Home » God, Humaniora

Tanda Kemenangan dalam CintaNya

25 August 2009 41 views 15 Comments

010fd2bca064a9b489ffadc8647b421cOleh: Bening

Seorang sahabat mengirimkan pesan singkat berupa pertanyaan yang sangat singkat. Hanya empat kata. “Apakah puasa itu, Kak?”

Aku tercenung. Pertanyaan itu seharusnya sangat mudah untuk dijawab. Tapi entah mengapa aku yakin bahwa “puasa itu adalah menahan haus dan lapar” bukanlah jawaban yang ingin dia dengarkan.

Percaya atau tidak bahwa tidak ada hal yang kebetulan? Aku percaya bahwa selalu ada tangan Tuhan dalam setiap kejadian membuat aku meyakini bahwa SMS yang baru saja kuterima adalah hasil campur tangan Tuhan. Tuhan jualah yang menggerakkan jemari sahabat yang kusayang untuk mengirimkan SMS tersebut. Dia mungkin tidak pernah tau, bahwa kenyataannya pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang seharusnya kuajukan pada diriku sendiri.

***

Aku belajar melaksanakan ibadah puasa sejak umur enam tahun. Mulai dari puasa untuk memperoleh keuntungan (aku menerima “upah” sepuluh rupiah untuk puasa sehari penuh), puasa agar mendapat baju Lebaran, atau puasa agar buku Ramadhanku penuh. Dalam usia yang muda, aku belum bisa menerima konsep abstrak tentang dosa dan pahala. Aku bisa berlaku curang, minum air keran untuk menghilangkan dahaga tapi berpura-pura masih puasa. Tidak ada yang tau, upahku pun utuh. Ketika guru mengajiku berkata “Tuhan Maha Tahu”. Badungnya, dalam hati aku menambahi “Iya, tapi Tuhan nggak akan bilang-bilang kan”.

Jauh sesudah hari itu, aku baru bisa menyadari bahwa Tuhan nggak memberitahu kecurangan dan kenakalanku karena dia teramat menyayangiku, memberiku waktu dan kesempatan untuk belajar dari kebodohanku.

Beranjak remaja, konsep materialistisku dalam menjalankan ibadah puasa perlahan memudar seiring pengetahuan agama yang kuperoleh di sekolah. Aku tetap berpuasa meski tidak mendapat upah. Tapi sayangnya hanya sekedar melepaskan kewajiban, atau agar tidak malu pada teman-teman. Puasa yang hanya sekedar menahan lapar dan dahaga, menahan dari hal-hal yang membatalkan puasa. Segala hikmah puasa yang dijanjikan oleh para ustadz saat kultum di masjid efeknya hanya bertahan hingga selepas Lebaran.

***

Butuh waktu bertahun-tahun untuk mendapatkan secercah kesadaran. Perlu keheningan yang jernih untuk dapat mendengar kata hati, bahwa pada titik tertentu, ada kejenuhan pada ibadah yang hanya berupa ritual tanpa makna. Kenyataannya, sungguh cinta dan kebersamaanku dengan kekasih mengajarkanku banyak hal.

Kekasihku menganut agama yang minim ritual, tapi ingatannya tidak lepas dari Tuhan. Sementara aku lebih sering seperti robot yang diprogram tanpa mengerti apa yang dilakukan. Aku malas berdzikir dan berdoa dengan dalih lidahku sulit melafalkan bahasa yang tidak kumengerti, sementara kekasihku mengingat Tuhan pada setiap kesempatan, dengan bahasa yang ia mengerti. tapi kadang kulihat ia berdoa dengan bahasa yang tidak dia akui, tidak ia mengerti namun dia yakini betul bahwa Tuhan memahami ucapannya. Begitu sederhana namun mengena.

Hal ini di perparah lagi dengan perasaan tidak pantas menghadap Tuhan, dipenuhi perasaan bersalah dan bergelimang dosa sebagai lesbian. Aku memalingkan wajah, pura-pura tidak melihat Tuhan yang menungguku untuk menyapaNya. Aku merasa hanya orang yang bersih yang patut hadir di hadapanNya. Dan perasaan ini justru membuatku perlahan-lahan menjauh dan semakin jauh.

Tapi dari kekasih, aku belajar memandang dari sisi yang berbeda.

“Tuhan tidak pernah menutup mata. IA ada dengan tangan terbuka. Menyambut siapa saja yang percaya bahwa ia memiliki segala sifat kemuliaan,” katanya.

Ucapan kekasih mengingatkanku pada ucapan guru agama di sekolah menengah dulu, bahwa dalam sebuah hadits, Allah berfirman, “Aku seperti persangkaan hambaKu kepadaKu, dan Aku beserta hambaKu bila ia (berdoa) memanggilKu.”

“Jika ia mendekatkan diri kepadaKu sejengkal, maka Aku dekati ia sedepa, bila hambaKu mendatangiKu dengan berjalan, maka Aku datangi ia dengan lari.”

Aku bodoh, terlalu rendah memandang Tuhan dengan ukuran kemanusiaanku. Ia Mahatinggi, Tuhan dari segala umat dan Tuhan lesbian juga.

Aku bodoh, bila berpikir bahwa berpaling dari-Nya akan menyelesaikan masalah perasaanku yang nggak ada juntrungannya. Ternyata aku hanya perlu melangkah dan terus berjalan menghampiriNya sebab itulah hakikat ibadah sebenarnya, upaya mendekatkan diri pada Tuhan.

***

Hampir setiap agama memiliki ritual puasa. Umat Kristiani berpuasa pada Rabu abu, Jumat Agung, serta puasa Eukaris. Umat Yahudi berpuasa puasa hari besar Yom Kippur dan Tisha B’Av. Umat Hindu menjalankan puasa Nyepi dan Siwa Ratri. Sami Buddha dari mazhab Theravada berpuasa pada hari-hari suci (Uposatha) pada setiap bulan. Meski berbeda aturan dan tata cara, hampir semua memiliki kesamaan tujuan yaitu upaya melatih pengendalian diri.

Aku salah satu manusia yang keras kepala, meski takut-takut seringkali aku tunduk ajakan setan untuk membangkang perintah Tuhan agar taat pada aturan main yang Ia tetapkan sebagai syarat mutlak untuk tetap menjadi hambaNya. Aku sering sok nggak butuh, sementara setiap partikel oksigen yang kuhirup adalah milikNya. Ajaibnya setiap menjalankan puasa, dalam kondisi tubuh yang lebih lemah dari biasanya aku justru bisa lebih penurut pada aturanNYA, mendadak entah darimana dengan tubuh yang lemah justru aku lebih kuat untuk menolak bisikan setan untuk melalaikan ibadahku.

Aku belajar mengendalikan sikapku yang suka meledak marah untuk urusan sepele, berlatih menjadi santun menjaga lidah, mata dan pikiran dengan harapan nilai ibadahku tetap terjaga. Entah mengapa pula setiap puasa tubuhku lebih mudah diajak untuk beribadah dan mencicipi manisnya berdekatan dengan Tuhan, yang membuatku kadang berharap, andai setiap bulan adalah Ramadhan…

***

Aku bersyukur untuk anugrah satu bulan berpuasa di bulan Ramadhan, bulan yang memberi kesempatan padaku untuk bersemangat beribadah dengan orang-orang disekeliling. Bulan dimana ibadah terasa begitu mudah untuk dijalankan. Meski sebelas bulan berikutnya aku mungkin akan kembali tersendat, tertatih merangkak mendekat padaNya. Aku tidak akan berhenti berdoa agar Tuhan menganugerahiku berkat agar mampu menikmati nikmatnya berpuasa, serta memohon umur yang panjang agar kembali bertemu dengan Ramadhan berikutnya.

@Bening, SepociKopi, 2009

15 Comments »

  • LigX said:

    amien.. sebuah doa.

  • uli said:

    Hmm….menyentuh banget….

  • tiek said:

    Misteri hidup inilah yang kita imani, kita yakini, dan kita jalani setiap hari. Tuhan tidak pernah kita lihat namun kita meyakini bahwa Tuhan akan mendampingi dan memberkati hidup kita setiap hari.
    Bukan berapa lama kita harus hidup di dunia ini, tapi terpenting seberapa buah yang bisa kita hasilkan untuk memberikan inspirasi bagi orang lain.

  • cha_ca said:

    Wah dlm bgt nih tulisanny..kdg q jg merasa gak pantas b’sujud d hdpNya hny krn q seorang lez.tp mang tiap org py jln snd wat b’kmnkasi dgn tuhanny..lam knl ya kak.

  • losemygrip said:

    Selamat menunaikan ibadah puasa bagi teman2 L yg menjalankannya..

  • mozz said:

    Ning..tulisan kamu ternyata masih tetep seperti yang sudah-sudah..bening, seBening embun.

  • Yue said:

    Tuhan tak pernah pilih kasih. Dia sangat mengasihi setiap pribadi yg diciptakan-Nya, termasuk lesbian. Dia sosok sahabat sejati yang takkan pernah meninggalkan kita dalam kondisi apa pun. Dia selalu merindukan kita untuk berada dekat-Nya,bersandar pada-Nya,menyapa-Nya,dan mencurahkan isi hati kita pada-Nya. Semoga ibadah puasa ini menjadi ajang bagi setiap pribadi untuk semakin mendekatkan diri pada-Nya, Sang Pemberi Kehidupan. Selamat berpuasa.

  • Sam_moel said:

    Amin sis…setuju bgt n gw bgt isina..*menunduk dlm2 cuz malu ma Yg Di Atas…
    @mozz…kangen neh..

  • Maly said:

    Bahgia sekali menjadi insan yang terpilih…
    Berbahgialah memilih jalanNYA
    Doa buat kamu,aku dan mereka agar
    tetap dan akan selamanya menjadi pilihanNYA

  • De Ni said:

    Aku sangat terpuaskan oleh tulisan ini kak.
    Makasih buat tulisannya yang indah…
    Selamat menunaikan ibadah puasanya yha kak.
    SEMANGAT!!!

  • Arinie said:

    Thanks bening, tulisan yang mencerahkan dan menyentuh, selamat menjalankan ibadah Ramadhan, semoga kita masih diberi kesempatan menyelesaikan satu bulan ini dnegan kualitas yg lebih baik dan semoga kita jumpa lagi dnegan Ramadhan tahun depan :)

  • tiek said:

    Teman-teman Lesbian selamat menjalankan ibadah puasa, Yue topmarkotop komen mu

  • Putri said:

    Tuhan melihat hati kita, kemurahan dan anugerahNya tak terselami … Selamat menjalankan ibadah puasa …

  • hujan said:

    bening, mengingatkanku pada doa yang dibisikkan dalam sujud terakhirnya, doa yang dilantunkannya saat tangannya terangkat keatas dab memohon padaNya tentang keselamatanku dan kebahagiaanku, membuat aku kembali menapaki jalan bersamanya meski perlahan

  • Mango said:

    Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya

    Marhaban ya ramadhan……..

    semoga kita para L diberi ridho-Nya amin

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.