Q!Film Festival Surabaya 2009
Oleh: Sketza
Q! Film Festival Surabaya hadir kembali untuk ketiga kalinya, kali ini mengambil jadwal 13 hingga 18 Oktober 2009. Meskipun baru kali ketiga, Q! Film Festival dan Q-munity Surabaya tampak berusaha memberikan yang terbaik melalui tempat-tempat yang digunakan, acara yang diadakan, hingga tentu saja pilihan film yang diputar.
Tempat-tempat yang dipilih untuk melangsungkan festival film ini terdiri dari tiga tempat yang sudah sangat dikenal keberadaannya di Surabaya—Cinema XXI di Surabaya Town Square (Sutos), CCCL yang adalah pusat kebudayaan Perancis di Surabaya, dan Gaya Nusantara Community Centre (GNCC)—serta dua tempat yang relatif masih belum akrab bagi masyarakat luas—bRawn Cafe dan C2O. Cinema XXI di Sutos memang tidak berperan banyak dalam festival ini, namun perannya sangat besar sebagai pembuka festival ini dengan memutar film produksi Kalyana Shira Foundation yang berjudul Pertaruhan atau At Stake. Empat tempat sisanya secara bergantian menayangkan dua film setiap harinya, dengan CCCL sebagai venue utama.
Selain pemutaran film, Q! Film Festival Surabaya juga menyelenggarakan empat acara lain yang turut memberi warna festival ini, yaitu workshop untuk Queer Comic, talkshow Q! Lips yang mengusung tema “Seberapa Queer-kah kamu?”, pertunjukan seni berupa tari kontemporer berjudul “Deux” oleh dua penari asal Perancis, Véronique Delarché dan Thierry Giannarelli, dan pameran seni berupa pameran foto dan gambar dengan tema fetish. Untuk yang terakhir, amat disayangkan tidak adanya keterangan pada setiap karya yang ditampilkan, yang memuat judul karya serta nama penghasilnya. Apabila ada, tentu pengunjung akan lebih bisa menikmati pameran tersebut.
Tentu saja, bila dibandingkan dengan Q! Film Festival di Jakarta yang menampilkan seratus-sekian film, dengan “hanya” tiga puluh tiga film, dapat dikatakan film-film yang diputar di Surabaya tidaklah terlalu banyak. Namun jumlah yang agak terbatas itu ternyata cukup memberi ruang bagi jenis-jenis film yang diputar. Tidak hanya film biasa dengan durasi di atas enam puluh menit, film dokumenter semacam Love Man Love Woman, A Jihad for Love, dan tentu saja Pertaruhan juga meramaikan festival ini bersama dengan sejumlah film pendek seperti Bokutotsu, Mr_Right_22, A White Dress atau Une Robe Blanche, dan The Windows. Dilihat dari negara asal film-film yang ada, Thailand dan Perancis tampaknya merupakan dua negara yang mendominasi. Meskipun demikian, dan kenyataan bahwa sebagian besar film yang diputar adalah film bertema gay, film-film ini bisa menjadi pilihan tontonan yang segar, berbeda, dan menarik bagi siapa pun yang datang, termasuk para lesbian Surabaya.
Sebagai penutup festival, Babi Buta yang Ingin Terbang diputar di layar besar di kebun belakang CCCL yang asri, lengkap dengan kehadiran sutradara film yang bersangkutan. Dalam sesi tanya-jawab singkat yang digelar seusai pemutaran film, antusiasme penonton cukup terasa melalui banyaknya orang yang mengangkat tangan, meminta diberi giliran mengajukan pertanyaan. Dimas Hary, perwakilan Q-Munity Jakarta, didaulat menjadi moderator antara penonton dan Edwin, si sutradara film yang sebenarnya lebih mengangkat isu etnis Cina di Indonesia ini.
Mungkin sekitar lima belas hingga dua puluh menit kemudian, acara dilanjutkan dengan makan malam serta mengobrol santai antara sekitar lima hingga enam puluh penonton yang datang di upacara penutupan ini. Suasana terasa begitu santai dan akrab, apalagi dengan adanya kelompok akustik lokal yang terdiri dari dua butchi pemain gitar dan seorang perempuan feminin sebagai vokalis yang, di antaranya, membawakan lagu My Immortal milik Evanesence serta Decode dari Paramore yang merupakan sountrack film Twilight. Meskipun malam hangat dan cerah yang membungkus Surabaya semakin larut, wajah-wajah para panitia yang berseragam batik itu tetap memancarkan kesan optimis, seakan menjanjikan keberadaan Q! Film Festival 2010 yang lebih baik lagi.
Tentang Sketza:
wartawan berusia dua puluh lima tahun lulusan salah satu universitas negeri di Jawa Timur.
@Sketza, SepociKopi 2009









Wah seru ya..kpn ya ada event serupa d kota ku..scr film2 Q susah d cari, btw mgkn ga ya L word tayang d indonesia
Nggak pernah nyaman nonton di bioskop,lebih suka putar dvd di rumah n bisa mirip pertapa.
@sketza waaa datang juga di closingnya ya? so.. we are at the same place before
p
kayanya the L word susah deh tayang di Indonesia… Miyabi aja datg banyak yang kontra… padahal miyabi dtg bukan dlm keadaan naked…..
huaahh,
masih setia nunggu yang di jakarta niy.
@jn: beli aja dipidinya neng.haha
@tim: SETUJU!!
;D
@dee : wah br tau klo L world udh ad dvd na..thx dee ntr ku cr, scra slm ne liat cm d u tube n rt2 – - x scene na aj yg byk wkwkwkwk
Yah..ktinggalan info, tanggal sgitu aku kmana yah?
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments