te.Lez.kop: She’s Got the Look
Oleh: Shinigami
Ketika kami masih bersama, salah seorang mantan kadang mengisi waktu santai kami dengan pertanyaan-pertanyaan yang beberapa di antaranya membuat saya berpikir. Salah satu yang saya ingat adalah, “Misalnya wajah kamu tidak mirip ayahmu, hmm… misalnya wajah kamu begitu cewek, akankah kamu tetap menjadi lesbian?” Waktu itu, sambil merasa agak takjub dengan pertanyaannya, saya menjawab, “Maksudmu? Sepertinya sih masih.”
Ternyata, setelah dibahas lebih lanjut, yang dimaksud mantan adalah apakah saya menjadi seorang lesbian karena wajah saya terlalu macho untuk ukuran perempuan, sehingga tidak ada laki-laki yang merasa saya “cukup perempuan” untuk didekati dan dijadikan pacar? Dengan kata lain, jika wajah saya cantik dan manis seperti para perempuan feminin itu dan laki-laki akan berebut menjadikan saya pacar mereka, apakah saya tetap akan menjadi seorang lesbian? What a question, eh?
Dalam proses mengkaji ulang jawaban yang telah saya berikan kepadanya, saya jadi berpikir mengenai keterlibatan wajah dalam orientasi seksual seseorang. Ada satu dorongan kuat dalam diri saya yang berkata bahwa tidak ada korelasi signifikan antara wajah dan orientasi seksual seseorang, tetapi tentu saja saya tidak bisa hanya ngotot menjawab demikian tanpa alasan masuk akal, apalagi diimbuhi kata egois nan diktatoris: ‘pokoknya.’
Penjelasannya gampang saja kok. Tinggal melihat komposisi yang membentuk komunitas lesbian. Sudah dapat? Pintar. Kalau memang ada korelasi yang kuat, bagaimana kita bisa menjelaskan keberadaan para femme yang begitu feminin baik dari sisi wajah, penampilan, dan sikap tubuh? Saya yakin, ada begitu banyak laki-laki yang mereka buat patah hati karena tak ditanggapi perhatiannya maupun pernyataan cintanya. Bila menuruti teori yang terdapat dalam pertanyaan hipotesis tadi, mestinya dunia lesbian hanya berisi andro dan butch, karena perempuan-perempuan feminin berparas ayu di muka bumi ini tidak memiliki kesempatan untuk menjadi lesbian lantaran stoknya sudah habis dijadikan pacar dan istri para laki-laki.
Penjelasan berikutnya bisa diperoleh dari kenyataan di dunia tetangga, dunia para gay. Di dunia gay, teori yang sedang kita bahas ini langsung rontok berantakan seperti vas bunga kaca yang dijatuhkan penuh semangat dari puncak menara Petronas (eh, masih bersitegang dengan negeri jiran ya? Ya sudah, saya ganti: dari puncak menara Eiffel.) Jarang sekali laki-laki yang menjadi gay karena parasnya jelek. Malah, mungkin, yang lebih besar adalah kemungkinan laki-laki menjadi gay karena mereka tampan dan cakep. Kemungkinan ini bahkan ditegaskan dalam penggalan lirik lagu Supreme dari Robbie Williams, “…and all the handsome men are gay, you feel deprived.” Ada benarnya kok, bahkan sekarang sudah cukup populer di kalangan perempuan hetero untuk berpikir, “Eh, jangan-jangan gay?” ketika tertarik melihat seorang laki-laki ganteng.
Tetapi, meskipun penjelasannya relatif mudah, pertanyaan perihal paras dan orientasi seksual ini sepertinya masih relevan untuk dibahas atau dipertanyakan, terutama oleh teman-teman hetero. Lihat saja bagaimana selalu ada stereotipe yang dipegang publik bahwa perempuan yang berdandan serta bertingkah tomboi itu kemungkinan besar seorang lesbian. Sembilan puluh persen deh kemungkinannya. Dan masyarakat malah terbengong-bengong ketika mendapati si tomboi ternyata punya pacar cowok—yah, tiga perempatnya senang (?) mengetahui si tomboi ternyata bukan lesbian, tetapi seperempatnya lagi bingung kenapa bingkai stereotipenya tidak pas kali ini. Kejadiannya bisa lebih lucu lagi ketika seorang femme come out kepada teman atau siapa pun yang hetero. Sambil memandang tak percaya, lewat bibir mereka sering terujar kalimat, “Masa sih? Kamu kan cewek banget. Cantik, pakai rok, berdandan, rambut panjang. Kamu yakin kamu lesbian?” Bingung mereka akan semakin menjadi ketika si cantik mengangguk lembut tetapi mantap, dan sambil tersenyum manis menjawab, “Yakin.” Nah lho.
Kalau begitu, apa yang membuat seseorang menjadi homoseksual? Haduh, itu salah satu pertanyaan yang begitu pelik untuk dijawab di muka bumi ini, bersaing ketat dengan penanggulangan global warming, women trafficking, penciptaan perdamaian dunia yang langgeng, plus terpenuhi dan terjaminnya hak asasi manusia masing-masing orang. Yang bisa saya katakan sekarang hanyalah menjadi lesbian (atau gay) tidaklah tergantung pada wajah dan tingkah laku seseorang. Saya rasa sangatlah dangkal untuk seseorang sampai berpikir bahwa komunitas lesbian adalah suaka bagi perempuan-perempuan yang tidak diminati oleh lawan jenisnya, terutama dari segi fisik. Masih ngotot juga? Fine. Then, how do you explain Portia de Rossi? She’s got all the look, hasn’t she?
@Shinigami, SepociKopi, 2009









Hahaha… menarik…
Mengingat tudingan orang-orang kepada saya bahkan sebelum saya menyadari bahwa diri saya lesbian…
Karena sikap dan tomboyisme lainnya…
hear, hear
excelent
Portia is such a perfect potray of a femme-lady, adore her so much and her spouse too, Ellen degeneres ^^
some of my friendz really thinkz that i should be a man,
cus i look handsome for a woman,
Ow OOuwhh,
but i dont think so,
i always look @ myself as a real woman.
dont judge a lesbian by her face,,
hohoho
nice article…
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments