Home » Opini, Opini

Kopi yang Membunuh

14 July 2009 577 views 13 Comments

Oleh: Lakhsmi

Apa yang membuatku terpukau pada secangkir kopi?

Jawabannya bukan karena kopi dapat dijadikan alasan gampang untuk kopdar. (“Eh, ngopi-ngopi di Starbucks yuk! Udah lama nggak ketemuan.”). Bukan karena ia memiliki toleransi tingkat tinggi dan tampak mudah bergaul dengan jenis cairan lainnya (dengan kata lain ia dapat dicampur dengan susu, manisan, sirup, madu, atau apa saja) lalu menjadi kopi dengan ciri dan cita rasa yang berbeda-beda. Bukan karena ia berpenampilan aduhai jika dipadupadankan dengan cangkir mungil berwarna biru memar atau gelas semampai yang dihiasi ceri di atas tumpahan busa nan genit. Atau bukan juga karena ia mengalami gegar budaya dengan memasuki lingkungan urban dan ranah gaya hidup manusia megapolitan, menjadi superstar yang tidak malu-malu memunculkan dirinya di mana-mana.

Zaman sekarang, kopi memiliki pergesaran nilai, budaya, dan seni menikmatinya. Lihat saja aneka gerai-gerai kopi yang bertebaran di mal! Mereka memiliki fungsi lebih daripada sekadar menikmati secangkir kopi kental panas yang dapat mendoping rasa kantuk dan lelah. Gerai kopi memiliki suasana keriangan yang berbeda dari keriangan di tempat lain (toko buku, misalnya). Gerai kopi adalah tempat pertemuan, tempat melepas penat, tempat cuci mata, dan tempat berselancar di dunia maya. Bahkan gerai kopi dapat menampung mereka yang tidak pernah menyukai kopi tapi entah bagaimana bisa terdampar di sana.

Kalau kita mau menarik garis metafora antara kopi dan tulisan-tulisan lesbian di SepociKopi, kita dapat melakukannya. Heck, malah sudah banyak yang telah melakukannya! Tulisan-tulisan SepociKopi dapat membuat pembaca tertawa atau bergembira; itu tidak ada bedanya dengan kopi campuran sirup manis rasa moka atau vanilla. Tulisan-tulisan SepociKopi dapat membuat pembaca trenyuh; itu tidak ada bedanya dengan kopi yang dihiasi dengan payung mungil atau cangkir-cangkir yang membuatmu menjerit “Ow, so cute!” Tulisan-tulisan SepociKopi memberikan informasi; itu tidak ada bedanya dengan kopi yang sudah diblender, dibekukan, atau diberi es krim sehingga terasa lembut di lidah.

Tapi, apakah para pengunjung atau peminum kopi masih mengingat jiwa original secangkir kopi?

Aku akan bantu mengingatkan keeksotisan kopi yang melekat di benakku. Hakekat kopi adalah warna hitam dan sikap blak-blakannya menggelapkan gigi-gigi depan. Hakekat kopi adalah pahit dan kemampuannya memberi tembakan rasa yang dapat membuat mata seketika terbeliak satu senti lebih lapang dalam hitungan detik. Hakekat kopi adalah kental dan kesanggupannya membuat jantung berdenyut lebih cepat.

Keajaiban kopi seperti inilah yang selalu membuatku tak henti mengagumi kopi. Sungguh, daya magnet sebesar itu pantas diduplikasi dan diekstrasi menjadi jiwa yang hidup pada majalah lesbian yang mengambil kata ‘kopi’ pada namanya. Aneka tulisan-tulisan lesbian yang hitam, kental, dan pahit adalah sajian yang membuat pembaca lesbian seharusnya ingat bahwa tulisan adalah cermin bening yang selalu memantulkan apa yang terlihat. Jika yang terpantul adalah monster seram, apakah kita mau menghancurkan cermin yang telah jujur memberikan penglihatan itu? Kopi yang membunuh adalah kopi yang juga (mampu) menghidupkan, demikian juga tulisan-tulisan yang bekerja sebagai potret buram dunia lesbian. Jika kita mentertawakan, mengolok-olok, dan menyindir diri sendiri, siapa yang dipermalukan di sini? Seperti kata pepatah “wajah buruk cermin dibelah”, begitulah kita akan menjadi manusia-manusia anti-kritis, anti-tanggap, anti-iktirad yang mempunyai selera humor rendah.

Kopi – mau dikemas seperti apapun, kopi adalah kopi. Seperti macan yang dirawat, dijaga, dan dijinakkan seperti kucing; macan tetaplah macan, seekor binatang buas yang hidup di hutan. Aumannya dapat membuat bulu merinding dan gigitannya dapat merobek kulit. Kalau tidak dapat mengingat filosofi secangkir kopi dan SepociKopi dengan tepat, jangan terkejut ketika suatu hari kau diterkam oleh kemampuannya mematahkan lehermu.

@Lakhsmi, SepociKopi, 2009

13 Comments »

  • Sky said:

    Menarik…dan menakutkan…dalam waktu yang sama…

  • libraries said:

    so kapan kita ke starbucks,,,, hahahahah :D

  • Sam_moel said:

    Ka laks…koq tulisannya mngandung teror y (bwt ak) dalem bgt. Ih seyem…

  • oCHie said:

    penggamBaRan yg nyaTa ttg hidup, dibungkus daLam metafora sedeRhana beRupa Kopi.
    Suka bgt sm gaya bahasa yg dipake, saLute..

  • mozz said:

    Untuung ngga doyan ngupi, bisa bunuh gitu. Wassalam donk ntar??? :)

  • Lune said:

    luneamore menyukai tulisan ini ^_^

  • Love said:

    bagus tulisannya

  • angel said:

    sepahit rasanya
    sehitam warnanya

    takut!

  • Tiek said:

    Yang penting rasa khas kopi nya kuat dan tidak menghilangkan rasa kopi itu sendiri. Artinya Sepoci Kopi tetaplah majalah yang punya nafas dan rasa yang beda dari majalah on line yang lain.
    Tulisan-tulisan yang mempunyai warna dan selera sendiri.
    Untuk Lakhsmi dan Alex dan teman- teman di redaksi sepoci kopi, aku ingin rasa dan nafas yang khas dari sepoci kopi ini tetap dijaga agar para tamu di kedai yang aku sayangi makin banyak dan kerasan pengunjungnya.

  • pyo said:

    niece …… itulah menariknya dari kopi….. :)

  • pyo said:

    eh….btw, w sush bngt ya leave coment gt. Bru tw aj ni site. Menarik, menantang tapi bukan untuk ditantang…… pls, ada solusi gk? kira2 ni site ada anggota ato apa gt. …

  • blekstroberi said:

    nothing beats black coffee….

  • meng said:

    kopi…pahit tapi harum

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.