Have Your Say: Tentang Dia yang Maha Besar
Sebagai lesbian, bagaimana kita menempatkan Tuhan dalam hubungan relasi percintaan dan hidup kita? Tuhan selalu ada di setiap tarikan napas yang kita hela. Tuhan selalu menunggu kita menghampiriNya. Jangan jadikan Tuhan sebagai tembok di antara kekasih. Dengarkan kisah sahabat lesbian kita, Wina yang bercerita tentang hubungannya dengan Tuhan.
Ini kisah bersama pacarku yang pertama. Pacarku yang mengenalkanku pada dunia yang baru. Pacarku yang mengajari bagaimana cara mencintai dengan sepenuh jiwa. Pacarku yang menghadirkan tawa sekaligus luka, juga yang selalu membuatku berada dalam kungkungan pilihan.
Aku menganut agama Kristen. Sebelum mengenalnya, kebetulan aku sudah terlibat dalam pelayanan baik di gereja maupun kampus sebagai pemain piano. Selain karena suka bermain piano, keterlibatanku dalam pelayanan hanyalah salah satu wujud dari rasa syukurku kepadaNya. Aku benar-benar menjalani dengan hati tulus, tidak ada motivasi lain. Setidaknya begitulah yang aku rasakan.
Berawal dari teman ngobrol, berlanjut hingga menjadi pasangan kekasih. Prinsip yang kami pegang yaitu ‘Kita hanya punya hari ini, tidak perlu memikirkan tentang esok.’ Setelah kupikir-pikir, naif sekali kami dulu karena prinsip itu ternyata sangat salah.
Pada awalnya, hubungan kami berjalan lancar dan tanpa tuntutan. Aku masih ikut dalam pelayanan di kampus dan dia tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Pada beberapa kegiatan, dia ikut menemani dan mengantarkanku pulang. Aku senang. Namun setelah beberapa bulan berjalan, keraguan dan pertanyaan mulai timbul di tengah-tengah kami. Terkadang aku sering mendapati dia melamun. Kalau aku bertanya apa yang dia pikirkan, dia menjawab, “Sampai kapan kita mampu bertahan?”, atau “Benarkah yang sedang kita jalani sekarang?”, atau pertanyaan-pertanyaan sengit lain menusuk hati yang diajukannya setelah aku selesai mengikuti ibadah seperti, “Apa yang kau rasakan saat ada di depan?” seolah ingin menyatakan aku tak layak hadir di sana; aku tak pantas melayani Tuhan. Karena apa? Karena aku mencintai seorang perempuan, dan perempuan itu adalah dia.
Pertanyaan dan perubahan sikapnya yang tak mau lagi mengikuti gereja dan pertemuan ibadah membawa kami dalam pertengkaran dan perdebatan. Terkadang hanya ada diam yang lama hingga kami berdua sama-sama kelelahan dan berakhir dalam kekosongan hati. Secara tak langsung oleh sikapnya, aku merasa bersalah. Aku merasa memang tak pantas lagi bagiku untuk mengambil bagian dalam pekerjaanNya.
“Ya, aku orang berdosa dan aku tak layak untuk melayaniMu, Tuhan. Tapi Kau tahu aku juga mencintainya dan tak sanggup kehilangannya. Beri aku petunjuk jalanMu.” Itu doaku setelah aku memutuskan untuk meninggalkan pelayanan sementara waktu, demi menghindari percikan amarah kekasihku yang tak mau bersaing denganNya.
“Aku tak mau bersaing denganNya, Kekasih.” Itulah yang dia katakan padaku ketika seorang teman mengajakku untuk ikut kembali dalam pelayanan Tuhan. Akhirnya aku harus menolak ajakan temanku. Apakah aku rendah diri? Mungkin. Atau sombong? Mungkin juga.
Keyakinan berbeda dengan perasaan. Mereka memiliki dan melakukan cara tersendiri untuk menemukan tujuannya. Tapi aku memilih untuk melepas keduanya, karena aku tak yakin bisa menjalani hidupku denganNya tanpa dia, atau hidupku dengannya tanpa Dia. Hanya kedua hal tersebut yang paling aku pahami di dunia ini. Dan kalau dengan tak memilih aku harus kehilangan keduanya sekaligus, maka mungkin ini saatnya aku belajar arti memiliki. Bersaing dengan-Nya… Ah. Wahai, kekasih, bagaimana mungkin kau bisa bersaing dengan penciptamu? Kau tidak akan mampu dan tidak akan pernah.
Kini, bersama dengan kekasihku yang kedua, aku sedang dalam proses pemahaman bahwa mencintai tidak pernah salah. Meyakini tidak pernah membatasi. Hanya ada pelaku dan pikirannya yang sempit menjadi jurang antara cinta yang tak bisa dibendung dan Tuhan yang tak terselami akal pikiran kita.
@Wina, SepociKopi, 2009









merasa juga kalau Tuhan sengaja menciptakan kita berbeda, sebagai salah satu cara perenungan kembali kita kepada-Nya, dengan cara lain membuat kita lebih banyak mengingat-Nya
kepada wina.cukup sering saya mendengar dan mendebatkan hal tsb didlm hati.scara pribadi saya msh blm berani menghadap tuhan krn takut dan jg merasa diri munafik.disatu sisi saya egois tetap mau bersamanya padahal saya tau itu dosa besar.mana yg sebaiknya saya lakukan?saya tau,bukan tuhan yg membutuhkan saya,tapi saya yg merindukannya.
Di dalam doaku.. Aku berusaha bersyukur atas kasihNya..dan aku bersyukur atas keyakinan orientasi seksualku yg hny dpt suka, tertarik,dan jatuh cinta kpd perempuan.. Selebihnya kita jg bdoa agar Tuhan memberi kita kekasih hati yg baik ,penuh kasih dan kelembutan, dan ketulusan.siapakah dia?.akupun tak tau.. Yg aku tau Tuhan penuh kasih.. Thanks God for your love..what ever I am..@wina..God always love you..
Tuhan mencintai manusia yang saling mengasihi, Tuhan menyayangi ciptaannya yang menebar kasih meski hanya dengan senyum. Apapun bentuknya aku yakin Tuhan mengerti kasih antara sesama jenis. Lebih baik menyayangi daripada saling memaki. Namun jangan jadikan lesbian sebagai penghalang antara kasih kita dengan Tuhan. Tuhan adalah yang menciptakan cinta dan kasih itu sendiri, cintailah Tuhan lebih besar daripada kau mencintai kekasihmu sendiri, sulit memang tapi itulah yang sebenarnya Tuhan inginkan.
aq n partner jg prnah ngalamin hal ini. Sering kami brdebat bhwa apa yg kami lakukan menyalahi aturanNya. Kami sempat menjauh dr Tuhan. Merasa tak pantas lg menghadapNya. Dan kami pernah saling menjauhi. karena merasa tersesat. Tapi, semakin kmi menjauh satu sama lain dn menjauh dr Tuhan, semakin kmi tersiksa. akhirnya kami putuskan,kami tetap bersama. aq tetap bersama pasangan lesbiku, dan tetap bersama Tuhan. Lebih nyaman bersama keduanya.karna aq yakin, kelesbianku juga bagian dr rencana Tuhan utkku.jd, tak ada alasan untuk menjauhi butchi-q dan Tuhanq.
Tuhan tidak pernah memilih-milih dengan ciptaannya, lihat lah keaneka ragaman makhluk hidup di dunia ini. Bukannya perbedaan tersebut yang membuat warn warni dunia ini? Disinilah kita dituntun olehNya untuk belajar menerima perbedaan tersebut, dan iya memang dengan cinta kasih lah yang membuat perbedaan itu menjadi indah. Jadi dear Wina, apapun yang telah kamu lakukan janganlah tinggalkan Nya. Karena pada akhirnya kitalah yang akan kembali ke sisiNya.
@LigX… Kamu bener dech, Tuhan tetap yg utama di hati..
TUHAN . tidak akan menguji …diluar batas kemampuan hambanya..dan kita diberi pilihan, hidup…ini sebagai suatu ujian bagi kita bagaimana kita tetap untuk bersyukur padaNYA..atau mengingkari kenikmataNYA..
