meski berusia delapan tahun sudah membaca ribuan buku. Kali-kalinya begini, jika satu hari baca satu buku, 30 hari ia sudah baca 30 buku. Selama 12 bulan, berarti 360 buku, jika usia 8 tahun, berarti 360 kali 8 tahun, ada sekitar 2880 buah buku yang sudah tertinggal dalam otak dan tubuhnya.

Pada usia satu tahun, aku membacakan buku setiap malam menjelang tidur, rata-rata memang satu buku per hari. Usia tiga tahun anakku sudah bisa membaca buku ringan sendiri, selain buku yang dibacakan siang hari ia juga membaca buku sendiri. Memang sulit menjelaskan hal ini. Namun ia banyak menemukan dunia dari buku-buku tersebut. Keanehan yang tidak lagi aneh. Dongeng-dongeng seribu satu malam yang memperlihatkan dunia unik dan luar biasa. Apalah arti sebuah orientasi seksual ibunya yang sama-sama menyukai perempuan sejenis dibandingkan kisah-kisah sihir dan aneh yang ia temukan di buku-buku tadi?

“Bukankah itu juga kasih sayang dan cinta, Mum? Tuhan menciptakan rasa cinta untuk kita bagi pada orang lain? Memang aneh mencintai dan bernafsu pada perempuan juga, tapi bukankah yang seperti itu memang menjadi bagian penciptaan Tuhan? Jika begitu biarkan Tuhan yang langsung menemani kamu, Mum.”

Untuk melengkapi semua itu, aku membawanya melihat langsung pada kehidupan fenomena banci yang tak jauh dari rumah kami, bergaul dengan mulut-mulut salon. Ia melihat langsung bagaimana pria-pria yang berusaha menyembunyikan kewanitaan mereka di dalam pakaian gagah, yang menurutnya sungguh terlihat aneh dan lucu. Terkadang ia tak ingin tertawa, namun teman-teman waria membuatnya terbahak. Sering ia berusaha biasa saja ketika berjalan dengan mereka ke tempat makan, apalagi ketika semua mata tertuju pada waria, dan mulut-mulut iseng mengomentari langkah mereka yang gemulai.

”Ceweeek, godain kita dong!”

Sementara teman waria tadi pasang muka anteng, tenang, dan pasrah.

“Apa yang ada dalam pikiran mereka ketika diusik oleh mulut-mulut usil ya, Mum? Kayaknya mending kamu yang nggak kelihatan lesbian. Penderitaan tak seberat pria yang kelihatan gemulai atau perempuan lesbian yang tak bisa berganti penampilan dari machonya.”

Aku sudah menceritakan hal ini di beberapa tulisanku yang lain. Tapi aku tak bisa melukis langit milik anak-anak Magi dengan cara yang sama. Coming out pada anak punya sisi baik buruk. Sisi buruk pada anakku ia hanya suka usil menjodohkan iseng perempuan-perempuan aneh yang menurutnya bisa memperbaiki “negara” ini. Atau ia akan mencolek di tempat umum jika menemukan pasangan lesbian sedang bergandeng mesra. Atau sekonyol-konyolnya, ia menggayutkan lengan dengan mesra di tubuhku ketika melewati segerombolan butchy, mengetes mereka dan membuat mata-mata itu mendelik.

Inikah yang mau engkau tiru, Mag? Anakku memang menjadi sahabat sejati, tempat curahan kesedihan jika partner tercintaku sedang mewek dan ngambek atas kesibukanku. Ia menjadi penasehat terbaik ketika hari-hari gelap oleh kehidupan teman-teman lesbian ternyata menyuramkan waktu-waktu berkualitasku. Ia cahaya ketika semuanya terasa gelap dan buntu. Ia juga penengah di saat hati gamang memutuskan mana sahabat lesbian yang baik dan buruk. Aku tak pernah merasa begitu sendiri ketika didera rasa berdosa yang teramat sangat. Seperti malam ini, kupeluk ia hingga mata lelah. Sementara mulut berdzikir mensyukurinya, mensyukuri kelesbianan. Sebagai rahmat atau cobaan? Hanya Tuhan dan akulah yang tahu.

@Ade Rain, SepociKopi, 2009

19 Comments »

  • mozz said:

    Ngga’ tau knapa,stiap aku baca tulisan kmu yang bercerita tentang ‘malaikat kecil’mu..aku koq slalu mrasa was2 yah Rain?
    Ikut bangga..iyah, tapi koq banyak trenyuhnya.

  • mel said:

    hidup L mom……

  • LigX said:

    terharu sist,

  • Awani said:

    Naluri seorang ibu dan Naluri seorang Lesbian… Dua sisi yang sama… Penuh cinta dan kelembutan… Saluut utk mombian..

  • Tim said:

    Dan tak ada yg sia-sia.

  • Ri said:

    Bu Rain beruntung ya, punya putri yang pengertian

  • fay karenza said:

    harta yang tak tergantikan… sukses yaaa mbak rain….

  • widdie bless said:

    dear rain,, apa yang kita alami kini mungkin tak dapat kita mengerti.. namun satu hal selalu tanamkamkan dihati semua indah yang Tuhan beri .. kita sudah lakukan bagian kita, dan biarkan DIA melakukan bagian-NYA.. ( also for my dear son Mike diujung sana.. mum loves u so much! )

  • 14 said:

    dengan cintamu nan sejuk seperti air dan sehangat mentari, dalam pelukanmu , semoga kuncupnya mekar berbunga,indah dipandang mata
    u’re the great mom, n she’s the great angel……

    14

  • jn said:

    saluut..:-)

  • Maly said:

    Mbak rain, aku akan menyusulmu 6 tahun dari sekarang…
    bergandingan dengan anak-anakku sambil menyelusuri
    dunia tanpa sempadan…

    Mencintai caramu mencinta

  • akkaht said:

    sepertinya tidak ada hukum (teori) yg baku dalam mendidik anak ya? tapi cara anda dalam mendidik anak anda, adalah cara yg saya pilih (suatu saat nanti) dan itu juga yg dilakukan kedua orangtuaku, bercerita sebelum tidur, memperkenalkan berbagai bacaan dan keberagaman jenis kehidupan hasilnya sekarang aku dan saudara2ku punya kehidupan yg warnanya macam2.

  • D Kyra said:

    Membaca tulisanmu sebagai pembelajar dunia

  • mel said:

    punya anak……
    saya sepertinya beda dgn teman2 yg lain,,,… saya ga pengin pya anak… ga tau kenapa? padahal saya suka bgt sama kecil…. keponakan2 saya betah bgt berlama2 sama saya.
    Mereka betah bgt bermanja2 ama saya…… hayo gmn tuh…

    Yg saya butuh adalah teman hidup….

  • De frozz said:

    Aku suka cara kamu mendidik putrimu, membacakan buku & mengajarkan penddkn khdpn tntg apapun, tp memang tdk smua anak bsa menerima kalo t’nyata ibunya s’org lesbian…

    Salam kasih u/ putrimu…

  • baby said:

    Ya ALLAH berikan kekuatan dan keikhlasan dalam menjalani kehidupan ini kepada salah satu sahabat baikku ini…amin(aku tau kamu pasti berat sekali menjalaninya)

  • wangi said:

    selain cantik ternyata sulung kakak juga berfikiran dewasa yah….ibu dan anak yg slalu membuat saya penasaran…hhehe..^^~

  • Wil Twilite said:

    dear rain, tulisanmu ini sungguh menjawab semua kontraversi yang pernah kudengar tentang opini sistas yang mempertanyakan segala pertimbangan kaum L-mom untuk CO terhadap anak-anak mereka… You’re the lucky one who has a very special daughter… ^_^

  • ^MarooN^ said:

    Four thumbs for this
    Syukuri apa yang ada, HIDUP adalah ANUGERAH

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.