needlepoint_two_women_by_patgoltzOleh: Arinie

Menjadi lesbian dalam kehidupan kita yang cuma sekali tentu saja sebenarnya bukan pilihan yang kita kehendaki. Namun jika itu terjadi pada diri, apa yang hendak kita lakukan untuk menyiasatinya? Mungkin kita terjebak dalam euforia – kesenangan sesaat, kala kita menyadari bahwa kita ternyata adalah lesbian. Apalagi jika bertemu dengan teman sesama lesbian dan terlebih lagi jika menemukan seseorang yang “klik” di hati dan menjadikannya belahan jiwa yang kita cintai. Hidup serasa cuma kumpulan kebahagiaan dan kita terkungkung dengan manis dikecap saat itu dan melupakan sesuatu yang harusnya mendapat porsi untuk dipikirkan. Sesuatu itu disebut “hari tua”, yang disadari atau tidak pasti akan menyapa kita.

Saat ini di usiaku yang sebentar lagi menginjak 40 tahun, berbagai ciri kemudaan perlahan meninggalkan. Rambut mulai memutih, kerut menampakkan diri, kekuatan tulang terasa merapuh, dan berbagai ciri lain yang berusaha kupungkiri sebagai upaya untuk tetap merasa muda. Tak sedikit lesbian yang menyadari bahwa mereka beranjak tua. Kehidupan indah yang kita jalani bersama partner mestinya mampu membuat kita menemukan sebuah formula dalam menghadapi hari tua. Apalagi jika kita dan partner sama-sama tidak memiliki anak jika anak adalah tumpuan dan harapan yang (mungkin dapat) merawat (atau mendampingi) kita di hari tua. Mari berhenti sejenak, memikirkan persiapan apa yang layak kita rumuskan bersama patner sepuluh atau dua puluh tahun dari sekarang.

1. Formula pertama dan utama, jangan menjauh dari Tuhan. Apa yang kita jalani hari ini (termasuk menjadi lesbian) adalah bagian dari kerja tangan Tuhan meskipun kita juga punya hak pilih. Karena merasa berdosa, kita justru kian menjauh dan merasa tak pantas untuk mendekat kepada Tuhan. Bagaimana Tuhan hendak meraih tangan kita jika kita tak pernah menjulurkan tangan kepadaNya? Meski Tuhan Mahatahu tentang apa yang tersembunyi di hati, tak ada salahnya kita curhat padaNya dengan penuh iba. Kita tak pernah sepenuhnya menguasai diri kita sendiri. Doa seringkali mampu mengubah pendulum takdir ke arah yang lebih baik. Menjalani kehidupan religius bersama partner membuat hidup kita menjadi lebih tenang dan damai.

2. Formula kedua yang mesti kita sadari, Tuhan menciptakan kekuatan yang terpendam dalam diri kita, kekuatan yang mahadahsyat untuk melakukan perubahan. Perubahan yang kita alirkan pada anak-anak sebagai generasi penerus. Kekuatan ini tidak cuma bisa kita salurkan pada anak-anak yang terkandung di rahim kita. Mengapa kita tak memulai dengan mengalirkan kekuatan itu pada anak mana pun yang ada di lingkungan kita? Menjadikan diri kita berarti tidak cuma buat keluarga tapi juga sahabat dan kerabat. Bibit yang kita tanam dengan cinta akan menuai cinta dari mereka yang kita cintai. Pererat lagi hubungan dengan keluarga. Jika karena kelesbianan menjadikan kita jauh dari keluarga, mulailah menata hati buat memaafkan dan membuka ruang ampun buat mereka yang tercinta. Biarkan diri kita menjadi bagian penting dari lingkaran besar kerabat dan handai-taulan. Selain itu, berpastisipasi aktiflah di lingkungan masyarakat agar kita menjadi bagian dari mereka dan tidak menjadi individu yang terbatas pada komunitas lesbian saja. Dampak perubahannya adalah kita menjadi manusia yang lebih berarti bagi siapa pun.

3. Formula ketiga yang harus kita siapkan adalah ikhlas menata diri kita untuk menghadapi kenyataan sebagai konsekuensi sebuah pilihan yang kita pilih dengan sadar. Mungkin saja yang menjadi portal penghambat kesuksesan kita menghadapi hari tua adalah diri kita sendiri. Kita terbelenggu dan sulit membebaskan diri dari kerumitan mengakui bahwa sebenarnya kita adalah biang keladi kesulitan tersebut. Karena itu, saat menghadapi masalah selalu pertimbangkan dengan hati-hati apakah diri merupakan sumber semua masalah tersebut.

4. Formula keempat, mulailah fokus pada dua atau tiga keinginan yang hendak kita capai di hari tua. Susunlah rencana selangkah demi selangkah dan mulailah sekarang, jangan menunda lagi karena waktu tak pernah menunggu apalagi berhenti. Ajak partner untuk mulai memikirkan dan berpastisipasi aktif dalam mewujudkan cita-cita bersama. Rencana itu bisa berupa keinginan untuk memiliki rumah bersama, investasi dan mengadopsi anak bagi pasangan yang tidak memiliki anak. Duduklah dengan rileks bersama pasangan dan mulailah membuat draft menuju perubahan untuk masa depan.

5. Formula kelima, bersama partner, jadikan pola hidup sehat sebagai bagian dari kehidupan. Saling mengingatkan dan menjaga kesehatan adalah langkah penting untuk menjadi lesbian sehat lahir dan batin. Bayangkan, andai salah satu dari kita sakit, sementara anak pun tak punya, maka kita akan pontang panting merawat partner padahal masih harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup yang tak semakin sedikit. Jadi, kesehatan adalah harta yang tak ternilai, tak ada salahnya bersungguh-sungguh memikirkan investasi sehat dengan memperhatikan pola hidup, asupan nutrisi dan pola makan yang baik sesuai standar kesehatan. Akan lebih baik lagi jika kita memiliki asuransi kesehatan. Di saat darurat, sekeping kartu asuransi menjadi password bagi kita untuk mendapat perawatan layak di rumah sakit.

6. Formula keenam, usia kerja produktif untuk ukuran orang Indonesia berakhir pada usia 55 tahun, jadi tak ada salahnya memiliki tabungan hari tua dalam bentuk asuransi, investasi, atau usaha wiraswasta. Teliti sebelum membeli dan perkaya diri sebagai perempuan yang melek finansial serta melek investasi. Keamanan finansial adalah bagian penting bagi pasangan lesbian untuk hari ini, esok, dan nanti.

Tidak pernah ada salahnya untuk mempersiapkan sesuatu. Ingatlah prinsip “Gagal mempersiapkan berarti mempersiapkan kegagalan”. Sekali pun kehidupan berada di tangan Tuhan, namun kita memiliki kehendak bebas untuk menjalaninya. Tentukan sendiri kehidupan hari tua seperti apa yang ingin kita jalani bersama partner dan biarkan Yang di Atas untuk memberkatinya. Sebuah perubahan akan berhasil jika kita menjalani dengan penuh keyakinan dan persiapan yang matang. Karena itu, Sahabat, mari kita bersama mempersiapkan hari tua kita sekarang atau tidak sama sekali.

@Arinie, SepociKopi, 2009