3 tahun yang lalu saya bercerita ke seorang bapak betapa rindunya ingin berkunjung ke Rumah Tuhan, tapi terhalang rasa bersalah dan malu. Dengan seyum bijaksana beliau berkata,” Bukankah salah satu sifat manusia adalah pendosa?. Sampai kapan kamu tahan memendam kerinduan itu hanya karena terhalang rasa salah dan dosa?.” Beliau melanjutkan, “Tuhan sangat senang dengan hambaNya yang sadar akan rasa salah dan dosa, karena ia merasa dirinya rendah (zero level) dan berdoa dengan khusuk memohon ampun atas dosa-dosanya dan Tuhan dengan maha ampunnya yang sangat luas akan memenuhi permintaan hambaNya tersebut walaupun dosa tersebut berulang. Bukankah salah satu sifat manusia adalah alpha?”, kata beliau menutup pembicaraannya.
Gleekkk..tertegun saya mendengar perkataan beliau dan good memory berseliwiran dikepala saya mengingat tingkah masa kanak-kanak. Dengan jari-jari yang masih kecil saya sering memijat-mijat kaki alm. bunda (jika melakukan kesalahan) diiringi mukanya yang penuh selidik (kesalahan apa yang telah saya lakukan??) hingga tertidur pulas dengan senyum tipis diwajah. Aahhh..damainya hati jika melihat senyum diwajah bunda. Saya ga peduli kalau lusinan keesokan harinya harus memijat beliau kembali yang penting hari itu diakhiri dengan seyum bunda. Good memory tersebut membuat saya mantap melangkahkan kaki ke Rumah Tuhan. Saya ga mau kehilangan senyum Tuhan hanya karena saya belum mampu mengurangi dosa. Bukankah salah satu sifat manusia adalah lupa…
saya paling gak bisa berkomunikasi sama Bapa di Surga but cz teman kerja gak bisa dajak kompromi soal pembagian jm kerja saat minggu ahrinya saya hanya berkomunikasi hanya saat malam b4 tidur (ini bukan alasan udah capek berdebat sama cow2 yg kerja dsini)
But saya mengganti dg kekasihlah yg harus rajin shalat walaupun saya kadang lupa untuk mengingatkan,hehehe….
qt harus tetap berserah kepada sang pencipta cz qt manusia yg hanya selalu pendosa…tetaplah berkarya dalam Tuhan selama qm bisa n apalagi itu talenta.
Semangaattt…. ^^
menjadi pendosa adalah takdir manusia.nice stories wina..setidaknya dengan berdosa,aku tau arti pertobatan,meski bukan dengan menjadi straight.
aku pernah menanyakan pada kekasih, perbuatan dan cinta yang ada di antara kami, bagaimana cara kita berdoa pada Nya.
Kekasih menjawab kita berdoa mengucap syukur atas hati yang penuh cinta yang dikaruniakan Tuhan untuk kita dan kita mau menjadi saluran berkat untuk cinta Tuhan kepada teman yang kita pilih.
memang hal mengenai TUHAN tidak pernah aku diskusikan bersama pacar. awalnya sih aku merasa berdosa jg pacaran sesama perempuan, tp itu dulu sekitar 7 tahun yg lalu. awal2 aku jalan dengan pacar, bertambahnya usia jg menambah kematangan dlm berfikir, seperti jikasj melarang hubungan seperti ini mengapa DIA mempertemukan aku dengan pacar. tp skrg aku melibatkan DIA dalam hubunganku bersama pacar… pikiran jd ringan….. luwes…. dan rileks. tiada lg kemarahan yg aku tujukan kepadaNYA.
(PS : sayang, aku mencintaimu)
saya mencoba menggunakan kacamata yang berbeda, bagi saya terjebak dalam raga lain adalah peluang dan keberuntungan yang diberikan Sang Maha Besar untuk melakukan dan menyempurnakan tugas-tugas besar dibumi yang mungkin tidak dapat dilakukan sempurna oleh seorang straight or hetero. khusus masalah orientasi seksual, saya hanya memohon pada Sang Pencipta, seandainya saya tak mampu menahan 1 nafsu, cukup itu bagi saya. Dan saya terus berharap dan memohon diberi peluang untuk melakukan 10,100,1000,…kebajikan untuk menyeimbangkan….dan keberadaan saya bisa menjadi manfaat bagi masyarakat bukan sebaliknya…
yahh…teman2..
memintalah kpada Tuhan..
memintalah…
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments