Home » Humaniora, Renungan

Bauku Menular!

18 September 2009 138 views 7 Comments

happy_lebaran_2_by_ferdivisionOleh: Ade Rain

Mata sibuk beredar, menerawangi etalase toko swalayan yang berisi penuh minuman segar. Glek! Lima menit ngiler lebih lama bakalan bisa ngumpulin setengah botol air liurku sendiri. Ah, godaan kecil. Hari ini lebih berharga dari nonton konser Nicole PCD. Lebih mulia daripada pertemuan dengan mertua partner. Menyelesaikan puasa baik-baik, lebih dari keinginanku membelikan kekasih sport car yang larinya sekencang tornado. Apalah arti sebuah rak yang dipenuhi deratan botol dingin berisi jus? Tapi kok tampaknya segar ya? Alahai!

Akhir Ramadhan selalu membuat imanku hampir knock down. Ketabahan diuji. Pekerjaanmenuntut hasil-hasil bombastis. Siapa aku? Sri Mulyani? Ampun, Ma!!! Mulai cheese cake mini sampai rendang daging kacang merah, dari sebotol jus jeruk dingin sampai paha cewekku yang super menggoda… Memang benar! Najis setiap kali menyadari muka pengin itu. Mental sependek poni kalau berurusan dengan Ramadhan. Ketar ketir, babak belur saat berperang melawan diri sendiri.

Untuk menghilangkan pikiran kotor, seperti jus atau paha, kubayangkan sederet air segar tadi sebagai pembersih lantai yang baunya beraroma mual. Misalnya bebauan ekstrak buah-buahan yang berbahan dasar kimia banget, kalau lengket berjam-jam di kulit baju ujung-ujungnya apek. Langsung mati rasa! Nah, tadi aku harus singgah ke kantor salah seorang notaris yang terletak di lantai atas gedung. Ruangan tersebut sepi. Sejak siang tadi, suara keroncongan di perut terdengar rada aneh. Seperti suara knalpot ojek usang di lambung, suaranya membahana di kesunyian. Geerrrk gerrrkkk… Membayangkan suara kriuk di kantor notaris beneran tobat, cing.

“Puasa ya Mbak?” Seorang cewek muda, staf notaris tersebut menggodaku. “Eh, kedengaran ya suara kodok ngorek itu, Mbak?” Dia tertawa ngakak. “Bunyinya nggak berhenti dari tadi, Mbak.”

Duh malunya. Serasa jerapah dipakein daster. Sekarang pengin terbang dari lantai sebelas dengan sayap kain penghias jendela diikat di leher. Betapa pahitnya menunggu dekat dia selama sepuluh menit sambil bolak balik menetralisir suara perut keroncongan. Celingak celinguk nggak jelas, memikirkan bagaimana menghentikan suara itu.

Baiklah. Nggak ada yang salah dengan puasaku. Nggak juga yang salah dengan mataku. Semua godaan itu hanyalah ilusi, kan? Godaan-godaan tadi hanyalah ujian. Kalau aku dilemparkan ke padang pasir tandus tanpa makanan dan minuman, I will survive (jadi batu!). Mentalku segagah baja. Tapi, kalau lama-lama mengikuti hawa nafsu ini sebenarnya berbahaya. Jangan sampai aku memuja sapu ijuk yang didirikan terbalik hanya karena supaya mirip seorang andro pujaanku. Tuhan! Tobat deh. Nggak salah kan kalau melihat makanan? Nggak salah kan kalau aku melotot ke cewek cakep di ujung ruangan?

Karena segala sesuatu tergantung pada niatnya. Aku memiliki niat puasaku yang tegar sewaktu sahur tadi. Aku bertekad menyelesaikan sebaik-baiknya sampai Maghrib tiba. Kuhindari meja teman kantor yang gosipnya siap membuat jantung terjengkang. Tak kusinggahi meja sekretaris kantor yang membicarakan menu hari raya dan kue-kue lebaran berisi cokelat lezat. Tak kuhabiskan waktu di depan cermin sambil berdoa semoga aku berubah menjadi Anggun C Sasmi. Kutahan tidak mengeluh pada bau badan salah satu staf di kantorku yang menyamai bak sampah di pasar kaget. Padahal kalau dia masuk ruanganku yang ber-AC, baunya bikin ilfil. Haduh, lupakan itu, aku sedang berpuasa. Aku nggak akan menyambung cerita apa-apa lagi di sini. Waktu berbuka tinggal beberapa jam lagi, nggak akan kusia-siakan puasaku. Maaf ya, aku sedang berpuasa.

Benar kata Tuhan, puasa memang hanya untuk Dia. Jika aku minum di balik pintu, makan diam-diam di dalam gudang kantor, atau mencerca dalam hati teman kantor karena celana jengki yang out of fashion, hanya Tuhan yang tahu. Idul Fitri hanya hitungan hari, akan kusempurnakan puasaku. Melalui tulisan ini, mohon aku dimaafkan atas alur tulisan yang ngawur, temanya yang nyelekit, pemakaian majas ketus dan pedas, bau tubuhku yang menular, pilihan kataku yang najis tradongdong. Maafkan ya…

Selamat menyambut hari kemenangan. Happy Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. Assalamu I love you!

@Ade Rain, SepociKopi, 2009

7 Comments »

  • losemygrip said:

    Selamat merayakan Idul Fitri bagi teman-teman SepociKopi yang merayakannya. Mohon maaf lahir dan batin
    Bagi-bagi ketupat n opor nya dunkz… :D

  • A-rhea said:

    wakakaka.. still kocak :) :P

    Met Idul Fitri,,,, mohon maaf lahir dan batin..

  • wangi said:

    Hiks… :’(((
    Mohon Maaf Lahir Batin juga kak rain…

  • Awani said:

    Buat teman2 sepoci kopi yg merayakan.. Aku ucapkan jg Happy Idul Fitri.. Mohon maaf lahir dan batin..

  • Tuyus said:

    Tumpahan air hujan, kejar-kejaran cahaya, dan gelak canda gemuruh di langit tidak menyurutkan niat untuk berkunjung ke Rumah Tuhan di malam terakhir. Sedari subuh saya menangis ketika bercerita kepadaNya. Ada ketakutan yang merambat di hati dengan berakhirnya Ramadhan. Ketakutan akan ditinggalkan karena ibadah yang jauh dari sempurna. Dapatkah saya bertemu dengan ramadhan-ramadhan yang akan datang? Inikah ramadhan terakhir saya? Di malam terakhir, mata para jemaah wanita berair dan hidung memerah ketika mengucap salam maaf satu satu lain. Ahh.. ternyata bukan saya saja yang bersedih dengan perginya Ramadhan. Apa yang ditangiskan? Hanya mereka dan Tuhan lah yang tau. Teman-teman sepocikopi : Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1430 H.

  • MG said:

    Hahaha….
    Bu rain sll khas ma kocakna euy..pi tep g ngurangi makna yg d bicarain..
    Buatq,lebi berat nahan godaan napsu liat patner ato cew tantik daripada makanan..
    Hohoho
    Maap lahir batin jg bwt bu rain n tmand2..

  • meliâ said:

    Selamat Idul Fitri dan mohon maaf lahir batin untk smua tman sepoci kopi… Smoga sgala amal ibadah kita diterima disisinya.amin.

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.