Tiga Tahun

Oleh: Jeng Asih
17 Agustus 2009, tepat tiga tahun usiamu, Sayangku. Ah, kau memang belum tahu apa arti bertambah umur. Kau bersemangat melihatku membuat beberapa bingkisan alat tulis dan memasak nasi kuning untuk kakak-kakakmu di Panti Asuhan dekat rumah kita. Kau menggunting selotip, memadukan pinsil, penggaris, penghapus, alat raut, dan memasukkannya ke dalam kotak. Tak lupa dua buku tulis dan tas ransel bergambar Sponge Bob. Mari sini, aku yang membungkusnya dengan plastik bermotif hati kecil-kecil. Tinggal kupasang pita, selesai sudah. Eits, jangan diacak-acak lagi. Walah, kamu sudah mengantuk, ya? Ayo, bobo sebentar. Mama tunda perayaan ini hingga kau bangun nanti.
Dan kau pun tertidur, berdekatan dengan ketiakku yang “harum” karena belum mandi sedari tadi. Tapi kau tak peduli, ini “harum” yang akrab bagimu sejak kau masih bayi. Tak bisa aku menahan untuk tidak mencium pipimu, keningmu, bibirmu, tangan kecilmu, kaki mungilmu. Kau begitu lucu saat terlelap. Sampai-sampai aku tak merasa, tujuh butir air mata telah jatuh. Sudah sebesar ini kau, rupanya.
Padahal dulu kau masih di dalam kandunganku, aku menikmati pertumbuhanmu dari waktu ke waktu. Di umurmu yang kelima, mulai terlihat rasa tak sabar hendak keluar dari perutku. Ciatt, tendangan kecil kau arahkan. Wah, campur aduk rasaku; terkejut, gembira, sekaligus sakit. Tapi tenang saja, semua perihku tak sebanding dengan kebahagiaan memilikimu. Ayo teruskan, semakin malam semakin menjadi. Hahaha, kau menonton bola, ya. Piala dunia yang disiarkan salah satu televisi swasta itu mempertemukan Inggris dengan Turki. Kalian berdua kompak berteriak saat Inggris menjebol gawang Turki. Dug! Aw! Perutku!
Kembali bulan berpendar. Waktunya telah tiba, sembilan bulan lima hari. Sebentar lagi kau melihat dunia, namun karena terlilit tali pusar di leher, akhirnya aku harus menjalani operasi cesar. Tak mengapa, yang penting kau selamat. Ini yang terbaik. Kuambil hikmahnya saja, setidaknya aku bisa memilih hari yang kusuka. 17 Agustus 2006 kupilih sebagai tanggal kelahiranmu, mudah-mudahan Tuhan memberkati, melancarkan segala sesuatunya. Amin.
Di meja operasi, aku membaca ayat-ayat Tuhan. Gugup, sukacita, semua kutelan. Dokter anastesi mulai beraksi. Suntikan pertama di tulang belakangku.
“Apa ibu seorang perokok?” tanya dokter anastesi padaku.
“Iya, tapi setelah saya hamil, sata berhenti total,” ujarku jujur.
“Rokok menthol?” Dokter kembali menyelidiki.
Aku hanya mengangguk pelan. Dokter pun menjelaskan bahwa rokok menthol merk apapun mengandung suatu zat anti kebal terhadap suntikan anastesi sehingga satu suntikan takkan mempan. Itu artinya ada suntikan yang kedua! Ya Allah, aku menyebut nama-MU. Mudah-mudahan kali ini berhasil.
Operasi dimulai. Dokter kandunganku menyetel musik yang syahdu. The Carpenters, Close To You. Ah, pilihan musik yang menenangkan, sampai-sampai aku tak merasakan perutku telah disobek perlahan. Tadinya aku menyangka, dokter akan bersenandung “Indonesia Raya” atau “Maju Tak Gentar”. Aku tersenyum sendiri hingga sebuah suara mengagetkan aku, “Ibu, siap ya, anaknya mau melihat dunia.”.
Aku tegang, ingin kulihat segera wajah dan kucium tubuhnya. Mana dia, mana? Kok tidak menangis?
“Eeeeaaaaa, eeeeaaaaa, eeeeaaa!”
Alhamdulillah, ya Allah! Itu dia suara tangisnya. Emosiku tak tertahan lagi. Aku menangis sesenggukan. Mana bayiku, aku mau memeluknya. Pukul 07.17, di saat Sang Saka Merah Putih berada di ujung tiang, kau seolah mengatakan pada bangsa ini, “Akulah generasi yang akan membuat Indonesia bermartabat!”.
Seorang suster memperlihatkanmu padaku. Maha Besar Engkau, Tuhan! Aku memujiMu, Kau tepati janjiMu. Bayiku sangat sehat, tampan, menggemaskan. Suster sibuk memeras payudaraku untuk mengambil colostrums. Tak kuhiraukan kesibukan itu. Jalani saja tugasmu, suster-suster cantik. Aku mau memandangi bayiku.
Indah kenangan itu, Sayang. Kau terlahir dengan tinggi 47 sentimeter, kini menjulang tinggi dibanding teman-teman sebayamu. Gigimu lengkap, tinggal geraham saja yang belum. Kaulah matahari hidupku, my mood booster. Kau alasan mengapa aku tangguh menghadapi kerasnya hidup hingga hari ini.
Handphoneku bergetar. Seorang sahabat L-Mom menelepon.
“Ntar malam jadi, lho! Jangan membuat si kecil terlalu lelah. Pokoknya tidak perlu repot-repot. Datang aja bawa badan sama anak. Segala biaya kita tanggung bareng-bareng. Tidak ada minum-minum, no smoking area pokoknya, hahahaha. Bo, anak-anak bakal keracunan kalee. Oke ya, jangan lupa! See you tonight, sis!”
Ah, sekali lagi berkah Tuhan di ulang tahunmu, Nak. Teman-teman lesbianku yang kau sebut tante-tante cantik sudah menyiapkan surprise buatmu nanti. Sekarang nikmatilah tidurmu. Aku mau mandi agar kakak-kakak Panti Asuhan tidak ada yang dilarikan ke rumah sakit karena mencium bau badanku nanti.
@Jeng Asih, SepociKopi, 2009









Saluutt utk para Mombian…
Ibu yang tulus …
Kenanglah ibu yang menyayangi ….
Ibu yang meneteskan air mata ketika aku pergi …
Ingatkah engkau ketika ibumu rela tanpa selimut
demi melihatmu tidur nyenyak dengan 2 selimut
membalut tubuh …
Ingatkah engkau saat ibu mengusap kepalamu …
dan meneteskan air mata ketika ia melihatmu
terbaring sakit …
Kembalilah memohon maaf
pada ibu …
yang selalu rindu akan senyumanmu
Jenguk ibu yang berdiri menantimu …
di depan pintu …
bahkan sampai larut malam
so sweet…
feel like,,,, hm,,,, ( don’t know what 2 say )
Jadi pengen punya baby…
aku nangis baru baca sampai akhir..mungkin agak lebayy, tapi aku ingin sekali punya bayi,, entahlah,
@ the little parkit..want a baby.. Adopsi aja yuk.. Yg penting kt nya udah mapan baik materi dan bs menjadi mombian yg penuh kasih sayang sampe kelak dia mnjd dewasa dan mandiri..kalo aku mombian dr keponakanku..my little baby udah abg skrg..
Kayaknya, tim sepocikopi makin keren deh kalau ada kolom khusus buat mombian… hehehhehe,,, tulisan seputar ibu dan anak-anak… Hayo-hayoooo??? Siapa mau daftar jadi kolumnis tetapnya????
Gimana, pada setuju kagak??? Hihihih, sori lax, numpang saran disini…
@arie gere..idemu aku setuju bangeut..mengupas suka duka mombian.. Banyak L yg naluri keibuan nya cukup kuat, dan perlunya tips2 khusus menjd mombian..
halo-halo semuanya…
saran arie MANTAP sekali!!!
namun kupikir gak perlu rubrik khusus kali ya. MomBian tuh tetep L biasa
jadi ibu iya
jadi anggota masyarakat iya
jadi anak dari ibunya iya
jadi tetangga buat tetangganya juga iya…sama aja kan?
hehehehehehe
@ all : makasih komen-komennya yaaa…
@ Arie Gere: Hee…idenya okkeh. Hayo, teman2 mombian nulis yang banyak biar kolomnya benar-benar diadakan…hehehe…
@ Jeng Asih: Senang sekali membaca tulisan Jeng Asih yang tampaknya ditulis dengan tulus dengan penuh kasih…^_^
aagghhh..mba mah jadi kangen emak qw kan..huhf..
udh telat she ucapinya cz eke gak tahu..met ultah berarti kuenya now juga y dawai..hihihih…
woww……
Jadi pengen dya hamil…..
Jeng Asih, membaca tulisanmu, aku bangga padamu, sekaligus terbersit rasa iri… hiks…!! jadi ingat anakku yang kurang kuberikan sentuhan karena kesibukanku :’(
wah ada yang komen lagi, hehehe, seneng deh…*artinya tulisanku dibaca kan?
sky : menulis itu seperti melahirkan sky…berpusing-pusing mencari ide, proses pemilihan kata…pas udah jadi satu tulisan, lega banget, persis kayak anakku waktu keluar dari rahim, hehehehe….jadi ayo budayakan menulis…
keyz : ah odong” kau! kan sudah kubilang, jagoan kecilku lahirnya 17 agustus 2006. nih ya! jangan lupa lagi!
st4r : hahaha, ya ya…betul sekali…perempuan hamil itu sangat cantik…aku juga pengen hamil lagi agar DIPERHATIKAN oleh semua orang. mulai dari partner, ortu, adek-kakak, tetangga, semuanya jadi NGALAH sama aku, hahahahaha
wil : wah, wil, kita sama-sama perempuan pekerja lho! tapi beneran deh, jika aku dikasih waktu, apakah memilih berbelanja dengan uang pemberian partner atau dirumah bersama anakku…aku akan memilih…berbelanja bawa anak! hahahahaha….
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments