elephant_woman_by_lisfOleh: Oscar Arumi

Pukul 11.00 siang. Hari ini adalah jadwal konsultasi mahasiswi bimbingan saya. Kegagalan sidang skripsinya sebulan lalu memang pahit, mengingat kerja keras kami berdua selama ini. Namun demikian, saya percaya semua ada hikmahnya. Itu yang sering saya tekankan padanya berulang-ulang agar tak terus-menerus menyesali kegagalannya di waktu lalu. Saya melirik jam di tangan dan pukul sebelas berlalu begitu saja, tetapi yang saya tunggu-tunggu belum juga tiba. Serupa dengan penantian cinta yang sering tak sopan memusuhi waktu, kekasih impian belum juga menyahut panggilan hati saya. Lamunan saya tiba-tiba terhenti. Suara tergopoh-gopoh memecah keheningan ruangan dan pikiran saya.

“Maaf terlambat, Bu.’’ Mahasiswi ini langsung duduk, tanpa menunggu dipersilakan oleh Ibu Dosennya. Saya tersenyum singkat. Dia membuka ransel lalu mengambil map-map penting. Kertas-kertas koreksi skripsi berserakan di meja. Topik konsultasi kali ini adalah berdiskusi. Ejaan bahasa dan subtansi skripsi tak perlu diragukan lagi orisinalitasnya. Meskipun wisuda kali ini gagal dihadiri olehnya, bukan berarti saya berhak mencapnya sebagai mahasiswa gagal. Tidak ada yang mau menjadi manusia gagal di dunia ini. Bukankah kegagalan adalah sebuah kesuksesan yang tertunda?

‘’Bete deh tadi, Bu ! Saya digrepe-grepe sama Oom-oom !’’

Di tengah diskusi yang mulai menghangat, mahasiswi ini entah kenapa menceritakan kejadian yang sangat tidak mengenakkan kepada saya. Ternyata, mahasiswi saya baru terlibat pertarungan mulut yang seru dengan salah seorang penumpang di angkutan umum. Disebutnya Oom-oom, karena usia dan perawakan penumpang itu memang mirip dengan lelaki setengah baya yang kerap dapat digambarkan sebagai Oom-oom. Lelaki itu awalnya duduk tenang di sebelah mahasiswi saya. Namun, tiba-tiba mahasiwi saya merasakan ada jemari yang bergerak menuju pahanya. Mulanya dia membiarkan saja jemari itu karena menganggap gerakan itu adalah murni sebuah ketidaksengajaan.

Beberapa menit kemudian, tangan itu mulai menjalar ke paha atas dan dengan tidak sopan menjamah bagian-bagian lainnya. Gadis itu menjerit sekut-kuatnya, “Toloooong!!!’’ Supir angkutan umum tersentak lalu menghentikan laju kendaraan di tengah jalan. Lelaki setengah baya terjebak, mau melarikan diri namun semua penumpang berkumpul untuk melihat sumber jeritan. Mahasiswi saya dengan lantang menuduh lelaki itu melakukan pelecehan seksual terhadapnya. Si Oom-oom ini tentu saja mengelak dan kembali menuduh mahasiswi saya menyebarkan fitnah. Adu mulut tak terelakkan lagi, sampai akhirnya salah seorang penumpang lain menengahi pertikaian di antara mereka. Demi kenyamanan, supir angkutan umum meminta agar si Oom-oom segera turun dari kendaraan.

Ah, saya tak menyangka kejadian ini malah menimpa salah seorang mahasiwi saya yang penampilannya terkenal sedikit urakan dan tak terlihat feminim sama sekali. Apakah dia lesbian seperti saya? Ow, tak ada jawaban untuk pertanyaan itu. Dulu, saya juga pernah di perlakukan seperti yang dialami mahasiswi saya barusan. Bedanya, bukan Om-om, tetapi… Tante-tante. Tak jauh beda kejadian mahasiswi ini karena saat itu, tangan saya juga disentuh oleh seorang Tante-tante. Tak puas dengan pegang-pegang tangan, si Tante mulai beranjak menyentuh paha dan dengan genit mencubit perut saya. Aha! Tahu kenapa saya membiarkannya? Tentu saja, saya tak pernah menyangka Tante-tante ini juga lesbian seperti saya. Saya pikir, mungkin hanya iseng. Lagi pula apakah saya harus membohongi diri kalau ternyata saya juga menikmati sentuhannya?

Buru-buru saya permisi lalu mulai membasuh wajah di kamar mandi. Tiba-tiba badan saya dipeluk seseorang dari belakang. Bulu kuduk mulai berdiri ketika seorang perempuan mendaratkan kecupannya di leher saya. Di tengah keterkejutan itu, terucaplah nama Tuhan dari bibir saya. Saya menatap bola mata si Tante yang siap menerkam saya, tanpa kata-kata tapi memiliki ucapan yang sangat jernih melalui bahasa jiwa, “Maaf, Tante. Saya bukan seperti itu.”

Penolakan itu memang mengejutkan diri saya. Jujur saja, perempuan yang memelukku tampak menarik dan cantik. Kalau saya mengingininya, saya bisa mendapatkannya. Buaya mana yang menolak makanan? Tetapi maaf, untungnya saya bukan buaya. Saya memang manusia yang mempunyai nafsu besar pada sesama perempuan. Tetapi jangan salah, hasrat itu cukup disalurkan pada perempuan yang lingkaran pilihannya tercentang mesra di hati saya. Saya tidak tahu pasti apakah kejadian yang menimpa saya dulu bisa disamakan dengan pelecehan seksual yang baru dialami mahasiswi itu barusan. Apakah seorang perempuan yang menyentuh bagian tubuh perempuan lain tanpa izin dari perempuan tersebut, dapat disebut dengan pelecehan seksual?

Akhirnya, diskusi dengan mahasiswi tak berlangsung lama. Saya sendiri yang menghentikannya karena terganggu dengan sikap gelisah mahasiswi ini yang juga ternyata membuyarkan konsentrasi saya. Dia meninggalkan ruangan saya sambil berjalan lunglai. Saya tertinggal dengan tumpukan koreksi skripsi yang bertumpuk. Sayup-sayup, saya mendengar kertas-kertas ini berbisik kepada saya, bak headline besar di koran nasional, “Dua perempuan lajang menjadi korban pelecehan seksual.”

@Oscar Arumi, SepociKopi, 2009