Home » Humaniora, Spiritualisme

Spirituality, A Beautiful Mind

Submitted by on 12/08/2009 – 12:54 pm14 Comments | 582 views

Oleh: De Ni

Apa itu spiritualitas? Untuk menemukan jawabnya, mari aku ceritakan tentang salah seorang sahabat lesbianku yang beberapa waktu lalu berlibur ke sebuah daerah di Sumatra Barat bersama partnernya. Sepulang liburan, sahabatku membawa oleh-oleh berupa foto-foto liburannya. Saat aku mengomentari sepotong foto air terjun Lembah Anai yang sangat indah, sahabatku itu berkata, “Kami sampai tidak tahu bagaimana mengungkapkan kekaguman pada Tuhan saat melihat air terjun itu.” Dan aku menyebut sahabatku dan partnernya sebagai manusia yang memiliki spritualitas tinggi.

Spiritualitas adalah riak getar terhadap keberadaan Tuhan yang muncul dalam hati. Spiritualitas bukan sebuah kegiatan keagamaan; spiritualitas adalah sebuah rasa, sentuhan yang membawa kesadaran dan kekagauman terhadap Tuhan yang tumbuh dalam hati kita. Spiritualitas muncul dalam hati secara alami hingga jiwa spiritualitas menjadi jembatan yang memampukan manusia berjumpa dengan Tuhan dalam nuansa religius. Riak getar dan rasa ini memang sulit untuk dinalarkan secara logis.

Tidak semua orang yang rajin melakukan kegiatan kerohanian atau aktivitas kepatuhan religi yang tinggi berarti memiliki spiritualitas yang besar. Sebab spiritualitas bukan cuma simbol-simbol keagamaan atau kegiatan-kegiatan ibadah yang lahiriah. Spiritualitas lebih berfokus kepada sentuhan hati dan akal budi. Misalnya, ketika kita melipat tangan dan menutup mata saat berdoa. Itu adalah kegiatan beribadah yang lahiriah; adalah tata cara dan gerak fisik yang melibatkan tubuh. Nah, hati yang hancur dan jiwa yang haus akan Tuhan saat berdoa adalah spiritualitas. Atau saat kita berzikir, duduk bersila dan memegang tasbih adalah kegiatan ibadah yang lahiriah, tapi menyebut nama Tuhan dengan sikap hati yang penuh kerinduan, kepasrahan, dan sepenuh hati dalam pemujaan kepadaNya adalah spiritualitas.

Ada banyak orang yang melakukan ibadah secara lahiriah, tanpa spiritulitas. Ada yang sembahyang, tapi hatinya tak sepenuhnya tertuju kepada Tuhan. Ada yang menyebut dirinya beragama, tapi pikirannya melayang-layang. Maka tidak aneh jika dalam sebuah rumah ibadah, ada orang yang bisa dengan begitu hikmat berdoa tapi ada pula yang celingungkan ke kanan-kiri nggak jelas. Mengapa demikian? Karena kegiatan rohani yang dilakukan hanya sebatas kepada kegiatan lahiriah dan tidak melibatkan hati dan pikiran yang mampu mempertemukan manusia dengan Tuhan.

Spiritualitas bersifat universal, maksudnya jiwa ini tidak dimiliki oleh satu denominasi agama. Jiwa ini dimiliki oleh siapa pun, bahkan bisa juga dimiliki oleh orang yang tidak taat beribadah. Jiwa ini tak mampu dipelajari oleh ilmu theologia sekali pun. Jiwa ini hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang benar-benar mengagumi Tuhan, bukan mengagumi ritual-ritual ibadah. Jadi, jika manusia-spiritual beribadah, mereka akan dengan mudah menemukan Tuhan. Saat beribadah, jiwanya mudah tersentuh oleh aliran kasih Tuhan. Akal budinya mudah terharu oleh kebaikan Tuhan. Ia rindu berdoa, sembahyang, salat, dan berdzikir bukan untuk mengejar keberuntungan pahala melainkan karena ia mencintai dan merindukan Tuhan.

Seseorang yang memiliki spiritualitas akan mampu menemukan Tuhan di mana pun dia berada. Bagi mereka, Tuhan bukanlah pribadi yang hanya bisa ditemui di rumah ibadah atau di tempat-tempat khusus lainnya. Orang-orang yang memiliki spiritualitas akan mampu menemukan Tuhan dalam setiap sisi hidupnya. Ia bisa menemukan Tuhan dalam hangatnya matahari pagi, sejuknya udara malam, indahnya bunga mawar, awan putih yang menyulam langit, rintik hujan, bintang malam, ombak laut, indahnya air terjun dan menawannya pegunungan, tawa sahabat-sahabat sejati, perbuatan baik para tetangga, dan setiap karya tangan manusia. Bahkan ia juga dapat menemukan Tuhan dalam segala sukses atau cobaan dan masalah. Sebab orang yang memiliki spiritulitas yang tinggi akan memuja Tuhan saat ia berhasil dan akan berserah kepada Tuhan saat ia gagal.

Lalu bagaimana dengan perjalanan spiritualitas lesbian? Sekali lagi aku katakan bahwa spiritualitas bersifat universal. Jadi tentu lesbian juga adalah orang-orang yang bisa mencintai Tuhan dengan cinta yang sangat besar. Namun terkadang perjalanan spiritual lesbian terhenti pada sebuah perasaan bersalah, tidak layak, kotor, berdosa dan dursila. Semua perasaan ini memang bisa menghentikan perjalanan spiritual lesbian tapi tidak bisa memusnahkan jiwa spiritualnya. Maksudnya, perasaan bersalah ini memang bisa membuat lesbian berhenti mencari Tuhan, berhenti beribadah kepada Tuhan, dan berjalan menjauh dari Tuhan, namun perasaan bersalah ini tidak akan pernah dapat memusnahkan kecintaannya kepada Tuhan sebab sejauh apa pun lesbian berusaha lari dari Tuhan, spiritualitas itu akan mengejarnya, hati kecilnya yang terus-menerus berteriak mencari Tuhan. Kecintaan dan kerinduan kepada Tuhan akan mempertemukannya kepada Sang Khalik.

Sehingga jiwa spiritual itu akan menjadi pendorong kuat yang akan memaksa lesbian untuk menemukan dan mencintai Tuhan dengan versinya. Ingat! Versi kita, versi lesbian. Maksudnya begini, mungkin menurut agama yang kita anut, menjalin hubungan dengan partner adalah sebuah kesalahan dan dosa. Ya, mungkin kita memang berdosa, tapi kita tetap bisa mencintai Tuhan dengan versi kita. Bagiku cara mencintai Tuhan dalam versi lesbian adalah mencintai partner dengan segenap hati tanpa meninggalkan kecintaan kita kepada Tuhan. Kita tetap berdoa, beribadah dan melayani Tuhan bersama. Juga sebisa mungkin kita menjaga hubungan yang baik dengan sesama, melakukan hal-hal yang menyenangkan hati Tuhan, saling membangun, saling setia, saling menjaga dan berusaha saling membahagiakan. Menjadi lesbian bukanlah alasan untuk menghentikan perjalan spiritual kita.

Mari kuakhiri tulisan ini dengan sebuah cerita. Aku memiliki saudara sepupu bernama Ike. Sudah hampir 5 tahun kami tidak pernah bertemu. Beberapa minggu lalu aku dengar dia sakit parah, jadi aku memutuskan untuk menemuinya. Ternyata ia menderita penyakit TBC tulang yang membuat kakinya lumpuh dan perlu ditopang oleh kursi roda. Aku sangat terkejut, namun rasa ini lebih teriris ketika aku melihat bahwa dalam kecacatannya, sepupuku tetap berusaha sekuat tenaga mengajar anak-anak kecil di gereja yang jaraknya 15 km dari rumahnya. Saat itu, aku bertanya mengapa dia tetap mengajar dalam kondisi seperti itu? Penahkah dia merasa kecewa dan ingin lari dari Tuhan? Dengan yakin dia menjawab, “Tuhan nggak pernah mentolerir kepada kita dalam hal beribadah kepada-Nya, baik cacat maupun normal, menyembah Tuhan tetap menjadi kewajiban.” Perkataannya bagaikan mutiara bagi jiwaku, baik lesbian atau pun bukan beribadah dan menyembah Tuhan tetaplah menjadi sebuah kewajiban.

Aku menatapnya dalam, Ike menarik nafas. Tangannya memegang pergelangan tanganku erat “Jujur, dulu aku pernah marah sama Tuhan. Pernah sedih, kecewa. Aku masih terlalu muda buat duduk di kursi roda ini. Aku pernah setahun nggak mau ke gereja. Tapi aku nggak pernah bisa membohongi hati kecilku. Ada sebuah rasa dalam hati yang terus memanggilku untuk kembali ke gereja, kembali pelayanan. Aku nggak tahu apa namanya perasaan ini.”

Aku memeluk sepupuku dari belakang. Kudorong kursi rodanya. Kami berjalan bersama menyusuri rerumputan di depan gerejanya. Di hadapan Tuhan, dunia dan kehidupan yang telah mengajariku banyak hal, kubisikan di telinganya “Itulah spiritualitas, nokmah penting kemanusiaan kita, dalam hati dan pikiran yang terhubung dengan Yang Maha Segala!”

@De Ni, SepociKopi, 2009

Tags:

14 Comments »

  • dimii says:

    ah, jadi malu sm diri sendiri..
    aku trmasuk org yg rajin beribadah, tp jg ga bs dibilang punya tingkat spiritualitas yg tinggi…karena ya itu dia..
    ibadahku msh saja tidak melibatkan hati dan jiwa, seharusnya saat beribadah itulah aku berdialog khusuk dgn sang Khalik, tapi kenyataannya ibadahku msh hanya sebatas gerakan tubuh..

  • Lakhsmi says:

    @athe: Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), ejaan yang tepat adalah SALAT, bukan SHOLAT. Soal koreksi, yang melakukan editing tulisan adalah editor redaksi, bukan penulis yang bersangkutan.

  • athe says:

    @ De ni …..: Sholat bukan salat…….Dikoreksi ngga pa pa kan!!!!

  • tiek says:

    “Segala sesuatu diperbolehkan. Benar tapi bukan segala sesuatu berguna. Segala sesuatu diperbolehkan. Benar tapi bukan segala sesuatu membangun”
    Jangan hanya memikirkan kesenangan sendiri. Hidup sebagai lesbian artinya mendahulukan kesenangan orang lain terutama kekasih, di atas kesenangan sendiri.

  • Sam_moel says:

    @Hujan…koq lo ikutn nampar gw jg….hiks…hiks but tq so very much…
    @Mozz…amin.. Pa kbr sby…dah dpt club camilan nya?

  • Mango says:

    speechless gue. Langsung berkaca-kaca…… hiks ingat Tuhan…..

  • Awani says:

    @ mozz .. Amien.. GBU all.

  • mozz says:

    Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. (Matius 7:7-8). Marilah mengundang Tuhan dlm stiap detik hidup kita & jangan whatir ato takut, karena : Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba. (Yesaya 1:18). Mengucap syukurlah atas sgala hal, karena smua akan dtambahkan kpdmu. amin sodara sodara..haleluya !!! ( Khotbah mode: on :) )

  • A-rhea says:

    I love Ur article De Ni……
    aku bukan orang yg religius tapi secara pribadi merasa punya spiritualitas yg tinggi. sayangnya orang disekitarku (yg cenderung fanatik) kadangkala menganggab aq atheis hanya karena tidak pernah melihatku melakukan kegiatan kerohanian/ibadah.
    but whatever lah, yang jelas aq selalu menyimpan Tuhan dalam hidupku.
    God bless U all…..

  • Dede says:

    Aku suka tulisan km den,memberi pencerahan
    ^_^

  • Hujan says:

    @sam_moel kpn ya dapet ilham itu gak pasti,bukan?

    dan lebih baik mencari

    karena apa yang kita usahakan itu lebih bertahan lama dari sekedar yang diberikan

    gak harus nunggu tua sampe dapet ilham kan?

  • Awani says:

    Tuhan ada di hati juga ada di jiwa kita yg terdalam dan ada di pikiran kita dan Tuhan ada di dalam seluruh kehidupan kita.. Krn Dia selalu dan tetap mengasihi kita.. Apa dan siapapun kita.. God always love you…

  • Sam_moel says:

    Den…tulisan lo x ini dlm bgt…serasa dtampar gw.
    Slama ini gw cm b’ibadah lahirnya tanpa m’lbtkn hti dan pkrn krn gw ngrsa ga pntas bhdpn dng Tuhan…
    Kpn y gw dpt ilham…

  • angel says:

    semuanya kembali kepada diri masing2 bagaimana cara kita beribadah kepada Tuhan sesuai dengan hati nurani dan keyakinan,

    Nice Article De, :)

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.