Home » Telezkop

te.Lez.kop: Cinta Pertama, Anne Sullivan, dan Wolverine

29 July 2009 100 views 9 Comments

hearbrekOleh Shinigami

Orang-orang selalu bilang kalau cinta pertama itu paling indah, paling menawan, dan tak terlupakan. Tanpa menyangkal semua itu, saya selalu heran mengapa kebanyakan orang cenderung meletakkan cinta pertama hanya di bawah lampu sorot nostalgia yang hangat dan berwarna-warni. Sebab menurut saya, kalau mau ditilik, cinta pertama itu lebih kepada sebuah edukasi berbasis praktik. Mungkin, kalau boleh, saya mengibaratkan cinta pertama sebagai Anne Sullivan, guru anak-anak dengan kebutuhan khusus, sementara kita semua, yang pernah mengalami cinta pertama itu, sebagai siapa lagi selain Helen Keller.

Setelah gagal menerapkan sekian banyak cara untuk mendidik Helen Keller yang tak hanya buta namun juga tuli dan bisu, akhirnya Anne Sullivan menemukan satu cara yang terbukti efektif untuk membuka pikiran Helen terhadap segala sesuatu yang ada di dunia ini. Anne mengajari Helen kata-kata sambil langsung mengekspos Helen pada benda yang dirujuk oleh kata tersebut. Dan untuk pertama kalinya, Helen mampu mengucapkan kata “air” dengan pemahaman yang sempurna atas maknanya ketika dia basah kuyup di bawah kucuran air yang keluar dari pompa yang tak henti-hentinya dikayuh oleh Anne.

Seperti itulah cinta pertama mendidik kita. Praktis, tanpa rumus. Cinta pertama membuat kita mampu memaknai secara langsung segala rasa yang terlibat di dalamnya—rasa yang sebelumnya hanya kita baca dari berbagai cerita atau yang kita dengarkan entah dalam rupa dongeng atau pun gosip. Untuk pertama kalinya, kita memberi makna pribadi pada konsep rindu yang teramat sangat hingga seakan menyayat, yang gelisahnya bisa menyamai milik narapidana yang menanti hukuman mati; pada rasa bahagia yang begitu berlebihan hingga bisa membuat bibir kita tersenyum bodoh seharian; ataupun pada rasa cemburu yang ternyata mampu membakar hangus segala pertimbangan logika dan pikiran. Dan kita langsung tahu bahwa hidup takkan lagi pernah sama. Sebab kita tak mungkin bisa membuang pengetahuan itu begitu saja.

Dan seperti Anne Sullivan yang kemudian meninggal, cinta pertama memang harus meninggalkan kita. Sudah digariskan. Setiap cinta pertama mengemban misi final abu-abu, misi kejam namun sangat diperlukan demi mengajari kita dua hal terakhir sebelum dinyatakan lulus dan siap melanglang dunia ini. Cinta pertama mengamputasi separuh hati kita dan pergi supaya kita bisa langsung merasakan setiap denyut perih, setiap tetes sedih yang seperti akan mematahkan badan kita menjadi dua dan membuat kita berpikir untuk mati. Itulah patah hati.

Namun pelajaran belum berakhir, sebab setelahnya kita dibiarkan terus berjalan memasuki periode mati suri, saat-saat di mana semuanya hanya lewat begitu saja, kebas tak terjamah. Dan nanti, perlahan, semuanya berganti. Warna-warna mulai kembali dan hidup kembali terasa layak disyukuri dan rasanya kita sudah bisa untuk jatuh cinta lagi. Pada waktu itu terjadi, kita tahu kalau kita telah baik-baik saja dan dinyatakan lulus dari taman kanak-kanak cinta.

Ya, saya menyebutnya taman kanak-kanak cinta, sebab cinta pertama memang hanya sebuah awal; namun ia awal yang memberi pondasi. Dan karena itulah, selain atas kecapan rasa bahagia yang pertama, saya rasa kita seharusnya bersyukur kalau ternyata cinta pertama kita berakhir dengan berjuta duka. Itu artinya cinta pertama kita telah memberi kita pondasi yang kuat untuk mampu bertahan dan menang dari rasa sedih dan putus asa yang begitu berat.

Mari kita anggap saja dia seperti program ambisius militer yang menanamkan campuran logam adamantium di dalam kerangka tulang-tulang kita, menjadikan kita Wolverine yang tangguh dengan cakarnya, lengkap dengan kemampuan untuk pulih seperti sedia kala setiap kali kita luka karena cinta.

Jadi, marilah kita ambil hape, kirimkan kata-kata ini kepada cinta pertama kita: “Terima kasih telah berbaik hati membabat hatiku satu inci di atas batas mati, sebab kepadamu aku berutang segala ketangguhan ini. Have a nice day!”

NB: Jangan tulis “sebab kau telah menjadikanku Wolverine”, nanti dia bingung.

@Shinigami, SepociKopi, 2009

9 Comments »

  • yasmin said:

    Artikel yang bagus. Saya yang selama ini cuek sama arti cinta pertama sampai manggut2 berkali2, o iya ya maknanya spt itu. hehehe. hebat…hebat…

  • LigX said:

    rasanya wajib mengirimkan kata-kata itu kepada cinta pertama..hehe
    dan cinta pertama benar-benar mengajariku arti dari sebuah keikhlasan, ketulusan, sabar dan setia.. :)

  • jean_piaget said:

    Membaca tulisan ini membuat saya teringat dengan cinta pertama saya. Masa-masa indah yang telah usai, tapi masih teringat hingga sekarang.

  • Hujan said:

    Hujan likes this

    cinta pertama adalah masa-masa belajar paling kaku sekaligus paling berkesan ketika kita bisa melihat sesuatu dari perspektif berbeda

    @jean piaget : bukan telah usai kupikir, masih terbungkus rapi dan tersimpan di salah satu laci kesayangan kita…

  • angel said:

    cinta pertama, terkunci rapat di salah satu sudut hati yang terdalam

  • Sky said:

    Seseorang pernah berkata pada saya:

    “First love never end happily, because first love never ends…”

  • kurenai said:

    haha… very nice one:)

    bener2 kuketik nih…tapi blm di send k mantan..belum akan dikirim sampai aku yakin aku sudah benar2 tangguh:)

  • ang said:

    keren, topiknya bagus, bahasanya ‘kaya’, jadi pengen baca terus kelanjutan kalimatnya..

  • costa said:

    cinta pertamaku, mengajariku tuk berani mnyerahkan hati ini tuk dijaga org lain :)

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.