Home » Humaniora, Opini

LDR: Kenyataan Maya yang Tak Nyata

11 August 2009 179 views 27 Comments

ldr__s_best_friend_by_see_car_runOleh: Arie Gere

Loan to Deposit Ratio? Loan to Debt Ratio?
Oh, bukan. LDR yang dimaksud dalam tulisan ini adalah Long Distance Relationship, atau sebuah jalinan hubungan di mana kedua manusia terpisah oleh jarak yang cukup jauh dan menjalani kehidupan sehari-hari pada lokasi (baca: kota) yang berbeda. Seberapa dekat LDR dengan kehidupan kaum lesbian itu sendiri? Cukup dekat, bahkan mungkin bersahabat sangat erat. Bagi sebagian besar lesbian, LDR bukanlah menjadi hal aneh yang mesti dipusingkan keberadaannya. LDR itu berjalan bersisian dengan kaum lesbian, menciptakan hubungan abstraks setengah-maya-setengah-nyata, mengalirkan energi cinta serta sengatan listrik asmara di sekujur tubuh para penikmat LDR.

Sebagaimana sifat umum perempuan yang tercipta sebagai makhluk berhati lembut, pemalu, dan menutup diri dari dunia luar, tak heran bila pertemuan lesbian kebanyakan  dilakukan melalui jendela dunia maya. Kekurangan informasi mengenai orientasi seksual telah membuat para pencari cinta sesama jenis berbondong-bondong memasuki gemerlapnya dunia maya lesbian tanpa mengetahui efek candu yang terjadi sesudahnya. Interaksi antar-lesbian tercipta, konferensi dunia maya dilahirkan (lagi dan lagi), pertemuan sepasang pencinta akhirnya tak dapat dihindarkan. Seakan tak perduli di mana lokasi keberadaan lesbian tersebut, hubungan seperti itu tetap ngotot terjalin, memuntahkan sebuah hubungan ajaib yang disebut dengan LDR. Apakah ini yang namanya dengan takdir cinta? Atau jodoh?

Pengalaman hidup sebagai seorang lesbian menurutku adalah sebentuk pilihan yang gampang-gampang-susah. Yah, gampang menemukan teman senasib sepenanggungan atau saudari sehati sejiwa, namun susah mendefinisikan siapa sebenarnya lawan dan siapa yang memang benar-benar kawan. Eh, bukankah dunia hetero juga seperti ini? Tapi inilah yang membuat sebagian besar lesbian menolak berinteraksi berlebihan di dunia kabel yang belum tentu jelas. Mereka lebih menyukai jalinan pertemanan nyata di lingkungan sekitar, sambil berharap menemukan cinta sejati di antaranya. Atau yang terjadi malah sebaliknya, karena tak nyaman bertemu dengan lesbian nyata, maka diperkuatlah jaringan pertemanan maya di mana-mana.

Bagi saya, konsep hubungan adalah terlibat dengan seseorang yang nyata untuk disentuh dan dipeluk, sungguh-sungguh hadir mengarungi samudera hidup yang luas. Yang terasa nyata untuk dicium sebagai pertanda kasih yang benar-benar tulus; nyata untuk disetubuhi sebagai ungkapan cinta yang tak berkesudahan, dan selalu bersama di dalam suka atau duka. Namun bagi lesbian lain yang mendapatkan kekasih dari dunia maya, mereka seolah mengabaikan lingkungan yang ada di sekitarnya. Pilihan itu biasanya (mungkin karena) bercampur dengan rasa takut atau tidak nyaman yang terus berkecamuk di dalam jiwa, bila kekasih benar-benar nyata di sampingnya. Tudingan masyarakat dan agama dapat menjadi momok yang menakutkan jika yang maya ditarik ke dunia nyata.

