Tajuk: Ramadhan, Pasifisme*, dan Kita
Oleh: Nuha Guwa
Pada dasarnya, tidak ada manusia normal yang tidak luput dari rasa benci. Rasa benci sudah menjadi kultur hidup manusia. Setiap hari kita berhadapan dengan supir angkot yang terburu-buru. Pedagang yang mengurangi takaran timbangan. Dosen yang mengamuk di kelas tanpa bisa mengendalikan amarah. Dokter yang sesuka hati menuliskan resep-resep mahal untuk mengejar target tertentu. Polisi ramah suap. Politisi yang mahir memelintir kebijaksanaan untuk kepentingan golongan tertentu. Wartawan yang menulis sesuatu hanya berdasarkan sakit hati subjektif. Teman yang selalu meminjam uang untuk kesenangan pribadi. Keseharian kita tak luput digelung benci.
Benci menurut Wikipedia melambangkan ketidaksukaan atau antipati untuk seseorang, hal, barang atau fenomena tertentu. Rasa ini biasanya diikuti dengan keinginan untuk, menghindari, menghancurkan atau menghilangkannya. Sebenarnya boleh-boleh saja membenci kelompok atau seseorang, sepanjang kebencian kita tidak menghalangi hak-hak mereka. Mengutuki pedagang yang tak jujur, politisi penipu, wartawan pemeras, guru yang tak bertanggungjawab. Atau yang lebih khusus lagi misal di bulan puasa ini, kita boleh tidak suka terhadap para penjual makanan yang masih berjualan secara terbuka. Tapi tidak boleh menghalangi hak-hak mereka untuk mencari nafkah. Kita boleh tidak setuju terhadap keyakinan jamaah ini dan itu, tapi hak mereka untuk hidup dan beribadah tidak boleh diganggu. Itulah toleransi. Namun apa yang terjadi jika kebencian muncul dengan tidak berdasar? Dengki misalnya?
Perasaan benci yang muncul atas nama dengki biasanya merayapi hati orang yang merasa kalah wibawa, popularitas, pengaruh, atau pengikut. Yang didengki tentulah pihak yang dianggap lebih dalam hal wibawa, popularitas, pengaruh, dan jumlah pengikut. Tidak mungkin seseorang merasa iri kepada orang yang dianggap lebih kecil atau lemah. Dengki memang kejam, saya ingin meminjam nabi Muhammad tentang dengki ini. Menurut beliau, ada tiga hal yang menjadi akar semua kejahatan. Berikut pesannya,
“Jagalah dirimu dan waspadalah terhadap ketiganya. Waspadalah terhadap kesombongan, sebab kesombongan telah menjadikan iblis menolak bersujud kepada manusia (Adam). Waspadalah terhadap kerakusan, sebab kerakusan telah menyebabkan Adam memakan buah dari pohon terlarang. Dan jagalah dirimu dari dengki, sebab dengki telah menyebabkan salah seorang anak Adam membunuh saudaranya.”
Pesan ini menunjukkan bahwa sifat dengki sering tidak terkendali. cenderung terjebak dalam tindakan brutal. Tidak hanya merusak nama baik, mendiskreditkan, dan menghina orang yang didengki, namun bisa lebih dari itu. Dengan cara apa saja ia berupaya merusak citra, kredibilitas, dan daya tarik orang yang didengki. Pendengki acapkali melampiaskan kebencian dengan melakukan hasutan kepada pihak lain. Tentu dengan cara selalu mencerca dan mencaci apa yang dilakukan orang yang didengkinya. Jangankan yang tampak buruk, yang baik pun akan dikecam dan dianggap buruk.
Lesbian yang terjebak dan membiarkan diri larut dan dikuasai oleh iri hati dan dengki secara psikologis pasti akan menanggung beban berat yang tidak seharusnya. Karena setiap kali ia melihat orang yang didengki dengan semua kesuksesan, hati dan perasaannya menderita dan hati pun semakin penuh dengan, marah, curiga, kesal, kecewa, resah, dan perasaan-perasaan negatif lain. Sungguh sangat tidak enak menjalani kehidupan seperti itu. Seperti layaknya penyakit, ketika dipelihara akan mendatangkan penyakit lain, maka penyakit hati iri hati dan dengki pun akan mengundang penyakit-penyakit lain.
Di bulan mulia ini, mari kita tanyakan dengan jujur pada diri kita sendiri, pernahkah kita merasakan iri hati terhadap orang lain? Walaupun hanya sebuah iri hati kecil? Kalau ya, segeralah hapus dan buang jauh-jauh perasaaan tersebut, karena bermula dari iri hati kecil, lama-lama bisa berkembang menjadi dengki besar dan mendalam dan bisa menjadi suatu kebiasaan buruk. Mari kita kumandangkan paham cinta damai. Menjadi pribadi-pribadi pasifisme, menghormati dan bangga dengan kemajuan dan kelebihan sesama lesbian lain. Berhenti meluaskan kebencian terhadap kalangan-kalangan yang tak sepaham atau berbeda dengan kita. Apalagi jika iri, benci dan kedengkian itu mengatasnamakan Tuhan. Betapa sedihnya pada bulan suci Ramadhan ini kita juga masih disuguhi aksi-aksi partikelir yang menunjukkan intoleransi terhadap kemajuan dan kesuksesan orang atau kelompok lain.
@Nuha Guwa, SepociKopi, 2009
(*)Pasifisme: aliran yang menentang adanya perang, cinta damai














Let’s make love.
Don’t make war.
Peace everyone !!!
Leave your response!