Tajuk: Problema Bantuan dan Kita
Oleh: Nuha Guwa
Dua remaja bersandal jepit mendatangi tenda-tenda, memerhati penghuni yang sedang berdiam diri, salat, dan tiduran. Jika saja ada wajah yang bisa dikenali… namun raut mereka kembali murung. Entah pengungsian yang keberapa, namun tak satu pun terlihat orangtua yang mereka cari. Kondisi ini dituturkan mereka pada seorang jurnalis media cetak yang kemudian mengangkat kisah dua remaja mencari keluarga yang tersisa selama lima hari dalam gempa di Sumatra Barat. Dalam pencarian itu, mereka diberi makan oleh warga yang juga menjadi korban gempa yang kebetulan masak di luar rumah. Sementara air minum didapatkan dari buah kelapa yang pohonnya tumbang di perjalanan.
Bantuan memang terus mengalir, namun entah mengapa belum mampu menyentuh perut-perut korban gempa yang lapar dan kini dikelilingi ancaman penyakit. Para korban gempa bisa saja menularkan Tetanus karena luka akibat tertimpa bangunan, menjadi ancaman serius bagi regu penyelamat atau karib kerabat yang satu per satu masih mencari jenazah keluarga. Beragam manusia mendatangi barisan mayat di rumah sakit umum M. Jamil. Bau menyengat bukan lagi hal yang aneh di wilayah gempa. Meski isi dalam masker ditaruh remasan daun sirih tetap saja aroma bangkai tak bisa dihilangkan.
Kita semua tahu saat terjadi bencana alam, infrastruktur ikut mati. Anjungan Tunai Mandiri tidak bisa mengeluarkan uang, hape tak bisa di-charge, pemandangan yang terlihat antrean di mana-mana. Mengantre membeli air, mengantre men-charge handphone, antre bahan bakar minyak. Bahkan jika ada uang pun tetap harus berbaris membeli bahan makanan yang ada. Belum lagi suasana rumah sakit darurat yang melayani pasien seadanya, kebutuhan dokter bedah dan darah melejit tinggi. Sebagian regu penolong yang ada di lokasi terpaksa mendonorkan darah. Menyalurkan bantuan lewat lembaga pemerintah memang bagus. Namun kenyataannya mereka mengalami kesulitan dalam pendistribusian. Alasan klise tentu saja karena sarana jalan yang rusak, tidak adanya akses ke desa-desa. Sementara perut-perut lapar tak bisa menunggu. Hal ini menyebabkan banyak pihak swasta menjadi kurang sabar, berharap bantuan mereka sampai ke tujuan tanpa melalui proses birokrasi yang berbelit.
Demikianlah potret bantuan bagi korban gempa. Meski dipenuhi dengan permasalahan baru tentunya hal ini tak harus menyusutkan semangat kita untuk mengulur tangan. Jika memungkinkan, mari kita ringankan penderitaan para korban gempa. Tentu dengan menyalurkan bantuan tersebut secara langsung. Jika merasa pasti dengan sebuah lembaga swasta yang membawa sendiri bantuan mereka, berikanlah apa yang bisa diberi: pakaian, makanan, air minum, uang. Kemelut bantuan ini memang menggelitik. Banyak pihak gerah mengapa masih banyak keluhan bahwa para korban masih belum menerima bantuan. Kelambatan ini memang bisa dimaklumi mengingat luasnya dampak bencana dan terbatasnya sumber daya manusia yang sanggup merangkum semua problema. Manajemen bencana yang sama sekali nihil, ditambah sikap tak sigap bencana membuat semuanya tampak kacau.
Apa yang bisa dilakukan kita para lesbian? Tentu saja bantuan sekecil apapun selalu bermakna buat para korban. Raihlah hape kita dan buka akses SMS Banking, kirimkan berapapun dana seikhlas apapun. Bagi yang profesional di bidang tertentu: Anda arsitek? Dokter? Planner? Perawat? Ahli dalam bidang IT, pedagang? Tentu sumbangsih apapun, baik itu jasa atau materi, manfaatnya bisa dirasakan bagi para korban yang membutuhkan. Peduli gempa berarti Anda peduli dengan sesama. Bantuan tak mengenal jenis kelamin, juga tak tergantung orientasi seksual, semoga apapun yang kini dihadapi para korban gempa tak menyurutkan belas kasih mereka untuk tetap terketuk memberi bantuan.
Distribusi bantuan memang masalah pelik. Azas keadilan sehingga semua pihak rata menerima belas kasih kita belum tentu memuaskan hati. Namun ingatlah bahwa penderitaan mereka akan panjang, proses membangun kembali rumah dan sarana umum memerlukan dana yang tidak sedikit. Selain itu, derita traumatis yang masih membekas mungkin takkan hilang hingga bertahun-tahun. Masihkah kita egois untuk tidak menoleh sedikit pun pada mereka yang menjadi korban?
Ingatlah dua remaja tadi yang tak lelah mendatangi posko-posko pengungsi. Para medik yang bekerja siang malam, pencari jenazah yang berpacu dengan waktu. Birokrat pemerintah daerah yang pening mengurusi penyaluran bantuan. Sementara kita santai menonton televisi, atau duduk-duduk sambil membaca koran melahap habis berita-berita terbaru tentang mereka sambil ditemani seteguk kopi hangat dan camilan atau malah kita masih terjebak dalam drama itu-itu saja di dunia lesbian. Wajarkah jika kita para lesbian masih bergeming?
@Nuha Guwa, SepociKopi, 2009









Tuhan Tolonglah mereka dan kuatkanlah mereka Tuhan.
Yuk sama2 bantu mereka yuk!!!
Again!! Nice topic, Nuha. Kamu berhasil ‘mencuri’ perhatian saya melalui topik-topik yang kamu ungkapkan.
tuyus! eh kamu ternyata!
Setuju bu Nuha, hal yang terpenting adalah bagaimana menyikapi bencana tersebut. Segera kita memberikan uluran tangan, menyerahkan bantuan baik secara langsung ke lokasi maupun mengirimkan berbagai keperluan pribadi ke perwakilan posko atau mengirimkan uang kepada korban. Semoga saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah senantiasa diberikan kesabaran dan ketabahan. Doaku selalu untuk mereka semua. Salam, xoDanau
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments