Home » Humaniora, Renungan

Catatan Duka Lara

14 October 2009 174 views 10 Comments

0969e4ad652c5e541b21f6f612f77477Oleh: Lakhsmi

Kesedihan, seperti apakah parasnya? Kesedihan, penderitaan, dan kesakitan adalah peristiwa pilu – yang mau tidak mau – takkan dapat dielakkan oleh manusia, siapa pun itu entah homoseksual atau heteroseksual. Peristiwa perih ini atau kusebut sebagai duka lara adalah sosok yang unik dan istimewa. Ia berbeda dengan saudarinya yang satu lagi, yakni kegembiraan atau kesukacitaan.

Duka lara memiliki makna yang lain. Ia mudah menempel dengan erat di bagian hidup manusia, dan manusia yang mendapatkan kelekatan itu seringkali tidak ingin menepiskannya sampai dia terjatuh lalu tertinggal. Yang terjadi malah berselisih 180 derajat, duka lara terbawa bahkan digendong dengan rela oleh seseorang sampai demikian lama, bahkan sampai di pengujung akhir hidupnya.

Di lain pihak, suka cita sungguh berbeda nasibnya. Ia bagaikan api di sumbu lilin kecil yang berkedip-kedip disela angin, mudah terlupakan, mati, dan diabaikan oleh manusia. Seakan-akan ia sebagai hal tak penting yang menyelinap hadir tanpa sengaja, sampai-sampai ingatan manusia hanya memiliki jarak yang pendek dalam mengenang suka cita.

Oh, kau tidak percaya? Cobalah menoleh ke belakang dan tatap hidupmu. Berapa banyak duka cita yang menghanguskan bara di dadamu? Dendam tak terbalaskan, kebencian tanpa alasan, iri hati membusuk, kemarahan bertumpuk, kepedihan oleh kegagalan, sakit hati teramat dalam, kegetiran, kepahitan, kengerian, inferiority complex, dan lain-lain. Manusia hidup dalam duka cita ini, membiarkan kesedihan memakannya pelan-pelan dari dalam dan menjadikan dirinya setan yang terperangkap pada tubuhnya.

Di mana kau simpan suka cita itu? Di mana lekuk kegembiraan? Ia tampak dalam keberhasilan pada kesuksesan, kelegaan ketika merenggut bintang di langit, rasa jatuh cinta yang berkobar-kobar, kelembutan tiada tertandingi, semangat meraih impian, keriangan melihat tawanya, kebahagiaan menemukan belahan jiwa, senyuman di pagi hari, rasa syukur atas kesederhanaan, dan lain-lain. Manusia cenderung melupakan semua sukacita ini, menjadikan hal-hal indah berubah, berlumut, berkerak, dan berkarat. Ketika duka lara merenggut suka cita, maka hancurlah suka cita menjadi puing abu yang takkan mampu berdiri lagi bagai menara indah.

Namun menurut manusia-manusia bijak yang hidup ratusan tahun lalu maupun di milenia ini, duka lara dan suka cita hanyalah sekadar muslihat yang menipu manusia habis-habisan. Mereka semuanya tak pernah nyata atau boleh kita sebut sebagai keadaan ilusi. Temukan kata “duka” dan artinya pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, selebihnya manusia sendiri saja yang memaknainya. Tunggu, apa maksudnya? Begini, apabila suatu hari kamu berkumpul di suatu tempat dan seseorang tidak menyapamu, maka “lupa menyapa” itu bisa mewujudkan dirinya dalam dua wajah. Jika kamu menganggap “lupa menyapa” tidak perlu dimaknai berlebihan, maka kamu akan melewati hari itu dengan tenang tentram. Tapi jika kamu menganggap “lupa menyapa” sebagai hal yang menyakiti hatimu [sebab kamu menganggap orang itu sombong atau angkuh], maka duka lara atau sakit hati itu akan kamu bawa sampai jauh ke dalam lorong jiwamu. Kamu akan membiarkan sang duka merobek-robek keberadaan dirimu, membiarkannya menempel di sana sampai entah berapa lembar kalender harus berganti.

Padahal, sesungguhnya duka lara hanyalah sekadar kata yang tak lebih, tak kurang. Ia nyata karena ia kata, selebihnya ia adalah ilusi substansi. Ia takkan ada tanpa keberhasilan seseorang memaknainya dengan kehendak bebas dan pilihan hidupnya sebagai manusia.

Katanya, lesbian akrab dengan kata duka lara ini. Katanya, lesbian nyaman dengan penderitaan. Coba kita singkirkan sejenak dari urusan dan masalah sosial akut ini. Aku merasa sungguh tidak piawai menuturkan slogan basi tentang bagaimana terpuruk dan terpinggirkannya kita di masyarakat. Mari lebih fokus kepada urusan percintaan dan hubungan sosial lesbian yang menakjubkan oleh keterkenalannya dalam bidang absurditas. Percintaan lesbian yang berirama putus-sambung-putus-sambung dengan hentakan tango atau cha-cha membuat pelakunya dilanda lautan duka lara dan suka cita. Hubungan sosial lesbian yang juga padat dengan kebencian dan saling menikam bahu terapung-apung di lautan mahaluas. Namun, ternyata apa yang terjadi? Para lesbian memiliki tombol favorit duka lara yang berlebihan sampai-sampai suka cita disapu dengan riang ke bawah sofa.

Jika kita sadar bahwa duka cita hanyalah ilusi yang menjebak, maka kita akan tahu kapan untuk berhenti menentang rasa sakit hati itu. Duka lara takkan ada jika kamu memutuskan untuk berhenti berduka, membebaskan diri dari tembok penjara yang diciptakan sendiri. Kata apa pun yang menyakitkan takkan mengena tanpa pemaknaan. Jadi, jika suatu ketika pasangan tercintamu melakukan kesalahan, seperti berselingkuh, atau sahabatmu bersikap semena-mena padamu, atau lesbian lain bersikap tak peduli padamu atau berbohong, berhentilah sejenak untuk merenungkan rasa sakit yang kamu rasakan, tapi ingatlah selalu untuk membuangnya ke tong sampah saat ia sudah terlalu lama menempel padamu. Ia tak bernilai tanpa kamu sendiri yang memberikan penilaian padanya. Ia menjadi bernilai saat kedukalaraan berubah menjadi dendam tak berkesudahan, benci yang akan membakar setiap orang hidup-hidup, baik lesbian maupun kaum straight.

Apakah berbicara itu mudah? Dan siapa bilang aku tidak pernah mengalami kesakitan, kesedihan, kesesakan, air mata, rasa perih yang menyengat dalam hidup dan hubungan percintaanku? Pernah, aku toh cuma manusia biasa. Namun saat aku memutuskan untuk menihilkan signifikansi duka lara pada perjalanan hidupku, voila… aku pun terbebas dari penderitaan, kebencian, dan duka lara.

@Lakhsmi, SepociKopi, 2009

10 Comments »

  • mel said:

    ,Voila…. aku pun terbebas dari penderitaan.
    i hope so…..

  • akkaht said:

    perempuan emang gitu jgn heranlah.. mau l or apalah namanya itu suka dgn penderitaan (bicara & merasakanya) nah aku punya usul kt bkn kolom sport yok.. dulu (dongeng) wkt msh kuliah di saat hub km dlm mslh berat even2 olahraga (MU i love u) mencerahkan pikiranku membuatnya secerah pagi. terbuktikan manfaatnya tp nanti jgn membicarakan ttg size l or m (puyeng muter2 di situ lagi). sepoci kopi u still the best gbu.

  • LigX said:

    mengingatkanku dengan duka yang selama ini menempel dalam diriku
    tapi apa menghilangkan duka lara menjadikan seseorang menjadi mati rasa??
    aku pernah merasakannya ketika tidak lagi merasa kesakitan dan tidak lagi merasa bahagia, hanya kosong..
    hampa dan mati rasa sebenarnya lebih menyakitkan daripada berduka.

  • aderain said:

    dekat sekali denganku.

  • rigby said:

    hai Mbak, tulisan mbak slalu “dalam”.. Thx mbak, atas tambahan 1 lg pelajaran hidup utk hr ini.

  • tiek said:

    bagaimana cara kita memandang kekecewaan dan duka lara yang mampir di hidup kita, itu yang penting. Duka, ataupun kecewa perbolehkan mampir menyapa kita tapi jangan kita biarkan berlama-lama atau menetap di hati.
    Sikap dan langkah berikutnya yang kita ambil itu yang penting.

  • Tim said:

    Sayangnya lebih mudah mengeluhkan hal2 sepele.

  • Maly said:

    “Berhentilah sejenak untuk merenungkan rasa sakit yang dirasakan”

    Bila,bagaimana dan dimana sekalipun rasa sakit itu wujud
    ia akan hadir bersama kesembuhan yang lebih indah

  • moeng said:

    hemmm…
    crita ini sama seperti yg sedang saya alami….
    seperti’a memang aq harus membuang semua kenangan yg membuat quw semakin sakit dan tak bisa melupakan dirinya.

    thx…

  • candy said:

    “dukacita hanya lah ilusi yg menjebak
    duka lara hanyalah tembok penjara yg diciptakan sendiri”

    Rasa sakit & lara bisa menjadi imun pada hati, biarkan ia mampir sejenak tapi jangan sampai menempel dan menetap….

    Lakhsmi…. thank for your inspiration

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.