Home » Tajuk

Tajuk: Problema Bantuan dan Kita

6 October 2009 67 views 4 Comments

earthquake_by_1905Oleh: Nuha Guwa

Dua remaja bersandal jepit mendatangi tenda-tenda, memerhati penghuni yang sedang berdiam diri, salat, dan tiduran. Jika saja ada wajah yang bisa dikenali… namun raut mereka kembali murung. Entah pengungsian yang keberapa, namun tak satu pun terlihat orangtua yang mereka cari. Kondisi ini dituturkan mereka pada seorang jurnalis media cetak yang kemudian mengangkat kisah dua remaja mencari keluarga yang tersisa selama lima hari dalam gempa di Sumatra Barat. Dalam pencarian itu, mereka diberi makan oleh warga yang juga menjadi korban gempa yang kebetulan masak di luar rumah. Sementara air minum didapatkan dari buah kelapa yang pohonnya tumbang di perjalanan.

Bantuan memang terus mengalir, namun entah mengapa belum mampu menyentuh perut-perut korban gempa yang lapar dan kini dikelilingi ancaman penyakit. Para korban gempa bisa saja menularkan Tetanus karena luka akibat tertimpa bangunan, menjadi ancaman serius bagi regu penyelamat atau karib kerabat yang satu per satu masih mencari jenazah keluarga. Beragam manusia mendatangi barisan mayat di rumah sakit umum M. Jamil. Bau menyengat bukan lagi hal yang aneh di wilayah gempa. Meski isi dalam masker ditaruh remasan daun sirih tetap saja aroma bangkai tak bisa dihilangkan.

Kita semua tahu saat terjadi bencana alam, infrastruktur ikut mati. Anjungan Tunai Mandiri tidak bisa mengeluarkan uang, hape tak bisa di-charge, pemandangan yang terlihat antrean di mana-mana. Mengantre membeli air, mengantre men-charge handphone, antre bahan bakar minyak. Bahkan jika ada uang pun tetap harus berbaris membeli bahan makanan yang ada. Belum lagi suasana rumah sakit darurat yang melayani pasien seadanya, kebutuhan dokter bedah dan darah melejit tinggi. Sebagian regu penolong yang ada di lokasi terpaksa mendonorkan darah. Menyalurkan bantuan lewat lembaga pemerintah memang bagus. Namun kenyataannya mereka mengalami kesulitan dalam pendistribusian. Alasan klise tentu saja karena sarana jalan yang rusak, tidak adanya akses ke desa-desa. Sementara perut-perut lapar tak bisa menunggu. Hal ini menyebabkan banyak pihak swasta menjadi kurang sabar, berharap bantuan mereka sampai ke tujuan tanpa melalui proses birokrasi yang berbelit.

Demikianlah potret bantuan bagi korban gempa. Meski dipenuhi dengan permasalahan baru tentunya hal ini tak harus menyusutkan semangat kita untuk mengulur tangan. Jika memungkinkan, mari kita ringankan penderitaan para korban gempa. Tentu dengan menyalurkan bantuan tersebut secara langsung. Jika merasa pasti dengan sebuah lembaga swasta yang membawa sendiri bantuan mereka, berikanlah apa yang bisa diberi: pakaian, makanan, air minum, uang. Kemelut bantuan ini memang menggelitik. Banyak pihak gerah mengapa masih banyak keluhan bahwa para korban masih belum menerima bantuan. Kelambatan ini memang bisa dimaklumi mengingat luasnya dampak bencana dan terbatasnya sumber daya manusia yang sanggup merangkum semua problema. Manajemen bencana yang sama sekali nihil, ditambah sikap tak sigap bencana membuat semuanya tampak kacau.

Apa yang bisa dilakukan kita para lesbian? Tentu saja bantuan sekecil apapun selalu bermakna buat para korban. Raihlah hape kita dan buka akses SMS Banking, kirimkan berapapun dana seikhlas apapun. Bagi yang profesional di bidang tertentu: Anda arsitek? Dokter? Planner? Perawat? Ahli dalam bidang IT, pedagang? Tentu sumbangsih apapun, baik itu jasa atau materi, manfaatnya bisa dirasakan bagi para korban yang membutuhkan. Peduli gempa berarti Anda peduli dengan sesama. Bantuan tak mengenal jenis kelamin, juga tak tergantung orientasi seksual, semoga apapun yang kini dihadapi para korban gempa tak menyurutkan belas kasih mereka untuk tetap terketuk memberi bantuan.

Distribusi bantuan memang masalah pelik. Azas keadilan sehingga semua pihak rata menerima belas kasih kita belum tentu memuaskan hati. Namun ingatlah bahwa penderitaan mereka akan panjang, proses membangun kembali rumah dan sarana umum memerlukan dana yang tidak sedikit. Selain itu, derita traumatis yang masih membekas mungkin takkan hilang hingga bertahun-tahun. Masihkah kita egois untuk tidak menoleh sedikit pun pada mereka yang menjadi korban?

Ingatlah dua remaja tadi yang tak lelah mendatangi posko-posko pengungsi. Para medik yang bekerja siang malam, pencari jenazah yang berpacu dengan waktu. Birokrat pemerintah daerah yang pening mengurusi penyaluran bantuan. Sementara kita santai menonton televisi, atau duduk-duduk sambil membaca koran melahap habis berita-berita terbaru tentang mereka sambil ditemani seteguk kopi hangat dan camilan atau malah kita masih terjebak dalam drama itu-itu saja di dunia lesbian. Wajarkah jika kita para lesbian masih bergeming?

@Nuha Guwa, SepociKopi, 2009

4 Comments »

  • De Ni said:

    Tuhan Tolonglah mereka dan kuatkanlah mereka Tuhan.
    Yuk sama2 bantu mereka yuk!!!

  • Tuyus said:

    Again!! Nice topic, Nuha. Kamu berhasil ‘mencuri’ perhatian saya melalui topik-topik yang kamu ungkapkan.

  • nuha said:

    tuyus! eh kamu ternyata!

  • Danau said:

    Setuju bu Nuha, hal yang terpenting adalah bagaimana menyikapi bencana tersebut. Segera kita memberikan uluran tangan, menyerahkan bantuan baik secara langsung ke lokasi maupun mengirimkan berbagai keperluan pribadi ke perwakilan posko atau mengirimkan uang kepada korban. Semoga saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah senantiasa diberikan kesabaran dan ketabahan. Doaku selalu untuk mereka semua. Salam, xoDanau

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.