Tajuk: Keikhlasan Ramadhan dan Kita
Oleh: Nuha Guwa
Udara panas menggelegak. Debu jalanan menyeruak setiap kali kendaraan melewati jalan. Semua ingin cepat, semua tak mau berlambat-lambat. Pengendara sepeda motor, pegawai, tukang ojek terburu-buru kembali ke pangkalan. Deru bis menggebu, mengusik gemuruh jantung. Pemanasan global membuat suasana menjadi sumpek dan semraut. Bulan puasa menambah keadaan menjadi berat. Mulut kering, tenaga terpanggang terik mentari. Inilah saatnya ketakwaaan dicoba.
Di kantor, suasana terlihat tak seperti biasa. Tumpukan file dan klien yang harus ditemui ternyata tidak sedikit. Bisnis menunggu. Toko harus dibuka. Tubuh bergumul dengan adaptasi pertukaran jadwal makan dan tidur. Beberapa restoran mengatur shift pegawai untuk menjaga toleransi di antara para pekerja, demikian juga salon, klinik kulit, toko roti, dokter gigi, minimarket, dan lain-lain. Para pemiliki toko dan pengusaha bisnis mulai memperhitungkan biaya Tunjangan Hari Raya yang akan segera didistribusikan kepada karyawan mereka.
Teror bom bunuh diri baru saja meninggalkan kita. Sisa rasa mencekam masih membekas para keluarga korban. Kita mulai memasang pagar-pagar keamanan di mana-mana, meningkatkan kewaspadaan. Siapa saja yang sudah direkrut sebagai “calon pengantin” selanjutnya? Wajah-wajah buronan bertebar di mana-mana, menjadi ajang obrolan masyarakat satu sama lain. Gambar-gambar itu disimpan di memori pikiran. Entah apakah ada kemungkinan bertemu dengan orang yang mirip tercetak dalam gambar itu. Keinginan untuk membesarkan kehidupan rohani menjadi keengganan, misalnya memakmurkan mesjid dengan sedekah. Oh, jangan-jangan salah orang; imamnya adalah salah satu penggerak mesin pembunuh.
Pindahlah ke bangsal rumah sakit tempat isolasi para pasien pengidap virus H1N1. Para perawat melayani mereka dengan berpakaian ala astronot dan telah mendapat suntikan anti-virus. Kedalaman iman dan panggilan moral meneguhkan diri bahwa melayani pasien sudah menjadi sumbangsih mereka, berasal dari talenta yang telah dititipkan Allah. Tengok ke teman-tempat lain, para pemadam kebakaran yang berjaga 24 jam, polisi yang mengatur lalu lintas di bahwa sengatan matahari, pilot yang menembus dimensi waktu di langit tinggi, sampai penjaga gerbang rel kereta api. Semua bekerja walaupun dalam keadaan puasa.
Inilah perjalanan kita dalam menyongsong harapan, kebersihan hati, dan keikhlasan diri di bulan suci Ramadhan 1430 Hijriyah. Kesempatan sekali lagi untuk meneguhkan keimanan kepada Tuhan yang Mahaperkasa. Masa puasa adalah waktu melatih kepekaan, kepedulian, kedisiplinan, termasuk pengkontrolan diri baik spiritual maupun fisik. Selama satu bulan kita mendapat kesempatan berlatih menghindari perbuatan-perbuatan keji dan buruk. Waktu untuk mengoreksi diri sebab tak ada kesalahan yang tidak bisa diperbaiki.
Ramadhan membawa berkah. Segala yang dilaksanakan berasal dari hati akan kembali lagi di hati. Tak hanya bagi umat muslim, namun juga bagi seluruh umat manusia di bumi. Inilah rahmat bagi alam semesta. Semoga para manusia yang berpuasa – baik di bulan Ramadhan atau bulan-bulan suci lainnya pada agama lain – menumbuhkan rasa cinta kasih di antara sesama. Menularkan kebeningan dan kebersihan jiwa. Menciptakan perdamaian. Menghasilkan kemajuan bagi peradaban dan humanisme.
Mari kita kembangkan semangat persaudaraan. Bersilaturahmilah, tinggalkan sikap-sikap cinta duniawi yang penuh kisruh dan buruk sangka. Mari menahan diri dari setiap godaan. Berikan maaf selapangnya kepada mereka yang pernah menyakiti. Selamat datang ya Ramadhan. Secelah sinar yang menyejukkan di bulan penuh sukacita akan menjadi air hujan bagi mereka yang kekeringan dan dahaga. Bagi aku, kamu, dan kita, lesbian semuanya.
@Nuha Guwa, SepociKopi, 2009











Selamat berpuasa, semuanya… Mari menggantungkan harapan bersama…
Doa buat kamu Nuha,aku,mereka dan para lesbian
Amiiinnn…
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com