Home » Humaniora, Personal Life

Suicide Note

1 September 2009 201 views 26 Comments

heavenly_leaf_by_demonmathielOleh: Lakhsmi

Pada hari Selasa, kurang lebih dua tahun lalu, aku menerima email pertama dari seseorang yang mengucapkan terima kasih kepadaku karena baik tulisanku maupun tulisan-tulisan lainnya di SepociKopi membuatnya memutuskan untuk berani hidup, setelah setiap malam berperang dengan kesendirian dan keinginan untuk bunuh diri. Email itu sangat menyentuh dan mengantarku pada turning point kehidupan yang tidak bisa kuelakkan. Aku berhenti sejenak di tengah turbulensi kesibukan, menopang dagu di meja, dan membiarkan keheningan memelukku. Sekarang email itu sudah hilang, tapi sampai detik ini aku masih bisa membaca kalimat-kalimatnya dalam kenanganku dengan sangat jelas.

Ternyata email itu bukan email pertama yang bercerita tentang percobaan bunuh diri. Masih ada email-email lain yang menyelip pelan-pelan di kotak suratku, membawa cerita tentang secercah damba akan keinginan untuk (akhirnya) melepaskan diri dari cengkraman kematian. Menurut National Institute of Mental Health di Amerika, remaja homoseksual dan biseksual lebih rentan untuk melakukan percobaan bunuh diri dibandingkan remaja heteroseksual. Bahkan sering kali disebutkan bahwa 30 persen kematian yang terjadi karena bunuh diri dilakukan oleh remaja homoseksual. Walaupun data 30 persen itu kemudian berusaha diperbaiki oleh beberapa peneliti lain (misalnya dari Traditional Values Coalition of America), jelas disepakati bahwa memang benar remaja homoseksual dan biseksual memiliki kecenderungan untuk melakukan percobaan bunuh diri lebih banyak dibandingkan sesama temannya yang heteroseksual.

Sejujurnya, aku selalu penasaran dan memilki melankolia berlebihan dengan episode bunuh diri. Bukan, aku tidak ingin melakukan tindak bunuh diri (tidak terpikir sama sekali terima kasih banyak), tapi ternyata hidupku memiki mata rantai panjang yang bersinggungan dengan bunuh diri. Dan, semuanya itu dimulai belasan tahun lalu ketika sahabat SMA-ku memutuskan untuk bunuh diri dengan menelan Baygon. Tanpa mendengar pernyataan orientasi seksual dari mulutnya sendiri, aku tahu temanku adalah seorang lesbian. Penampilannya yang sangat-sangat-sangat gagah, macho, maskulin dan suaranya yang berat menjadikan dirinya seorang remaja homoseksual 17 tahun yang (pastinya) kesepian.

Kami – aku dan dia – selalu pergi ke sekolah bersama-sama. Eh, sebenarnya tidak juga. Aku hanya sering menemuinya sedang menunggu bus di pinggir jalan di belokan yang sama setiap pagi. Aku selalu menghentikan mobilku, mengajaknya naik, dan bersama kami menuju sekolah. Kegiatan melihatnya di pinggir jalan, berhenti, mengajaknya naik akhirnya menjadi kebiasaan. Dia membiarkan bus yang membawanya ke sekolah berlalu jika aku agak terlambat atau aku menunggunya di pinggir jalan jika aku tidak melihatnya. Tidak ada gejala-gejala yang aneh sepanjang perjalanan menuju sekolah. Setidaknya dia tak pernah curhat apa pun kepadaku.

Kabar itu bagai guntur di siang bolong. Pagi itu aku tidak melihatnya di pinggir jalan dan setelah menunggu lima menit, aku berlalu. Jam sebelas seluruh sekolah gempar karena kepala sekolah memberikan pengumuman tentang kematiannya. Aku tidak ingat jelas apa yang terjadi saat itu, semua berlalu dalam gerakan samar-samar dan hitam putih. Aku sedang menulis di papan tulis dan kapur tulisku patah. Aku hanya tahu bahwa angkatan kami telah dipisahkan dengan seorang teman oleh gunting kematian.

Temanku meninggalkan surat untuk orangtuanya agar mereka berhenti berkelahi satu sama lain dan saling mencintai lagi. Temanku juga meninggalkan surat untuk sahabat-sahabatnya. Dan dia menitipkan satu pesan khusus… untukku. Surat itu tidak pernah tiba di tanganku, melainkan jatuh di tangan polisi yang menyidik kematiannya. Aku hanya membacanya sewaktu polisi menunjukkan surat tersebut padaku pada sesi tanya-jawab sebagai saksi. Katanya: “Untuk Lakhsmi yang manis, terima kasih sudah selalu menunggu dan menjemputku.”

Sekarang, setiap kali sepotong email tiba di kotak posku dari seorang lesbian yang merasa tidak pernah sendirian dan kesepian lagi karena tulisan-tulisan di SepociKopi (apalagi surat istimewa yang menyatakan keberanian untuk terus hidup daripada mati), aku menapak mundur dan melakukan perjalanan belasan tahun, kembali menjadi gadis tujuh belas tahun bersama temanku yang berdiri di pinggir jalan menunggu bus. Kami seharusnya remaja lesbian yang berbahagia, yang diatur oleh takdir dan kelucuan-kelucuannya, dipertemukan setiap pagi dalam perjalanan menuju sekolah. Sering aku mereka-reka, hidup seperti apa yang akan temanku hadapi jika saja dia berani berkata terus terang tentang dirinya kepada diriku…

Dulu aku tidak memiliki kesempatan untuk menyelamatkan nyawa temanku entah dengan cara kecil apapun, tapi kini mungkin aku memiliki peluang. Pesan yang tersimpan dalam tulisan-tulisan para penulis di SepociKopi (terberkatilah mereka) pada dasarnya adalah rengkuhan tangan yang peduli untuk menggapai hati dan jiwa yang sedang jauh tersesat dan kesepian. Aku merangkai tulisan ini dalam kenanganku kepada temanku yang telah tiada belasan tahun lalu, semoga dia mendapatkan kedamaiannya di alam sana. Dan semoga para lesbian yang berani hidup ditegarkan dan dikuatkan pada setiap alfabet SepociKopi yang bersinar layaknya cahaya di ujung lorong yang tergelap.

@Lakhsmi, SepociKopi, 2009

26 Comments »

  • reed said:

    saya dan patner saya merupakan salah satu yang tidak lagi pernah merasa sendirian di dunia ini.terima kasih buat semua penulis sepoci kopi.

  • Awani said:

    Dear Lax.. L dan bi adalah sosok rapuh dan berusaha utk tetap tegar di dlm kesendirian nya.. Benar sepocikopi telah membuka mata hati ini..bahwa kita tdk sendiri di dlm kesendirian.. Kita dpt share dan saling support meski hny di dunia maya.. Mana mungkin kita bisa bicara atau share keluar dgn dunia hetero, meskipun mrk org terdekat kt.. Aku merasakan itu semua,dan dlm doaku aku sll berterima kasih ke Tuhan..aku menemukan teman2 senasib yg bebas utk berdialog tentang jati diri L dan itu hanya aku dpt di sepocikopi.. Lax boleh khan aku jg kirim email ke kamu..sbg teman tentunya.tq

  • Dede said:

    Karna Sepocikopi aku berani menjalani smua ini,berani u/ hidup,berani u/ bermimpi,berani u/ menghadapi kenyataan.
    Love u full sepocikopi tempat yg nyaman u/ aku..

    Special thanks to : De Ni & AdeRain

  • mozz said:

    Mungkin dia akan berkata bahwa dia jatuh cinta sama kamu Lakhs.. ^_^
    Terberkatilah kamu sis. From my bottom heart.

  • LigX said:

    tindakan dan pikiran yang sempit menjadi satu alasan terjadi pembunuhan diri sendiri, rasa kesepian sering kali menjadi pemicu lebih baik mati daripada sendiri.
    dont try this at home sist!

  • Arie Gere said:

    Lax,,, esok harinya, yaitu malam setelah kamu cerita ttg almarhum sohibmu itu.. Aku kayak dejavu lax.. Seorang kawan mengabarkan bahwa mantan pacarku baru saja meninggal dunia akibat OD..
    Speechles aku, lax.. Betapa dekatnya kita para lesbian ini dengan kematian..

