Home » Kesehatan dan Seksualitas

Kesehatan dan Seksualitas: Keputihan

Submitted by on 27/06/2009 – 8:39 am13 Comments | 2,728 views

Oleh: Millatza

Keputihan sudah tidak asing lagi di kalangan wanita. Hampir seluruh wanita setidaknya satu kali dalam hidupnya pernah mengalami keputihan. Dalam istilah kedokteran, keputihan dikenal sebagai leucorrhea, white discharge atau flour albus yaitu cairan yang dikeluarkan genital yang tidak berupa darah. Keputihan dapat menandakan adanya suatu kelainan di dalam saluran dan organ reproduksi seperti infeksi, kelainan organ reproduksi, atau bahkan kanker leher rahim. Oleh karena itu, penting bagi seorang wanita untuk mengetahui apakah keputihan yang ia alami adalah normal atau tidak.

Keputihan itu sendiri ada yang bersifat fisiologis, yang merupakan respons tubuh normal dan patologis (abnormal). Dalam keadaan normal, vagina memproduksi cairan bening, tidak berbau, tidak berwarna, jumlahnya tidakberlebihan, dan tidak disertai gatal. Cairan ini berfungsi sebagai alat perlindungan alami, mengurangi gesekan dinding vagina saat berjalan dan saat melakukan hubungan seksual.

Keputihan fisiologis biasanya ditemukan pada bayi yang baru lahir sampai umur kira-kira 10 hari. Di sini sebabnya adalah pengaruh estrogen dari plasenta. Waktu sekitar menarche (menstruasi pertama) yang biasanya hilang dengan sendirinya, kecuali apabila mendapat rangsangan seksual dan pada saat menjelang dan sesudah haid.

Pada kondisi tertentu, misalnya saat stres, kelelahan, hamil, atau mengonsumsi obat-obat hormonal seperti pil KB, cairan vagina yang keluar sedikit berlebih. Tapi keputihan yang diakibatkan oleh hal-hal tersebut biasanya masih dalam taraf normal dan tidak memerlukan pengobatan.

Keputihan yang harus diwaspadai adalah keputihan yang patologis. Keputihan ini berupa cairan berwarna putih susu, kekuningan hingga kehijauan, jumlahnya banyak, kental, lengket, berbau tidak sedap, amis atau busuk, terasa sangat gatal atau panas, dan dapat menimbulkan luka di daerah mulut vagina.

Banyak sekali hal-hal yang dapat menyebabkan keputihan patologis, tapi umumnya disebabkan oleh infeksi. Dalam keadaan normal vagina dilindungi terhadap infeksi oleh pH yang rendah di dalam vagina, yang bisa tetap terpelihara oleh kuman pelindung yaitu Basil doderleins, Streptokokus, Stafilokokus dan Difteroid yang merupakan flora normal. Kuman-kuman ini berfungsi menjaga keseimbangan ekosistem vagina dan mempertahankan tingkat keasaman vagina. Sekali keseimbangan flora normal ini terganggu, seperti akibat pemakaian antibiotik, kortikosteroid, pemakaian douche dan sabun pembersih yang berlebihan, maka ini akan memudahkan mikroorganisme lain berkembang biak secara berlebihan.

Secara umum mikrorganisme yang bisa menyebabkan keputihan patologis adalah:

1. Candida

Keputihan akibat jamur ini berwarna putih susu, kental, berbau agak keras, disertai rasa gatal yang dominan pada vagina. Akibatnya, mulut vagina menjadi kemerahan dan meradang. Bisa juga terdapat infeksi sekunder pada luka bekas garukan. Keputihan ini biasanya dipicu oleh kehamilan, penyakit diabetes, pemakaian pil KB, pemakaian antibiotika berspektrum luas dan rendahnya daya tahan tubuh.

2. Trichomonas vaginalis
Parasit ini ditularkan terutama lewat hubungan seks sehingga termasuk salah satu dalam Penyakit Menular Seksual (PMS). Cairan keputihan sangat kental, berbuih, berwarna kuning atau kehijauan dengan bau anyir. Keputihan karena parasit ini kadang tidak menyebabkan gatal, tapi disertai nyeri dan rasa terbakar.

3. Bacterial vaginosis
Bacterial vaginosis biasanya disebabkan oleh bakteri seperti Gardnerella vaginalis, Mycoplasma hominis, Bacteroides dan Mobiluncus. Keputihan biasanya encer, berwarna putih keabu-abuan, berair, berbuih, dan berbau amis. Bau akan lebih menusuk setelah melakukan hubungan seksual. Gatal biasanya bersifat lebih ringan daripada keputihan yang disebabkan oleh Candida albicans atau Trichomonas vaginalis.

4. Virus
Keputihan juga sering ditimbulkan oleh penyakit kelamin akibat infeksi virus seperti condyloma, herpes, HIV/AIDS. Condyloma ditandai dengan tumbuhnya kutil yang banyak disertai cairan berbau. Sedangkan herpes gejalanya seperti luka melepuh, terdapat di sekeliling liang vagina, mengeluarkan cairan, gatal, dan terasa panas. Keputihan akibat infeksi virus perlu diwaspadai karena dapat menjadi salah satu faktor pemicu kanker rahim.

Keputihan juga dapat disebabkan oleh alergi akibat benda-benda yang dimasukkan ke dalam vagina misalnya tampon, obat, atau alat kontrasepsi. Pada wanita sesudah menopause, epitel vagina mulai menipis dan mudah terinfeksi. Timbul gejala keputihan disertai rasa gatal dan pedih. Keadaan ini disebut vaginitis senilis. Untuk masalah ini bisa diatasi dengan estrogen topikal dalam bentuk krim vaginal ataupun terapi estrogen sistemik.

Mengingat keputihan juga merupakan salah satu gejala yang ditimbulkan oleh kanker leher rahim, maka setiap keputihan patologis harus dicari penyebabnya dan diobati secara adekuat sejak dini. Keputihan yang ditimbulkan oleh kanker leher rahim memberikan gejala berupa sekret encer, berwarna merah muda, coklat mengandung darah atau hitam serta berbau busuk. Keputihan akibat infeksi yang dibiarkan tidak diobati dalam jangka waktu yang lama dapat meluas ke rongga rahim, ke saluran telur dan kemudian sampai ke indung telur dan bisa menyebar sampai ke dalam rongga panggul serta dapat menyebabkan kemandulan.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya keputihan seperti :
1. Selalu menjaga kebersihan diri, terutama kebersihan alat kelamin. Rambut pubis yang terlalu tebal cenderung lebih lembab dan dapat menjadi tempat sembunyi kuman.

2. Biasakan untuk membersihkan vagina dengan cara yang benar, yaitu dengan gerakan dari depan ke belakang dan tetap menjaga vagina dalam keadaan kering.

3. Usahakan menggunakan celana dalam yang terbuat dari bahan katun yang menyerap keringat. Pemakaian celana jins terlalu ketat juga meningkatkan kelembaban daerah vagina. Ganti tampon, pembalut, atau panty liner pada waktunya (minimal setiap 6 jam).

4. Jangan menggunakan produk pembersih kewanitaan yang mengandung antiseptik secara berlebihan karena hanya akan mematikan flora normal vagina dan keasamannya akan terganggu.

5. Hindari terlalu sering memakai bedak di sekitar vagina atau produk pembersih yang mengandung parfum. Ini akan membuat vagina kerap teriritasi.

6. Modifikasi diet seperti menghindari keju, alkohol, coklat, kecap, gula, cuka dan berbagai makanan yang difermentasi dan usahakan mengkonsumsi suplemen seperti vitamin dengan antioksidan seperti vitamin A, C, E, B kompleks dan D.

Apabila seorang wanita mengalami keputihan, maka sebaiknya memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan terapi yang sesuai. Sangat tidak dianjurkan untuk mengobati sendiri, apalagi memakai antifungi atau antibiotik secara sembarangan karena dapat menyebabkan resistensi yang memperburuk keadaan. Untuk memastikan penyebab keputihan diperlukan pemeriksaan spesimen yang bisa dilakukan oleh dokter umum ataupun dokter spesialis (spesialis kebidanan dan kandungan atau spesialis kulit dan kelamin). Pengobatan juga sebaiknya dilakukan bersama pasangan untuk menghindari pingpong phenomenon, infeksi berulang akibat penularan oleh pasangan seksual yang tidak ikut diobati.

@Millatza, SepociKopi, 2009

Tags: ,

13 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.