Home » Humaniora, Memory, Relationship

Kisah Kelam Masa Lalu

29 October 2009 251 views 15 Comments

poci7Oleh: Arie Gere

Setiap orang punya pengalaman pahit dalam bercinta. Sangat pahit hingga dada terasa sesak bila mengingatnya. Termasuk aku, diriku sendiri pernah mengalaminya. Butuh waktu untuk melupakan, butuh orang lain untuk membantu melupakannya. Butuh keberanian yang tangguh untuk mengakui sebuah kesalahan. Butuh siklus yang sangat panjang untuk menghentikan wilayah berpikirku menuju ke arah yang itu-itu saja. Sudah banyak yang bilang, masa lalu untuk dikenang dan masa depan untuk dihadapi. Artinya, jalani saja semuanya, penuh dengan sikap optimis dan semangat yang berapi-api.

Aku pernah terjebak dengan masa remaja yang begitu bergejolak, penuh romantika dan sukacita, terlebih lagi dukacitanya. Aku pernah terhipnotis dengan kenikmatan bercinta sesaat di pondok remang-remang pinggiran kotaku, tanpa ruangan yang tertutup namun hanya dibatasi sekat-sekat pelepah daun yang begitu rapuh dengan pondok sebelahnya. Sedikit saja kau bergoyang, secepat itu pondoknya bisa roboh seketika. Bukan hanya aku, beberapa pasangan muda yang sedang dimabuk cinta juga gentayangan di pondok-pondok sebelahnya. Mungkin penyebabnya hanya satu, tak cukup uang untuk melangkah ke kamar hotel. Di pondok itu, cukup dengan membeli sebuah teh botol dan berbekal muka tembok, maka kepuasan yang dituju dapat dituntaskan.

Siapa yang tak pernah berbuat salah? Bayi suci mana yang benar-benar tumbuh menjadi sebuah insan suci tak bernoda sama sekali? Siapa yang tak pernah jatuh terjerembap dalam kubangan dosa yang tak berkesudahan? Siapakah yang benar-benar sempurna di dunia ini? Tapi cerita di atas itu bukanlah kesalahanku yang utama.

Aku dan seseorang di masa lalu, tertangkap basah dalam keadaan tak berbusana di rumahnya. Jangan tanya bagaimana perasaanku saat itu, tapi tanyakanlah padaku bagaimana perasaan kakak mantanku yang memergoki kami berdua dalam posisi bercinta penuh gairah. Jangan tanyakan bagaimana hal bodoh itu terjadi, tapi tanyakanlah bagaimana risaunya kondisi rumah dan isinya mengetahui perbuatan zina dilakukan di rumah mereka. Pernah menonton serial Dawson’s Creek ketika Jen Lindley (Michelle Williams) kepergok bercinta dengan pacarnya di dalam kamar? Kira-kira begitulah gambaran episode tertangkah basah dalam serial kehidupanku. Mantanku diusir dari rumah kakaknya, dan akhirnya kembali ke kampung halamannya.

Aku berada pada posisi yang sangat sulit, terlebih lagi mantanku yang tak tahu harus mengadu kepada siapa. Padaku? Pada diriku yang begitu muda, naif dan bodoh? Aku sendiri butuh sandaran untuk berdiri. Kami mengalami trauma tingkat akut yang menyebabkan ketakutan-ketakutan aneh di setiap malamnya. Kejadian itu pula, yang akhirnya meretakkan hubungan kami.

Tahun berganti, kehidupan berubah. Belakangan aku baru tahu, mantanku itu dulu kembali berhubungan dengan ke kekasih prianya. Akupun lega, setidaknya mengetahui dia tidak sendirian lagi, sementara aku, sudah berkali-kali berganti pasangan. Tidak ada yang dapat kulakukan untuk mengubah masa lalu yang kelam, selain aku berjanji menjadi manusia yang lebih baik lagi. Namun, siapa yang dapat mengetahui bagaimana masa depan seseorang? Bahkan, peramal sakti pun tidak dapat mengetahui masa depan dirinya sendiri.

Bertahun kemudian setelah kejadian, mantanku menuliskan kisah pahit kami berdua di dalam harian surat kabar lokal di kotaku. Spontan aku panik tak menentu, takut-takut kalau bauku tercium oleh masyarakat sekitar dan keluarga. Tanpa tanggung-tanggung, mantanku berulang kali menyebut alamat blogku di harian tersebut. Emosi memuncak di atas kepala, panas membara seperti lahar gunung berapi. Kekasihku sekarang, berulang kali mengingatkanku agar sabar dan jangan gegabah. Bagaimana aku bisa sabar? Yang ada, aku mulai ngomel-ngomel dan marah yang tak menentu.

Aku tahu, kisahku hanyalah sekelumit jalanan panjang kisah seorang lesbian, yang mungkin lebih berderai air mata bila dilakonkan oleh para lesbian lain. Beberapa bulan setelah kisah kami dimuat di surat kabar, berita mendadak lain sampai di telingaku. Mantanku tersebut meninggal dunia, akibat overdosis narkoba yang menggerogoti tubuh dan jiwanya. Aku bergetar mendengar kabar duka itu, tersentak tidak percaya.  Dia yang muda dan sangat enerjik, terjerat obat-obat haram pasca putusnya hubungan kami, dan sekarang obat-obatan itu malah merenggut seluruh jiwa raganya.

Aku jadi penasaran kenapa sebelum meninggal mantanku itu masih sempat menuliskan kisah pahit kami di harian lokal. Apakah yang terjadi dengannya sebelum itu? Aku menerka, kejadian tertangkap basah dulu sangat berbekas di benaknya. Aku tahu, dia ingin dikenang melalui tulisannya, lebih tepatnya lagi, dia ingin agar aku tetap mengenangnya. Kejadian itu, sungguh telah mengubah seluruh masa depannya menjadi tak bermasa depan sama sekali.

Aku menuliskan kisahku di sini, bukan di blogku sendiri, hanya karena ingin berbagi. Setiap orang punya masa lalu yang pahit, tetapi jangan sampai kepahitan masa lalu malah memuntahkan semua masa depanmu ke arah yang tak menentu. Sampai sekarang, aku benar-benar menyesal, dan hanya ingin mengucapkan, “Maaf, maaf yang teramat sangat. Maafkan aku, di mana pun kau berada sekarang.” Tetapi, nasi sudah menjadi bubur. Mantan kekasih sudah menyatu dengan liang lahat, sudah bersetubuh dengan angkasa raya. Andai bisa kujejali masa lalu, tak akan kubiarkan semuanya menjadi seperti ini.

@ Arie Gere, Sepocikopi, 2009.

15 Comments »

  • rigby said:

    They say, what you don’t know, won’t hurt you. And once you know and it’s already too late, it hurts you even more.. Arie, my deep condolence..

  • real said:

    ngeness. j****t!

  • LigX said:

    oh god,,
    is it really fact?,,
    I was surprised to read,,

    the show must be hurt and the life must go on,,
    keep spirit,,

  • mel said:

    kisah yg mengharukan…. tp itulah hidup…… ga bisa diterka2…
    hya biarlah mengalir…

  • ADERAIN said:

    turut berduka cita ri, untuk dia dan masa lalu yang kelam

  • mozz said:

    Busyet, bener-bener bikin anak gadis urang patah hati nie Arie..innalilahi wainnalilahi rojiun..

  • tiek said:

    wiiiii serem ni ceritanya …..
    andai aku mengalami seperti kamu Rie ….
    jantungku copot n berhenti detaknya ….

  • widdie bless said:

    dear Ari,, tak seorangpun dari kita bebas dari dosa dan kesalahan.. tapi kita perlu lebih dulu memaafkan diri sendiri, menerima dan berdamai dengan masa lalu kita sendiri sehingga kita tidak dikuasai oleh rasa sesal yang berlebihan. Mengampuni adalah antiseptik dari luka batin, menerima maaf melegakan hati.. memaafkan diri sendiri itu sehat.. jika DIA mencatat dosa-dosa siapa yang dapat bertahan ? akan tetapi, bersama-NYA ada pengampunan.. Pengampunan membuat kita mampu untuk melihat diri kita sendiri, orang lain, peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidup kita sebagaimana adanya .. aku yakin kamu mampu!!

  • olenka said:

    hemm, bang…no more words

  • eky said:

    jadi ingat lagi dengan model gia maria carangi,ayo perangi narkoba,,

  • libraries said:

    Jantung berhenti berdetak? Pastinya!
    Perasaan bersalah, dan rasa takut karna telah tanpa sengaja menggoreskan kisah kelam kepada seorang adik.
    Walau tak nampak tampak tatapan hina darinya, diam dan rasa tetap menghargai-nya terhadapku selalu menjadi
    Semangat untuk membahagiakan keluarga! Karna aku tahu, semua terjadi atas kehendak-nya! Cukup peristiwa itu menjadi
    Cambukku, dan contoh perbuatan buruk bgi adikku

  • D Kyra said:

    Wah. , memang kenangan cuma pantas di kenang, tapi yang satu ini bisa jadi pengalaman seumur hidup.

  • De frozz said:

    Sedih baca tulisannya…

    Semua org pasti punya masa lalu sekelam apapun itu…
    Tetap berusaha menjadi lebih baik itu yang bijak, tulisan ini bisa jadi pengalaman bhwa memiliki hub L harus lebih hati2 apalagi sesuatu itu menyangkut masa depan…

  • justineht said:

    Masa lalu telah berlalu, masa depan belum datang. Namun melalui tindakan di masa kini, keduanya bisa dibuat semakin terang atau semakin gelap. Masa lalu ini membuat kehidupan semakin suram kalau masa kini diisi dengan penyesalan, rasa bersalah, tidak bisa memaafkan diri sendiri. Sebaliknya ini bisa menjadi awal terang, kalau pengalaman tidak mengenakkan ini dijadikan titik awal untuk banyak membahagiakan orang. (Gede Prama)

    So, Arie.. ati2 utk selanjutnya. Meski dah nyampe ubun2, pasti kan semua aman, kalo perlu pasang alarm security ditiap pintu, baru menuntaskannya…

    Turut Berduka cita..

  • shila said:

    @ kak arie :

    ceritanya bagus. boleh dibikin script untuk jadi film pendek gak.?

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.