Oleh: Millatza
It is one of the superstitions of the human mind to have imagined that virginity could be a virtue. The Leningrad Notebooks (c.1735-c.1750) in T. Besterman (ed.) Notebooks (2nd ed., 1968) vol. 2, p. 455
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar pembicaraan tentang keperawanan. Keperawanan biasanya selalu dikaitkan dengan selaput dara (hymen). Sayangnya pembicaraan mengenai selaput dara dan keperawanan ini seringkali tidak disertai dengan pemahaman yang benar dan masih sangat terpaku pada mitos-mitos. Dalam ilmu kedokteran, selaput dara tidak mempunyai fungsi biologis maupun fisiologis.
Keperawanan lebih merupakan atribut spiritual bukan fisik, namun seringkali menjadi beban kultural maupun psikologis karena value seorang perempuan masih sering dihubungkan dengan status keperawanannya. Apakah dengan robeknya selaput dara sudah pasti tidak perawan? Bagaimana status keperawanan seorang perempuan yang melakukan masturbasi? Bagaimana pula dengan keperawanan perempuan lesbian yang sudah pernah melakukan hubungan seksual dengan pasangannya? Untuk itu, ada baiknya kita mengetahui seluk beluk selaput yang sering dipusingkan oleh banyak orang ini.
Selaput dara merupakan bagian dari vulva, berupa lapisan dari lipatan jaringan organ kelamin luar yang menutupi sebagian lubang vagina dengan ketebalan, elastisitas, dan konsistensi yang bervariasi. Posisinya kurang-lebih satu sampai dua sentimeter dari bibir luar vagina. Diameternya juga bervariasi, mulai dari sebesar ujung jarum hingga bisa dilalui satu atau dua jari. Selaput dara biasanya berbentuk lingkaran penuh (annular) atau seperti bulan sabit (crescentic). Ada juga yang berbentuk selaput dengan beberapa lubang kecil-kecil (cribiform), memiliki sekat di tengahnya (septate), atau yang menyerupai tirai (fimbriated). Selaput dara dengan bentuk fimbriated ini sulit dibedakan dengan selaput dara yang telah pernah dipenetrasi, sehingga bila dilakukan pemeriksaan sulit menentukan apakah sudah pernah terjadi robekan atau belum. Kecuali pemeriksaan dilakukan segera setelah robekan itu terjadi, di mana biasanya luka robekan belum sembuh dan masih terlihat. Pada beberapa kasus terdapat selaput dara yang sama sekali menutupi liang vagina, disebut dengan imperforated hymen. Hal ini biasanya baru diketahui di kemudian hari pada saat mengalami menstruasi dimana darah menstruasi tidak dapat mengalir keluar dan menumpuk di dalam vagina.
Jaringan dari vulva biasanya lebih tipis dan lembut sebelum masa pubertas. Setiap aktivitas yang menyebabkan ketegangan dari jaringan vulva bisa saja meregangkan atau merobek selaput dara. Akibatnya, banyak remaja yang tanpa sadar merobek ataupun membuat selaput dara mereka menjadi lebar saat melakukan olahraga, berkuda, memasukkan tampon, dan masturbasi (yang berupa pemasukan benda ke dalam liang vagina). Apalagi jika hanya sedikit atau bahkan tidak ada darah yang keluar pada saat kejadian. Namun tetap saja tidak semua remaja yang melakukan aktivitas tersebut di atas pasti akan mengalami robekan pada selaput daranya, seringkali bila aktivitas yang dilakukan sangat ekstrim atau karena benturan yang sangat keras. Masturbasi yang dilakukan dengan cara penggesekan klitoris tidak akan menyebabkan robekan selaput dara.
Keluarnya darah dan atau rasa nyeri bukan merupakan indikator robeknya selaput dara. Karena pada setiap individu terdapat variasi jumlah pembuluh darah dan serabut saraf yang terkandung dalam selaput dara itu sendiri. Jadi, darah dan nyeri tidak selalu ada pada saat terjadinya robekan selaput dara. Kalaupun ada, jumlah darah yang keluar pun juga bervariasi, ada yang sangat sedikit hingga sering tidak terlihat, dan ada yang sangat banyak. Hanya sekitar 43% dari perempuan mengalami perdarahan pada saat pertama melakukan hubungan seks. Selain itu elastisitas selaput dara juga sangat bervariasi, bisa saja langsung robek dengan sedikit regangan. Pada beberapa perempuan selaput dara bisa robek lebih dari satu kali, biasanya robekan berikutnya terjadi pada tempat lain. Ada juga selaput dara yang cukup elastis sehingga memungkinkan benda asing untuk masuk tanpa merobek atau hanya merobek sebagian. Ini biasanya terjadi jika pelebaran pertama terjadi secara bertahap dengan tangan atau objek lainnya selama kurun waktu tertentu. Bahkan pada beberapa perempuan, selaput daranya baru benar-benar robek pada saat pertama melahirkan secara normal (pervaginam).
Secara medis, utuh atau tidaknya selaput dara bukan merupakan indikasi keperawanan seorang perempuan. Hal ini dikarenakan variasi diameter, elastisitas dan bentuk dari selaput dara itu sendiri. Untuk diketahui, walaupun jarang, terdapat bayi perempuan yang tidak memiliki selaput dara sejak lahir. Pemeriksaan fisik juga tidak bisa menjamin seratus persen apakah seorang perempuan telah melakukan hubungan seks lewat vagina. Kembali kepada pertanyaan pada awal tulisan ini, status keperawanan seorang perempuan sepertinya harus diserahkan kepada diri masing-masing. Apakah tetap ditentukan dari selaput dara atau dinilai dari pernah atau tidaknya perempuan tersebut melakukan hubungan seksual.
@Millatza, SepociKopi, 2009
libraries
July 31st, 2009 at 10:41 am
nice artikel, jadi tambah pengetahuan deh
ditunggu artikel lain yang mungkin membahas mengenai asal muasal mitos-mitos keperawanan dari pandangan masyarakat itu sendiri,,,
Sam_moel
July 31st, 2009 at 12:05 pm
Ngingetn gw soal cwo yg kbnykn ga fair krn mrk mnuntut calon istrinya hrs virgin smntara mrk ndiri lom tentu (hmpr rata2 )perjaka ya kn?
They really should read this nice article….tq sis..
LigX
July 31st, 2009 at 12:30 pm
yup.. bnr bgt..
keperawanan, mitos, seks, dan lesbian
ENO
July 31st, 2009 at 12:35 pm
BA-GUS !!
apalagi ada ilustrasi gambarnya, jadi mudheng banget
mozz
July 31st, 2009 at 4:28 pm
G-Spotnya sebelah mana ya Mill???
( Polos.com)
SnowyBear
July 31st, 2009 at 4:57 pm
Millatza…hmmm.
dok, boleh tau lulusan mana?
apakah ini my millatza????
Arie Gere
August 1st, 2009 at 1:59 pm
ihhhhh…. gambarnya porno mill… hihihi.. porno ah…
Sky
August 1st, 2009 at 3:41 pm
Huwaaaa…sudah lama berharap ada yang akan membahas ini…^_^
Thx, ya…
I agree, I agree…totally
*Sky mengutuk setiap lelaki yang menuntut istrinya untuk mengelurkan darah di malam pertama… (It hurts, don’t they think?) :-p
Juno Bis
August 3rd, 2009 at 1:11 am
“Keperawanan harus dijaga hingga malam pertama”. Mitos yang amat nisbi! Bukankah hati dan perasaan yang lebih penting?
dee
August 3rd, 2009 at 8:33 am
wow,
great article, sist!
luv it so much.
men should really read this..
maybe,
it’s not a bad idea to publish this nice article,
to the public medias.
so that more people would get great info
about this, not only lesbianz.
Hujan
August 5th, 2009 at 10:25 pm
tuhan cuma lupa membuat selaput yang sama pada laki-laki…
menyenangkan sekali.
tapi tetap saja masih harus terkurung mitos ini
asfiruka
August 8th, 2009 at 11:24 pm
ooo… jadi begitu toh!! hapus mitos tentang keperawanan! hal ini menyesatkan!!!
Jai
August 9th, 2009 at 11:27 am
Bu dokter, artikel yang menambah wawasan, buka praktek gak? Mau donk jadi pasiennya
saa
September 30th, 2009 at 9:42 am
berarti test2 keperawanan saat ini bs diblg ga efektif dong? sbnrnya test keperawanan sm test keperjakaan itu apa sih yg di ‘liat’? kok bs di bedain? trs artikel di atas refrensinya drmn?
P.S thats great topics, like this hehe
De Ni
October 9th, 2009 at 1:41 pm
bagus banget. Tapi tetep aja ngeri penitrasi…
dhea dhea
January 30th, 2010 at 10:17 am
hehehehhe,, speechless… bagus,,,
amaya
February 3rd, 2010 at 8:27 pm
thanks info nya …must be read male n female… keperawanan tuh dari sudah or blum pernahnyanya ML