state_of_the_union_by_marzattakz1Oleh: Nuha Guwa

Kamu di PHK? Sebentar… sebentar… Ini bukan Putus Hubungan Kekasih, tapi Pemutusan Hubungan Kerja yang terkait dengan kebutuhan dan tuntutan hidup. PHK memang momok. Tiga kalimat ini begitu mengerikan. Diotak-atik seperti apa pun artinya tetap menyakitkan. Apalagi jika upah hasil di tempat bekerja selama ini hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, yaitu sandang, pangan, dan papan. Berurusan dengan PHK, berarti berurusan dengan perut dan tempat tinggal. Sama saja dengan kiamat kecil! Kamu di-PHK? Tabahkan hatimu. Kamu bisa membagi pengalaman pahit itu kepada sahabat, terapi psikolog, atau konselor rohani. Mereka (mungkin) akan berhasil membuat kamu (lebih) kuat sehingga dapat melewati masa itu dengan lebih baik.

PHK terasa getir jika terjadi pada partner, adik, kakak, saudara, sahabat, atau orang yang kita kasihi. Lebih berat lagi jika ternyata kita adalah yang menjadi pembuat keputusan untuk mem-PHK seseorang. Tapi jelas saya tidak ingin mengupas PHK dari sisi si pembuat keputusan karena yang mengalaminya tidak sebanyak manusia-manusia yang di-PHK. Saya ingin kita semua membayangkan PHK massal yang mengena ribuan pekerja. Dengan saingan ribuan orang, praktis peluang untuk mendapat pekerjaan baru di perusahaan lain dengan lapangan pekerjaan yang sama akan semakin mengecil. Syukur-syukur jika pesangon cukup untuk banting setir, membuka usaha baru. Seharusnya memang ada langkah yang dapat dilakukan setelah palu PHK diketuk! Tujuannya agar tidak banyak perut-perut lapar yang menyiksa manusia secara massal untuk akhirnya berbuat kejahatan demi sebongkah roti.

PHK berhubungan dengan pekerja dan pemilik modal. Hubungan di antara keduanya mengikat, terbagi dalam hak-hak dan kewajiban-kewajiban. Dalam suatu perusahaan adalah wajar bila pengusaha bekerja keras untuk mengendalikan kegiatan perusahaan agar efektif dan efisien. Oleh karena itu, pengusaha secara alamiah akan mempertahankan kekuasaan dan kebebasannya dalam membuat keputusan yang akan berpengaruh terhadap jalannya perusahaan. Namun tentunya keputusan-keputusan harus berdasarkan diambil atas pertimbangan-pertimbangan ekonomis, termasuk di bidang ketenagakerjaan yang meliputi penempatan dan pendayagunaan tenaga kerja di perusahaan tersebut.

Karena pada faktanya PHK terasa pahit, tentu harus ada upaya untuk survival. Rasa optimis dan percaya diri mutlak dimiliki. Sisanya adalah menambah kemampuan diri. Namun sebelum melakukan semua itu, tak ada salahnya para lesbian menulis selarik thank you note kepada perusahaan atau pemilik modal yang telah mem-PHK kita. Ucapkan terima kasih atas pesangon, gaji, fasilitas yang diterima, kesempatan mendapatkan pengalaman bekerja di bidang/bisnis tersebut, dan rasa hormat termasuk hal-hal positif tentang pimpinan dan perusahaan. Katakan kita akan gembira jika kondisi perusahaan membaik, semoga kita boleh bekerja kembali di sana. Biasanya perusahana masih menyimpan daftar karyawannya. Setelah keadaan membaik, siapa tahu dengan ucapan terima kasih itu kita malah akan dipanggil lebih awal. Upaya lain adalah dengan mencari perusahaan sejenis dan tulislah lamaran dengan baik. Banyak perusahaan tidak memasang iklan mencari pegawai namun menyimpan daftar pelamar dan mengeluarkannya begitu diperlukan. Cari dan daftar kantor-kantor tempat penempatan tenaga kerja. Jasa seperti ini bisa membantu kita mendapatkan kerja yang bagus dan gaji yang sepadan pula.

Rezeki yang datang termasuk peluang dan kesempatan istimewa apa pun selalu datang melalui tangan orang. Tidak ada yang jatuh dari langit atau muncul mendadak dari kantung baju. Tidak mungkin tiba-tiba keluar surat panggilan dari mesin printer yang sedang di off-kan. Praktek hidup membuktikan bahwa orang yang kita kenal berperan besar bagi keberhasilan kita. Tujuan apa pun yang kita pilih, entah itu mencari pekerjaan, membangun usaha, menjalani profesi, meniti kesuksesan tak akan lepas dari peranan manusia lain. Manfaatkanlah networking para lesbian, umumnya perasaan senasib akan membuat seseorang bersedia mengupayakan sesuatu yang lebih untuk kita. Tapi tentu saja, kita tidak boleh memanfaatkan perasaan senasib itu secara berlebihan. Jangan melakukan tindakan ekstrim dan abusif terhadap urusan orientasi seksual ketika meminta bantuan kepada sesama sahabat lesbian. Ingatlah, lesbian tidak bertanggungjawab mengurus hidup sesama lesbian lain, tapi seorang lesbian seyogyanya memiliki hati nurani yang lebih sensitif dibandingkan manusia lainnya.

Yang terakhir, tetap percayakan diri kepada Tuhan yang Mahapengasih dan Penyayang. Bukti keimanan adalah ketika kita tidak putus asa dan terus berusaha dengan gigih. Tuhan membantu mereka yang berkeyakinan dan bekerja dengan penuh kenikmatan. Selamat berjuang, semoga sukses di pekerjaan yang baru!

@Nuha Guwa, SepociKopi, 2009