Katakanlah begini, saya seorang perempuan lesbian berumur di atas 30 tahun, memiliki karir dan masa depan yang cerah, jabatan dan posisi yang menggiurkan banyak orang, namun tentu saja, saya tidak berniat untuk menikahi seorang laki-laki mana pun. Lalu, apa kata dunia, bila saya hidup serumah dengan seorang perempuan cantik, atau paling tidak, berhubungan sangat erat dengan seorang perempuan cantik yang berstatus lajang sama seperti saya? Lingkungan, keluarga dan tetangga, akan mencap saya sebagai lesbian, sebuah cap yang sejujurnya sangat saya hindarkan dari pergaulan saya. Dan karena itulah, saya memilih untuk menjalin hubungan LDR dengan perempuan pilihan yang saya cintai, di mana pertemuan itu hanya dilakukan sekali seminggu, atau, dua kali seminggu, sekali sebulan, atau jangan-jangan hanya setahun sekali saja. Mungkin hubungan seperti ini, bertahan lebih awet daripada hubungan pasangan non-LDR yang setiap hari bertemu, namun selalu dibumbui dengan pertengkaran.

Konsep lainnya bisa terjadi seperti ini. Saya adalah seorang Mombian dengan lima orang anak, namun tak dapat memungkiri bahwa hati dan fisik saya haus akan belaian seorang perempuan. Lalu, saya tidak ingin berpisah dengan suami dan anak-anak karena tidak ingin mewujudkan keinginan yang dianggap menyimpang bagi mayoritas masyarakat. Kemungkinan pilihannya adalah saya menjalin hubungan LDR dengan perempuan lain, namun tetap mempertahankan rumah tangga saya dengan baik. Konsekuensinya jelas, pertemuan sesekali dengan perempuan saya itu sudah cukup mewakili kerinduan yang berkali-kali muncul dalam benak saya. Menurut saya, hubungan emosi dan perasaan jauh lebih pekat daripada hubungan seks yang bisa membutakan mata-hati saya.

Baiklah, bagaimana dengan para lesbian muda yang sebenarnya tidak punya beban apa pun selain tanggung jawab moral kepada diri sendiri dan masa depan? Lalu kenapa harus memilih dengan ribetnya sebuah jalinan LDR yang (mungkin) sama sekali tak memiliki masa depan yang nyata? Mengapa tidak membuka mata dan pikiran bahwa masih banyak lesbian baik-cantik-sehat yang belum tersentuh di sekitar kita? Oke, bila ada yang mengatakan LDR itu memang hanya bersifat sementara, buktikan dengan nyata bahwa kamu bisa berada di samping kekasihmu suatu saat nanti, dimulai dari sekarang. Buktikan, bahwa kau bisa menjaga kekasihmu dari ketakutan, kesendirian, dan kerinduan yang mencekam. Buktikan dengan nyata, bahwa kau, memang benar-benar tercipta untuk menjaga kekasihmu. Buktikan dengan sikap dan perbuatan, bukan hanya dengan kata-kata. Jangan hanya menjadikan LDR sebagai korban cinta, namun tak berani bertanggung-jawab dengan segala konsekuensinya. Maka patut dipertanyakan, apakah LDR itu memang sebuah kenyataan maya yang tak bisa menjadi nyata? Atau jangan-jangan, LDR juga semacam permainan cinta saja.

@Arie Gere, Sepocikopi, 2009.

27 Comments »

  • Mango said:

    My babe ku sudah pasti nggak maya tapi nyata dong. Malas banget sih kalau cuma bisa maya doang. Babe I love you !!senang banget kita selalu bisa ktemu kapan aja dan di mana aja.

    Arie salam kenal. setuju banget ama tulisan kamu !!!!!

  • LigX said:

    LDR meradang dimana2, berbagai pertemanan maya, berbagai jalinan hubungan lesbian yang dibuat beberapa kelompok dan situs2 pertemanan maya membuat mudahnya menjalin hubungan LDR.
    Selalu bertanya pada teman-teman yang menjalin LDR “pacaran sama orang atau pcaran m kompie ato hp??” tak prnah ada yg mnjwab scra jlas… nice topik arie :)

  • Rafi said:

    Kalo seandainya semua masalah LDR hanya sebatas urusan jarak, pasti my princess udh gw jemput dr 6thn yg lalu…kalo perlu pesawatnya gw suruh parkir depan rumahnya (hahaha…lebay-lebay deh :p )… Sayangnya gak se-simple itu rie ;)

  • gian said:

    Bagiku LDR malah menyiksa perasaan dan pikiran. aku pernah di tembak seorang perempuan yang sering curhat padaku dan berniat menjadikan aku kekasih walaupun jarak antara aku dengannya sumatra dan jawa. bukannya aku menolak karena memang dia cantik, tapi apa yang di harapkan dari LDR?

    No touch, No kiss, no everything yang ada hanya kata-kata gombal untuk meyakinkan pasangan bahwa kita cinta dan sayang pada pasangan. itu menurutku

    Bukankah sebuah hubungan di butuhkan ketika kita bisa bersamanya di saat suka dan duka? lalu bagaimana kita bisa tahu kalau pasangan kita lagi senang atau sedih kalu kita jauh dari sampingnya?

    bisakah kita menghapus air matanya ketika dia menanagis? bisakah kita melihat senyumnya ketika kita dia bahagia?

  • angel said:

    @arie, aku kurang setuju klo kmu bilang LDR cm semacam permainan cinta.

    Aku menjalani LDR selama 1 thn dan hanya ketemu dgn partnerku 1 kali saja dan kami saling mencintai dengan tulus dan penuh kepercayaan satu sama lain.

    kurang dari 2 minggu aku akan buktikan bahwa aku bertanggung jawab dan sungguh2 mencintai pasanganku dengan mengorbankan keluarga, karir dan pekerjaanku demi menggapai cita2 hidup bahagia berdua.

    selama kita memiliki keyakinan, ketegaran dan cinta, sekeras apapun hidup takkan susah utk dilewati ;)

  • Maly said:

    Nah…ini semua bergantung pada nasib diri koq.Sudah
    jelas apapun hal2 yg terjadi ada pro dan kontranya…hidup ini
    satu medan perjuangan…medan buat mereka-mereka yang
    mau belajar menjadi manusia yang cekal hati. Aisehh, kepuasan
    bercinta?carilah sepuas-puasnya rasa cinta samaada seinci dekat atau sejuta batu dari kita berada tapi kalau memang cinta itu ada segala yang ga mustahil bs akan berlaku
    btw cinta ma DIA aja yg diyakini keberadaanNYA meski kita ga tau jarak kita denganNYA

    Hi Arie :-)

  • mozz said:

    Waaahhahahaa..
    Nasibnya Maly ma Indy ney..LDR.

    Peace sista. :)

  • Jupi said:

    kalo saya mah mending nyari temen aja lewat dunia maya, daripada nyari pacar lewat dunia maya….

    ga usah dulu deh bicara jodoh dari dunia maya yang notabene adalah dunia antah berantah, lhawong ketemu lewat dunia nyata ga bisa jaminan.. apalagi… bheeeuw…

  • A-rhea said:

    setuju banget sama Gian,
    dasar dari sebuah komitmen adalah kejujuran dan untuk itu dibutuhkan lebih dari sekedar kata2 untuk membuktikannya.
    Kita wajib tahu bagaimana perangainya secara langsung.
    Ga mau kan beli kucing dalam karung?
    But semua terserah masing2, yang jelas segala sesuatu ada resikonya, kalo emang udah paham dan siap dengan apapun ya kenapa nggak?

  • Sam_moel said:

    4 me LDR is SUCK….Cuma meluk angin..

  • dian said:

    hahahahahahahaha……..nyindiiiiiirrrrr……… awas ya kak arieee….

  • michiru said:

    aku gak tuuuhhh…!!!
    maksudnya gak jauh2…bisa pegangan tangan dan laga2 kakilah di bawah meja wakakakkkaka…

  • mozz said:

    Yaa.. Saam, qta ngga jd LDR’an doonk ???
    Wkekeqkekeq..

  • lifeishappi said:

    waduhh…kok gue bacanya jadi kayak misperception yak! hehehehe…karena gue dan partner memang LDR ajah…tapi bukan karena kita tidak bertanggungjawab. tapi karena nyangkutnya sama yang jauh aja. gimana dong? walah walah…mau LDR atopun tidak…intinya semua must be based on our heart…:)

  • ENO said:

    LDR itu menyenangkan, tapi tidak membahagiakan :(

  • Dia said:

    Well,semua terpulang ke masing2 individunya.tapi buat aq LDR itu ya emang seperti permainan cinta.sapa yang bisa menjamin dia disana ga bohong ma kita?? sapa yang bisa bertanggung jawab kalo ternyata dia juga punya pacar “Real” disana???Lebih rumit lagi kalo ada masalah,berantem,adu argumen,etc.tinggal matiin aja computer dan HP.mantafff kan???
    Hihihihihihihih

  • Hujan said:

    LDR? ya gitu deh.. susah2 gampang..
    gampang2 susah

    sekali lost contact…

    ya lost everything

  • Affy said:

    Tul,Rie…aku juga “abis-abisan” tuk mengakhiri LDR kami dulu…dan sekarang alhamdulillah happy ending tuwh…walupun ada masalah2 yang muncul, tapi bisa diselesaikan dengan lebih mudah dan murah meriah…heheheee…
    Tulisan yang mengena, Rie…:)

  • Sam_moel said:

    Tp Rie ada btsn jarak minimal ga seh stu hubungan di kategorikan LDR? Mslnya brp Km gt?
    Ummmm klo jkt-sby tmsk ga? Hahahaha …

  • Joanna said:

    Gian bener banget tuh,apalagi sam_moel beneeeeeer bgt. LDR memang cuma permainan cinta aja,tapi asiknya dari LDR ya bisa selingkuh sebebas-bebasnya.he..he..he…Ya gitu deh Rie :)

  • gian said:

    a_rhea….. bener juga dari pada beli kucing dalam karung mendingan beli kucing dalam plastik masih kelihatan.

    joanna….. jadi LDR kayaknya cocok bagi yang suka selingkuh. hehehe

    peace deh buat yang LDR. maaf ya!

  • lia said:

    salam kenal

  • lia said:

    Hal tersulitnya adl menjaga kepercayaan,bener jg sich..yg terutama dlm menjalin suatu hub adl kebersamaan unt saling berbagi dlm suka n sedih,sakit n sehat,mendekapnya saat dia merasa sendiri..salut buat yg bs ngejalani LDR..

  • Hujan said:

    @joanna yah.. kembali lagi ke niat kita…

    ahiy (keren bgt deh kata-katanya)

    toh setiap side punya kelebihan dan kekurangan

    keuntungan dan kerugiannya buat manusia, asal siap tanggung sih oke

  • tiek said:

    Yang penting hati dan perasaan bisa bersatu dan bersama ……
    teman-teman, dah siap ta hidup bersama dengan perempuannya masing-masing?

  • puspa said:

    jauh lebih menyenangkan relationship di dunia nyata
    bisa peluk cium pasangan kapanpun kita mau
    tapi jangan salah lho, kadang meski tinggal serumah plus seranjang pun bisa jadi LDR jika dari jam 08.00 sampai 20.00 hanya bisa telpon-telponan demi mendengar suara lembut pasangan.
    rasanya… benar-benar jauh…
    iya kan yang…

  • La'mus said:

    Buktikan dgn nyata..kata2 ini yg ku garisbawahi dari tulisanmu, mengapa? Karena akulah l yg tdk pernah bs membuktikan kenyataan yg ada dlm hatiku,sbgi l aku pengecut, aku takut hingga aku tak punya keberanian tuk mencari cinta sejatiku aku menyerah pada dunia hetero pdhal tak dpt di pungkiri hati dan fisikku merindukan belaian seorang perempuan.

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.