Home » Humaniora, Relationship

Ternyata Cinta

28 July 2009 553 views 11 Comments

my_sweetest_downfall_by_little_me_starfireOleh: Justine Ht

Typhon 8 baru saja berlalu tapi masih menyisakan hujan dan petir. Kulirik jam di dinding, ternyata jam dua pagi. Suara halilintar mengagetkanku, membuatku terbangun dan mataku enggan terpejam lagi. Lampu kecil di sudut kuhidupkan hingga ruangan tidak terlalu gelap. Kekasihku tetap terlelap di sampingku. Aku memiringkan tubuhku dan menatapnya. Aku tidak ingin menyentuhnya kuatir akan membangunkannya. Dia tidur pulas dan tenang, seolah isi kepalanya telah dikeluarkan dan disimpan di lemari.

Aku tersenyum menatapnya. Hidungnya, bibirnya, garis matanya, rasanya aku tidak percaya wajah lugunya yang telah menemani hari-hariku dalam banyak tahun. Ke mana waktu pergi?

Waktu begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin dia hadir di hadapanku. Lugu. Ceria. Itu yang terlintas di benakku saat itu. Semakin aku mengenalnya, semakin aku menemukan keistimewaan dalam dirinya. Keberanian. Yah… keberanian yang dimilikinya membuatnya tidak pernah gentar menghadapi kehidupan, hingga aku selalu nyaman berjalan bersamanya.

Percaya dirinya…

“Kau cantik!” pujiku tulus di suatu pagi yang panas saat kami sedang menunggu dosen untuk mengikuti mata kuliah Mikro I. Seketika dia terbahak.
“Ada yang lucu, ya?” tanyaku cemberut.
“Jelas lucu lah, tapi aku senang karena kau orang kedua yang bilang aku cantik setelah bapakku,” katanya ceria.
Aku jadi ikut terbahak dan pagi itu kami memutuskan untuk tidak mengikuti kuliah dan nongkrong di kantin ditemani dua gelas es kopi.

Aku seperti seorang suami yang menunggu istri melahirkan ketika menunggunya keluar dari ruang dosen pembimbing untuk mengambil IPK-nya, tapi dia hanya cengar cengir memberikan kertasnya kepadaku, lalu merangkul pundakku.
“Makan yuk…, laper diomelin”, katanya santai.
Kulihat kertasnya. “Ampun! Nasakom (NAsib SAtu KOMa) lagi?!” teriakku histeris.

Dia hanya nyengir dan berkata santai, “Tenang aja, jatahku tujuh tahun kok kuliah di sini.” Setelah memesan nasi kapau cabe ijo dan es teh manis di warung nasi padang di samping kampus, dia makan dengan lahap. Teman-temannya bertebaran sampai tiga angkatan di bawahnya.

Semangatnya…

Pagi itu aku tidak melihatnya di kampus. Aku bingung mencarinya. Siangnya dia telah menungguku di depan kampus.
“Ke mana aja sih?!” teriakku marah.
“Makan KFC yuk!” ajaknya tanpa menghiraukan pertanyaanku.
“Ehm, lagi bokek nih!”
“Ayolah”, jawabnya gembira dan menarikku ke angkot.
Saat itu KFC baru buka di kotaku dan restoran itu termasuk makanan yang lumayan mahal untuk kantong mahasiswa. Aku tahu kiriman bulanannya belum datang, jadi bertanya lagi, “Dari mana duitmu?”
“Yang pasti bukan hasil nyopet!” katanya tersenyum menatapku.
Aku cemberut dan melupakannya hingga belakangan kuketahui dari seorang sahabat kalau pagi itu  sahabatku bertemu dengannya sedang bekerja sebagai kernet angkot.

Sore itu, aku dan abangku sedang ngobrol santai di teras rumah. Suara motornya terdengar perlahan.
“Tidak mungkin!” pikirku karena saat itu dia sedang KKN. Namun suara motor semakin jelas. Dia tersenyum menyapa kami, memarkir motornya lalu menurunkan karung yang dibawanya.
“Ini durian, tadi malam aku dan teman-teman nungguin di bawah pohonnya. Angin kencang, jadi banyak yang jatuh. Kan kamu suka, makanya aku bawain untukmu.”
“Emang kau dapat izin pulang?” tanyaku heran, mengingat belum cukup seminggu dia ber-KKN.
“Aku kangen,” bisiknya pelan.
“Ssst!” Kuletakkan jari telunjuk di bibir dan melirik abangku. Untung dia lagi sibuk dengan durian, jadi tidak memperhatikan kami yang sedang saling memandang dengan penuh kerinduan. Malam hadir menciptakan sensasi kehangatan di setiap inci tubuhku dan tubuhnya dalam rindu yang menyatu.

Dan cintanya..

Membuatku menggeliat keluar dari kepompongku, menjadi kupu kupu yang cantik dan terbang bersamanya. Onak duri, semak belukar sering melukai sayapku, membuatku merintih dan enggan terbang namun dengan kelembutan dan kesabarannya, mengobati helai demi helai sayapku. Membuatku menjadi kuat dan tegar kembali

Ehm, aku jadi ingat lagu Padi kesukaannya.

Dan ternyata cinta yang menguatkan aku
Dan ternyata cinta tulus mendekap jiwaku
Ternyata cinta..

Kau sungguh selalu setia menemani kesepianku
Menjaga lelap tidurku
Membasuhku setulusnya

Merekahnya fajar hatiku menghangatkan luruhku
Dan resapkan keharuman
Engkau yang mencintaiku.

Detik, menit, jam, hari, bulan, tahun tidak pernah bisa dihadang perjalanannya, membawa kami ke dalam tikungan tajam tak berujung, meninabobokan kami akan segarnya angin pegunungan, mengayunkan kami dalam gulungan ombak pasir putih tak bertuan, namun cinta ini tetap hidup, bertumbuh dan semakin dewasa. Kami tidak akan pernah membunuhnya dan membiarkan diri kami menjadi seonggok daging hidup tak berjiwa.

Terima kasih, Sayang…

Perlahan kukecup kening kekasihku, kumatikan lampu, memejamkan mata, dan tersenyum menyambut hari esok.

@Justine Ht, SepociKopi, 2009

Tentang Justine Ht:
silakan klik di sini

11 Comments »

  • Sam_moel said:

    What a beautiful story u got here sis…
    I m happy 4 u two,may ur love last 4ever till the end of time (kinda lebay ya hehehe)

  • LigX said:

    tidak bisa berkata apa-apa.. :)

  • dian said:

    waaa kalian jg anak Tek kim y? koq ada kul mikro? hehehe d kampus mana???
    Btw…critany sweet… :)

  • uli said:

    Hmm…indah bgt tulisannya…

  • Dia said:

    How sweet…..aq suka kalo cerita begini…hehehehehe…Semangat jadi nya !

  • angelira said:

    gosh… cerita nya buat aku makin cinta ama "M"

    love u

  • tiek said:

    refleksi cinta yang bagus. Yustine ………. sungguh lembut cinta kalian, pa lagi bisa tidur berdua nice ………….

  • lifeishappi said:

    senang mendengarnya…bahwa tulus adalah ternyata cinta…baiklah baiklah…

  • ENO said:

    Ampun, sampe ser2 an bacanya …
    hehehe.

  • justineht said:

    Dear, Sam Moel, Ligx, Dian, Uli, Dia, Angelira, Tiek, Lifeishappi thanks for your comments, keep spirit and never say die… peace!!!

  • mel said:

    cerita diatas mengingatkanku akan pacarku, . . dia lebih sempurna dari yang kamu punya…he…he….

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.