Oleh: Nuha Guwa
Api, api… oh, ganasnya api! Jika kecil memang sangat bersahabat dan bermanfaat, tapi tidak — jika kobarannya di luar kendali. Selain bisa menghancurkan kawasan perumahan, gedung mal, perkantoran, dan pasar, hutan yang jumlahnya puluhan hektar juga sanggup dimusnahkan hanya dalam waktu singkat. Kita baru saja dikejutkan dengan tewasnya tujuh juru masak pada kebakaran yang menghanguskan Restoran Soto Lamongan. Bencana kebakaran yang terjadi dini hari menghancurkan hampir seluruh bangunan, sementara tujuh orang yang berada di lantai atas terjebak dalam kobaran api. Tim Olah Tempat Kejadian Perkara menduga api berasal dari tabung gas yang bocor di lantai dua dapur restoran tersebut. Apa yang bisa kita petik dari kejadian ini?
Mari kita melihat statistika dan angka. Di Jakarta misalnya, sepanjang tahun 2009, Dinas Pemadam Kebakaran mencatat 161 kasus kebakaran dengan korban jiwa mencapai 14 orang. Kerugian diperkirakan mencapai triliunan rupiah yang sebenarnya konon belum dapat dikalkulasikan secara terperinci, termasuk kebakaran Depo Pertamina Plumpang hingga yang baru saja kemarin terjadi. Damkar mengklaim peningkatan musibah tahun 2009 cukup signifikan bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya pada periode yang sama. Sebagian besar penyebab kebakaran berhubungan dengan listrik. Dari catatan yang dimiliki, selama 2009 sebanyak 58 kasus kebakaran akibat korsleting, diikuti ledakan kompor sebanyak tujuh kasus, rokok sebanyak satu kasus dan lain-lain sebanyak 21 kasus. Data Damkar tiga tahun terakhir menyebutkan pada tahun 2007 terjadi 955 kasus kebakaran dan 819 kasus untuk tahun 2008 di wilayah DKI Jakarta. Dengan korban jiwa sebanyak 14 orang termasuk kerugian materiil yang nilainya mencapai Rp 228 miliar, angka kerugian tersebut terdengar sangat fantastis.
Data tersebut memberikan kemungkinan bahwa kebakaran bisa terjadi di mana saja, kapan saja. Sebaiknya teman-teman lesbian memperhatikan keselamatan diri dan waspada terhadap hal ini. Jika sedang memasuki gedung atau bangunan umum, baik itu rumah sakit, sekolah, perpustakaan, restoran, hotel, perhatikan apakah mereka menyediakan alat pemadam api. Bangunan modern kebanyakan sudah membuat rancang bangun di atas atap. Jika sensor asap mendeteksi adanya sumber api, maka air akan menyembur otomatis dari alat tersebut. Namun bagaimana dengan bangunan tua yang rancang bangun gedung tidak memiliki instalasi keamanan dan keselamatan api? Siap-siap mengetahui dan mempelajari di mana titik-titik pintu keselamatan alias pintu belakang dan tangga darurat yang dapat dipergunakan dalam keadaan emergency.
Apa pun penyebab kebakaran, baik unsur kelalaian yang disengaja atau tidak disengaja, sumber api memang harus dicermati. Hal-hal yang berkaitan dengan usaha untuk mengantisipasi bahaya kebakaran harus dimaksimalkan agar material dan jiwa dapat dihindari seminimal mungkin. Jangan sampai alat-alat yang mendukung keamanan dan pemadaman kobaran api tidak diletakkan di tempat maksimal. Di pasar misalnya, alat pemadam kebakaran ditutupi dagangan pedagang atau tabung racun api menghilang dari tempatnya.
Jika semua telah disiapkan dengan baik, bagaimana akar permasalahan lain yang mungkin muncul? Jika di sebuah pasar misalnya; apakah penjaga toko di sekitarnya tahu cara mengoperasi alat hidran dan selang? Atau adakah petugas khusus yang dapat melakukan hal tersebut? Kita semua tahu penyebaran api bergerak secepat kilat. Contohnya letupan tabung gas di dekat tumpukan majalah pada saat padat pengunjung atau korsleting yang terjadi di malam hari. Semua terjadi dalam satu kedipan mata. Jika tidak ada persiapan, maka api akan menyala dan merembet dengan cepat.
Bayangkan kejadiannya di sebuah mal mewah di mana memiliki alat sprinkle otomatis yang dipasang di atas atap siap memuncratkan air. Namun bagaimana dengan proses evakuasi? Alarm kebakaran berbunyi dan pengunjung panik. Tangga darurat ternyata dipenuhi dengan pemilik toko yang berusaha menyelamatkan barang dagangan mereka. Apakah eskalator dirancang untuk menjadi jalur evakuasi? Bayangkan jalur ini dipenuhi dengan ratusan pengunjung yang panik dan para pemilik toko dengan barang bawaannya. Jangan-jangan banyak yang mati terinjak daripada yang mati akibat api.
Di luar itu semua, bagaimana kondisi di rumah kita? Perhatikan peralatan listrik. Jangan memasang sambungan listrik lebih dari kemampuan saklar penyambung. Matikan teve jika tidak ditonton, cabut semua peralatan listrik jika sedang tidak berada di rumah. Mintalah petugas listrik untuk memeriksa instalasi listrik di rumah kita sedikitnya setahun sekali. Siapkan anggaran khusus untuk ini. Instalasi listrik termasuk sistem penggantian kabel juga harus sesuai dengan standar dan ketentuan yang berlaku. Tidak ada salahnya membeli asuransi kebakaran untuk mencegah lebih banyak kerugian, namun para penyedia asuransi ini juga tak serta merta meluluskan aplikasi jika rumah tak memiliki peralatan pemadam kebakaran, apalagi jika kabel-kabel listrik sambung-menyambung tak tentu arah.
Sudahkah kita menyiapkan racun api di dapur dan dekat kamar tidur? Sudahkah kita memeriksa selang tabung gas dan apakah sudah memenuhi standar keamanan? Rumah yang berlantai dua dan tiga sebaiknya menyiapkan tangga darurat yang bisa dikeluarkan dari luar jendela jika terjadi kebakaran. Kita, para lesbian tentu tidak mau kekasih atau keluarga tersayang jatuh dalam kecelakaan kebakaran yang mengenaskan. Tanggap api dan mawas diri terhadap bahaya kebakaran seharusnya menjadi tanggungjawab kita semua.
@Nuha Guwa, SepociKopi, 2009
Sky
July 14th, 2009 at 6:59 pm
Eh…racun api itu apa, ya?
Yang saya tahu cuma tabung pemadam kebakaran…”-_-)>
Oh, ya, sudah masuk kemarau, biasanya kemungkinan kebakaran lebih tinggi.
kekeringan juga sudah mulai mengintai.
Mari berhati-hati.
tiek
July 16th, 2009 at 2:58 pm
Hati-hati dengan sembarang api yang buesaaaar
api kecil berguna namun kalo api yang buesaaaar bahaya
palagi api asmara yang membara …
he he he he