te.Lez.kop: Cinta Pertama, Anne Sullivan, dan Wolverine
Oleh Shinigami
Orang-orang selalu bilang kalau cinta pertama itu paling indah, paling menawan, dan tak terlupakan. Tanpa menyangkal semua itu, saya selalu heran mengapa kebanyakan orang cenderung meletakkan cinta pertama hanya di bawah lampu sorot nostalgia yang hangat dan berwarna-warni. Sebab menurut saya, kalau mau ditilik, cinta pertama itu lebih kepada sebuah edukasi berbasis praktik. Mungkin, kalau boleh, saya mengibaratkan cinta pertama sebagai Anne Sullivan, guru anak-anak dengan kebutuhan khusus, sementara kita semua, yang pernah mengalami cinta pertama itu, sebagai siapa lagi selain Helen Keller.
Setelah gagal menerapkan sekian banyak cara untuk mendidik Helen Keller yang tak hanya buta namun juga tuli dan bisu, akhirnya Anne Sullivan menemukan satu cara yang terbukti efektif untuk membuka pikiran Helen terhadap segala sesuatu yang ada di dunia ini. Anne mengajari Helen kata-kata sambil langsung mengekspos Helen pada benda yang dirujuk oleh kata tersebut. Dan untuk pertama kalinya, Helen mampu mengucapkan kata “air” dengan pemahaman yang sempurna atas maknanya ketika dia basah kuyup di bawah kucuran air yang keluar dari pompa yang tak henti-hentinya dikayuh oleh Anne.
Seperti itulah cinta pertama mendidik kita. Praktis, tanpa rumus. Cinta pertama membuat kita mampu memaknai secara langsung segala rasa yang terlibat di dalamnya—rasa yang sebelumnya hanya kita baca dari berbagai cerita atau yang kita dengarkan entah dalam rupa dongeng atau pun gosip. Untuk pertama kalinya, kita memberi makna pribadi pada konsep rindu yang teramat sangat hingga seakan menyayat, yang gelisahnya bisa menyamai milik narapidana yang menanti hukuman mati; pada rasa bahagia yang begitu berlebihan hingga bisa membuat bibir kita tersenyum bodoh seharian; ataupun pada rasa cemburu yang ternyata mampu membakar hangus segala pertimbangan logika dan pikiran. Dan kita langsung tahu bahwa hidup takkan lagi pernah sama. Sebab kita tak mungkin bisa membuang pengetahuan itu begitu saja.
Dan seperti Anne Sullivan yang kemudian meninggal, cinta pertama memang harus meninggalkan kita. Sudah digariskan. Setiap cinta pertama mengemban misi final abu-abu, misi kejam namun sangat diperlukan demi mengajari kita dua hal terakhir sebelum dinyatakan lulus dan siap melanglang dunia ini. Cinta pertama mengamputasi separuh hati kita dan pergi supaya kita bisa langsung merasakan setiap denyut perih, setiap tetes sedih yang seperti akan mematahkan badan kita menjadi dua dan membuat kita berpikir untuk mati. Itulah patah hati.
Namun pelajaran belum berakhir, sebab setelahnya kita dibiarkan terus berjalan memasuki periode mati suri, saat-saat di mana semuanya hanya lewat begitu saja, kebas tak terjamah. Dan nanti, perlahan, semuanya berganti. Warna-warna mulai kembali dan hidup kembali terasa layak disyukuri dan rasanya kita sudah bisa untuk jatuh cinta lagi. Pada waktu itu terjadi, kita tahu kalau kita telah baik-baik saja dan dinyatakan lulus dari taman kanak-kanak cinta.
Ya, saya menyebutnya taman kanak-kanak cinta, sebab cinta pertama memang hanya sebuah awal; namun ia awal yang memberi pondasi. Dan karena itulah, selain atas kecapan rasa bahagia yang pertama, saya rasa kita seharusnya bersyukur kalau ternyata cinta pertama kita berakhir dengan berjuta duka. Itu artinya cinta pertama kita telah memberi kita pondasi yang kuat untuk mampu bertahan dan menang dari rasa sedih dan putus asa yang begitu berat.
Mari kita anggap saja dia seperti program ambisius militer yang menanamkan campuran logam adamantium di dalam kerangka tulang-tulang kita, menjadikan kita Wolverine yang tangguh dengan cakarnya, lengkap dengan kemampuan untuk pulih seperti sedia kala setiap kali kita luka karena cinta.
Jadi, marilah kita ambil hape, kirimkan kata-kata ini kepada cinta pertama kita: “Terima kasih telah berbaik hati membabat hatiku satu inci di atas batas mati, sebab kepadamu aku berutang segala ketangguhan ini. Have a nice day!”
NB: Jangan tulis “sebab kau telah menjadikanku Wolverine”, nanti dia bingung.
@Shinigami, SepociKopi, 2009









Artikel yang bagus. Saya yang selama ini cuek sama arti cinta pertama sampai manggut2 berkali2, o iya ya maknanya spt itu. hehehe. hebat…hebat…
rasanya wajib mengirimkan kata-kata itu kepada cinta pertama..hehe
dan cinta pertama benar-benar mengajariku arti dari sebuah keikhlasan, ketulusan, sabar dan setia..
Membaca tulisan ini membuat saya teringat dengan cinta pertama saya. Masa-masa indah yang telah usai, tapi masih teringat hingga sekarang.
Hujan likes this
cinta pertama adalah masa-masa belajar paling kaku sekaligus paling berkesan ketika kita bisa melihat sesuatu dari perspektif berbeda
@jean piaget : bukan telah usai kupikir, masih terbungkus rapi dan tersimpan di salah satu laci kesayangan kita…
cinta pertama, terkunci rapat di salah satu sudut hati yang terdalam
Seseorang pernah berkata pada saya:
“First love never end happily, because first love never ends…”
haha… very nice one:)
bener2 kuketik nih…tapi blm di send k mantan..belum akan dikirim sampai aku yakin aku sudah benar2 tangguh:)
keren, topiknya bagus, bahasanya ‘kaya’, jadi pengen baca terus kelanjutan kalimatnya..
cinta pertamaku, mengajariku tuk berani mnyerahkan hati ini tuk dijaga org lain
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments