Cuci Mata: We Are Not Afraid
Oleh: Sidney
Sebenarnya aku nggak berencana nulis tentang mal, shopping, dan travelling lagi untuk minggu ini. Tapi gara-gara bom terkutuk minggu lalu, emosiku jadi ikut-ikutan meledak. Wiken kemarin banyak teman lesbianku yang memutuskan untuk tinggal di rumah, nggak mau ke mal. Ketakutan merundungi kami untuk berada di tempat ramai dan berkeliaran di gedung-gedung mewah.
I was so pissed off oleh teroris ini. Bisa-bisanya mereka membuatku terpenjara dan ketakutan di negara sendiri! Akhirnya aku pergi ke mal juga yang tampaknya sepi daripada biasanya. Gerakan We Care! di SepociKopi mengajak kita untuk peduli dan berani. Kupikir inilah caraku untuk menunjukkan ketidaktakutanku terhadap ancaman dan terorisme.
Begini ya, biarpun aku lesbian yang berada di dalam lemari, saat ini aku ingin sekali punya kuasa terhadap diriku sendiri. Pergi dengan bebas ke mana pun yang aku inginkan tanpa tekanan dari mana dan apa pun. Cukup sudah tidak memiliki rasa merdeka dengan status orientasi seksualku ini! Aku tidak mau hidup sebagai manusia dalam tambahan satu kilo ekstra teror. Caraku untuk melawan adalah dengan tetap pergi ke mal atau tempat-tempat ramai lainnya baik di dalam gedung atau di luar. Aku ingin menunjukkan bahwa Ya, Kami Tidak Takut. Bagaimana turis bisa datang ke Indonesia, kalau orang Indonesia tampak ketakutan di rumahnya sendiri? Apalagi kalau sampai melakukan eksodus ke luar negeri, nggak banget deh!
Tanpa perlu mengulang lagi tentang pentingnya belanja untuk kesejahteraan bangsa, sebenarnya berjalan-jalan di mal hanya dengan modal biaya parkir atau biaya transportasi kendaraan umum sudah cukup memperlihatkan bahwa “We are not afraid.” Tempat-tempat umum yang strategis seperti mal memang menjadi bahan gosip empuk akan ancaman bom. SMS tak bertanggung jawab beredar untuk jangan pergi ke mal ini, mal itu, gedung ini gedung itu, hotel ini hotel itu. Males deh, bo. Memangnya selarik SMS teror dapat membuatku takut? Di mana-mana kalau bom meledak, tidak ada acara gosip duluan. Ini bukan berarti tingkat kewaspadaan tidak diperlukan ya. Kita tetap harus buka mata terhadap hal-hal yang mencurigakan setiap kali berada di tempat umum tanpa perlu parno berlebihan.
Buat yang tinggal di luar Jakarta, tidak perlu takut untuk datang dan menginap di hotel-hotel mewah di Jakarta. Ingat ya, menghabiskan liburan di Indonesia adalah keputusan baik dan bijaksana supaya tidak membawa kabur devisa keluar dari negara ini. Jangan salah, bukan berarti aku melarang bepergian ke luar negeri loh. Bagaimana kalau mulai memikirkan tempat-tempat wisata di Indonesia yang indah dikunjungi, mumpung liburan Lebaran tinggal hitungan minggu saja. Bagaimana juga kalau mulai mengatur pertemuan copdar dengan sesama teman-teman lesbian yang berjauhan kota? Sekalian menambah ikatan persahabatan atau silaturahmi, sekalian cuci mata, sekalian bersenang-senang, sekalian liburan, sekalian mengenal budaya kota itu! (Kapan-kapan aku akan membahas tempat-tempat wisata dalam negeri).
Pariwisata menjadi salah satu kunci penting bagi perputaran roda ekonomi kita. Sewaktu kita dihantam bom Bali I dan II, turis-turis lokal menjadi mesin pariwisata yang menghidupkan kembali Bali dari keterpurukan. Dan sebagai warga Jakarta, aku tentu tidak mau membiarkan kota tercintaku terpuruk dalam teror dan ketakutan. Tujuan teroris adalah menciptakan ketakutan dan menyebarkan kelumpuhan pikiran. Aku takkan membiarkannya itu terjadi. Sebagai lesbian, pedulikah kamu dengan negara ini? So, let’s go! Show ourselves everywhere!
@Sidney, SepociKopi, 2009









I care and I am not afraid.. tp memang harus tetap waspada.. Dan tetap cuci mata khan..
Okelah, not afraid.
Tapi, setelah melewati fase itu, fase "keluar dari tempurung dan melompat" itu, gimana kalo sepocikopi sekalian ngasih tau hal-hal mencurigakan mana yg wajib dilaporkan, plus apa-apa saja tindakan yg perlu dilakukan. Be it nelpon ke hotline tertentu, lapor ke satpam, atau grebek di tempat dengan jurus aikido tangan belakang.
I’ll be waiting
Be not afraid, raise awareness up, and do deeds!
i am not afraid..perangi ketakutan dalam dri sndri..LANJUTKAN!!
cuci mata sapa takut!
terorisnya kali tuh yang lagi ketakutan alnya dmana-mana ada fotonya yang caket itu tuh tepampang
cuci mata jalan terus…..
udah cukup intimidasi dlm diri seorang L untuk apa memperburuk keadaan dengan beban ketakutan yg macem2…
Nahh…semangat seperti ini nih yg d perlukan bangsa ini utk bangkit, tdk hanya merenungi keterpurukan…
to sydney,
ada gerakan…di twitter… #Indonesiaunite
Takut isi kantong abis aja saya mah kalo sering ke mall..
yuuu ke mall !! minimal kongkow sambil minum kopi,,
aku selalu suka sama tulisan sidney,,
takut ………….. mungkin nyawa tinggal satu neng,
sayang ntar kalo hilang mo cari gantinya ga ada
mending ada yang jual di mall nyawa akan diborong tapi gimana neng kalo ga ada nyang jual.
Ayo, ayo, ayo, mari belanja! Tapi jangan ke mall semua, dong! Kasihan pedagang kecil di pasar tradisional. Mungkin diselang-seling kali, ya? Hari ini ke mall, besok ke pasar tradisional, teruuusss begitu.
oh iya
http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/01/03063978/jangan.musuhi.mereka
aku cuma mau kita juga ga ngejudge
kita bisa baca ini
ditulis oleh guru besar, pak Sarlito Wirawan Sarwono
mas ito…
bukan bermaksud membenarkan tingkah laku pemboman dsb
cuma ingin kita bisa menelisik lebih jauh
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments