Home » Tajuk

Tajuk: Kelahiran Dua Harimau Sumatra dan Kita

27 October 2009 203 views 5 Comments

harimau_sumatera_by_zambozeOleh: Nuha Guwa

Senja beringsut pergi, perlahan meninggalkan kemerahan di ujung dedaun hutan tropis. ]Kalelawar serta hewan malam mulai mengepak sayap di kegalapan. Lepasan sayap mengagetkan seribu kunang-kunang yang memenjar cahaya kehijauan. Lebih larut lagi, ketika cahaya rembulan mendiamkan koloni hutan, auman Panthera tigris Sumatrae menggetar datar dan perbukitan sekitar. Tiada satu pun warga yang perkampungan mereka bersebelahan dengan kawasan tersebut berani keluar rumah.

Warga Desa Jambu Apa, Kecamatan Tapak Tuan, Kabupaten Aceh Selatan misalnya, sepekan terakhir resah oleh auman harimau ini, yang lebih seram kucing liar ini sering bertamu di pemukiman dan memangsa ternak penduduk. Jejak harimau di halaman rumah memaksa warga memasang jerat. Tak cukup satu jebakan dipasang di beberapa tempat strategis. Meski sudah berhasil menangkap satu, kekhawatiran warga belum sirna benar. Masih banyak lagi harimau yang masih berkeliaran. Apakah benar solusi pembunuhan ini?

Harimau sumatera (Panthera Tigris Sumatrae) hanya ditemukan di Pulau Sumatera Indonesia . Pemangsa besar ini mampu hidup di mana pun, dari hutan dataran rendah sampai hutan pegunungan, dan tinggal di banyak tempat yang tak terlindungi. Populasi liar diperkirakan antara 400-500 ekor, terutama hidup di Taman -taman nasional gunung Leuser Sumatera serta dataran tinggi Bukit Barisan. Penghancuran habitat adalah ancaman terbesar terhadap populasi saat ini. Menurut Badan Konservasi Sumber Daya Alam, pembalakan tetap berlangsung bahkan di taman nasional yang seharusnya dilindungi, ironisnya tercatat 66 ekor harimau terbunuh antara 1998 dan 2000.

Harimau Sumatra adalah subspesies harimau terkecil. Warna tubuhnya paling gelap di antara semua subspesies harimau lain, ini ditandai dengan pola hitam berukuran lebar dan berjarak rapat kadang kala dempet. Menurut Wikipedia, harimau Sumatra jantan memiliki panjang rata-rata 92 inci dari kepala ke buntut dengan berat 300 pound. Betina rata-rata memiliki panjang 78 inci dan berat 200 pound. Belang harimau sumatra lebih tipis, juga punya lebih banyak janggut serta surai dibandingkan subspesies lain, terutama harimau jantan. Ukurannya yang kecil memudahkannya menjelajahi rimba. Yang paling unik harimau Sumatera memiliki selaput di sela-sela jarinya yang menjadikan mereka mampu berenang cepat. Harimau ini diketahui mahir menyudutkan mangsanya ke air, terutama bila binatang buruan tersebut lambat berenang.

Makanan harimau Sumatra tergantung tempat tinggalnya dan seberapa berlimpah mangsa. Mereka punya indera pendengaran dan penglihatan yang sangat tajam, yang membuatnya menjadi pemburu yang sangat efisien. Sebagai hewan soliter mereka berburu di malam hari, mengintai mangsa dengan sabar sebelum menyerang dari belakang atau samping. Dari hasil penyelidikan, harimau memiliki insting mematikan mangsa dari kepala lebih dulu. Hal ini diketahui dari banyaknya korban serangan harimau dimulai dari gigitan kepala. Pada dasarnya mereka memakan apa pun yang dapat ditangkap, umumnya celeng, rusa, terkadang unggas atau ikan, bahkan durian dan orangutan pernah masuk daftar mangsa, meskipun tubuh besar orangutan jarang menghabiskan waktu di permukaan tanah membuatnya jarang ditangkap harimau.

Harimau Sumatera mampu berenang dan memanjat pohon ketika memburu mangsa hingga ketinggian tertentu. Luas kawasan perburuan harimau Sumatera tidak diketahui dengan tepat, tetapi diperkirakan bahwa 4-5 ekor harimau Sumatera dewasa memerlukan kawasan jelajah seluas 100 kilometer di kawasan dataran rendah dengan jumlah hewan buruan yang optimal, artinya tidak diburu oleh manusia. Jika demikian besar, bisa dibayangkan bagaimana konflik hidup antara manusia dan harimau.

Tidak mengerti siapa yang harus disalahkan jika harimau memangsa manusia atau ternak. Bukankah sudah ada batasan bahwa kawasan Taman Nasional milik mereka dan manusia yang tinggal di luar kawasan tersebut berarti “terlarang” menjamah apapun yang berada di kawasan hutan, terutama kayu. Apa yang terjadi jika illegal logging masih saja berlangsung? Berarti kerusakan rantai makanan membuat kebutuhan makanan hewan-hewan liar ini semakin kecil? Apakah kita juga harus kehilangan jejak mereka suatu saat nanti ketika populasi manusia sudah mencapai titik jenuh? Ketika kapasitas bumi semakin terbatas? Bisa dibayangkan siapa yang akan berkuasa merajai kehidupan di bumi? Berarti anak cucu kita hanya bisa membaca dan melihat film-film dokumenter harimau Sumatra. Tuhan, jangan sampai hal ini terjadi!

Harimau Sumatra memang dapat berbiak kapan saja. Masa kehamilan adalah sekitar 103 hari. Harimau betina melahirkan 2 atau 3 ekor anak harimau sekaligus, dan paling banyak 6 ekor. Kita bersyukur salah satu kebun binatang di Indonesia baru saja menyambut kelahiran dua harimau Sumatera. Badannya masih dipenuhi bulu-bulu halus, mata anak harimau sebenarnya baru bisa melihat jelas di hari kesepuluh, meskipun anak harimau di kebun binatang ini tercatat lahir dengan mata terbuka. Anak harimau hanya minum air susu induknya selama 8 minggu pertama. Sehabis itu mereka dapat mencoba makanan padat, namun mereka masih menyusu selama 5 atau 6 bulan. Anak harimau pertama kali meninggalkan sarang pada umur 2 minggu, dan belajar berburu pada umur 6 bulan. Mereka dapat berburu sendirian pada umur 18 bulan, dan pada umur 2 tahun anak harimau dapat berdiri sendiri.

Harimau Sumatra dapat hidup selama 15 tahun di alam liar, dan 20 tahun dalam kurungan. Aduh! Mahluk hidup tidak diciptakan Tuhan untuk dikekang dalam kerangkeng, juga bukan untuk dijadikan tontonan di kebun binatang. Mereka merupakan bagian dari keseimbangan alam. Unsur terpenting dari rantai makanan. Tapi apalah arti kelahiran mereka jika jumlah pembunuhan harimau di habitatnya jauh lebih besar. Jika sudah demikian apa yang bisa kita lakukan sebagai lesbian? Beri suaramu untuk menghentikan konversi hutan, eksploitasi hutan, penebangan liar, perambahan hutan, kebakaran hutan. Desak pemerintah melakukan Perencanaan Tata Guna Lahan dan penggunaan lahan dan hutan agar memperhatikan aspek-aspek konservasi satwa liar khususnya harimau. Katakan “tidak”, kecam, serta laporkan kematian harimau Sumatera untuk kepentingan ekonomi gigi, taring, kulit yang konon jadi obat, atau kulit harimau sebagai bagian estetika interior keindahan ruang, ataubahkan hobi.

Kita belum terlambat berupaya melakukan pemetaan habitat alami harimau Sumatera yang masih memungkinkan untuk dipertahankan dan diselamatkan . Sisihkan sedikit danamu bagi Penyelenggaraan Tiger Protection Training, Wildlife Protection Integrated Training, Pembentukan Tiger Protection Unit, dan Intensif Patroli Perlindungan Harimau dan Habitatnya serta Pengembangan jaringan dan kegiatan intelejen diketahui selama ini cukup efektif melindungi harimau yang masih tersisa. Kepedulian kita berarti harapan hidup bagi mahluk hidup lain dan kelangsungan harmoni kehidupan manusia di bumi. Jika demikian tunggu apalagi? Ulurkan tanganmu, bergabunglah di Charity Sumatran Tiger! Adopsi anak-anak harimau dengan berapa Rupiah pun yang kamu sumbangkan!

@Nuha Guwa, SepociKopi, 2009

5 Comments »

  • andrea said:

    Salut buat web site ini yang masih mau memikirkan lingkungan hidup, anda bisa bergabung di WWF, khusus perlindungan Harimau Sumatera, pemberi donasi akan diberikan sertifikat dan namanya. Ini hanya sekedar info.

  • losemygrip said:

    nice article

  • Danau said:

    Nuha, aku main ke rumah teman dan harimau asli yang diawetkan menemaniku di ruang tamu…merinding dan ngak tega.

  • Maly said:

    Satu informasi yang hebat! Tahniah Nuha :)

  • akkaht said:

    dengan masa kehamilan pendek gitu dan kemungkinan bisa melahirkan lebih dari 2 berarti perkembangbiakannya cepat dong ya? saya ada baca dan dengar bahwa harimau dulu2 (kita belum lahir) suka memang datang keperkampungan tentu wkt itu belum ada illegal log. jd kalau sekarang dia datang keperkampungan lagi what happen ya? (mungkin di hutan ngak ada lg pekerjaan makanya dia pulang kampung) Sist. Nuha saya surPrise dgn tulisan anda, semasa kuliah saya ikut MAPALA (alam memberi saya banyak rasa syukur pd sang Pencipta) Majulah Lesbian Indonesia jangan lagi merengek!

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.