Sanggupkah Membahagiakan?
Oleh: Justine Ht
Aku membuka album lama yang tersimpan di lemari kamarku. Kutemukan foto kami berempat: orangtuaku, aku dan kekasih ketika aku diwisuda. Kebahagiaan terpancar di wajah kami. Bagi orangtuaku, bahagia berarti kelegaan karena telah berhasil mengantar anaknya memiliki nama di belakang nama pemberian mereka sehingga daya tawarku di masyarakat menjadi lebih baik. Tapi bagiku dan kekasih, bahagia adalah kelegaan meraih kebebasan dari budaya masyarakat yang mencengkeram. Kami berencana untuk meninggalkan kotaku dan memulai hidup bersama.
Menghapus julukan “anak itik” kepadaku karena selalu pergi pagi pulang petang, aku sulit mendapat izin untuk bermalam di luar rumah, sehingga siang hari kugunakan waktu untuk bersama kekasih yang mendapat julukan “anak kalong” dari ibu kos dan teman-temannya karena jarang berada di tempat kosnya pada malam hari. Tentunya dia sering bermalam di rumahku.
Namun ternyata tugas orangtuaku belum selesai. Mereka masih mempunyai satu paket istimewa yang ditawarkan kepadaku, yang dikemas apik dan sangat mengundang untuk dimiliki, tapi entahlah masih berupa misteri di dalamnya. Secara halus aku menolaknya.
“Papa dan Mama memikirkan kebahagiaanmu. Cobalah mengerti orangtua.” Papa mencoba membujukku.
“Tin mengerti Pa, tapi Tin ingin berkarier dulu.” Itulah alasan kliseku, meski aku tidak mengerti definisi ‘bahagia’ seperti apa yang mereka maksud (mungkin karena aku belum pernah menjadi orangtua sementara mereka pernah menjadi seorang anak). Akhirnya, walaupun dengan berat hati mereka melepaskanku, mengizinkanku menggapai impianku.
Aku dan kekasihku mulai beradaptasi, berevolusi, dan bertransisi dengan kehidupan itu sendiri. Mengganti peran lama yang kami ciptakan. Dari pacar menjadi partner, dari dua dapur menjadi satu dapur, dari mahasiswa menjadi pekerja. Belajar menari di atas realitas kehidupan. Namun hubunganku dengan orangtuaku jalan di tempat – tetap sebatas orangtua dan anak. Keinginanku untuk menjadi anak yang berbakti dan keinginan mereka untuk menjadi orangtua yang sempurna menciptakan tembok tebal yang menghalangi hubungan kami untuk bertransisi dan saling mengenal sebagai manusia. Aku tetap menganggap Papa sebagai nakhoda kapal, Mama sebagai navigator, aku dan kakak kakakk sebagai penumpang yang harus patuh dengan semua aturan yang ada agar selamat sampai ke tujuan.
Malam itu saat aku blogwalking, batinku terusik dengan tulisan mengenai transisi yang seringkali tak lancar, bahkan mungkin tak pernah terjadi dalam perubahan peran “anak” dan peran “orangtua” menuju individu-individu yang sesungguhnya; sejajar dan apa adanya. Aku berbaring menatap langit-langit kamar, merenungkannya. Telah dua hari aku berada di rumah orangtuaku, namun aku selalu disibukkan dengan sahabat-sahabat lamaku. Kubatalkan ajakan reuni mereka dan kulupakan sejenak beban pekerjaan yang seolah tidak pernah ada habisnya. Aku ingin bersama orangtuaku. Aku ingin menempatkan diriku sebagai sahabat mereka.
Paginya aku bangun, kulihat Mama duduk di meja makan dan Papa sedang membuat susu untuk sarapan mereka. Kusapa dan kucium pipi mereka lalu duduk di depan Mama, tersenyum memperhatikan Papa yang bertransisi dari dilayani menjadi melayani. Aku bersyukur mereka masih sehat sehingga aku mempunyai kesempatan untuk mengenal orang tuaku sebagai manusia bukan sebagai ayah dan ibu saja. Bermalas-malasan di kamar mereka sambil bercanda dan mendengarkan curhat mereka, menemani mereka memanen mangga dan jambu cangkokkannya, mencabuti uban mereka (padahal kalai dicabuti, bisa bikin kepala botak), memijat kaki keriput mereka, bahkan menemani mereka jalan pagi meskipun malas bangun pagi.
Konflik yang tercipta dengan orang tua hanya membuat kaki terpasung hingga kesempatan untuk menikmati keindahan dunia ini menghilang. Sedangkan menghormati orang tua (bukan berarti menuruti semua keinginan mereka) akan menciptakan senyuman menatap masa depan. Senyuman akan menumbuhkan semangat dan cinta yang mampu membawa seseorang menghasilkan karya nyata di masyarakat sehingga nama belakang sebagai lesbian tidak lagi menjadi perhatian masyarakat. Kusadari, pendidikan formal tidaklah cukup untuk menjamin seseorang menjadi bijak dalam menyikapi kehidupan. Kehidupan itu sendirilah yang menciptakan kebijakan asalkan mau membuka hati dan pikiran untuk menerima pengajaran itu.
Jika, suatu hari aku mendapat kesempatan untuk menjadi seorang ibu, sedikit banyak aku telah belajar untuk tidak terjebak dengan peran stereotip yang kumainkan dalam hidupku. Dan kalaupun kesempatan itu tidak ada, aku masih punya kesempatan untuk bertransisi dengan lingkungan terdekatku (partner, kakak, keponakan, atasan, pembantu) dan belajar mengenal mereka sebagai manusia yang sesungguhnya, sejajar dan apa adanya.
@Justine Ht, SepociKopi, 2009









yup justine,,
tulisanmu selalu membuatku terharu,,
hiks hiks
penuh makna,,
udah terbukti kog honey.. kelembutanmu dalam mengayunkan langkahmu dan kesederhanaanmu dalam mengerakkan bibirmu serta dedikasimu membuat semuanya menjadi diam dalam damai.
Tulisannya bagus. menegur n menggelitik. jadi kpikiran, ‘who am I in my home?’
iya,jd merasa bersalah krn beberapa bulan ini mel jauh dr orang tua dan keluarga, krn hub yg lg ga bener dgn mantan.dan ak pindah ke tempt buchiku yg baru.jd agak terlena.tp mel akn coba untk lebih baik.maksh ya!!
luv these words:
formal education is not enough for us to understand the meaning of life n living. it’s totally right. cus sometimes we learn a lot from the environment. hmm, i still have no idea what should i do to make my parent happy. should i make their dream come true by marrying a man n having a baby, or should i follow my heart by living with my gf. still confuse. >.<. i wanna make both sides happy. my parent n my gf.
bener2 baru ku alami akhir2 ini…
aku serumah dengan orang tua, aku sering dgn sengaja menyibukkan diri dgn pekerjaan agar tidak membangun sebuah perbincangan… yg pastinya akan menjurus.. ke pernikahan…
sedikit pun tidak ada niatku menikah (dgn pria tp klo dgn ce ada kemungkinan besar)…. tp dibalik semua itu aku termasuk pribadi yg tertutup.. aku ga ingin org lain (termasuk ortu) tau ttg masalahku…. ya seperti itulah aku…..
Kebahagian orang tua adalah mutlak walaupun terkadang kata hati nurani tidak bisa diajak kompromi, pada akhirnya kita akan dihadapi oleh retetan pilihan yang justru membingungkan kita…
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments