Home » Berita

Q!Film Festival Surabaya 2009

19 October 2009 123 views 7 Comments

Oleh: Sketza

Q! Film Festival Surabaya hadir kembali untuk ketiga kalinya, kali ini mengambil jadwal 13 hingga 18 Oktober 2009. Meskipun baru kali ketiga, Q! Film Festival dan Q-munity Surabaya tampak berusaha memberikan yang terbaik melalui tempat-tempat yang digunakan, acara yang diadakan, hingga tentu saja pilihan film yang diputar.

Tempat-tempat yang dipilih untuk melangsungkan festival film ini terdiri dari tiga tempat yang sudah sangat dikenal keberadaannya di Surabaya—Cinema XXI di Surabaya Town Square (Sutos), CCCL yang adalah pusat kebudayaan Perancis di Surabaya, dan Gaya Nusantara Community Centre (GNCC)—serta dua tempat yang relatif masih belum akrab bagi masyarakat luas—bRawn Cafe dan C2O. Cinema XXI di Sutos memang tidak berperan banyak dalam festival ini, namun perannya sangat besar sebagai pembuka festival ini dengan memutar film produksi Kalyana Shira Foundation yang berjudul Pertaruhan atau At Stake. Empat tempat sisanya secara bergantian menayangkan dua film setiap harinya, dengan CCCL sebagai venue utama.

Selain pemutaran film, Q! Film Festival Surabaya juga menyelenggarakan empat acara lain yang turut memberi warna festival ini, yaitu workshop untuk Queer Comic, talkshow Q! Lips yang mengusung tema “Seberapa Queer-kah kamu?”, pertunjukan seni berupa tari kontemporer berjudul “Deux” oleh dua penari asal Perancis, Véronique Delarché dan Thierry Giannarelli, dan pameran seni berupa pameran foto dan gambar dengan tema fetish. Untuk yang terakhir, amat disayangkan tidak adanya keterangan pada setiap karya yang ditampilkan, yang memuat judul karya serta nama penghasilnya. Apabila ada, tentu pengunjung akan lebih bisa menikmati pameran tersebut.

Tentu saja, bila dibandingkan dengan Q! Film Festival di Jakarta yang menampilkan seratus-sekian film, dengan “hanya” tiga puluh tiga film, dapat dikatakan film-film yang diputar di Surabaya tidaklah terlalu banyak. Namun jumlah yang agak terbatas itu ternyata cukup memberi ruang bagi jenis-jenis film yang diputar. Tidak hanya film biasa dengan durasi di atas enam puluh menit, film dokumenter semacam Love Man Love Woman, A Jihad for Love, dan tentu saja Pertaruhan juga meramaikan festival ini bersama dengan sejumlah film pendek seperti Bokutotsu, Mr_Right_22, A White Dress atau Une Robe Blanche, dan The Windows. Dilihat dari negara asal film-film yang ada, Thailand dan Perancis tampaknya merupakan dua negara yang mendominasi. Meskipun demikian, dan kenyataan bahwa sebagian besar film yang diputar adalah film bertema gay, film-film ini bisa menjadi pilihan tontonan yang segar, berbeda, dan menarik bagi siapa pun yang datang, termasuk para lesbian Surabaya.

Sebagai penutup festival, Babi Buta yang Ingin Terbang diputar di layar besar di kebun belakang CCCL yang asri, lengkap dengan kehadiran sutradara film yang bersangkutan. Dalam sesi tanya-jawab singkat yang digelar seusai pemutaran film, antusiasme penonton cukup terasa melalui banyaknya orang yang mengangkat tangan, meminta diberi giliran mengajukan pertanyaan. Dimas Hary, perwakilan Q-Munity Jakarta, didaulat menjadi moderator antara penonton dan Edwin, si sutradara film yang sebenarnya lebih mengangkat isu etnis Cina di Indonesia ini.

Mungkin sekitar lima belas hingga dua puluh menit kemudian, acara dilanjutkan dengan makan malam serta mengobrol santai antara sekitar lima hingga enam puluh penonton yang datang di upacara penutupan ini. Suasana terasa begitu santai dan akrab, apalagi dengan adanya kelompok akustik lokal yang terdiri dari dua butchi pemain gitar dan seorang perempuan feminin sebagai vokalis yang, di antaranya, membawakan lagu My Immortal milik Evanesence serta Decode dari Paramore yang merupakan sountrack film Twilight. Meskipun malam hangat dan cerah yang membungkus Surabaya semakin larut, wajah-wajah para panitia yang berseragam batik itu tetap memancarkan kesan optimis, seakan menjanjikan keberadaan Q! Film Festival 2010 yang lebih baik lagi.

Tentang Sketza:
wartawan berusia dua puluh lima tahun lulusan salah satu universitas negeri di Jawa Timur.

@Sketza, SepociKopi 2009

7 Comments »

  • jn said:

    Wah seru ya..kpn ya ada event serupa d kota ku..scr film2 Q susah d cari, btw mgkn ga ya L word tayang d indonesia :-)

  • Tim said:

    Nggak pernah nyaman nonton di bioskop,lebih suka putar dvd di rumah n bisa mirip pertapa.

  • chocco said:

    @sketza waaa datang juga di closingnya ya? so.. we are at the same place before :P p

  • mel said:

    kayanya the L word susah deh tayang di Indonesia… Miyabi aja datg banyak yang kontra… padahal miyabi dtg bukan dlm keadaan naked…..

  • dee said:

    huaahh,
    masih setia nunggu yang di jakarta niy.
    @jn: beli aja dipidinya neng.haha
    @tim: SETUJU!!
    ;D

  • jn said:

    @dee : wah br tau klo L world udh ad dvd na..thx dee ntr ku cr, scra slm ne liat cm d u tube n rt2 – - x scene na aj yg byk wkwkwkwk :-)

  • mozz said:

    Yah..ktinggalan info, tanggal sgitu aku kmana yah? :D

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.