Walking Down the Aisle
Oleh: Grey Sebastian
Beberapa hari yang lalu saat aku buka-buka Facebook, aku menemukan ada beberapa temanku yang sudah berganti status, dari sekedar in relationship menjadi married. Saat aku tanyakan pada yang bersangkutan, ternyata yang bersangkutan memang sudah resmi menikah. Berarti dalam waktu kurang dari satu tahun ini aku sudah melewati sekitar enam sampai tujuh pernikahan teman-temanku. Dan seperti biasa, saat aku mengucapkan selamat menempuh hidup baru, balasan yang aku terima adalah “Jadi kapan giliran kamu yang menikah, Grey?” dan aku pun tidak bisa membalas lagi.
Saat aku blogwalking, aku juga menemukan beberapa ulasan tentang pernikahan. Ada yang takut untuk menikah, ada yang sudah memutuskan untuk tidak menikah, ada pula yang berencana untuk menikah, ada yang berduka karena ditinggal pasangan menikah, dan ada yang ketar-ketir karena sudah ditanya-tanya tentang pernikahan.
***
Topik pernikahan sebenarnya memang merupakan topik yang sudah lama. Tapi pada kenyataan mau tidak mau, suka atau tidak suka kita pasti akan kembali ke topik ini. Meniru kata-kata yang sering diucapkan seorang pembawa acara “Kembali ke…. Pernikahan.”
Kata-kata seperti “Kodrat seorang perempuan adalah menikah dan berumah tangga” mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita. Eiiitt, tunggu dulu! Jangan karena yang menulis seorang perempuan dan yang membaca juga kebanyakan perempan, jadinya dapat dikatakan menikah adalah kodrat perempuan. Pernikahan itu ternyata juga membebani para lelaki. Meski (mungkin) untuk para lelaki tidak ada istilah expired date seperti para perempuan.
Kata para pemuka agama, setiap manusia diciptakan agar hidup secara bersama dan beranak pinak untuk menjaga kelangsungan kehidupan di muka bumi. Ini adalah suatu kodrat manusia. Tidak heran kalau pada akhirnya setiap orang di targetkan untuk menikah dan punya anak. Tidak peduli orang tersebut sudah siap untuk menikah dan memiliki anak atau belum. Kesiapan yang aku maksud di sini tentu saja bukan hanya kesiapan secara material, tapi juga secara mental.
Kalau hanya untuk menyiapkan pesta pernikahan, pastinya bisa dilakukan dalam waktu singkat. Banyak teman yang bersedia diminta tolong sebagai panitia. Atau kalau mau lebih mudah lagi tinggal minta wedding organizer untuk mengurus. Tapi bagaimana dengan kesiapan mental pasangan tersebut? Apakah mereka siap untuk saling berbagi dalam suka dan duka, sehat dan sakit, serta kaya dan miskin?? Apakah mereka siap bahu membahu dalam membesarkan anak?
Pernikahan itu kan bukan hanya pesta sehari semalam, tapi lebih merupakan proses menyatunya dua pribadi yang berbeda. Kedua pribadi itu harus berusaha saling melengkapi dan mencari satu titik temu untuk dapat menyatukan segala perbedaan-perbedaan yang timbul dalam kehidupan mereka. Menyatukan dua pribadi yang tadinya berbeda sama sekali tidak mudah, bahkan untuk pasangan yang saling mencintai satu sama lainnya. Lalu bagaimana dengan mereka yang menikah karena terpaksa? Apalagi kalau mereka terpaksa menikah hanya untuk menutupi orientasi seksual atau hanya karena untuk menjaga nama baik keluarga.
Menurutku, hanya orang yang egois dan tidak berperasaan yang sanggup menjalani pernikahan seperti itu. Bagaimana mungkin dia sanggup mengorbankan perasaan orang yang menjadi pasangannya atau orang-orang yang mencintainya dengan tulus demi nama baiknya saja? Mungkin dia tak berpikir bagaimana perasaan suaminya seandainya dia tau istrinya berselingkuh dengan sesama perempuan. Mungkin dia juga tak memikirkan perasaan anaknya seandainya anaknya tau ibunya tidak pernah mencintai ayahnya secara tulus. Mungkin dia juga tidak memikirkan perasaan orang tua atau partnernya yang terpaksa harus selalu berkorban demi kepentingan sang kekasih dan keluarga. Begitu banyak air mata yang berlinang dan batin yang terluka karena keputusannya untuk tetap menikah.
***
Aku pernah terluka karena pernikahan. Aku juga sudah dikejar-kejar target menikah. Dan aku juga pernah berpikir untuk melaksanakan pernikahan pura-pura dengan teman gay-ku. Tapi saat aku memikirkan hal-hal di atas, aku tidak sanggup membohongi hati nuraniku. Aku takut menjadi si “lebai malang” yang kehilangan segalanya.
Memang tidak mudah untuk menjelaskan kepada orang tua kenapa kita tidak tertarik untuk menikah. Aku pun tidak menyarankan untuk coming out. Tapi hal penting dalam hidup ini bukan hanya menikah dan melahirkan bukan? Masih banyak hal-hal lain yang sama penting dan sama berharganya. Seperti mengabdikan diri kepada Tuhan, berkarier, menjadi pemerhati lingkungan, dan lain-lain. Bila panggilan menjadi seorang ibu begitu kuat, masih banyak juga anak-anak di luar sana yang membutuhkan kasih sayang kita.
Lalu apakah dengan begitu para lesbian tidak boleh menikah? Tentu saja boleh. Pilihan hidup itu ada di tangan masing-masing individu. Namun alangkah baiknya bila pilihan itu diambil berdasarkan pertimbangan yang kuat dan mantap akan segala konsekuensi dan resiko yang mungkin terjadi, bukan karena adanya paksaan dari pihak luar.
Lalu apakah aku akan menikah? Mungkin saja. Aku juga akan menikah kalau aku mendapatkan seorang lelaki yang sanggup membuatku melupakan cintaku pada perempuan dan sanggup membuatku percaya untuk menghabiskan sisa hidupku dengannya. Namun bila saat itu datang, maka tidak akan ada lagi perempuan lain di hatiku.
@Grey Sebastian, SepociKopi, 2009









menikah memang masih belum aku pikirankan tapi, sebagai perempuan yang punya embel-embel “perempuan yang juga mencintai perempuan”, pernikahan selalu bertarung dengan berbagai alternatif pernikahan a-la lesbian. entah menikah dengan sesama perempuan, menikah dengan pasangan gay, atau merelakan diri menikahi pria tanpa menikahkan hati dengan pasanganku kelak.entah apa yang terjadi dengan pernikahanku kelak, sama sekali tidak ingin berpikir banyak.
nice topic grey
hem… menikah? sesek juga rasanya kalau ingat kata itu.
Grey, aku sepakat. hidup adalah sekumpulan pilihan, dan tiap pilihan mengandung konsekuensi. Tinggal bagaimana menjatuhkan pilihan dan sipa menanggung konsekuensi.
Bagiku punya keturunan adalah sebuah cara untuk meninggalkan jejeak kalau kita pernah hidup di bumi.
Pramoedya bilang: manusia hidup harus meninggalkan jejak, agar manusia selanjutnya bisa tahu bahwa kita pernah ada. Jejak itu bisa ditinggalkan lewat keturunan dan satu lagi: Karya!
Tulisan, atau karya apapun yang menandai bahwa kita pernah ada di dunia.
Memilih diantara pilihan yg ada … Adalah suatu keputusan.. Menikah atau tidak menikah adalah pilihan..yang harus di putuskan..
jadi ingin bertanya juga, apakah memang butuh orang lain utk meyakinkan kita bisa benar-benar berubah? i mean…well…no one’s perfect, apalagi para pria itu. ketika tetap membandingkan kenyamanan kita yang satu dengan yang lain pasti gk akan pernah puas. karena memang yang dicari gk ada di pihak yang lain. relationship is all about complete each other, i think. not looking for the perfect ones. coz nobody’s perfect. semua kompromi.
setuju… bagiku hanya ada satu cinta. ntah itu dgn lelaki ataupun perempuanku. bagiku sangat egois jika kita menginginkan nama baik dan keluarga dgn menikah… dan sekaligus mengingini cinta perempuan. hidup adalah pilihan…
Selama ini aku berlindung dibalik kalimat “Jodoh ditangan Tuhan mak…kalo udah saatnya juga aku akan menikah..” cuma aku ga nerusin aja dengan kalimat “dengan perempuanku” hehehe…
aaahh,,
dont wanna think ’bout wedding thing right now.
still confused.
it’s a tough topic to be discussed.
hahaha
Hidup adalah pilihan, tapi sayangnya pilihan yang diberi untuk kita yang L jauh lebih complicated…
Saat ini belum berani berharap banyak or berpikir muluk2. jalani dulu seberapa jauh kita bisa bertahan barulah kemudian menyerah pada keaadaan.
Grey,,,,, tulisan kamu bikin aq bener2 berpikir jalan mana yg harus diambil… ( )
ya…benar sekali….aku merasa aku masih belum cukup dewasa untuk memikirkan semua tulisan diatas….
Untuk temen-temen thanks yah atas komentarnya.
Topic kali ini aku angkat setelah YMan dengan seorang temen pria yang juga sudah di kejar-kejar target menikah. Yang aku sangat sepaham, adalah pernyataannya yang akhirnya aku tuliskan di atas. Dia takut karena ingin mempertahankan nama baik, akhirnya malah kehilangan segalanya.
Ditambah lagi ada 1 artikel yg aku suka (dari WIL), yang isinya kurang lebih menggambarkan perasaan kami tentang pernikahan ini.
So, Thanks to WIL & Daysandsmind atas idenya.
Oryza Sativa dan para editor lainnya yang udah bikin artikel ini lebih bagus dari aslinya.
Pernikahan adalah tujuan akhir hidup dan kodrat perempuan dilahirkan kedunia, setidaknya pas sampai diakhirat nanti pahala dari tugas wajib ini dapat meringankan berat dosa yg kita “prbuat” (IMHO)
Setuju sama lifeishappi,,, yu hepiii
Pernikahan yg tdk bahagia adl sia2.. Aku ga mao hanya krn ingin mempertahankan nama bae, akhirnya kehilangan org2 yg aku syngi n perempuanku nantinya..
kale nyokap gw kudu nyewa tomy rafael yg bisa buat gw melupakan cinta pd perempuan ato kecelakaan-geger otak trs ilang ingatan (kayak sinetron d tipi;-p ) br bisa selera ma lela..aduh biyung maapkeun anakmu ini
Kale mak gw kudu nyewa tomy rafael biar gw bs melupakan cinta pd perempuan,ato ga, laka-geger otak trs ilang ingatan (sinetron bgt:-P) br nikah
ampuun biyung.. (Jgn ks tw mak gw y
)
no coment…
setujuu
/ hidup adalah pilihan
jgn pernah memaksa untuk memilih hidup qta atas kehendak orng lain . krna kelak yg menjalani hidup ke depan adlaah kita , bukan org tua , ataupun orang lain
qta pra L hrus perjuangin pilihan qta x) karena hidup adalah pilihan
q orng baru dsni
lamp kenal yah semua xD
aku tdk pernah memikirkan soal pernikahan. sedari kecil hingga sekarang aku tidak ingin ada pernikahan (dgn pria), aku tdk ingin pya anak. di saat usia beranjak masuk ke-27 tahun, aku ingin pacar menemaniku sampai memutih rambutku, sampai hembusan nafas terakhirku. . . aga dia saat keluhan sakit tubuh ini. ingin dia yg selalu membelai wajah ini dgn lembut, dan mencium bibir ini mesra….. ( oh… sygku J.E.N.K betapa aku mencintaimu dan membutuhkanmu sepanjang hidupku)
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments