Home » Humaniora, Ibu

My Virginia

Submitted by on 09/09/2009 – 3:33 pm13 Comments | 592 views

Oleh: Justine Ht

Kugenggam erat tangan partnerku agar beban kesedihan di hati menyatu. Aku duduk di sisi jendela menatap keluar dengan pandangan kosong. Sesak dada membuatku tak sanggup mengucap sebaris kata pun. Kami tenggelam dalam pikiran masing masing. Pesawat mulai lepas landas membawa kami ke kehidupan baru yang masih asing. Entah apa yang akan kami temukan di sana. Yang pasti kami terus berjalan, meninggalkan berjuta kenangan yang telah menghiasi hidup kami, meninggalkan Virginia.

Virginia. Nama yang indah. Nama yang mampu membuat hari kami berarti. Mampu menyedot habis seluruh cinta dan energi yang kami miliki. Tawa cerianya, tangis manjanya, jeritannya saat bermain, langkah terhuyung huyungnya, celotehnya yang sulit dimengerti… semua kami kemas dan tertata rapi di koper hati kami. Kami akan tetap menjadi mamak kedua dan mamak ketigamu, sweetheart.

****

Matahari tidak lagi tegak lurus ketika kami tiba di rumahnya. Ibunya menyapa kami ceria tanpa peduli butiran keringat di wajahnya. Sambil menggendong putri ketiganya, yang berusia belum genap setahun, dia membawa sayur yang baru dipetiknya di kebun dengan perut yang membesar. Kupandangi perutnya dan terbersit doa di hatiku, “Tuhan, beri dia seorang putra.”

Dia seorang ibu yang tegar. Cinta dan kasih sayangnya berlimpah untuk anak anaknya. Keluhan dan cercaan tidak pernah terlontar dari bibirnya walau semua pekerjaan rumah dilakukannya sendiri.

Sigap partnerku mengambil si kecil dan mengajaknya bermain. Aku membantunya membereskan sayur yang dibawanya. Kedua putrinya baru pulang dari sekolah. Menyapa kami dengan keceriaan anak anak. Si sulung ke dapur menemui aku dan ibunya.

“Aku lapar, Mak!”
“Tunggu sebentar ya, Nak, tidurkan dulu adikmu ya?”

Partnerku membantunya meletakkan si kecil ke ayunan yang terbuat dari kain sarung, si sulung mengayunnya sambil bersenandung,

Bobo adek
Bobo sayang
Tunggu datang mamak dari pasar
Membawa kue satu keranjang
Apa mereknya? Goreng pisang.

Aku tertegun mendengar liriknya. Lagu sederhana itu dinyanyikan oleh seorang anak berusia tujuh tahun dan membuat adiknya begitu cepat tertidur. Entah apa karena lagu itu atau memang sudah terlalu lelah menemani ibunya di kebun.

Kedua kakak beradik itu sibuk membenahi perlengkapan sekolah mereka lalu mengerjakan pe-er dengan semangat walau perut lapar. Celoteh mereka memenuhi ruangan, dengan gembira partner menjawab setiap pertanyaan mereka. Partnerku sangat menyayangi anak-anak. Semua keponakannya dekat dengannya. Bahkan keponakanku pun lebih memilih bermain dengannya daripada denganku. Dia akan lupa waktu jika bermain bersama mereka. Makan siang telah kusiapkan, setelah berdoa, kami menyantapnya bersama.

Selesai makan, aku dan partner membicarakan keinginan kami untuk membawa si kecil ke rumah kami; mengasuh dan menjaganya menjelang ibunya melahirkan yang tinggal hitungan hari. Sebenarnya, dua hari yang lalu partnerku sudah membicarakan masalah ini dengan ayah si kecil. Aku tahu sangat berat baginya melepaskan si kecil namun demi kesehatan ibu dan bayinya, akhirnya dia merelakan. Sang ayah memeluk dan menciuminya bertubi-tubi sebelum melepaskannya. Beliau juga memberitahu kami segala hal tentangnya sebelum kami membawanya, termasuk lagu yang dinyanyikan si sulung yang ternyata diciptakannya sendiri. Tidak ada airmata walau aku bisa merasakan kesedihannya.

***

Indahnya menjadi ibu. Kami sangat menikmatinya. Mengajarinya mengucap kata demi kata dan memanggil kami ‘tante’ walau yang terucap tetap kata ‘mamak’. Membimbingnya ketika dia melangkahkan kaki kecilnya terhuyung-huyung; membuatku hampir lupa bernapas dan merasakan nyeri punggung. Menemaninya tidur walau harus terjaga sepanjang malam setiap kali mendengar rengekannya. Memberinya susu dan menggantikan diapernya. Apalagi jika siangnya partner mengajaknya bermain sampai dia menjerit kegirangan, pasti malamnya mengigau dan mengajak kami ronda. Kami memikirkan menu bubur saringnya agar memenuhi kandungan gizi yang dibutuhkan, bahkan memilih pakaian untuknya walau sering membuatku berdebat karena selera kami yang berbeda.

“Jangan khawatir, Bu, anak Ibu akan baik baik saja!” Kecemasanku langsung menguap setelah dokter memeriksanya karena demam panas dan meyakinkan kami akan kondisinya. Ehmm… anak ibu, partnerku tersenyum penuh arti.

“Bu, si kecil mirip ibu ya!” kata Mbak SPG makanan balita di hipermarket menawarkan produknya. Aku menjadi tersipu dan ikut menatap si kecil dalam gendonganku. Kusadari, mungkin itu hanya trik marketingnya.

***

Kugenggam erat tangan partnerku agar beban kesedihan di hati menyatu. Aku duduk di sisi jendela menatap keluar dengan pandangan kosong. Sesak dada membuatku tak sanggup mengucap sebaris kata pun. Kami tenggelam dalam pikiran masing masing. Pesawat mulai lepas landas membawa kami ke kehidupan baru yang masih asing. Entah apa yang akan kami temukan di sana. Yang pasti kami terus berjalan, meninggalkan berjuta kenangan yang telah menghiasi hidup kami, meninggalkan Virginia.

Virginia. Bidadari mungilku. Dia membangunkanku dari tidur panjang untuk melihat kehidupan di sekelilingku. Dia menyelamatkanku dari lautan kelesbiananku. Dia menyadarkan kebutuhan akan tangan terulur yang membutuhkan kasih sayang. Terima kasih Tuhan, Kau kirim bidadari mungil untuk membuat hidupku menjadi lebih berguna dan menyadari bahwa ibu adalah anugerah terindah dalam hidup. Kutundukkan kepala sedalam-dalamnya sebagai hormatku untuk para ibu yang mengabdikan seluruh hidup dan cintanya demi keluarga dan anak-anaknya.

@Justine Ht, SepociKopi, 2009

Tags:

13 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.