Home » Featured, Telezkop

te.Lez.kop: She’s Got the Look

23 September 2009 159 views 6 Comments

look_elsewhere_by_connieleeannOleh: Shinigami

Ketika kami masih bersama, salah seorang mantan kadang mengisi waktu santai kami dengan pertanyaan-pertanyaan yang beberapa di antaranya membuat saya berpikir. Salah satu yang saya ingat adalah, “Misalnya wajah kamu tidak mirip ayahmu, hmm… misalnya wajah kamu begitu cewek, akankah kamu tetap menjadi lesbian?” Waktu itu, sambil merasa agak takjub dengan pertanyaannya, saya menjawab, “Maksudmu? Sepertinya sih masih.”

Ternyata, setelah dibahas lebih lanjut, yang dimaksud mantan adalah apakah saya menjadi seorang lesbian karena wajah saya terlalu macho untuk ukuran perempuan, sehingga tidak ada laki-laki yang merasa saya “cukup perempuan” untuk didekati dan dijadikan pacar? Dengan kata lain, jika wajah saya cantik dan manis seperti para perempuan feminin itu dan laki-laki akan berebut menjadikan saya pacar mereka, apakah saya tetap akan menjadi seorang lesbian? What a question, eh?

Dalam proses mengkaji ulang jawaban yang telah saya berikan kepadanya, saya jadi berpikir mengenai keterlibatan wajah dalam orientasi seksual seseorang. Ada satu dorongan kuat dalam diri saya yang berkata bahwa tidak ada korelasi signifikan antara wajah dan orientasi seksual seseorang, tetapi tentu saja saya tidak bisa hanya ngotot menjawab demikian tanpa alasan masuk akal, apalagi diimbuhi kata egois nan diktatoris: ‘pokoknya.’

Penjelasannya gampang saja kok. Tinggal melihat komposisi yang membentuk komunitas lesbian. Sudah dapat? Pintar. Kalau memang ada korelasi yang kuat, bagaimana kita bisa menjelaskan keberadaan para femme yang begitu feminin baik dari sisi wajah, penampilan, dan sikap tubuh? Saya yakin, ada begitu banyak laki-laki yang mereka buat patah hati karena tak ditanggapi perhatiannya maupun pernyataan cintanya. Bila menuruti teori yang terdapat dalam pertanyaan hipotesis tadi, mestinya dunia lesbian hanya berisi andro dan butch, karena perempuan-perempuan feminin berparas ayu di muka bumi ini tidak memiliki kesempatan untuk menjadi lesbian lantaran stoknya sudah habis dijadikan pacar dan istri para laki-laki.

Penjelasan berikutnya bisa diperoleh dari kenyataan di dunia tetangga, dunia para gay. Di dunia gay, teori yang sedang kita bahas ini langsung rontok berantakan seperti vas bunga kaca yang dijatuhkan penuh semangat dari puncak menara Petronas (eh, masih bersitegang dengan negeri jiran ya? Ya sudah, saya ganti: dari puncak menara Eiffel.) Jarang sekali laki-laki yang menjadi gay karena parasnya jelek. Malah, mungkin, yang lebih besar adalah kemungkinan laki-laki menjadi gay karena mereka tampan dan cakep. Kemungkinan ini bahkan ditegaskan dalam penggalan lirik lagu Supreme dari Robbie Williams, “…and all the handsome men are gay, you feel deprived.” Ada benarnya kok, bahkan sekarang sudah cukup populer di kalangan perempuan hetero untuk berpikir, “Eh, jangan-jangan gay?” ketika tertarik melihat seorang laki-laki ganteng.

Tetapi, meskipun penjelasannya relatif mudah, pertanyaan perihal paras dan orientasi seksual ini sepertinya masih relevan untuk dibahas atau dipertanyakan, terutama oleh teman-teman hetero. Lihat saja bagaimana selalu ada stereotipe yang dipegang publik bahwa perempuan yang berdandan serta bertingkah tomboi itu kemungkinan besar seorang lesbian. Sembilan puluh persen deh kemungkinannya. Dan masyarakat malah terbengong-bengong ketika mendapati si tomboi ternyata punya pacar cowok—yah, tiga perempatnya senang (?) mengetahui si tomboi ternyata bukan lesbian, tetapi seperempatnya lagi bingung kenapa bingkai stereotipenya tidak pas kali ini. Kejadiannya bisa lebih lucu lagi ketika seorang femme come out kepada teman atau siapa pun yang hetero. Sambil memandang tak percaya, lewat bibir mereka sering terujar kalimat, “Masa sih? Kamu kan cewek banget. Cantik, pakai rok, berdandan, rambut panjang. Kamu yakin kamu lesbian?” Bingung mereka akan semakin menjadi ketika si cantik mengangguk lembut tetapi mantap, dan sambil tersenyum manis menjawab, “Yakin.” Nah lho.

Kalau begitu, apa yang membuat seseorang menjadi homoseksual? Haduh, itu salah satu pertanyaan yang begitu pelik untuk dijawab di muka bumi ini, bersaing ketat dengan penanggulangan global warming, women trafficking, penciptaan perdamaian dunia yang langgeng, plus terpenuhi dan terjaminnya hak asasi manusia masing-masing orang. Yang bisa saya katakan sekarang hanyalah menjadi lesbian (atau gay) tidaklah tergantung pada wajah dan tingkah laku seseorang. Saya rasa sangatlah dangkal untuk seseorang sampai berpikir bahwa komunitas lesbian adalah suaka bagi perempuan-perempuan yang tidak diminati oleh lawan jenisnya, terutama dari segi fisik. Masih ngotot juga? Fine. Then, how do you explain Portia de Rossi? She’s got all the look, hasn’t she?

@Shinigami, SepociKopi, 2009

6 Comments »

  • Sky said:

    Hahaha… menarik…
    Mengingat tudingan orang-orang kepada saya bahkan sebelum saya menyadari bahwa diri saya lesbian…
    Karena sikap dan tomboyisme lainnya…

  • Rd said:

    hear, hear

  • LigX said:

    excelent

  • zoe said:

    Portia is such a perfect potray of a femme-lady, adore her so much and her spouse too, Ellen degeneres ^^

  • dee said:

    some of my friendz really thinkz that i should be a man,
    cus i look handsome for a woman,
    Ow OOuwhh,
    but i dont think so,
    i always look @ myself as a real woman.
    dont judge a lesbian by her face,,
    hohoho

  • mizu said:

    nice article… :)

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.