Home » Cuci Mata

Cuci Mata: Pasar Tradisional di Tengah Kota

5 September 2009 98 views 5 Comments

trainers_market_by_yellowcat

Oleh: Sidney

Minggu lalu aku menginap di rumah tanteku di sebuah kompleks perumahan populer yang katanya sudah jadi kota mandiri di luar Jakarta. Tanteku pada weekend itu tinggal sendirian, hanya ditemani pembantu dan baru saja kena stroke ringan. Kebetulan anaknya si tante sedang keluar kota, jadi dia membutuhkan seseorang yang bisa menemaninya selama dua hari supaya tante tidak sendirian. Oke, cukup sudah preambule-nya, biar aku lanjut ke topik yang mau kubahas.

Hari Minggu jam tujuh pagi, pembantu mulai ribut melaporkan bahwa telor telah habis, tidak ada daging, dan bumbu masak lenyap. Pembantu langka – menurut ukuran zaman sekarang – yang sudah bekerja lebih dari 20 tahun di tempat tanteku memang ribut dan berisik. Jagoan bikin kepala pusing pokoknya. “Ya udah, nanti siang saya beliin deh ke supermarket,” kataku cepat-cepat, biar dia nggak makin ribut.

Dia memandangku seakan-akan kepalaku memiliki dua cula. “Supermarket?” tanyanya tegang.

Aku mengangguk pelaaan. Tapi dalam hati, aku yakin kata ‘supermarket’ terdengar nista di telinganya.

“Buat apa ke supermarket?”

“Buat beli bensin,” sahutku asal-asalan. Halooo, ke supermarket tentu saja beli perlengkapan rumah tangga. Melihatnya tulalit dengan ucapanku yang asbun, aku buru-buru meralat. “Buat beli ayam dan apa itu tadi…”

“Ya ampun, Non! Ngapain ke supermarket? Itu sih beli di pasar depan rumah aja.” Melihatku menggeleng dengan ragu-ragu, dia melanjutkan sambil meledekku telak, “Emangnya Non nggak pernah ke pasar? Duh, ini nih perempuan kota, mentang-mentang sekolah tinggi nggak pernah ke pasar.”

Dari bengong, aku langsung jadi nyolot. Apa? nggak pernah ke pasar? Yang bener saja! Sidney tidak pernah takut pada apa pun, apalagi yang namanya shopping. Ke pasar bau, becek, dan terbelah empat pun akan dia samperin.

“Sini, Bik. Saya beliin. Emangnya gue takut ke pasar?”

Dan mulailah petualanganku di pasar tradisional modern itu.

Sejujurnya aku agak menyesal keburu emosi tersulut si bibik tua ketika menyetir mobil ke pasar. Aku tahu di mana tempatnya karena sering kulewati, tapi jujur saja yang namanya pasar tradisional kukunjungi terakhir sewaktu aku masih SMP. Aku membayangkan tempat becek, bau, dan penuh orang-orang berdesak-desakan yang membuatku harus berjengit berkali-kali.

Setelah memarkir mobil, aku berjalan menuju pintu gerbang. Langkahku ragu mulanya, tapi lama-lama semakin ragu. Aku melongo, benar-benar melongo! Seperti melihat alien berantena dan bertotol-totol muncul di hadapanku. Ya Tuhan, aku sampai terbengong-bengong melihat pasar tradisional yang ditata secara modern nan apik. Aku langsung teringat pada hari pasar di Australia. Tidak ada bau aneh apa pun yang menyengat, tidak ada genangan becek yang bakal merusak sepatu Crocs-ku, tidak ada orang-orang mendorong kardus sambil berteriak, “Minggir-minggir, air panas!”

Bagian sayuran ada di sebelah kiri, bagian daging ada di kanan, bagian kebutuhan rumah tangga ada sebelah luar. Dagingnya terlihat segar, sayurannya juga. Harganya, well, aku tidak tahu sih semestinya berapa harga daging tapi aku yakin di pasar tradisional pasti lebih murah dibanding supermarket di mal. Aku bahkan sempat melirik ke sepasang perempuan yang kuduga pasangan lesbian yang sedang menawar terong. Hihihihi, otakku langsung mesum nggak jelas. Menawar terong… membayangkan adegan itu lagi membuatku tak bisa menahan geli.

Inilah pasar impianku, perempuan kota modern pendidikan tinggi seperti kata si Bibik tadi. Tapi eh, menurutku, mestinya pasar tradisional memang seperti ini. Murah tidak berarti harus kumuh, kotor, dan becek, kan? Apalagi banyak lalat, nggak sehat, dan sumpek. Pasar seperti ini harusnya dapat dijadikan tempat untuk memajukan usaha golongan kecil menengah, juga tempat rekreasi yang tidak terlalu mahal.

Aku berjalan ke sana kemari, hingga bukan cuma membeli daging, telor, dan bumbu dapur, tapi membeli aneka rupa sayuran dan barang sehingga tas kain bahan recycle-ku pun penuh dengan belanjaan. Aku pulang, dengan dada membusung menunjukkan kepada bibik bahwa aku tidak butuh supermarket untuk membeli barang-barang kebutuhan dapur.

@Sidney, SepociKopi, 2009

5 Comments »

  • mozz said:

    Keren khan Sid pasarnya ?
    Iya Sid, kami atas nama para pembokat juga merasa sumringah dg ddirikannya pasar tradisional modern kota wisata cibubur. Ngga ada becek-becek lg yg bakal merusak sandal jepit swallow kami xixixii..HIDUP MBAK SIDNEY!!!

  • libraries said:

    Minggir2 air panas!!
    Awas-awas ibu hamil
    Hahaha,, bikin kangeeenn
    Maksudnya aku kangen tulisanmu sid (oopsss, hampir ktauan gw tukang parkir pasar impres kec bojong :D )

  • hujan said:

    ih wah seru pasarnya, kalau aku sih memang benar-benar akan melewatkan acara belanja di pasar yang becek-bau-dan lain-lain karena jengah, kecuali saat sindrom lagi pengen masak yang aneh-aneh muncul

    btw, menawar terong?

    ups….

    hahaha

  • Indy said:

    kesukaan maly kalau ke indonesia, kalau ngga ke pasar katanya ngga berasa di Indonesia, tulisannya kusuka!

  • Sam_moel said:

    Terong…ketimun…aduh nyonya suruh beli apa lagi ya? Wqwqwq

    @Mozz..urban ke cibubur koq ga bilang2 seh hon….please deh ga usah lebay gt…hahaha..

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.