  • swordy said:

    wow. very very touching, touching story. saya ngerti sih rasanya kesepian itu. mungkin bukan cuma kesepian aja, tapi rasa bahwa kita akan sangat sulit untuk diterima secara liberal oleh orang-orang sekitar kita. rasa bahwa kita tidak akan pernah “merdeka” secara seutuhnya. rasa bahwa kita… berbeda.

  • Tim said:

    I think keputusan wat bnuh dri tu keputusan yg berani,coba byngin gmna rasanya minum baygon,kejang2,sesak napas,mlut kluar busa/bunuh dri loncat dari gedung brtngkat/menyilet nadi,iiihh serem…..
    Dan pemicuny gag cma satu hal tpi dah kompleks,hal trberat krna orientasiny,kluarga yg gag harmonis,lingkungan yg gag welcom,mngkn jga kurang dkat dng tuhan n bla bla……
    Dan kta yg brkumpul d sepoci kopi mari saling menguatkan,saling menyayangi,saling mendoa dan sebarkan kepada sahabat2 lesbian diluar sna ada tempat yg nyaman,hangat,……..SEPOCIKOPI.
    *trima kasih qu untk semua yg tlah menginspirasi…….

  • lifeishappi said:

    hhmmm…hanya perlu berfikir…mengapa kita diciptakan di dunia ini? bahwa semua ada maksudnya, bahkan dengan keadaan kita seperti ini, yang katanya minor. semua pasti ada maksudnya. :) .

  • jameela said:

    selama kematian masih dianggap sebagai akhir, bukan awal dari sesuatu yang lain, selama itu juga bunuh diri dianggap sebagai sesuatu yang tragis oleh orang2 yang merasa hidupnya bahagia. salut bagi para pelaku bunuh diri (kecuali yang bunuh dirinya ngajak2 kayak para teroris sialan itu ya). kalau dah gak betah ya cabut aja.

  • A-rhea said:

    Hidup itu anugerah…..
    seburuk dan sesakit apapun perjalanan hidup yg dijalani belum tentu kematian dapat membuatnya lebih baik.
    Untuk itu teman2 lesbian mari bersama2 kita tetap hidup….
    Tetap hidup untuk berkarya, tetap hidup untuk berbahagia, dan tetap hidup untuk saling menjaga dan memberi arti.
    Thanks Sepoci kopi….

  • Mango said:

    @A-rhea setuju hidup adalah anugrah. Kita harus mencintai hidup bukan membencinya.

    Terima kasih sepocikopi. sudah menemani dan memberikan semangat. Aku juga mau maju dan sukses !!!

    Terima kasih lax yang manis, karena udah menunggu dan menulis cerita-cerita yang menyentuh hati

    HALAH lebay mode on :) )

  • losemygrip said:

    Mnjdi L bkn b’arti stiap hr mmenuhi otak dgn penolakan diri dan kputus-asaan, bkn? T’lalu byk hal mnyenangkn yg mnunggu utk dpikirkn. So, just enjoy ur life, gal!
    Salam persaudaraan buat smua pnikmt SepociKopi. :)

  • keyz said:

    bukan hanya kematian yg rentan dg manusia but gila….
    hal ini pernah sy razakan,,tertekan batin jiwa n raga cz keluarga,but Puji Tuhan bagi mereka yg selalu mendekatkan diri pada Tuhan semua itu akan di jauhkan..

    toek sepocikopi qu berterimakasih cz xan menambah ilmu qu tuk memahami hidup n karakter manusia khususnya kaum Lesbi.

    ^_^

  • Sam_moel said:

    Wow…kayanya smua udah diungkpkn ya sama temen2..jadi binun mo tulis apa lagi. Yang psti aku ga pernah bhenti bsyukur atas kesempatn hidup yang diberi oleh Tuhan dan berkat Sepoci Kopi aku jadi mengerti bahwa hidup trllu brharga untuk disiasiakan…

  • d` said:

    I know how it feels when all go blank, black and none. All alone without one understands you.
    I know how it feels when one listens to you… even though she doesn’t know you at all.

    I still wanna say Thank you. Again, again… Thanks Capt. Thanks for that night, last year.

    Thanks to Sepocikopi. Karena melalui Sepocikopi, malam itu ada orang tersebut mendengarkan aku bersama guntur.

    Keep Rollin`
    d`

  • Sky said:

    Jadi ingat scene film “Milk” ketika dia ditelepon oleh remaja homoseksual yang tidak jadi bunuh diri…^_^

    Dan teringat seorang teman yang akhirnya gantung diri…tidak, dia bukan homoseksual. Tapi konflik dalam keluarga juga sering merenggut harap dan nyawa…

  • De Ni said:

    @ Dede, Thanks De. Aku cuma berharap bisa tetap hadir sebagai sahabatmu.
    Aku juga mau ucapkan Thanks to Lakhsmi, sahabat lesbian pertamaku. Lilin pertamaku dan tikus jagoanku.
    Hari ini aku nangis baca tulisanmu. Ingat waktu pertama kali aku email kamu dan meminta kamu menyuruh Tuhan untuk tersenyum padaku?
    Thanks buat sepocikopi dan semua sahabat penulis yang telah begitu indah mengguratkan senyum di bibirku. Tanpa kalian, mungkin aku hanya menjadi lesbian tidak berguna yang terus menerus meratapi nasib.
    Hari ini hatiku tergetar merasakan betapa berharganya kalian.

  • lolly said:

    Dear lax

    Tulisan yang sangat mengena di hati.

    Terima kasih sudah menulis dan menemaniku, mengusir kesepianku.

    Terima kasih sudah ada buatku.

    Terima kasih untuk segala-galanya.

    Nggak ada kata lain yang bisa terucap lagi cuma semoga kamu dipenuhi berkat.

    GBU lax hidupmu bertabur kebajikan…….

  • Awani said:

    Dear Lax , thanks ya.. Aku senang jg, aku akan kirim email ke kamu..tq

  • Jill said:

    Membaca kisah ini…aku jd tambah bersyukur, dulu aku ditemani oleh seorang sahabat L dlm menempuh masa remaja yg rapuh…meskipun kami jg sama2 bingung tp at least ada tempat curhat hehe

    Dan sekarang, aku ditemani oleh kalian menghadapi dunia yg tentu lbh keras. Thank God i found you…

    Terima kasih Sepoci kopi, para barista dan pembaca setia….kalian adalah sahabat2 ku yg berharga…

    I saw an angel in you…

  • tiek said:

    Kenapa ya seorang lesbian rentan dengan hidupnya? aku sepakat denganmu laks … betapa rapuhnya seorang lesbian yang ditinggal kekasihnya. Mengakhiri hidup adalah jalan yang terbaik bagi mereka, menurut aku masih banyak yang harus kita perbuat agar hidup kita lebih berkenan di hadapanNya.

  • mel said:

    ya…. aku termasuk ke dalam salah satu contoh cerita mbak lakhsmi. keinginan untuk bunuh diri selalu ada yang pemijunya adalah merasa berdosa dan bersalah karena dirinya adalah kenyataannya seorang lesbian. tapi itu dulu, kematangan usia dan pikiran dan juga yang paling utama adalah yang tanpa sengaja aku membaca sepoci kopi ini benar2 telah menghidupkanku kembali. bersama pacar terkasih . . . membuat keinginan untuk bunuh diri sudah di tipe-x dari lembar hidupku… TUHAN MEMBERKATI KALIAN SEMUA YANG TELAH MAU BERBAGI CERITA TENTANG KELESBIANAN MEREKA. satu cerita membuat beribu individu hidup kembali dan SEMANGAT. . . TERIMA KASIH BANYAK SEPOCI KOPI.

  • EmbunPagi said:

    Thanks, Laks…
    tulisan ini sudah menguatkanku. GBU

  • dombagendut said:

    bunuh diri harus di pikirin lagi. ngapain enak aja bunuh diri, dihh, si situ enak2an seneng2an maen cewe, kt yg mati. RUGI!

    OD? yang rusak siapa? diri sendiri. we’re big enough to know which one is right which one is wrong.

Leave your response!

Ruang komentar adalah ruang yang memberikan perhormatan tinggi kepada kaum lesbian. Silakan gunakan kata "lesbian" atau "lesbi" dengan tepat, bukan dengan kata-kata lain yang melecehkan. Komentar dengan bahasa alay, singkatan, dll, tidak diperkenankan. Terima kasih.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.